Kamis, 19 Desember 2013

[Cerita Rakyat] Sulawesi Tenggara : Gunung Saba Mpolulu

Konon, di Sulawesi Tenggara, ada dua buah gunung yang terletak berjauhan. Yang satu terletak di daerah Labunoua ( sebelah timur ) dan yang satunya lagi terletak di daerah Kabaena ( sebelah barat ). Gunung yang berada di Labunoua bernama Gunung Kamonsope, sedangkan gunung yang berada di daerah Kabaena bernama Gunung Mata Air. Di masing – masing gunung tersebut ada penunggu atau penjaganya. Gunung Kamonsope dijaga oleh seorang perempuan cantik, sedangkan Gunung Mata Air dijaga oleh seorang laki – laki bertubuh gemuk dan berambut gondrong.
             Pada suatu ketika, musim kemarau melanda daerah itu selama berbulan – bulan, sehingga seluruh daerah itu kekurangan air. Kecuali Gunung Kamonsope, persediaan airnya masih melimpah. Oleh penjaganya, air tersebut digunakan untuk mengairi daerah sekitar Gunung Kamonsope yang ditumbuhi oleh pepohonan dan tanaman.
             Sementara itu, Gunung Mata Air sangat kekurangan air. Jangankan untuk mengairi pepohonan dan tanaman, air untuk digunakan mandi pun sulit diperoleh. Memang aneh. Walaupun gunung itu bernama Gunung Mata Air, tetapi masih tetap kekurangan air.
             Suatu hari penjaga Gunung Mata Air meminta air kepada penjaga Gunung Kamonsope untuk mengairi daerah Gunung Mata Air yang dilanda kekeringan.
“Maaf saudari, bolehkah aku meminta sebagian airmu?” pinta penjaga Gunung Mata Air dengan sopan.
“Maaf Tuan, aku tidak dapat memberikanmu air, karena aku juga membutuhka banyak air.“  jawab pejaga Gunung Kamonsope.
             Beberapa kali penjaga Gunung Mata Air meminta air, namun penjaga Gunung Kamonsope tetap menolak permintaannya. Hal ini membuat penjaga Gunung Mata Air menjadi murka.
“ Jika kamu tidak mau memberikan airmu, aku akan memaksamu!” seru penjaga Gunung Mata Air dengan kesal.
“Jika aku tidak mau memberimu air, itu adalah hakku. Kenapa kamu memaksa? Tapi kalau kamu berani, silahkan!” tantang penjaga Gunung Kamonsope.
“Dasar perempuan pelit! Kalau itu maumu, tunggu saja pembalasanku!” seru penjaga Gunung Mata Air lalu segera kembali ke tempatnya dengan perasaan marah.
             Sesampainya di Gunung Mata Air, lelaki gemuk itu langsung merebahkan tubuh di pembaringannya. Pikirannya mulai berkecamuk memikirkan bagaimana cara untuk memperoleh air dari perempuan itu dengan paksa. Kemudian tiba – tiba seuatu terlintas dalam pikirannya.
“Aku ini adalah laki – laki, sedangkan penjaga Gunung Kamonsope adalah perempuan. Ah, masa aku dilecehkan oleh perempuan itu. Aku akan menembaknya dengan meriamku,” pikirnya.
             Rupanya penjaga Gunung Mata Air merasa harga dirinya diinjak – injak, sehingga mebuatnya tambah marah dan memutuskan untuk memerangi penjaga Gunung Kamonsope dengan menggunakan kekuatan senjata. Ia pun mengeluarkan sejata meriamnya.
“Dengan meriam ini, aku akan menghancurkan Gunung Kamonsope sampai berkeping – keeping,” gumam penjaga Gunung Mata Air.
             Setelah itu, penjaga Gunung Mata Air segera menambakkan meriamnya.
“Duorr…!” terdengar suara letusan
             Tembakan pertama itu tidak mengenai sasaran. Tembakan kedua pun diluncurkan, namun masih meleset. Tembakan ketiga, peluru tidak sampai ke sasaran. Berkali – kali penjaga Gunung Mata Air meluncurkan peluru meriamnya, namun tidak ada yang mengenai sasaran. Ia pun semakin murka dan emosinya semakin tidak terkendali. Ia menbakkan satu persatu peluru meriamnya ke arah Gunung Kamonsope, namun tidak satu pun yang mengenai sasaran. Tanpa disadarinya, ternyata ia telah kehabisan peluru.
             Sementara itu, penjaga Gunung Kamonsope yang mengetahui bahwa tempatnya diserang segera mengambil senjata untuk mebalasnya. Ia pun mengaluarkan meriamnya yang ukurannya lebih besar dari meriam milik penjaga Gunung Mata Air. Hanya sekali tembak, peluru meriamnya langsung mengenai sasaran.
“Duooorrr…!!! Booom…!!!” terdengar suara letusan yang sangat dahsyat.

             Peluru meriam itu tepat mengenai puncak Gunung Mata Air hingga terpongkah. Puncak gunung itu hilang sebagian hingga membentuk seperti kapak yang terkena benda keras. Sejak peristiwa itu, Gunung Mata Air berganti nama menjadi Gunung Saba Mpolulu yang artinya “Patahan pada kapak”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar