PJS Entertainment
Present
__________…..~~ooOoo~~…..__________
Author :
Park Jiseon a.k.a Veny Sugandhi (@Veny_Oodl3) *follow ne XD
Cast :
-
Henry
Lau (Super Junior M)
-
Sun
Hyesung (OC)
-
Yesung
(Super Junior)
-
Donghae
(Super Junior)
-
Park
Jieun (OC)
-
Charles
Lau (OC)
-
And
other
Length :
Chaptered
Rating :
PG-15
Genre :
Romantic, Sad
Disclaimed : Henry, Yesung, dan Donghae adalah milik
Tuhan YME dan SM Ent. Kecuali Sun Hyesung, Park Jieun dan FF ini adalah milik
saya seorang dan PJS Ent.
Jika anda menemui ff berjudul sama, saya mohon maaf. Tapi saya berani jamin isi
dan alur ceritanya pasti berbeda karena ff ini murni dari lubuk otak saya yang
paling dalam(?).
~~Di larang keras menyalin dan
memposting ulang FF ini untuk kepentingan pribadi. Itu namanya PLAGIAT dan
plagiat pantesnya di buang ke JAM BAND~~
Recommended Song : Henry – Trap
Warning : Typo bertebaran dimana-mana!! Jika
tidak berhati-hati anda akan tertular virusnya (?)
__________…..~~ooOoo~~…..__________
Summary :
“Aku seekor burung
yang ditinggalkan didalam sangkar kecil yang disebut dirimu.
Aku bahkan tak bisa
terbang jauh.
Aku semakin lemah
dalam dirimu. Di dalam cinta ini yang selalu tetap hidup.
Oh aku terjebak,
aku terperangkap”
# Henry – Trap #
__________…..~~ooOoo~~…..__________
Seorang diri, sebatang kara, tanpa
tumpuan. Hanya tiga kata itulah yang mampu mewakili keadaan yeoja berumur 15
tahun itu saat ini. Di umurnya yang masih sangat belia, kedua orang tuanya
telah meninggal dalam kecelakan pesawat 3 bulan yang lalu dalam perjalan mereka
menuju Canada. Tak disangka, kecelakaan yang merengut nyawa kedua orang tuanya
itu juga membuat perusahaan ayahnya bangkrut. Beruntung, rumah yang mereka
tempati tidak disita. Satu-satunya keluarga yang dimilikinya adalah kakak
angkatnya. Lebih tepat oppanya yang juga kekasihnya.
Yeoja itu berdiri mematung menatap
pusara yang perlahan menelan saudaranya seiring butiran tanah merah yang mulai
menutupi peti kayu itu. Tak menunjukkan reaksi apapun. Air mata pun tak
terlihat diwajah rapuhnya. Air mata itu telah habis untuk menangisi kedua orang
tuanya dan kejadian semalam. Hanya diam mengingat kejadian semalam.
#Flashback
-
Gwangju, 5.00 PM KST
“Aku
pulang!” teriak yeoja berseragam ketika membuka pintu rumahnya dan melepas
sepatunya. Tertulis nama ‘Sun Hyesung’ didada kirinya. Matanya tampak menyapu
seluruh sudut ruangan mencari sosok oppa yang biasanya langsung berhambur
memeluknya ketika dia pulang.
“Yesung
Oppa?” sekali lagi dia berteriak memanggil namun masih tak ada jawaban. Yang
dilihatnya hanya baju hangat yang tergeletak di sofa.
‘mungkin
Oppa sedang tidur. Ini kan akhir pekan jadi pengunjung direstoran pasti banyak’
pikirnya. Yesung adalah saudara angkat Hyesung, mereka selisih 2 tahun. Sejak orang
tua Hyesung meninggal 3 bulan lalu, Yesunglah yang membanting tulang menghidupi
Hyesung dan dirinya sendiri. Mulai dari bekerja paruh waktu menjadi pelayan
pada pagi hari hingga siang, dan malam hari menjadi penyanyi di sebuah club
malam.
Tanpa kecurigaan apapun, Yeoja ceria
ini melenggang menuju dapur untuk mempersiapkan makan malam. Tak ada makanan
yang special tiap harinya. Hanya nasi dan kimchi yang mampu mereka beli dari
upah Yesung, terkadang Yesung memang membawa pulang makanan yang masih tersisa
banyak dari restoran tempatnya bekerja. Namun rupanya hari ini tidak.
Hari mulai malam, Hyesung mulai
merasa ada yang aneh pada Oppa yang kamarnya berada tepat disamping kamarnya
itu. Hyesungpun berinisiatif memanggil Yesung untuk makan malam sebelum dia
akan pergi bekerja. Diputarnya gagang pintu berwarna emas itu dan menyembulkan
kepalanya dibalik pintu. Tak ada siapapun.
“Oppa?”
masih tak ada jawaban hingga dia berbalik menuju kamar mandi.
“Oppaaa,,
aku tahu kau didalam. Keluarlah! Ayo kita makan malam dulu” masih tak ada
jawaban. Hyesungpun menggedor-gedor pintu kamar mandi itu. Juga tak ada
jawaban. Dia mulai cemas. Tanpa menunggu lagi, dia langsung membuka pintu kamar
mandi itu dengan sekali hentakan.
“YESUNG
OPPAAAAAAA!!!!” pekik Hyesung melihat sosok yang dicarinya sejak tadi sedang
tergantung kaku dengan wajah yang membiru dan pergelangan tangan kiri yang
nyaris putus dengan tambang yang mengikat lehernya hingga tergantung agak
tinggi. Dia lantas berlari memeluk kaki namja yang telah menjadi mayat itu,
berharap bisa mengangkatnya agak keatas untuk menolongnya namun, terlambat.
“Oppa,
jebal! Jangan seperti ini, turunlah. Jangan tinggalkan aku”. Pekik Hyesung
dengan air matanya yang terus mengalir deras dan terus memanggil nama Yesung.
#Flashback
End
Sebuah tangan merangkul pelan tubuh
lemah Hyesung yang masih berdiri mematung melihat nisan yang telah tertanam
kokoh itu. Sebuah foto seorang namja berhidung mancung tersenyum manis
disamping nisan itu.
“Hyesung-ah,
mari kita pulang” ajak namja bersuara sendu itu namun tak digubris oleh yeoja
dengan hanbok putih polos disampingnya.
“Sungie-ya”
kini namja itu mulai menggucang pelan bahunya.
“Donghae
Oppa”
“hemm?”
“benarkah
Yesung Oppa tak akan menjagaku lagi? Dia takkan kembali lagi?” ujar Hyesung
datar tanpa ekspresi.
“tenanglah,
aku akan selalu menjagamu” Donghae lalu memeluknya. Berusaha menenangkannya.
Donghae adalah sahabat Yesung dan Hyesung sejak kecil. Dia tinggal disebelah
kanan rumah Hyesung. Semalam, Donghaelah yang pertama mendengar jeritan Hyesung
dan mencari bantuan dan menenangkan Hyesung yang sangat terpukul.
4 Bulan kemudian…
Seorang yeoja tampak sedang sibuk
memainkan senar gitar dengan nada yang tak beraturan disebuah balkon rumah yang
megah. Sesekali dia mengibaskan jari-jari lentiknya yang mulai memerah akibat
senar yang tajam. Malam yang mulai larut dan sendiri diluar tak dihiraukannya.
Yang penting tugas membuat lagunya cepat selesai dan dia masih bisa melihat
bintang.
“aishh…
aku benci kau Kyuhyun seonsaengnim! Kenapa aku harus diberi tugas menciptakan
lagu! Argghh… Michigetta” keluhnya frustasi sambil menghentak-hentakkan kakinya
kelantai karena jengkel.
“tok
tok tok” bunyi pintu kamar yeoja itu dari luar.
“Hyesung-ah,
kau belum tidur?” suara namja paruh baya yang kepala dan sebagian tubuhnya
menyembul dari balik pintu.
“aniyo,
ahjussi.” Jawab yeoja yang dipanggil Hyesung itu. Ahjussi itu kemudian masuk
dan ikut duduk pada kursi disamping Hyesung. Hyesung menatapnya ramah.
“kau
belajar sangat keras” ujar sang ahjussi yang dibalas senyum oleh Hyesung.
“besok
Ahjussi dan Ahjumma akan ke Taiwan, jadi, kau dan Henry baik-baik dirumah ne?”
lanjut sang ahjussi lagi.
“ne,
ahjussi. Kalau boleh tahu, berapa lama ahjussi disana?”
“hmm,..
sekitar 8 bulan. Hyesungi, meskipun baru satu minggu kau disini, ahjussi harap
kau bisa berbaur dengan kehidupan barumu”
“tenang
Ahjussi! Meskipun baru seminggu aku disini, tapi aku sudah merasa seperti
dirumah sendiri”
“bagus
kalau begitu, sekarang ahjussi mau istirahat dulu. Kau juga jangan tidur
terlalu malam. Arra!”
“Arasseo,
ahjussi” jawab Hyesung.
Setelah
Lau ahjussi keluar, Hyesung kembali menatap tulisan not-not yang sepertinya
akan selesai.
“Huahh,,,
tinggal mengulangi chorus dan selesailah sudah!” serunya kemudian membereskan
lembaran-lembaran itu sebelum masuk kamar.
>SKIP<
“SUN
HYESUNGGGG!!!!! SEPULUH DETIK LAGI KAU TIDAK TURUN, KAU JALAN KAKI SAMPAI KE
SEKOLAH” Teriak namja tinggi dari jendela mobilnya didepan pagar rumahnya.
Sudah lebih sepuluh menit orang yang bernama Sun Hyesung itu membuatnya
menunggu disana. Yang dipanggil –Hyesung- kini muncul dengan tangan yang masih
mengikat rambutnya dan roti isi di mulutnya. Dia langsung menuju pintu sebelah
kanan dan masuk mobil. Belum sempat dipasangnya sabuk pengaman, namja yang
duduk dibalik kemudi itu langsung menarik pedal dan melaju dalam sekali
hentakan. Beruntung Hyesung tidak sampai terbentur dashboard mobil. Dia hanya
menghela nafas. Jika bukan karena paksaan ayah angkatnya, dia pasti sudah
berangkat ke sekolah bersama Donghae.
Henry Lau. Namja tinggi,
tampan, popular, anak pengusaha asal China, banyak penggemar, sombong, anggota
boyband sekolah, dan playboy. Dia adalah anak tunggal dari pengusaha terkenal
di Asia. Yaitu perusahaan industry yang memproduksi mobil super McLaren
MP4-12C. Dalam 5 bulan, dia bisa tiga kali berpacaran. Rekor terlamanya
berpacaran dengan seorang yeoja adalah 1 setengah bulan. Itupun dengan yeoja
yang juga idola para namja di sekolah mereka. Mereka baru putus minggu lalu.
Dia juga punya senyum andalan yang membuat semua yeoja jatuh hati dalam
seketika tapi sepertinya itu tidak berlaku pada Hyesung.
Sun
Hyesung. Yeoja yatim-piatu yang sederhana, pintar, lincah, namun sangat
tertutup jika membahas hal-hal pribadi. 7 bulan lalu kedua orang tuanya
meninggal dunia dan 4 bulan lalu, kakak angkatnya juga meninggal dunia akibat
bunuh diri. Tidak diketahui secara pasti apa yang menyebabkannya bunuh diri.
Hyesungpun tak ingin tahu penyebabnya karena itu akan membuatnya lebih sakit
lagi. Hanya secarik kertas membingungkan yang ditinggalkannya untuk Hyesung.
Sejak meninggalnya Yesung, hidup Hyesung kini benar-benar berubah. Seminggu
yang lalu, seorang pengusaha kaya raya asal China mengaku sebagai sahabat
ibunya dan mengadopsinya. Pengusaha itu mengajaknya tinggal di rumahnya yang
megah namun tak pernah ditinggalinya karena kesibukannya di luar negeri. Jadi,
di rumah yang bisa disebut istana itu dia hanya tinggal dengan Henry Lau dan
beberapa pembantu.
Hyesung masih ingat betul hari
pertama dia di rumah itu. Saat itu dia baru saja selesai mandi. Dengan hanya
memakai handuk 10 cm di atas lutut, dia keluar dari kamar mandi dan sangat
terkejut melihat Henry ada dalam kamarnya.
#Flashback
“yya!
Dasar namja mesum, keluar kau!” pekiknya melempar berbagai barang yang ada di
meja riasnya. Yang dilempar juga terkejut dan lari menghindari lemparan yang
bertubi-tubi mengelilingi kamar.
“hentikaaaaaannnnn”
teriak Henry yang posisinya sudah berada di atas ranjang. Otomatis Hyesung
menghentikan aksinya. Henry mengatur nafasnya sejenak. “aku akan keluar.
Setelah kau memakai pakaian, segera ke ruang baca. Ada yang ingin aku
bicarakan” titahnya kemudian turun dari ranjang menuju pintu. Belum disentuhnya
gagang pintu, dia berbalik lagi.
“apa
lagi!” pekik Hyesung dengan tangan yang menyilang menutupi dadanya.
Henry
hanya tersenyum miring. “Kau jangan salah sangka! Aku tidak menyukai yeoja yang
betisnya seperti lobak” dia langsung pergi.
“APA!!!”
>SKIP<
Rumah baru Hyesung ini memiliki dua
lantai. Masing-masing lantai memiliki dua kamar tidur. Di lantai pertama ada
kamar utama, kamar tamu, dapur, ruang makan yang bukan main luasnya, ruang tamu
yang juga luas, dan di samping rumah terdapat kolam renang yang amat besar.
Sedangkan di lantai dua, ada dua kamar tidur yang luas dengan satu kamar mandi
dimasing-masing kamarnya. Ruang baca yang hampir seperti perpustakaan sekolah
berada tepat disamping kamar Henry, ruang TV yang tak pernah gunakan untuk
berkumpul keluarga karena saking sibuknya mereka, dan balkon yang menghadap
langsung ke kolam renang dibawah. Di sudut kiri balkon itu terdapat sebuah
piano hitam yang sepertinya jarang dipakai karena sudah sangat berdebu.
Dulunya lantai dua ini adalah daerah
kekuasaannya namun kini dia harus berbagi dengan yeoja yang tidak pernah
ditemuinya sama sekali. Bahkan yang paling membuatnya shock adalah kenyataan
bahwa yeoja itu telah diangkat oleh ayahnya, dan yeoja itu kini mendiami kamar
didepan kamarnya. Benar-benar menyebalkan. Henry menatap malas layar computer
didepannya. Dia tak habis pikir dengan kegilaan apa yang ayahnya buat.
Mengangkat anak yang tak jelas asal usulnya? Huh, yang benar saja! Pikirnya.
“tok..
tok..” suara ketukan dari pintu. Henry tahu siapa itu.
“masuk”
ujar Henry malas. Yang mengetuk pintu pun mulai memutar gagang dan menyebul
dari balik pintu.
“ada
apa?” Tanya Hyesung kemudian. Henry berdiri dari duduknya lalu memutar
kepalanya menatap yeoja bersurai hitam itu lurus-lurus.
“aku
memanggilmu kesini untuk memberitahukan beberapa peraturan yang harus dipatuhi”
Henry sedikit menekan pada kata ‘dipatuhi’. Dahi Hyesung berkerut samar.
“peraturan?”
“yup!
Peraturan!” Henry memasukkan kedua tangannya di saku celana.
“tempat
ini adalah tempat kekuasaanku. Tidak boleh siapapun dengan bebas mondar-mandir
disini. Tak ada yang boleh mencampuri privasi masing-masing. Kau jangan
seenaknya masuk kamarku. Dan komputer ini” Henry menunjuk computer yang ada
dihadapannya. “meskipun aku punya laptop, kau membutuhkan izinku untuk
menggunakannya” lanjutnya. Hyesung hanya menatapnya aneh.
“ingat!
Tak ada yang boleh tahu bahwa kita serumah. Karena ayahku menyuruh kita ke
sekolah bersama, kau harus turun di perempatan terdekat” Henry menunjukkan
senyuman miringnya kemudian beralih menatap pemandangan kolam renang lewat
jendela disebelah kanannya membelakangi Hyesung yang mulai gelisah. Bukan
gelisah karena takut, namun gelisah Karena tidak tahan ingin melayangkan bogem
mentahnya diwajah namja yang sangat belagu ini.
“oh
ya!” Henry kembali memutar kepalanya. “piano yang ada di balkon sana. Jangan
sekali-kali kau berani menyentuhnya” dia melenggang menuju pintu dibelakang
Hyesung.
“chakkamhan!”
gumam Hyesung ketika Henry telah melewati tubuhnya. Suaranya sedikit bergetar.
Henry menghentikan langkahnya. Dan Hyesung menatap Henry dengan tatapan… marah?
“asal
kau tahu! Ini tempat kekuasaanmu atau bukan aku tidak peduli. Kau pikir aku
tidak punya pekerjaan lain hingga mondar-mandir ditempat ini dan ingin mencampuri
privasimu? Aku masih punya banyak pekerjaan tuan Lau. Computer itu” Hyesung
berhenti sejenak dan menunjuk computer persis seperti apa yang dilakukan Henry
tadi. Lengkap dengan senyuman miring khas Henry. “aku juga punya laptop yang
bagus” lanjutnya. Henry menatapnya penuh keheranan.
“ingat!
Aku juga tidak ingin orang tahu bahwa aku serumah dengan namja belagu
sepertimu. Jadi aku tidak perlu pergi ke sekolah denganmu karena aku memiliki
teman yang akan mengantar jemputku.” Hyesung tersenyum sinis. “aku juga tidak
suka bermain piano jadi kau tak perlu khawatir aku akan menyentuh benda yang
hampir roboh ditempatnya itu.” Lanjutnya. Wajah Henry tampak memerah menahan
malu. Dia terlihat mengepal kedua tangannya dan mulai melangkahkan kakinya
menuju ambang pintu.
“chakkamhan!!”
Hyesung kembali menahannya. Henry hanya menghentikan langkahnya tanpa berbalik.
“bukankah kau yang lebih dulu memasuki kamarku tadi?” Hyesung tersenyum penuh
kemenangan. Henry langsung menjauh dari tempat itu meninggalkan Hyesung yang berdiri
hampir tebang saking senangnya.
#Flashback
End
Seperti perjanjian hari itu, Hyesung
harus turun di perempatan jalan dekat sekolah tanpa ketahuan siapapun. Di
pertengahan jalan dia melihat sepasang anak kecil sedang naik sepeda bersama.
Kelihatannya mereka sedang ke sekolah bersama. Mereka begitu saling menyayangi,
terlihat dari cara yeoja yang diboncengi itu memeluk pinggang namja yang
memboncenginya. Dan yang memboncengi mengayuh sepedanya dengan hati-hati.
‘pegangan
yang erat Hyesung-ah. Oppa tidak ingin kau jatuh’
‘ne,
Yesung Oppa’
DEG
Rasa sesak kini sedang menggerogoti
seluruh rongga dada Hyesung hingga sulit rasanya untuk menghirup sedikit saja
oksigen. Tiba-tiba saja ingatan dan suara Yesung saat mereka kecil dulu kembali
terngiang dikepalanya. Entah mengapa, Hyesung selalu merasa bahwa Yesung masih
hidup. Namun dia akan merasa kesakitan ketika sadar bahwa dia tak bisa
menemukan sosok itu. Bintang itu.
“Sungie-ya,
apa yang kau lakukan disini? Kajja” suara sendu menyadarkan Hyesung bahwa dia
sudah sampai di ambang gerbang sekolah. Hyesung mengerjap beberapa kali sebelum
mengetahui siapa namja yang sudah merangkulnya ini.
“Donghae
oppa?”
“hmm?
Kajja!” Donghae menarik Hyesung masuk gerbang.
“kenapa
kau tidak ingin dijemput seperti biasa?” Tanya Donghae akhirnya. Meskipun kini
rumah Donghae dan Hyesung menjadi agak jauh, Donghae tetap selalu menjemput
Hyesung setiap paginya. Ia ingin menjaga Hyesung seperti Yesung menjaganya
dulu.
“hari
ini Lau ahjussi akan pergi ke Taiwan. Jadi, beliau ingin aku berangkat ke
sekolah dengan Henry setiap paginya. Awalnya aku menolak, tapi untuk hari ini
sepertinya tidak masalah” Hyesung mengangkat bahunya.
“tapi,
tadi sepertinya kau tidak turun di parkiran dengan mobil yang biasa dia pakai.
Bahkan, aku pikir tadi kau malah berjalan kaki” sanggah Donghae sambil
merapikan tas punggungnya yang hanya digantungkan di lengan kanannya saja.
“aniyo!
Kami ada perjanjian” Hyesung tersenyum kecut. Kening Donghae berkerut samar.
“perjanjian?”
“ne!
Henry tidak ingin sampai ada orang lain yang tahu bahwa kami tinggal serumah”
Hyesung menjelaskan dengan semangat. Kerutan di kening Donghae makin samar.
Melihatnya, Hyesung tersenyum tanda mengerti.
“Bukan
hanya dia yang tidak mau. Aku juga tidak mau kalau orang tahu aku tinggal
serumah dengan manusia belagu seperti dia” Hyesung melanjutkan. Donghae
tersenyum tenang.
“baguslah
kalau begitu. Sekarang kau masuklah” Donghae mengusap puncak kepala Hyesung
sebelum dia masuk dalam kelasnya. Setelah memastikan Hyesung sudah duduk di
bangkunya sendiri, Donghae melanjutkan langkahnya menuju kelasnya di lantai 3.
Yup, Hyesung kelas 1 dan kelasnya berada dilantai 1. Sedangkan Donghae, dia
kelas 3 dan kelasnya berada dilantai 3.
Waktu Istirahat…
“ada
apa dengan yeoja-yeoja itu?” Tanya Hyesung pada teman sebangkunya ketika
melihat para yeoja berlarian keluar kelas setelah mendengar bel tanda
istirahat.
“oh,
itu! Ini adalah hari sabtu. Hari dimana Henry oppa akan bermain basket di
lapangan tengah dan mereka berlarian agar mendapat tempat yang strategis untuk
melihat performanya” teman Hyesung ini bercerita dengan penuh semangat bahkan
sampai menahan nafasnya.
“kau
pasti belum pernah melihatnya, kan! Oppa itu keren sekali! Sini ku tunjukkan”
yeoja itu kemudian menarik Hyesung bergabung dengan yeojadeul lainnya menuju
balkon di lantai dua. ‘Henry Lau namja menyebalkan itukah yang dia maksud?’
gumam Hyesung dalam hati.
Belum sampai Hyesung menginjakkan
kakinya tepat di anak tangga terakhir, telingannya sudah berdengung akibat
jeritan-jeritan para siswi yang tak terkontrol. “Disini!” yeoja yang tadi
menarik Hyesung hingga mendapat tempat yang bisa leluasa melihat ke lapangan
basket dibawah.
“huwaaaaaaa,…
kau lihat! Bukankah dia keren sekali? Kyaaaaa….. Henry oppaaaa!” jeritan teman
sebangku Hyesung ini tak tertahankan lagi. Hyesung mencari siapakah yang
dimaksud temannya itu. Yang dia lihat adalah Henry lau yang sedang asik
mendrible bola penuh peluh dan percaya diri. Dan yeoja yang berada disekitar
lapangan di bawah sana terlalu asik menonton hingga mata mereka tak berkedip
sama sekali.
“hah?
Jieun-ah, Apanya yang keren. Namja belagu seperti itu yang kau suka?” Hyesung
mengernyit ngeri. Yang dipanggil Jieun mendelik curiga. “kau mengenalnya?”
Hyesung mendadak kaku.
“aa-aniyo.
Hanya saja dari gayanya, sepertinya sifatnya seperti itu” nada bicara Hyesung
mendadak aneh. Jieun menatap Hyesung penuh selidik. “kkk-kenapa kau menatapku
seperti itu?” Hyesung kini tengah dirundung rasa takut akan ketahuan bahwa
mereka –Dia dan Henry- serumah.
“kau
juga menyukainya, kan?” Tanya Jieun dengan telunjuknya didepan hidung Hyesung.
“Mwo? Itu tidak mungkin, Jieun-ah” jawabnya segera sambil mengibaskan kedua
tangannya di depan Jieun.
“ayolah,
jujur saja. Semua yeoja di sini juga langsung jatuh cinta pada pandangan
pertama dengan Henry oppa” aku Jieun. Hyesung hanya tersenyum geli. “aku bisa
saja jatuh cinta padanya” ujar Hyesung santai. Jiseun tersenyum penuh
kemenangan. “tapi itu artinya aku sudah gila. Huwahahaha” lanjutnya dengan
tawaan renyah. Jieun hanya mendengus pelan. ‘awas saja kalau kau benar-benar
gila’ umpatnya dalam hati.
“Sungie-ya,
kau juga disini?” Tanya Donghae heran mengapa Hyesung bisa bergabung disini.
“eoh?
Donghae oppa” Hyesung juga terkejut. “aniyo. Temanku ini tadi mengajakku ke
sini” lanjutnya.
“oh!
Aku pikir kau juga menyukai idola di bawah sana” candanya. “kalau begitu, ayo
ikut oppa ke kantin”
“kajja!
Jieun-ah, aku ke kantin yah” pamit Hyesung pada Jiseun, tapi yang dipanggil
masih asik menjerit kesenangan bersama yeoja lain.
@Kantin
Setelah mengambil makanan, Hyesung
dan Donghae memilih meja di bagian belakang dekat jendela yang menghadap
langsung ke taman belakang.
“bagaimana
pelajaranmu pagi ini?” Donghae memulai percakapan. Mereka bercakap-cakap ringan
sambil melahap makanan mereka.
“huft,..
menyebalkan” Hyesung hanya mendengus membuat kening Donghae berkerut.
“apanya
yang menyebalkan?” Tanya Donghae lalu menyeruput susu strawberrynya.
“Kyuhyun
seonsaengnim.” Hyesung menghela nafas sejenak dan melanjutkan lagi. “Aku sudah
susah payah membuat lagu sampai larut malam dan dia mengkritik habis-habisan
lagu yang aku ciptakan”
“Sabarlah,
Kyuhyun seonsaengnim memang bermulut pedas. Tapi sebenarnya dia adalah guru
yang paling baik dari pada semua guru di sekolah ini” Donghae menenangkan.
“tapi…
komentarnya begitu pedas! Aku hanya salah nada saat menyanyikannya tadi”
Hyesung menyuapkan sesendok penuh nasi dan menyusul lauknya di mulutnya.
Donghae hanya tersenyum ringan.
“Sungie-ya,
sepertinya orang sana sejak tadi memperhatikanmu” Donghae mengangkat dagunya
menunjuk ke arah belakang Hyesung. “hem? Nuguya?” Hyesung berbalik. Saat itu
juga, yang dimaksud Donghae langsung mengalihkan pandangannya. Namja itu sedang
berdiri bersama teman-teman klub basketnya. Mereka baru selesai latihan dan
sekarang sedang beristirahat.
“aahh...biarkan!
Aku tidak peduli” Hyesung melanjutkan makannya.
TBC
__________…..~~ooOoo~~…..__________
Gimana FF kali ini? Huwaaaa…… mian
banget kalo sekarang bikin FFnya lama banget >.<. Kira-kira siapakah
namja yang dimaksud Donghae tadi? Ada yang bisa nebak? Ayo ayo ayo~
FF ini teruntuk cucuku tercinta Wulan
a.k.a Eka Angelina Wulandari a.k.a Sun Hyesung. Mian banget yah cu, nenek
posting + bikinnya kelamaan.
silahkan kirimkan komentar, saran, atau
kritik kalian ke :
Facebook : Jiseon Anjellgirls ElfsparKyu atau di Twitter ku
Author kasih nama FB n Twitter karena
buat komen langsung di sini author akui emang susah.
Kkkkkkkk~ kelanjutannya ditunggu yah!
Doain mudah-mudah cepet dapet ilham trus bisa END dan cepet di posting,..
hohohohoho~
See you…… #TebarKisseuWithKyu
Ttd.
PJS a.k.a Park Jiseon a.k.a Veny
Sugandhi
(author terkeceh istrinya Kyu)
#ReadersPadaMuntah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar