Kamis, 24 Oktober 2013

I’ll Be Your Star (Chapter 1)

PJS Entertainment
Present
__________..~~ooOoo~~..__________


Author           : Park Jiseon a.k.a Veny Sugandhi (@Veny_Oodl3) *follow ne XD

Cast     :
-          Henry Lau (Super Junior M)
-          Sun Hyesung (OC)
-          Yesung (Super Junior)
-          Donghae (Super Junior)
-          Park Jieun (OC)
-          Charles Lau (OC)
-          And other

Length            : Chaptered

Rating : PG-15

Genre              : Romantic, Sad

Disclaimed      : Henry, Yesung, dan Donghae adalah milik Tuhan YME dan SM Ent. Kecuali Sun Hyesung, Park Jieun dan FF ini adalah milik saya seorang dan PJS Ent. Jika anda menemui ff berjudul sama, saya mohon maaf. Tapi saya berani jamin isi dan alur ceritanya pasti berbeda karena ff ini murni dari lubuk otak saya yang paling dalam(?).

~~Di larang keras menyalin dan memposting ulang FF ini untuk kepentingan pribadi. Itu namanya PLAGIAT dan plagiat pantesnya di buang ke JAM BAND~~

Recommended Song : Henry – Trap

Warning         : Typo bertebaran dimana-mana!! Jika tidak berhati-hati anda akan tertular virusnya (?)

__________…..~~ooOoo~~…..__________
Summary        :

“Aku seekor burung yang ditinggalkan didalam sangkar kecil yang disebut dirimu.
Aku bahkan tak bisa terbang jauh.
Aku semakin lemah dalam dirimu. Di dalam cinta ini yang selalu tetap hidup.
Oh aku terjebak, aku terperangkap”
# Henry – Trap #

__________…..~~ooOoo~~…..__________

Seorang diri, sebatang kara, tanpa tumpuan. Hanya tiga kata itulah yang mampu mewakili keadaan yeoja berumur 15 tahun itu saat ini. Di umurnya yang masih sangat belia, kedua orang tuanya telah meninggal dalam kecelakan pesawat 3 bulan yang lalu dalam perjalan mereka menuju Canada. Tak disangka, kecelakaan yang merengut nyawa kedua orang tuanya itu juga membuat perusahaan ayahnya bangkrut. Beruntung, rumah yang mereka tempati tidak disita. Satu-satunya keluarga yang dimilikinya adalah kakak angkatnya. Lebih tepat oppanya yang juga kekasihnya.

            Yeoja itu berdiri mematung menatap pusara yang perlahan menelan saudaranya seiring butiran tanah merah yang mulai menutupi peti kayu itu. Tak menunjukkan reaksi apapun. Air mata pun tak terlihat diwajah rapuhnya. Air mata itu telah habis untuk menangisi kedua orang tuanya dan kejadian semalam. Hanya diam mengingat kejadian semalam.

#Flashback

- Gwangju, 5.00 PM KST
“Aku pulang!” teriak yeoja berseragam ketika membuka pintu rumahnya dan melepas sepatunya. Tertulis nama ‘Sun Hyesung’ didada kirinya. Matanya tampak menyapu seluruh sudut ruangan mencari sosok oppa yang biasanya langsung berhambur memeluknya ketika dia pulang.

“Yesung Oppa?” sekali lagi dia berteriak memanggil namun masih tak ada jawaban. Yang dilihatnya hanya baju hangat yang tergeletak di sofa.

‘mungkin Oppa sedang tidur. Ini kan akhir pekan jadi pengunjung direstoran pasti banyak’ pikirnya. Yesung adalah saudara angkat Hyesung, mereka selisih 2 tahun. Sejak orang tua Hyesung meninggal 3 bulan lalu, Yesunglah yang membanting tulang menghidupi Hyesung dan dirinya sendiri. Mulai dari bekerja paruh waktu menjadi pelayan pada pagi hari hingga siang, dan malam hari menjadi penyanyi di sebuah club malam.

            Tanpa kecurigaan apapun, Yeoja ceria ini melenggang menuju dapur untuk mempersiapkan makan malam. Tak ada makanan yang special tiap harinya. Hanya nasi dan kimchi yang mampu mereka beli dari upah Yesung, terkadang Yesung memang membawa pulang makanan yang masih tersisa banyak dari restoran tempatnya bekerja. Namun rupanya hari ini tidak.

            Hari mulai malam, Hyesung mulai merasa ada yang aneh pada Oppa yang kamarnya berada tepat disamping kamarnya itu. Hyesungpun berinisiatif memanggil Yesung untuk makan malam sebelum dia akan pergi bekerja. Diputarnya gagang pintu berwarna emas itu dan menyembulkan kepalanya dibalik pintu. Tak ada siapapun.

“Oppa?” masih tak ada jawaban hingga dia berbalik menuju kamar mandi.

“Oppaaa,, aku tahu kau didalam. Keluarlah! Ayo kita makan malam dulu” masih tak ada jawaban. Hyesungpun menggedor-gedor pintu kamar mandi itu. Juga tak ada jawaban. Dia mulai cemas. Tanpa menunggu lagi, dia langsung membuka pintu kamar mandi itu dengan sekali hentakan.

“YESUNG OPPAAAAAAA!!!!” pekik Hyesung melihat sosok yang dicarinya sejak tadi sedang tergantung kaku dengan wajah yang membiru dan pergelangan tangan kiri yang nyaris putus dengan tambang yang mengikat lehernya hingga tergantung agak tinggi. Dia lantas berlari memeluk kaki namja yang telah menjadi mayat itu, berharap bisa mengangkatnya agak keatas untuk menolongnya namun, terlambat.

“Oppa, jebal! Jangan seperti ini, turunlah. Jangan tinggalkan aku”. Pekik Hyesung dengan air matanya yang terus mengalir deras dan terus memanggil nama Yesung.

#Flashback End

            Sebuah tangan merangkul pelan tubuh lemah Hyesung yang masih berdiri mematung melihat nisan yang telah tertanam kokoh itu. Sebuah foto seorang namja berhidung mancung tersenyum manis disamping nisan itu.

“Hyesung-ah, mari kita pulang” ajak namja bersuara sendu itu namun tak digubris oleh yeoja dengan hanbok putih polos disampingnya.

“Sungie-ya” kini namja itu mulai menggucang pelan bahunya.

“Donghae Oppa”

“hemm?”

“benarkah Yesung Oppa tak akan menjagaku lagi? Dia takkan kembali lagi?” ujar Hyesung datar tanpa ekspresi.

“tenanglah, aku akan selalu menjagamu” Donghae lalu memeluknya. Berusaha menenangkannya. Donghae adalah sahabat Yesung dan Hyesung sejak kecil. Dia tinggal disebelah kanan rumah Hyesung. Semalam, Donghaelah yang pertama mendengar jeritan Hyesung dan mencari bantuan dan menenangkan Hyesung yang sangat terpukul.


4 Bulan kemudian…

Seorang yeoja tampak sedang sibuk memainkan senar gitar dengan nada yang tak beraturan disebuah balkon rumah yang megah. Sesekali dia mengibaskan jari-jari lentiknya yang mulai memerah akibat senar yang tajam. Malam yang mulai larut dan sendiri diluar tak dihiraukannya. Yang penting tugas membuat lagunya cepat selesai dan dia masih bisa melihat bintang.

“aishh… aku benci kau Kyuhyun seonsaengnim! Kenapa aku harus diberi tugas menciptakan lagu! Argghh… Michigetta” keluhnya frustasi sambil menghentak-hentakkan kakinya kelantai karena jengkel.

“tok tok tok” bunyi pintu kamar yeoja itu dari luar.

“Hyesung-ah, kau belum tidur?” suara namja paruh baya yang kepala dan sebagian tubuhnya menyembul dari balik pintu.

“aniyo, ahjussi.” Jawab yeoja yang dipanggil Hyesung itu. Ahjussi itu kemudian masuk dan ikut duduk pada kursi disamping Hyesung. Hyesung menatapnya ramah.

“kau belajar sangat keras” ujar sang ahjussi yang dibalas senyum oleh Hyesung.

“besok Ahjussi dan Ahjumma akan ke Taiwan, jadi, kau dan Henry baik-baik dirumah ne?” lanjut sang ahjussi lagi.

“ne, ahjussi. Kalau boleh tahu, berapa lama ahjussi disana?”

“hmm,.. sekitar 8 bulan. Hyesungi, meskipun baru satu minggu kau disini, ahjussi harap kau bisa berbaur dengan kehidupan barumu”

“tenang Ahjussi! Meskipun baru seminggu aku disini, tapi aku sudah merasa seperti dirumah sendiri”

“bagus kalau begitu, sekarang ahjussi mau istirahat dulu. Kau juga jangan tidur terlalu malam. Arra!”

“Arasseo, ahjussi” jawab Hyesung.

Setelah Lau ahjussi keluar, Hyesung kembali menatap tulisan not-not yang sepertinya akan selesai.

“Huahh,,, tinggal mengulangi chorus dan selesailah sudah!” serunya kemudian membereskan lembaran-lembaran itu sebelum masuk kamar.


>SKIP<

“SUN HYESUNGGGG!!!!! SEPULUH DETIK LAGI KAU TIDAK TURUN, KAU JALAN KAKI SAMPAI KE SEKOLAH” Teriak namja tinggi dari jendela mobilnya didepan pagar rumahnya. Sudah lebih sepuluh menit orang yang bernama Sun Hyesung itu membuatnya menunggu disana. Yang dipanggil –Hyesung- kini muncul dengan tangan yang masih mengikat rambutnya dan roti isi di mulutnya. Dia langsung menuju pintu sebelah kanan dan masuk mobil. Belum sempat dipasangnya sabuk pengaman, namja yang duduk dibalik kemudi itu langsung menarik pedal dan melaju dalam sekali hentakan. Beruntung Hyesung tidak sampai terbentur dashboard mobil. Dia hanya menghela nafas. Jika bukan karena paksaan ayah angkatnya, dia pasti sudah berangkat ke sekolah bersama Donghae.

Henry Lau. Namja tinggi, tampan, popular, anak pengusaha asal China, banyak penggemar, sombong, anggota boyband sekolah, dan playboy. Dia adalah anak tunggal dari pengusaha terkenal di Asia. Yaitu perusahaan industry yang memproduksi mobil super McLaren MP4-12C. Dalam 5 bulan, dia bisa tiga kali berpacaran. Rekor terlamanya berpacaran dengan seorang yeoja adalah 1 setengah bulan. Itupun dengan yeoja yang juga idola para namja di sekolah mereka. Mereka baru putus minggu lalu. Dia juga punya senyum andalan yang membuat semua yeoja jatuh hati dalam seketika tapi sepertinya itu tidak berlaku pada Hyesung.

            Sun Hyesung. Yeoja yatim-piatu yang sederhana, pintar, lincah, namun sangat tertutup jika membahas hal-hal pribadi. 7 bulan lalu kedua orang tuanya meninggal dunia dan 4 bulan lalu, kakak angkatnya juga meninggal dunia akibat bunuh diri. Tidak diketahui secara pasti apa yang menyebabkannya bunuh diri. Hyesungpun tak ingin tahu penyebabnya karena itu akan membuatnya lebih sakit lagi. Hanya secarik kertas membingungkan yang ditinggalkannya untuk Hyesung. Sejak meninggalnya Yesung, hidup Hyesung kini benar-benar berubah. Seminggu yang lalu, seorang pengusaha kaya raya asal China mengaku sebagai sahabat ibunya dan mengadopsinya. Pengusaha itu mengajaknya tinggal di rumahnya yang megah namun tak pernah ditinggalinya karena kesibukannya di luar negeri. Jadi, di rumah yang bisa disebut istana itu dia hanya tinggal dengan Henry Lau dan beberapa pembantu.

            Hyesung masih ingat betul hari pertama dia di rumah itu. Saat itu dia baru saja selesai mandi. Dengan hanya memakai handuk 10 cm di atas lutut, dia keluar dari kamar mandi dan sangat terkejut melihat Henry ada dalam kamarnya.

#Flashback
“yya! Dasar namja mesum, keluar kau!” pekiknya melempar berbagai barang yang ada di meja riasnya. Yang dilempar juga terkejut dan lari menghindari lemparan yang bertubi-tubi mengelilingi kamar.

“hentikaaaaaannnnn” teriak Henry yang posisinya sudah berada di atas ranjang. Otomatis Hyesung menghentikan aksinya. Henry mengatur nafasnya sejenak. “aku akan keluar. Setelah kau memakai pakaian, segera ke ruang baca. Ada yang ingin aku bicarakan” titahnya kemudian turun dari ranjang menuju pintu. Belum disentuhnya gagang pintu, dia berbalik lagi.

“apa lagi!” pekik Hyesung dengan tangan yang menyilang menutupi dadanya.

Henry hanya tersenyum miring. “Kau jangan salah sangka! Aku tidak menyukai yeoja yang betisnya seperti lobak” dia langsung pergi.

“APA!!!”

>SKIP<
            Rumah baru Hyesung ini memiliki dua lantai. Masing-masing lantai memiliki dua kamar tidur. Di lantai pertama ada kamar utama, kamar tamu, dapur, ruang makan yang bukan main luasnya, ruang tamu yang juga luas, dan di samping rumah terdapat kolam renang yang amat besar. Sedangkan di lantai dua, ada dua kamar tidur yang luas dengan satu kamar mandi dimasing-masing kamarnya. Ruang baca yang hampir seperti perpustakaan sekolah berada tepat disamping kamar Henry, ruang TV yang tak pernah gunakan untuk berkumpul keluarga karena saking sibuknya mereka, dan balkon yang menghadap langsung ke kolam renang dibawah. Di sudut kiri balkon itu terdapat sebuah piano hitam yang sepertinya jarang dipakai karena sudah sangat berdebu.

            Dulunya lantai dua ini adalah daerah kekuasaannya namun kini dia harus berbagi dengan yeoja yang tidak pernah ditemuinya sama sekali. Bahkan yang paling membuatnya shock adalah kenyataan bahwa yeoja itu telah diangkat oleh ayahnya, dan yeoja itu kini mendiami kamar didepan kamarnya. Benar-benar menyebalkan. Henry menatap malas layar computer didepannya. Dia tak habis pikir dengan kegilaan apa yang ayahnya buat. Mengangkat anak yang tak jelas asal usulnya? Huh, yang benar saja! Pikirnya.

“tok.. tok..” suara ketukan dari pintu. Henry tahu siapa itu.

“masuk” ujar Henry malas. Yang mengetuk pintu pun mulai memutar gagang dan menyebul dari balik pintu.

“ada apa?” Tanya Hyesung kemudian. Henry berdiri dari duduknya lalu memutar kepalanya menatap yeoja bersurai hitam itu lurus-lurus.

“aku memanggilmu kesini untuk memberitahukan beberapa peraturan yang harus dipatuhi” Henry sedikit menekan pada kata ‘dipatuhi’. Dahi Hyesung berkerut samar. “peraturan?”

“yup! Peraturan!” Henry memasukkan kedua tangannya di saku celana.

“tempat ini adalah tempat kekuasaanku. Tidak boleh siapapun dengan bebas mondar-mandir disini. Tak ada yang boleh mencampuri privasi masing-masing. Kau jangan seenaknya masuk kamarku. Dan komputer ini” Henry menunjuk computer yang ada dihadapannya. “meskipun aku punya laptop, kau membutuhkan izinku untuk menggunakannya” lanjutnya. Hyesung hanya menatapnya aneh.

“ingat! Tak ada yang boleh tahu bahwa kita serumah. Karena ayahku menyuruh kita ke sekolah bersama, kau harus turun di perempatan terdekat” Henry menunjukkan senyuman miringnya kemudian beralih menatap pemandangan kolam renang lewat jendela disebelah kanannya membelakangi Hyesung yang mulai gelisah. Bukan gelisah karena takut, namun gelisah Karena tidak tahan ingin melayangkan bogem mentahnya diwajah namja yang sangat belagu ini.

“oh ya!” Henry kembali memutar kepalanya. “piano yang ada di balkon sana. Jangan sekali-kali kau berani menyentuhnya” dia melenggang menuju pintu dibelakang Hyesung.

“chakkamhan!” gumam Hyesung ketika Henry telah melewati tubuhnya. Suaranya sedikit bergetar. Henry menghentikan langkahnya. Dan Hyesung menatap Henry dengan tatapan… marah?

“asal kau tahu! Ini tempat kekuasaanmu atau bukan aku tidak peduli. Kau pikir aku tidak punya pekerjaan lain hingga mondar-mandir ditempat ini dan ingin mencampuri privasimu? Aku masih punya banyak pekerjaan tuan Lau. Computer itu” Hyesung berhenti sejenak dan menunjuk computer persis seperti apa yang dilakukan Henry tadi. Lengkap dengan senyuman miring khas Henry. “aku juga punya laptop yang bagus” lanjutnya. Henry menatapnya penuh keheranan.

“ingat! Aku juga tidak ingin orang tahu bahwa aku serumah dengan namja belagu sepertimu. Jadi aku tidak perlu pergi ke sekolah denganmu karena aku memiliki teman yang akan mengantar jemputku.” Hyesung tersenyum sinis. “aku juga tidak suka bermain piano jadi kau tak perlu khawatir aku akan menyentuh benda yang hampir roboh ditempatnya itu.” Lanjutnya. Wajah Henry tampak memerah menahan malu. Dia terlihat mengepal kedua tangannya dan mulai melangkahkan kakinya menuju ambang pintu.

“chakkamhan!!” Hyesung kembali menahannya. Henry hanya menghentikan langkahnya tanpa berbalik. “bukankah kau yang lebih dulu memasuki kamarku tadi?” Hyesung tersenyum penuh kemenangan. Henry langsung menjauh dari tempat itu meninggalkan Hyesung yang berdiri hampir tebang saking senangnya.

#Flashback End

            Seperti perjanjian hari itu, Hyesung harus turun di perempatan jalan dekat sekolah tanpa ketahuan siapapun. Di pertengahan jalan dia melihat sepasang anak kecil sedang naik sepeda bersama. Kelihatannya mereka sedang ke sekolah bersama. Mereka begitu saling menyayangi, terlihat dari cara yeoja yang diboncengi itu memeluk pinggang namja yang memboncenginya. Dan yang memboncengi mengayuh sepedanya dengan hati-hati.

‘pegangan yang erat Hyesung-ah. Oppa tidak ingin kau jatuh’

‘ne, Yesung Oppa’

DEG

            Rasa sesak kini sedang menggerogoti seluruh rongga dada Hyesung hingga sulit rasanya untuk menghirup sedikit saja oksigen. Tiba-tiba saja ingatan dan suara Yesung saat mereka kecil dulu kembali terngiang dikepalanya. Entah mengapa, Hyesung selalu merasa bahwa Yesung masih hidup. Namun dia akan merasa kesakitan ketika sadar bahwa dia tak bisa menemukan sosok itu. Bintang itu.

“Sungie-ya, apa yang kau lakukan disini? Kajja” suara sendu menyadarkan Hyesung bahwa dia sudah sampai di ambang gerbang sekolah. Hyesung mengerjap beberapa kali sebelum mengetahui siapa namja yang sudah merangkulnya ini.

“Donghae oppa?”

“hmm? Kajja!” Donghae menarik Hyesung masuk gerbang.

“kenapa kau tidak ingin dijemput seperti biasa?” Tanya Donghae akhirnya. Meskipun kini rumah Donghae dan Hyesung menjadi agak jauh, Donghae tetap selalu menjemput Hyesung setiap paginya. Ia ingin menjaga Hyesung seperti Yesung menjaganya dulu.

“hari ini Lau ahjussi akan pergi ke Taiwan. Jadi, beliau ingin aku berangkat ke sekolah dengan Henry setiap paginya. Awalnya aku menolak, tapi untuk hari ini sepertinya tidak masalah” Hyesung mengangkat bahunya.

“tapi, tadi sepertinya kau tidak turun di parkiran dengan mobil yang biasa dia pakai. Bahkan, aku pikir tadi kau malah berjalan kaki” sanggah Donghae sambil merapikan tas punggungnya yang hanya digantungkan di lengan kanannya saja.

“aniyo! Kami ada perjanjian” Hyesung tersenyum kecut. Kening Donghae berkerut samar. “perjanjian?”

“ne! Henry tidak ingin sampai ada orang lain yang tahu bahwa kami tinggal serumah” Hyesung menjelaskan dengan semangat. Kerutan di kening Donghae makin samar. Melihatnya, Hyesung tersenyum tanda mengerti.

“Bukan hanya dia yang tidak mau. Aku juga tidak mau kalau orang tahu aku tinggal serumah dengan manusia belagu seperti dia” Hyesung melanjutkan. Donghae tersenyum tenang.

“baguslah kalau begitu. Sekarang kau masuklah” Donghae mengusap puncak kepala Hyesung sebelum dia masuk dalam kelasnya. Setelah memastikan Hyesung sudah duduk di bangkunya sendiri, Donghae melanjutkan langkahnya menuju kelasnya di lantai 3. Yup, Hyesung kelas 1 dan kelasnya berada dilantai 1. Sedangkan Donghae, dia kelas 3 dan kelasnya berada dilantai 3.


Waktu Istirahat…

“ada apa dengan yeoja-yeoja itu?” Tanya Hyesung pada teman sebangkunya ketika melihat para yeoja berlarian keluar kelas setelah mendengar bel tanda istirahat.

“oh, itu! Ini adalah hari sabtu. Hari dimana Henry oppa akan bermain basket di lapangan tengah dan mereka berlarian agar mendapat tempat yang strategis untuk melihat performanya” teman Hyesung ini bercerita dengan penuh semangat bahkan sampai menahan nafasnya.

“kau pasti belum pernah melihatnya, kan! Oppa itu keren sekali! Sini ku tunjukkan” yeoja itu kemudian menarik Hyesung bergabung dengan yeojadeul lainnya menuju balkon di lantai dua. ‘Henry Lau namja menyebalkan itukah yang dia maksud?’ gumam Hyesung dalam hati.

            Belum sampai Hyesung menginjakkan kakinya tepat di anak tangga terakhir, telingannya sudah berdengung akibat jeritan-jeritan para siswi yang tak terkontrol. “Disini!” yeoja yang tadi menarik Hyesung hingga mendapat tempat yang bisa leluasa melihat ke lapangan basket dibawah.

“huwaaaaaaa,… kau lihat! Bukankah dia keren sekali? Kyaaaaa….. Henry oppaaaa!” jeritan teman sebangku Hyesung ini tak tertahankan lagi. Hyesung mencari siapakah yang dimaksud temannya itu. Yang dia lihat adalah Henry lau yang sedang asik mendrible bola penuh peluh dan percaya diri. Dan yeoja yang berada disekitar lapangan di bawah sana terlalu asik menonton hingga mata mereka tak berkedip sama sekali.

“hah? Jieun-ah, Apanya yang keren. Namja belagu seperti itu yang kau suka?” Hyesung mengernyit ngeri. Yang dipanggil Jieun mendelik curiga. “kau mengenalnya?” Hyesung mendadak kaku.

“aa-aniyo. Hanya saja dari gayanya, sepertinya sifatnya seperti itu” nada bicara Hyesung mendadak aneh. Jieun menatap Hyesung penuh selidik. “kkk-kenapa kau menatapku seperti itu?” Hyesung kini tengah dirundung rasa takut akan ketahuan bahwa mereka –Dia dan Henry- serumah.

“kau juga menyukainya, kan?” Tanya Jieun dengan telunjuknya didepan hidung Hyesung. “Mwo? Itu tidak mungkin, Jieun-ah” jawabnya segera sambil mengibaskan kedua tangannya di depan Jieun.

“ayolah, jujur saja. Semua yeoja di sini juga langsung jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Henry oppa” aku Jieun. Hyesung hanya tersenyum geli. “aku bisa saja jatuh cinta padanya” ujar Hyesung santai. Jiseun tersenyum penuh kemenangan. “tapi itu artinya aku sudah gila. Huwahahaha” lanjutnya dengan tawaan renyah. Jieun hanya mendengus pelan. ‘awas saja kalau kau benar-benar gila’ umpatnya dalam hati.

“Sungie-ya, kau juga disini?” Tanya Donghae heran mengapa Hyesung bisa bergabung disini.

“eoh? Donghae oppa” Hyesung juga terkejut. “aniyo. Temanku ini tadi mengajakku ke sini” lanjutnya.

“oh! Aku pikir kau juga menyukai idola di bawah sana” candanya. “kalau begitu, ayo ikut oppa ke kantin”

“kajja! Jieun-ah, aku ke kantin yah” pamit Hyesung pada Jiseun, tapi yang dipanggil masih asik menjerit kesenangan bersama yeoja lain.

@Kantin
            Setelah mengambil makanan, Hyesung dan Donghae memilih meja di bagian belakang dekat jendela yang menghadap langsung ke taman belakang.

“bagaimana pelajaranmu pagi ini?” Donghae memulai percakapan. Mereka bercakap-cakap ringan sambil melahap makanan mereka.

“huft,.. menyebalkan” Hyesung hanya mendengus membuat kening Donghae berkerut.

“apanya yang menyebalkan?” Tanya Donghae lalu menyeruput susu strawberrynya.

“Kyuhyun seonsaengnim.” Hyesung menghela nafas sejenak dan melanjutkan lagi. “Aku sudah susah payah membuat lagu sampai larut malam dan dia mengkritik habis-habisan lagu yang aku ciptakan”

“Sabarlah, Kyuhyun seonsaengnim memang bermulut pedas. Tapi sebenarnya dia adalah guru yang paling baik dari pada semua guru di sekolah ini” Donghae menenangkan.

“tapi… komentarnya begitu pedas! Aku hanya salah nada saat menyanyikannya tadi” Hyesung menyuapkan sesendok penuh nasi dan menyusul lauknya di mulutnya. Donghae hanya tersenyum ringan.

“Sungie-ya, sepertinya orang sana sejak tadi memperhatikanmu” Donghae mengangkat dagunya menunjuk ke arah belakang Hyesung. “hem? Nuguya?” Hyesung berbalik. Saat itu juga, yang dimaksud Donghae langsung mengalihkan pandangannya. Namja itu sedang berdiri bersama teman-teman klub basketnya. Mereka baru selesai latihan dan sekarang sedang beristirahat.

“aahh...biarkan! Aku tidak peduli” Hyesung melanjutkan makannya.

TBC



__________…..~~ooOoo~~…..__________

Gimana FF kali ini? Huwaaaa…… mian banget kalo sekarang bikin FFnya lama banget >.<. Kira-kira siapakah namja yang dimaksud Donghae tadi? Ada yang bisa nebak? Ayo ayo ayo~
FF ini teruntuk cucuku tercinta Wulan a.k.a Eka Angelina Wulandari a.k.a Sun Hyesung. Mian banget yah cu, nenek posting + bikinnya kelamaan.
silahkan kirimkan komentar, saran, atau kritik kalian ke :

Facebook : Jiseon Anjellgirls ElfsparKyu atau di Twitter ku

Author kasih nama FB n Twitter karena buat komen langsung di sini author akui emang susah.

Kkkkkkkk~ kelanjutannya ditunggu yah! Doain mudah-mudah cepet dapet ilham trus bisa END dan cepet di posting,.. hohohohoho~
See you…… #TebarKisseuWithKyu


Ttd.
PJS a.k.a Park Jiseon a.k.a Veny Sugandhi
(author terkeceh istrinya Kyu)

#ReadersPadaMuntah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar