PJS Entertainment
Present
__________…..~~ooOoo~~…..__________
Title : I’ll Be Your Star (Chapter 3)
Author : Park Jiseon a.k.a Veny Sugandhi (@Veny_Oodl3)
*follow ne XD
Cast :
-
Henry Lau (Super Junior M)
-
Sun Hyesung (OC)
-
Donghae (Super Junior)
-
Chanyeol (EXO-K)
-
Park Jieun (OC)
-
Krystal (F(X))
-
And other
Length : Chaptered
Rating : PG-15
Genre : Romantic
~~Di
larang keras menyalin dan memposting ulang FF ini untuk kepentingan pribadi
atau blog. Itu namanya PLAGIAT dan plagiat pantesnya di buang ke JAM BAND~~
Recommended
Song : Henry – Trap
Warning :
Typo bertebaran dimana-mana!! Jika tidak berhati-hati anda akan tertular
virusnya (?)
__________…..~~ooOoo~~…..__________
Summary :
“Aku seekor burung
yang ditinggalkan didalam sangkar kecil yang disebut dirimu.
Aku bahkan tak bisa
terbang jauh.
Aku semakin lemah
dalam dirimu. Di dalam cinta ini yang selalu tetap hidup.
Oh aku terjebak,
aku terperangkap”
# Henry – Trap #
__________…..~~ooOoo~~…..__________
Sebelumnya…
“Karena aku baru saja jadian dengan yeoja
lain. Jadi, jebalyoo jangan pernah menemuiku dengan kata-kata balikan lagi.”
Kata-kata itu tanpa sadar keluar begitu saja dari mulutnya.
Krystal mengerutkan keningnya. Jadian?
Seorang Henry Lau sudah jadian dan tidak ada kabar beritanya sama sekali?.
“Keunyeoga nuguya? (Siapa dia?)” Tanya Krystal langsung.
Omona!! Henry tidak memikirkan hal itu. Siapa
yeoja itu? Henry memaksa otaknya memikirkan sebuah nama. Tapi yang ada di
otaknya hanya ada nama…
“Namanya Hyesung.” Henry langsung menutup
mulutnya dengan kedua tangannya. Kenapa nama yeoja itu yang disebutnya? Tapi
dia cepat-cepat memamerkan senyumnya lagi sebelum Krystal mencurigainya.
TBC
__________…..~~ooOoo~~…..__________
“Arasseo? Jadi jangan ganggu aku lagi, ne!”
ujarnya sambil berlalu. Belum lagi tiga langkah, Henry berbalik. Dia menyadari
kebiasaan yeoja ini yang melabrak siapa saja penghalangnya untuk mendapatkan
namja incarannya. “Oh ya, kau jangan sekali-kali mengganggu ketenangan
yeojachinguku. Kalau sampai sehelai rambutnya pun tersentuh olehmu, kau akan
berhadapan denganku!. Arra?!”
Henry buru-buru berbalik lalu menepuk dahinya
kuat-kuat. ‘Baboooooo, Henry babo! Kenapa harus namanya yang disebut?’ rutuk
dirinya dalam hati. Mau tidak mau, Hyesung harus diajak kerja sama.
“Oh ya! Yeoja yang
disebelah sana, dia targetku, jangan kau ambil!” Suara Chanyeol di kantin siang itu kembali terngiang. Aigoo… selain itu
dia juga harus meyakinkan temannya itu bahwa dia tidak berniat sama sekali
mengambil targetnya.
***
Sejak kejadian di lapangan basket
pagi tadi, Henry tampak tidak tenang. Dia sangat gusar memikirkan bagaimana
cara membujuk Hyesung untuk mengaku sebagai ‘yeojachingu palsunya’ hingga bel
istirahat berbunyi. Kini dia dan Chanyeol sedang berjalan beriringan di koridor
kelas menuju kantin.
“Henry-ya, ada apa denganmu? Sejak
pelajaran pertama tadi kau kelihatan gelisah sekali.” Tanya Chanyeol yang
melihat gerak-gerik aneh sahabatnya ini. Karena tidak ingin Chanyeol tahu
sebelum waktunya, Henry hanya menjawab. “Biasalah.”
“Benarkan, yang aku bilang!
Tidak sampai seminggu kau pasti akan memikirkan siapa lagi yang akan menjadi
yeojachingumu, Henry-ya.” Ujar Chanyeol heboh sambil menepuk punggung Henry
hingga dia agak sedikit terdorong ke depan. Henry hanya menepuk dahinya
frustasi.
“Ngomong-ngomong, hari ini
Shin ahjumma (bibi penjual di katin) memasak Jajangmyun atau tidak yah?” bisik
Chanyeol. “Molla, memangnya kenapa?”ucap Henry ringan.
“Kau lupa? Itu kan makanan
kesukaanku. Saat aku cemberut atau sedang bosan, makan jajangmyun buatan Shin
ahjumma pasti membuatku senang.” Jawab Chanyeol sambil menyodorkan jempolnya
yang sebesar jempol kaki author(?). *Tringgg* tiba-tiba muncul ide dikepala
Henry.
‘Coklat! Ne, aku akan
membujuknya dengan coklat!’ pikir Henry dalam hati. Senyum yang teramat cerah
kini terpancar diwajahnya. Membuat Chanyeol yang melihatnya bergidik ngeri.
“Gwaenchanayo?” Tanya
Chanyeol. “Gwaechana! Aku mendapatkan ide. Neo ttaemune! Gamsahamnida
Chanyeol-ah!” Henry menjabat tangan Chanyeol dan menggoyang-goyangkannya ke
atas-ke bawah dengan kencang hingga kepala mereka ikut bergetar.
“Memangnya apa yang aku
katakan barusan?” Tanya Chanyeol penuh kebingungan. “Ah! Setelah ini aku akan
beli coklat yang banyak!” seru Henry tak menghiraukan pertanyaan sahabat
disampingnya.
***
Sepulang sekolah, Henry
langsung ke minimarket membeli banyak coklat dan langsung ke kamar Hyesung. Dan
kali ini, tanpa ketuk pintu lagi. Dia tidak memperdulikan Hyesung yang bersiap
melemparinya dengan bantal. Begitu masuk, dia langsung menjelaskan apa yang
terjadi dengannya di sekolah tadi pagi.
“Mwoya??” pekik Hyesung kaget
mendengar perkataan Henry barusan. Henry hanya menatapnya memelas.
“Ayolah~ bantu aku sekali ini
saja, Sungie-ya.” Bujuknya sambil memamerkan senyuman mautnya. “Apa karena kau
menyukai Donghae hyung?” lanjutnya.
“Aniyo.” Jawab Hyesung malas.
“Atau, karena namja itu?” Henry menunjuk bingkai foto yang bertengger di meja
belajar Hyesung. “Di mana dia sekarang? Aku tidak pernah melihatnya.”
“Dia oppaku. Dia sekarang
sudah berada di tempat paling jauh.” Jawab Hyesung lemah. Matanya seakan
menerawang jauh. Sangat jauh. Ke tempat yang mungkin tak bisa ti gapai siapapun
termasuk dia sendiri. Tempat Yesung berada. Henry diam mendengar perkataan
yeoja itu. Baru kali ini dia mendengar yeoja itu bicara sesendu itu.
Tapi beberapa detik kemudian,
Henry melihatnya menggaruk kepala kesal. “Aishh,.. Henry-ya, aku ini baru masuk
sekolah itu. Aku juga masih kelas 1. Aku tidak mau mencari masalah dengan
siapa-siapa. Apa lagi dengan Krystal eonni. Kata temanku, dia sangat kejam jika
ada orang yang merebut targetnya. Shireo, shireo.” Hyesung mengibaskan kedua
tangannya lalu merebahkan tubuhnya diranjang. Dia memang cepat sekali berubah
ekspresi.
“Aku berjanji dia tidak akan
mengganggumu.” Henry berlutut dipinggir ranjang.
“Jangan dekat-dekat!” Hyesung
mendorong Henry dengan lututnya. Dia tidak ingin kejadian malam itu terulang.
Henry langsung berdiri dan melipat kedua tangannya didepan dada. ‘Kau pasti
tidak akan menolaknya lagi’ pikirnya.
“Kenapa pasang senyum seperti
itu?” Tanya Hyesung melihat senyum Henry yang mengerikan. “aku ingin
menunjukkan sesuatu.” Jawab Henry dan langsung keluar kamar.
Tidak sampai satu menit, Henry
kembali lagi dengan sekeranjang besar penuh coklat dengan berbagai rasa dan
ukuran. Hyesung otomatis menelan salivanya melihat makanan kesukaannya itu.
Semua yang namanya coklat atau
makanan yang berbau coklat, Hyesung sangat menyukainya. Bahkan, dia bisa dibilang
maniak coklat. Dia pernah menangis seharian cuma karena coklat. Waktu itu
Hyesung membeli banyak sekali coklat dan menyimpannya di kulkas. Karena saking
banyaknya, salah satu coklatnya tertutup benda-benda lain di kulkas. 5 bulan
kemudian dia baru menemukan coklat itu di balik sayur-sayuran dan berbagai
macam benda lain. Baru saja dia akan memakannya, ternyata dilihat coklat itu
sudah kadaluarsa dan itu membuatnya menangis.
Henry tersenyum penuh
kemenangan melihatnya.
“Otthae? Kau mau menjadi
yeojachingu palsuku?” sekali lagi Henry bertanya. Namun kali ini dengan nada
yang menggoda Hyesung untuk melahap coklat-coklat itu. Hyesung mengerjapkan
matanya beberapa kali sebelum menjawab. “Sudah ku tahu. Kau pasti mau
menyogokku kan?”
“Geurae, kalau begitu coklat
ini ku buang saja!” ujar Henry sambil mendelik Hyesung yang melotot. ‘Coklat
enak dan sebanyak itu mau dibuang?’ pikir Hyesung.
Henry menuju sofa disamping
ranjang Hyesung dan mengeluarkan satu per satu coklat dari keranjang sebesar
ember itu. “Tapi lihat! Coklat rasa strawberry ini kelihatannya enak sekali.”
Ujarnya sambil melirik Hyesung yang mematung di sampingnya. “Aigoo~ Chocolate
ballnya besar sekali! Pasti sangat gurih dan manis. Sayang sekali kalau mau
dibuang. Kalau saja orang itu mau menjadi yeojachingu palsuku.” Lanjutnya.
Hyesung menarik napasnya
dalam-dalam. Sepertinya coklat-coklat itu sudah membuat pikirannya berubah.
“Geurae! Aku mau. Sekarang berikan coklat-coklat itu.” Hyesung langsung turun
dari ranjang dan duduk di sebelah Henry.
Henry melompat dari duduknya.
“Jinjjayo? Huwaaaaaaa~ gomawo, Hyesung-ah. Ini, makan sepuasmu.” Henry
menyodorkan coklat itu dipangkuan Hyesung lalu mencubit pipi yeoja itu. Seperti
tidak merasakan apapun, Hyesung langsung mengambil salah satu coklat disana dan
memakannya.
“Jangan banyak-banyak. Nanti
kau muntah.” Henry memperingatkan Hyesung. Hyesung hanya membalasnya dengan
anggukan yang membuat Henry menepuk kepala yeoja itu seperti kucing.
“Dasar yeoja aneh!” dengus
Henry pelan. “Kau namja belagu!” balas Hyesung sambil mengunyah. Henry hanya
bisa menggelengkan kepala.
Huufftt~ akhirnya dia bisa
membujuk yeoja itu juga. Besok tinggal memamerkan yeojachingu barunya saja!
Pikir Henry.
***
Setibanya dikelas, Hyesung
langsung menghempaskan tasnya dengan kasar diatas meja. Hal itu sukses membuat
seisi kelas memandangnya keheranan. Bagaimana tidak? Dia hampir mati kesal
karena cibiran setiap orang yang melihatnya dari awal masuk pagar hingga dia
masuk pintu kelas.
Hari ini sekolah sedang gempar
mengenai berita Henry berpacaran dengan anak kelas 1 yang tidak lain adalah dia
sendiri. Termasuk teman-teman sekelasnya yang kini saling berbisik-bisik dan
menatapnya sinis.
“Aigoo!
Apa benar Henry oppa berpacaran dengan yeoja seperti itu?”
“Omona!
Sudah menjadi yeojachingu Henry dia malah berangkat sekolah dengan Donghae
oppa!”
“Ya!
Dia tidak secantik Krystal eonni.”
… dan masih banyak lagi
kata-kata yang membuat Hyesung seakan ingin menyumbat mulut mereka satu per
satu. Kalau saja malam itu dia tidak membabi buta memakan coklat yang diberikan
Henry, mungkin sekarang dia akan membatalkan perjanjian itu. Masalahnya,
coklat-coklat itu hanya tinggal setengahnya. Setengahnya lagi sudah dihabiskan
dalam waktu 1 jam.
“HYEEEESUUUUNGGGGGG-AAAAAH!!!!”
pekik seseorang dari ambang pintu kelas. Otomatis seisi kelas menutup telinga
dan menatap orang itu dengan murka. Orang itu langsung menghampiri Hyesung
dengan tergesah-gesah tanpa mempedulikan orang-orang tadi.
‘Pasti orang ini akan membahas
berita itu juga.’ Pikir Hyesung. “Apa benar kata-kata orang-orang itu?” bingo!
Tepat yang dipikirkannya.
“Jawab Hyesung-ah! Kau bilang
kau tidak akan pernah menyukai namja belagu seperti dia. Tapi sekarang ka…”
Hyesung menempelkan telunjuknya dibibir yeoja bertubuh mungil itu.
“Ssssttt…. Aku akan
menjelaskan semuanya nanti, Jieun-ah!” jawab Hyesung malas lalu membanting
bokongnya dikursinya.
Sedetik kemudian, terdengar
jeritan yeoja-yeoja dari luar kelas. ‘Ya Tuhan! Apa lagi ini?’ jerit Hyesung
dalam hati.
Mata Hyesung hampir terjatuh
dari tempatnya ketika melihat Henry sedang berdiri tepat di ambang pintu sambil
tersenyum padanya. Hyesung langsung berdiri begitu Henry beralih mendekatinya
dan langsung merangkulnya.
“Ikut aku.” Bisik Henry ke
telinga Hyesung dan langsung menariknya keluar kelas. Adegan itu sukses membuat
yeoja yang ada di sekitar situ kembali menjerit. Termasuk Jieun.
***
“Jadi, kalian berdua hanya
pura-pura pacaran agar Krystal tidak mendesakmu untuk balikan lagi?” Chanyeol
mengulangi penjelasan Henry dan Hyesung. Mereka berdua langsung mengangguk.
Ternyata, tadi Henry menarik
Hyesung ke ruang latihan The Cupid untuk menjelaskan semuanya pada member the
Cupid termasuk Chanyeol agar dia tak marah pada Henry. Setelah sebelumnya
Chanyeol bahkan tak ingin memandang wajah Henry.
“Geurae.” Balas Chanyeol
malas. Meskipun dia tahu mereka hanya berpura-pura, tapi tetap saja masih ada
rasa jengkel di hatinya sahabatnya mendekati targetnya. Selama ini dia pikir
Donghae saja sudah saingan yang berat. Kini ditambah lagi Henry yang sudah
pasti tidak mungkin dikalahkannya.
“Jiaahh… ku kira sebelumnya
kalian benar-benar pacaran!” ucap Jieun tiba-tiba yang membuat Hyesung
menyikutnya. Tadi saat Henry menarik Hyesung, Jieun membuntuti mereka dan ikut
masuk dalam ruang latihan.
“Mwo? Padahal sekolah sudah
heboh. Sayang sekali kalau cuma pura-pura.” Ujarnya lagi.
“Ya!” bentak Henry dan Hyesung
bersamaan. Jieun mengulum senyumnya sedangkan Chanyeol menarik nafasnya dengan
berat.
“Awas kalau kau sampai
membocorkan semua ini. Akan kubakar koleksi…” kata-kata Hyesung terpotong
karena mulutnya buru-buru ditutup oleh Jieun. Jieun takut kalau Hyesung
membocorkan rahasianya yang suka mengoleksi foto-foto The Cupid dan memajangnya
ditembok kamarnya. Selain itu, setiap malam sebelum tidur, dia mencium foto
mereka satu per satu(?).
“Tidak! Aku tidak akan
membocorkannya pada siapa pun. Hehe” jawabnya panic dan diakhiri cengiran.
“Kriiiiinnnggg!!!
Kriiiiiinnnnngggg!!!” Tiba-tiba bel tanda apel berbunyi. Itu artinya semua
murid harus berkumpul di gymnastium untuk mendengarkan celotehan kepala sekolah
dan beberapa guru. Biasanya kalau apel tiba-tiba diselenggarakan, berarti akan
ada acara penting.
***
Seperti yang diduga semua
murid dan author(?). Apel pagi tadi menginformasikan pada semua murid bahwa 3
minggu lagi akan ada ujian bagi para siswa kelas 2 dan 3. Dan kelas satu
diharapkan dapat membantu para senior. Maklumlah, sekolah ini kan sekolah music
semacam Kirin Art School gitu. Namanya PJS Art School. Setelah lulus dari
sekolah ini, mereka akan di trainee lagi untuk menjadi artis dibawah naungan PJS
Entertainment. *Author ngarep XP
Pada saat ujian, semua peserta
hanya akan menunjukkan hasil berlatih merekan selama setahun. Entah itu
menyanyi, menari, acting, atau ngerap.
Setelah apel pagi itu,
otomatis semua murid langsung berlatih dan mempersiapkan segala kebutuhan
mereka. Tidak terkecuali Henry dan kawan-kawan. Sepertinya mulai hari ini
sampai 3 minggu yang akan dating akan menjadi hari yang sangat melelahkan.
Henry menghempaskan tasnya
sembarang begitu memasuki ruang tamu. Kemudian di susul dengan menghempaskan
tubuhnya di sofa yang empuk. Hari ini sangat melelahkan. Karena tiga minggu
lagi akan akan ujian, waktu latihannya jadi lebih banyak.
Beberapa menit kemuadian, terdengar
suara orang membuka lalu menutup pintu dari arah pintu utama. Henry menengok
siapa itu. Senyumnya mengembang saat tahu itu Hyesung. “Hyesung-ah, kau juga
baru pulang?” Tanya Henry begitu melihat Hyesung melepas sepatunya.
“Ne, tadi aku habis membantu
Donghae oppa memilih baju untuk ujiannya.” Jawab Hyesung sambil menjatuhkan
tubuhnya beserta tasnya di samping Henry. Tampaknya dia juga tidak kalah
lelahnya dengan Henry.
“Huft~ untungnya besok hari
minggu. Jadi aku bisa istirahat dulu.” Kata Henry sambil menyenderkan kepalanya
di sandaran sofa.
“Benar! Kalau begitu, aku
ingin tidur sepuasnya.” Ujar Hyesung yang langsung berdiri dari duduknya dengan
semangat. Sedetik kemudian dia melangkahkan kakinya menuju tangga. Henry hanya
menatapnya heran.
“Apa kau mau tidur mulai
sekarang? Ini kan masih jam 6 sore.” Tanya Henry. Hyesung yang baru
menginjakkan kakinya di tangga pertama berbalik.
“Tentu saja! Memangnya
kenapa?” jawabnya ketus.
“Aniyo. Hanya saja, bukankah
itu terlalu lama?”
“Sudahlah, awas ya kalau kau
berani-berani mengganggu tidurku!” jawab Hyesung lalu memutar kepalanya dan
melanjutkan jalannya. Henry melihat ada sesuatu yang jatuh dari tas Hyesung.
Henry melihat baik-baik benda
apa itu. Tampaknya seperti sehelai kertas pink. Henry berdiri dan menghampiri
kertas itu. Terlihat beberapa kata tertulis disana. Tulisan tangan yang rapih
dan sepertinya di tulis sudah agak lama. Terlihat dari warna tintanya yang
sudah mulai memudar. Henry membaca satu per satu kata yang tertulis di sana.
-----
Aku
melakukannya karena aku meminta maaf
Aku melakukannya karena aku tak sanggup menerima semuanya
Aku menulis ini seperti kehabisan nafas, kata itu secara cepat keluar dari hatiku yang bodoh
Meskipun mencoba menahannya dan mencoba berpikir secara logis
Satu kata ‘Aku mencintaimu’ tertulis di dalam hatiku
Aku melakukannya karena aku tak sanggup menerima semuanya
Aku menulis ini seperti kehabisan nafas, kata itu secara cepat keluar dari hatiku yang bodoh
Meskipun mencoba menahannya dan mencoba berpikir secara logis
Satu kata ‘Aku mencintaimu’ tertulis di dalam hatiku
Cinta
terlarang yang tak mungkin untuk bersatu
Cinta
yang melampaui batas norma hingga aku tak mampu mengadapinya
Lebih
baik aku terhapus dan terlupakan, lebih baik aku menghilang dan tak terlihat
Dalam satu
detik, kata ‘jangan pergi’ terucap ribuan kali
Ini adalah akhirnya, sekali, dua kali janji yang tak bisa
kujaga, janji untuk terus menjagamu
Sedikit demi sedikit kau menjauh, suara derap langkah menghilang,
Aku mohon, akulah yang terluka sekarang
Sedikit demi sedikit kau menjauh, suara derap langkah menghilang,
Aku mohon, akulah yang terluka sekarang
Mianhae, aku tidak bisa berada
disampingmu tiap kau membutuhkanku lagi
Tapi kau tak perlu setegar itu
Setiap kali kau ingin menangis,
carilah bintang di langit dan menangislah
Bintang-bintang itu akan menjadi
pengganti bahuku
Mungkin, kau akan bertemu seseorang
yang akan menjelaskan semua ini padamu
Jagalah dirimu meskipun tanpaku, yang harus kau tahu
Aku
sangat mencitaimu, Sun Hyesung
-Yesung-
-----
Henry menatap pintu kamar
Hyesung yang sudah tertutup. Jadi, inikah alasan yang membuat yeoja itu selalu
berada di balkon tiap malam? Sedikit demi sedikit, Henry mengerti tentang
sesuati yang terselubung dari setiap tingkah laku Hyesung. Dia berusaha
menutupi air matanya dengan tawa.
Henry masuk ke kamarnya dan
langsung membersihkan badan a.k.a mandi agar kembali fresh. Setelah berganti
pakaian, dia kembali mengambil kertas yang dipungutnya tadi dari meja
belajarnya. Dia kembali membaca surat itu sambil berjalan ke balkon.
Dia mendapati Hyesung juga
berada disana, sedang memandangi bintang.
‘Bukankah tadi dia bilang mau
tidur?’ Henry menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. ‘ah, aku lupa kalau
melihat bintang adalah ritualnya setiap sebelum tidur.’
Hyesung memang tidak pernah
bisa tidur sebelum melihat bintang. Bahkan, Henry pernah memergokinya tertidur
dengan posisi dagu yang menopang pada pagar balkon. Karena melihat bintang.
***
Hyesung sedang menatap
bintang-bintang yang sedang bertaburan di langit ketika tiba-tiba dentuman
piano mengganggu ketenangannya. Suara piano itu berasal dari grand piano hitam
di sudut balkon yang dimainkan oleh Henry.
Hyesung memutar kepalanya
dengan cepat dan menatap tajam namja itu. Henry hanya tersenyum nakal tanpa
menghentikan permainannya. “Umjigil su eopseo wae. Naneun mugeowojyo
gakhimanhae. Ni mam ginsoge neoya jinchae~ neo inchae, yeah…” Henry malah
bernyanyi. Itu membuat Hyesung menghampirinya dengan jengkel.
“HENTIKANNN!!!!” pekiknya
tepat di telinga Henry. Otomatis Henry menghentikan permainan dan nyanyiannya
untuk menutup telinganya yang sakit. Entah sudah keberapa kalinya Hyesung
melalukan itu pada telingnya.
“Kau mengganggu ketenanganku
saja.” Omel Hyesung pada Henry dengan mata yang dibuat melotot. Henry hanya
menurunkan tangannya dari telinga dengan tersenyum.
“Dia Yesung, kan?” Tanya Henry
pelan. Kening Hyesung berkerut menatap Henry.
“Namja yang membuatmu selalu
bersedih itu Yesung, kan?” Henry mempertegas pertanyaannya.
“Apa maksudmu! Kau tidak tahu
apa-apa tentang dia. Kau…” ucapan Hyesung terpotong begitu melihat Henry
mengayun-ayunkan kertas pink yang dipungutnya tadi di depan wajahnya.
Hyesung merampasnya dari
tangan Henry. “Kau membacanya, kan!” tatapan Hyesung seakan memaksa untuk
berkata “Aniyo”, tapi jawaban yang didapatkan Hyesung hanya bahu Henry
terangkat. Hyesung mengembuskan napas panjang sambil kembali membalikkan
badannya.
Hyesung mengikuti langkah
yeoja itu. “Tapi, dia kan saudaramu. Kenapa kalian…?” Henry menggantungkan
kata-katanya.
Hyesung tersenyum miris. “Dia
bukan saudara kandungku.” Jawaban itu sukses membuat Henry kaget. “Dia anak
angkat eommaku sejak sebelum menikah dengan appaku. Makanya kami pacaran.”
Lanjutnya. Henry mengangguk mengerti.
“Hyesung-ah, Kalau mau
menangis, menangis saja…” Hyesung berbalik menatap Henry. “Tidak perlu melihat
bintang lagi. Bersandarlah di bahuku.”
Kini mata Hyesung menatap
Henry dengan tanda tanya. Kalau boleh jujur, dia sedikit terharu mendengar
perkataan namja itu.
“Tapi kau harus tetap menjadi
yeojachingu palsuku.” Henry mengernyit.
Detik berikutnya, Henry
kembali mendapat teriakan yang lebih parah dari yang tadi. “KAU PIKIR ITU
MENYENANGKAN, EOH! AKU SANGAT TERSIKSA MENJADI YEOJACHINGU PALSUMU, HENRY
LAU!!” Henry langsung berlari masuk ke dalam dengan kedua tangannya menutup
telinga. Shin ahjumma yang melihat tingkah mereka dari pinggir kolam renang di
bawah hanya terkekeh.
Bagaimana tidak tersiksa?
Seharian ini dia terus saja mendengar bisikan menyebalkan orang-orang di sekolah.
Terlebih lagi saat apel tadi, Henry malah ikut duduk disampingnya dan itu
mengundang perhatian orang-orang yang duduk disekitar mereka. Dia juga sering
mencuri kesempatan memeluk Hyesung namun dia langsung mendapatkan sikut maut
dari Hyesung.
Pada waktu istirahat juga
Hyesung tidak dapat makan dengan tenang. Pasalnya, Henry mengangkat makanan
yang Hyesung akan makan di kantin ke ruang latihan The Cupid. Dia bilang,
setiap mantan-mantannya pasti makan di ruang latihan untuk menemaninya. Selain
itu, Henry juga terus memaksanya untuk menyuapinya makan tiap ada yang masuk
untuk melihat mereka latihan.
‘Ini baru sehari. Bagaimana
kalau seminggu aku menjadi Yeoja palsunya? Mungkin aku bisa gila sungguhan.’
Pikir Hyesung dalam hati. Dia kembali memutar rubuhnya bersandar pada pagar dan
melihat kembali kertas pink tadi dengan tatapan pilu.
***
Hyesung bangun dengan mata
setengah tertutup. Sinar matahari yang menembus jendela kamarnya memaksa dia
meninggalkan mimpinya.
“Aisshh, Henry-ya,” erang
Hyesung, menutup kepalanya dengan bantal.
“Hyesung-ah, ireona!” Henry
menarik bantal Hyesung lalu duduk di sebelahnya.
“Untuk apa! Aku masih
mengantuk!” merasa kehilangan bantalnya, Hyesung menarik selimutnya
tinggi-tinggi.
“Ireona! Sudah jam sepuluh!”
Henry mengguncang-guncang tubuh Hyesung. “Temani aku berkeliling.”
“Shireo! Semalam kan aku sudah
bilang kalau aku mau tidur sepuasnya. Kau pergi saja sendiri.”
“Ireona!” Henry meloncat ke
atas tubuh Hyesung dan membuka selimut yang menutupi wajahnya. “Apa mau ku
cium?” Henry memanyunkan bibirnya dan mendekatkan wajahnya ke muka Hyesung yang
masih setengah melek.
Hyesung hanya menutup wajahnya
dengan kedua tangannya tanpa berkata apa-apa. Henry mendengus.
“Kau benar tidak mau bangun?
Kalau begitu aku akan melakukan sesuatu padamu.” Henry menarik selimut Hyesung
lebih ke bawah dan meniup leher yeoja itu. Dan kemudian…
“Hyaaaaaaaaa….!!!” Brukkk!!
Tangan Hyesung dibuat kaku ke
depan dan menghantam dada Henry sampai dia terdorong ke belakang. Lalu lutut
Hyesung dengan sengaja menendangnya hingga jatuh terlentang di lantai. Hyesung
akhirnya duduk tegak dan memamerkan wajah marahnya yang berminyak (*plakk!!
Author digampar Hyesung). Matanya mencari-cari sosok pengganggu itu. Tapi
begitu melihat Henry meringis di lantai, Hyesung malah tertawa keras.
“Makanya, jangan menggangguku
sedang tidur!”
***
Hyesung berdiri dengan malas
di samping kamar pas melihat namja yang sedang memilih baju di depannya. Sekarang
mereka sedang berada di jalan Garosoo. Di mana jalan itu adalah kawasan
perbelanjaan yang sangat ramai dan terkenal. Terdapat puluhan toko pakaian dan
restaurant di kawasan itu.
Tadinya dia pikir namja ini
hanya membeli dua atau tiga potong pakaian untuk kostumnya di ujian nanti. Tapi
ternyata tidak. Sudah sekitar 13 kantung pakaian yang mereka bawa. Dan kini dia
masih belum puas memilih pakaian. ‘Sepertinya namja ini juga punya sisi
feminine.’ Pikir Hyesung dalam hati.
“Ya, mari kita pulang.”
Panggil Hyesung pada Henry yang masih asik mematuk tubuhnya di cermin. Dia
sedang mencoba topi coklat yang bertuliskan ‘ H.C ‘
“Sedikit lagi.” Balas Henry
sambil mengibaskan tangannya.
“Aku lapar.” Keluh Hyesung,
dia berjalan menyeret kakinya menuju Henry. Namun Henry hanya meliriknya dari
kaca tanpa berbalik.
“Henry-ya!” panggilnya lagi.
Tapi kali ini sambil melepas topi yang sedang Henry coba. “Kau ingin kita
bertengkar di sini?”
“Geurae, sekarang kita cari
makan! Oke?” jawab Henry lalu meletakkan topi itu kembali dan menarik tangan
Hyesung keluar dari toko itu.
“Ya, bantu aku memegang
barang-barang ini.” Hyesung menendang-nendang tas-tas belanjaan Henry yang di
pegangnya. Henry tersenyum dan mengambil tiga tas dari tangan Hyesung.
“Ya, kau hanya mengambil
tiga.” Hyesung berhenti melangkah. “Aiss, kau terlalu banyak mengeluh! Mau
makan tidak?” jawab Henry ketus membuat Hyesung hanya memanyunkan bibirnya dan
menyeret kakinya mengikuti arah Henry.
TBC
__________…..~~ooOoo~~…..__________
Readerdeul, gimana chapter
kali ini? Kayanya rada kaku gitu yah? Maklumlah, bentar lagi author bakal UN
jadi gak bisa focus buat FF. Wkwkwkwk….
Oh ya, yang surat Yesung buat
Hyesung itu translatenya lagu ‘Yesung – Gray Paper’, tapi banyak yang author
ganti liriknya biar cocok sama sikon FF ini. Trus, pas Henry main piano di
balkon itu dia nyanyiin lagu dia yang ‘Trap’
BOCORAN: Di chapter selanjutnya author akan
menambah cast yeoja. Dia pernah main di drama ‘Dong Yi’ sebagai Dong Yi masih
kecil. Nah, sekarang kan dia udah gede. Jadi author masukin dia di FF ini.
Author juga tunggu jejaknya…
(y)
#FlyWithKyu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar