Konon, di Sulawesi Tenggara, ada dua buah gunung
yang terletak berjauhan. Yang satu terletak di daerah Labunoua ( sebelah timur
) dan yang satunya lagi terletak di daerah Kabaena ( sebelah barat ). Gunung
yang berada di Labunoua bernama Gunung Kamonsope, sedangkan gunung yang berada
di daerah Kabaena bernama Gunung Mata Air. Di masing – masing gunung tersebut
ada penunggu atau penjaganya. Gunung Kamonsope dijaga oleh seorang perempuan
cantik, sedangkan Gunung Mata Air dijaga oleh seorang laki – laki bertubuh
gemuk dan berambut gondrong.
Pada suatu ketika, musim kemarau
melanda daerah itu selama berbulan – bulan, sehingga seluruh daerah itu
kekurangan air. Kecuali Gunung Kamonsope, persediaan airnya masih melimpah.
Oleh penjaganya, air tersebut digunakan untuk mengairi daerah sekitar Gunung
Kamonsope yang ditumbuhi oleh pepohonan dan tanaman.
Sementara itu, Gunung Mata Air
sangat kekurangan air. Jangankan untuk mengairi pepohonan dan tanaman, air untuk
digunakan mandi pun sulit diperoleh. Memang aneh. Walaupun gunung itu bernama
Gunung Mata Air, tetapi masih tetap kekurangan air.
Suatu hari penjaga Gunung Mata Air
meminta air kepada penjaga Gunung Kamonsope untuk mengairi daerah Gunung Mata
Air yang dilanda kekeringan.
“Maaf
saudari, bolehkah aku meminta sebagian airmu?” pinta penjaga Gunung Mata Air
dengan sopan.
“Maaf
Tuan, aku tidak dapat memberikanmu air, karena aku juga membutuhka banyak
air.“ jawab pejaga Gunung Kamonsope.
Beberapa kali penjaga Gunung Mata
Air meminta air, namun penjaga Gunung Kamonsope tetap menolak permintaannya.
Hal ini membuat penjaga Gunung Mata Air menjadi murka.
“
Jika kamu tidak mau memberikan airmu, aku akan memaksamu!” seru penjaga Gunung
Mata Air dengan kesal.
“Jika
aku tidak mau memberimu air, itu adalah hakku. Kenapa kamu memaksa? Tapi kalau
kamu berani, silahkan!” tantang penjaga Gunung Kamonsope.
“Dasar
perempuan pelit! Kalau itu maumu, tunggu saja pembalasanku!” seru penjaga
Gunung Mata Air lalu segera kembali ke tempatnya dengan perasaan marah.
Sesampainya di Gunung Mata Air,
lelaki gemuk itu langsung merebahkan tubuh di pembaringannya. Pikirannya mulai
berkecamuk memikirkan bagaimana cara untuk memperoleh air dari perempuan itu
dengan paksa. Kemudian tiba – tiba seuatu terlintas dalam pikirannya.
“Aku
ini adalah laki – laki, sedangkan penjaga Gunung Kamonsope adalah perempuan.
Ah, masa aku dilecehkan oleh perempuan itu. Aku akan menembaknya dengan
meriamku,” pikirnya.
Rupanya penjaga Gunung Mata Air
merasa harga dirinya diinjak – injak, sehingga mebuatnya tambah marah dan
memutuskan untuk memerangi penjaga Gunung Kamonsope dengan menggunakan kekuatan
senjata. Ia pun mengeluarkan sejata meriamnya.
“Dengan
meriam ini, aku akan menghancurkan Gunung Kamonsope sampai berkeping –
keeping,” gumam penjaga Gunung Mata Air.
Setelah itu, penjaga Gunung Mata
Air segera menambakkan meriamnya.
“Duorr…!”
terdengar suara letusan
Tembakan pertama itu tidak mengenai
sasaran. Tembakan kedua pun diluncurkan, namun masih meleset. Tembakan ketiga,
peluru tidak sampai ke sasaran. Berkali – kali penjaga Gunung Mata Air
meluncurkan peluru meriamnya, namun tidak ada yang mengenai sasaran. Ia pun
semakin murka dan emosinya semakin tidak terkendali. Ia menbakkan satu persatu
peluru meriamnya ke arah Gunung Kamonsope, namun tidak satu pun yang mengenai
sasaran. Tanpa disadarinya, ternyata ia telah kehabisan peluru.
Sementara itu, penjaga Gunung
Kamonsope yang mengetahui bahwa tempatnya diserang segera mengambil senjata
untuk mebalasnya. Ia pun mengaluarkan meriamnya yang ukurannya lebih besar dari
meriam milik penjaga Gunung Mata Air. Hanya sekali tembak, peluru meriamnya
langsung mengenai sasaran.
“Duooorrr…!!!
Booom…!!!” terdengar suara letusan yang sangat dahsyat.
Peluru meriam itu tepat mengenai
puncak Gunung Mata Air hingga terpongkah. Puncak gunung itu hilang sebagian
hingga membentuk seperti kapak yang terkena benda keras. Sejak peristiwa itu,
Gunung Mata Air berganti nama menjadi Gunung Saba Mpolulu yang artinya “Patahan
pada kapak”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar