Rabu, 29 Januari 2014

[FF] I’ll Be Your Star (Chapter 3)

PJS Entertainment
Present
__________..~~ooOoo~~..__________

Title      : I’ll Be Your Star (Chapter 3)

Author : Park Jiseon a.k.a Veny Sugandhi (@Veny_Oodl3) *follow ne XD

Cast      :
-          Henry Lau (Super Junior M)
-          Sun Hyesung (OC)
-          Donghae (Super Junior)
-          Chanyeol (EXO-K)
-          Park Jieun (OC)
-          Krystal (F(X))
-          And other

Length  : Chaptered

Rating  : PG-15

Genre                 : Romantic

~~Di larang keras menyalin dan memposting ulang FF ini untuk kepentingan pribadi atau blog. Itu namanya PLAGIAT dan plagiat pantesnya di buang ke JAM BAND~~

Recommended Song : Henry – Trap

Warning            : Typo bertebaran dimana-mana!! Jika tidak berhati-hati anda akan tertular virusnya (?)

__________..~~ooOoo~~..__________
Summary          :

“Aku seekor burung yang ditinggalkan didalam sangkar kecil yang disebut dirimu.
Aku bahkan tak bisa terbang jauh.
Aku semakin lemah dalam dirimu. Di dalam cinta ini yang selalu tetap hidup.
Oh aku terjebak, aku terperangkap”
# Henry – Trap #

__________..~~ooOoo~~..__________


Sebelumnya…

“Karena aku baru saja jadian dengan yeoja lain. Jadi, jebalyoo jangan pernah menemuiku dengan kata-kata balikan lagi.” Kata-kata itu tanpa sadar keluar begitu saja dari mulutnya.

Krystal mengerutkan keningnya. Jadian? Seorang Henry Lau sudah jadian dan tidak ada kabar beritanya sama sekali?. “Keunyeoga nuguya? (Siapa dia?)” Tanya Krystal langsung.

Omona!! Henry tidak memikirkan hal itu. Siapa yeoja itu? Henry memaksa otaknya memikirkan sebuah nama. Tapi yang ada di otaknya hanya ada nama…

“Namanya Hyesung.” Henry langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Kenapa nama yeoja itu yang disebutnya? Tapi dia cepat-cepat memamerkan senyumnya lagi sebelum Krystal mencurigainya.


TBC

__________..~~ooOoo~~..__________


“Arasseo? Jadi jangan ganggu aku lagi, ne!” ujarnya sambil berlalu. Belum lagi tiga langkah, Henry berbalik. Dia menyadari kebiasaan yeoja ini yang melabrak siapa saja penghalangnya untuk mendapatkan namja incarannya. “Oh ya, kau jangan sekali-kali mengganggu ketenangan yeojachinguku. Kalau sampai sehelai rambutnya pun tersentuh olehmu, kau akan berhadapan denganku!. Arra?!”

Henry buru-buru berbalik lalu menepuk dahinya kuat-kuat. ‘Baboooooo, Henry babo! Kenapa harus namanya yang disebut?’ rutuk dirinya dalam hati. Mau tidak mau, Hyesung harus diajak kerja sama.

“Oh ya! Yeoja yang disebelah sana, dia targetku, jangan kau ambil!” Suara Chanyeol di kantin siang itu kembali terngiang. Aigoo… selain itu dia juga harus meyakinkan temannya itu bahwa dia tidak berniat sama sekali mengambil targetnya.


***


             Sejak kejadian di lapangan basket pagi tadi, Henry tampak tidak tenang. Dia sangat gusar memikirkan bagaimana cara membujuk Hyesung untuk mengaku sebagai ‘yeojachingu palsunya’ hingga bel istirahat berbunyi. Kini dia dan Chanyeol sedang berjalan beriringan di koridor kelas menuju kantin.

“Henry-ya, ada apa denganmu? Sejak pelajaran pertama tadi kau kelihatan gelisah sekali.” Tanya Chanyeol yang melihat gerak-gerik aneh sahabatnya ini. Karena tidak ingin Chanyeol tahu sebelum waktunya, Henry hanya menjawab. “Biasalah.”

“Benarkan, yang aku bilang! Tidak sampai seminggu kau pasti akan memikirkan siapa lagi yang akan menjadi yeojachingumu, Henry-ya.” Ujar Chanyeol heboh sambil menepuk punggung Henry hingga dia agak sedikit terdorong ke depan. Henry hanya menepuk dahinya frustasi.

“Ngomong-ngomong, hari ini Shin ahjumma (bibi penjual di katin) memasak Jajangmyun atau tidak yah?” bisik Chanyeol. “Molla, memangnya kenapa?”ucap Henry ringan.

“Kau lupa? Itu kan makanan kesukaanku. Saat aku cemberut atau sedang bosan, makan jajangmyun buatan Shin ahjumma pasti membuatku senang.” Jawab Chanyeol sambil menyodorkan jempolnya yang sebesar jempol kaki author(?). *Tringgg* tiba-tiba muncul ide dikepala Henry.

‘Coklat! Ne, aku akan membujuknya dengan coklat!’ pikir Henry dalam hati. Senyum yang teramat cerah kini terpancar diwajahnya. Membuat Chanyeol yang melihatnya bergidik ngeri.

“Gwaenchanayo?” Tanya Chanyeol. “Gwaechana! Aku mendapatkan ide. Neo ttaemune! Gamsahamnida Chanyeol-ah!” Henry menjabat tangan Chanyeol dan menggoyang-goyangkannya ke atas-ke bawah dengan kencang hingga kepala mereka ikut bergetar.

“Memangnya apa yang aku katakan barusan?” Tanya Chanyeol penuh kebingungan. “Ah! Setelah ini aku akan beli coklat yang banyak!” seru Henry tak menghiraukan pertanyaan sahabat disampingnya.


 ***


Sepulang sekolah, Henry langsung ke minimarket membeli banyak coklat dan langsung ke kamar Hyesung. Dan kali ini, tanpa ketuk pintu lagi. Dia tidak memperdulikan Hyesung yang bersiap melemparinya dengan bantal. Begitu masuk, dia langsung menjelaskan apa yang terjadi dengannya di sekolah tadi pagi.

“Mwoya??” pekik Hyesung kaget mendengar perkataan Henry barusan. Henry hanya menatapnya memelas.

“Ayolah~ bantu aku sekali ini saja, Sungie-ya.” Bujuknya sambil memamerkan senyuman mautnya. “Apa karena kau menyukai Donghae hyung?” lanjutnya.

“Aniyo.” Jawab Hyesung malas. “Atau, karena namja itu?” Henry menunjuk bingkai foto yang bertengger di meja belajar Hyesung. “Di mana dia sekarang? Aku tidak pernah melihatnya.”

“Dia oppaku. Dia sekarang sudah berada di tempat paling jauh.” Jawab Hyesung lemah. Matanya seakan menerawang jauh. Sangat jauh. Ke tempat yang mungkin tak bisa ti gapai siapapun termasuk dia sendiri. Tempat Yesung berada. Henry diam mendengar perkataan yeoja itu. Baru kali ini dia mendengar yeoja itu bicara sesendu itu.

Tapi beberapa detik kemudian, Henry melihatnya menggaruk kepala kesal. “Aishh,.. Henry-ya, aku ini baru masuk sekolah itu. Aku juga masih kelas 1. Aku tidak mau mencari masalah dengan siapa-siapa. Apa lagi dengan Krystal eonni. Kata temanku, dia sangat kejam jika ada orang yang merebut targetnya. Shireo, shireo.” Hyesung mengibaskan kedua tangannya lalu merebahkan tubuhnya diranjang. Dia memang cepat sekali berubah ekspresi.

“Aku berjanji dia tidak akan mengganggumu.” Henry berlutut dipinggir ranjang.

“Jangan dekat-dekat!” Hyesung mendorong Henry dengan lututnya. Dia tidak ingin kejadian malam itu terulang. Henry langsung berdiri dan melipat kedua tangannya didepan dada. ‘Kau pasti tidak akan menolaknya lagi’ pikirnya.

“Kenapa pasang senyum seperti itu?” Tanya Hyesung melihat senyum Henry yang mengerikan. “aku ingin menunjukkan sesuatu.” Jawab Henry dan langsung keluar kamar.

Tidak sampai satu menit, Henry kembali lagi dengan sekeranjang besar penuh coklat dengan berbagai rasa dan ukuran. Hyesung otomatis menelan salivanya melihat makanan kesukaannya itu.

Semua yang namanya coklat atau makanan yang berbau coklat, Hyesung sangat menyukainya. Bahkan, dia bisa dibilang maniak coklat. Dia pernah menangis seharian cuma karena coklat. Waktu itu Hyesung membeli banyak sekali coklat dan menyimpannya di kulkas. Karena saking banyaknya, salah satu coklatnya tertutup benda-benda lain di kulkas. 5 bulan kemudian dia baru menemukan coklat itu di balik sayur-sayuran dan berbagai macam benda lain. Baru saja dia akan memakannya, ternyata dilihat coklat itu sudah kadaluarsa dan itu membuatnya menangis.

Henry tersenyum penuh kemenangan melihatnya.

“Otthae? Kau mau menjadi yeojachingu palsuku?” sekali lagi Henry bertanya. Namun kali ini dengan nada yang menggoda Hyesung untuk melahap coklat-coklat itu. Hyesung mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum menjawab. “Sudah ku tahu. Kau pasti mau menyogokku kan?”

“Geurae, kalau begitu coklat ini ku buang saja!” ujar Henry sambil mendelik Hyesung yang melotot. ‘Coklat enak dan sebanyak itu mau dibuang?’ pikir Hyesung.

Henry menuju sofa disamping ranjang Hyesung dan mengeluarkan satu per satu coklat dari keranjang sebesar ember itu. “Tapi lihat! Coklat rasa strawberry ini kelihatannya enak sekali.” Ujarnya sambil melirik Hyesung yang mematung di sampingnya. “Aigoo~ Chocolate ballnya besar sekali! Pasti sangat gurih dan manis. Sayang sekali kalau mau dibuang. Kalau saja orang itu mau menjadi yeojachingu palsuku.” Lanjutnya.

Hyesung menarik napasnya dalam-dalam. Sepertinya coklat-coklat itu sudah membuat pikirannya berubah. “Geurae! Aku mau. Sekarang berikan coklat-coklat itu.” Hyesung langsung turun dari ranjang dan duduk di sebelah Henry.

Henry melompat dari duduknya. “Jinjjayo? Huwaaaaaaa~ gomawo, Hyesung-ah. Ini, makan sepuasmu.” Henry menyodorkan coklat itu dipangkuan Hyesung lalu mencubit pipi yeoja itu. Seperti tidak merasakan apapun, Hyesung langsung mengambil salah satu coklat disana dan memakannya.

“Jangan banyak-banyak. Nanti kau muntah.” Henry memperingatkan Hyesung. Hyesung hanya membalasnya dengan anggukan yang membuat Henry menepuk kepala yeoja itu seperti kucing.

“Dasar yeoja aneh!” dengus Henry pelan. “Kau namja belagu!” balas Hyesung sambil mengunyah. Henry hanya bisa menggelengkan kepala.

Huufftt~ akhirnya dia bisa membujuk yeoja itu juga. Besok tinggal memamerkan yeojachingu barunya saja! Pikir Henry.


***


Setibanya dikelas, Hyesung langsung menghempaskan tasnya dengan kasar diatas meja. Hal itu sukses membuat seisi kelas memandangnya keheranan. Bagaimana tidak? Dia hampir mati kesal karena cibiran setiap orang yang melihatnya dari awal masuk pagar hingga dia masuk pintu kelas.

Hari ini sekolah sedang gempar mengenai berita Henry berpacaran dengan anak kelas 1 yang tidak lain adalah dia sendiri. Termasuk teman-teman sekelasnya yang kini saling berbisik-bisik dan menatapnya sinis.

“Aigoo! Apa benar Henry oppa berpacaran dengan yeoja seperti itu?”

“Omona! Sudah menjadi yeojachingu Henry dia malah berangkat sekolah dengan Donghae oppa!”

“Ya! Dia tidak secantik Krystal eonni.”

… dan masih banyak lagi kata-kata yang membuat Hyesung seakan ingin menyumbat mulut mereka satu per satu. Kalau saja malam itu dia tidak membabi buta memakan coklat yang diberikan Henry, mungkin sekarang dia akan membatalkan perjanjian itu. Masalahnya, coklat-coklat itu hanya tinggal setengahnya. Setengahnya lagi sudah dihabiskan dalam waktu 1 jam.

“HYEEEESUUUUNGGGGGG-AAAAAH!!!!” pekik seseorang dari ambang pintu kelas. Otomatis seisi kelas menutup telinga dan menatap orang itu dengan murka. Orang itu langsung menghampiri Hyesung dengan tergesah-gesah tanpa mempedulikan orang-orang tadi.

‘Pasti orang ini akan membahas berita itu juga.’ Pikir Hyesung. “Apa benar kata-kata orang-orang itu?” bingo! Tepat yang dipikirkannya.

“Jawab Hyesung-ah! Kau bilang kau tidak akan pernah menyukai namja belagu seperti dia. Tapi sekarang ka…” Hyesung menempelkan telunjuknya dibibir yeoja bertubuh mungil itu.

“Ssssttt…. Aku akan menjelaskan semuanya nanti, Jieun-ah!” jawab Hyesung malas lalu membanting bokongnya dikursinya.

Sedetik kemudian, terdengar jeritan yeoja-yeoja dari luar kelas. ‘Ya Tuhan! Apa lagi ini?’ jerit Hyesung dalam hati.

Mata Hyesung hampir terjatuh dari tempatnya ketika melihat Henry sedang berdiri tepat di ambang pintu sambil tersenyum padanya. Hyesung langsung berdiri begitu Henry beralih mendekatinya dan langsung merangkulnya.

“Ikut aku.” Bisik Henry ke telinga Hyesung dan langsung menariknya keluar kelas. Adegan itu sukses membuat yeoja yang ada di sekitar situ kembali menjerit. Termasuk Jieun.


***


“Jadi, kalian berdua hanya pura-pura pacaran agar Krystal tidak mendesakmu untuk balikan lagi?” Chanyeol mengulangi penjelasan Henry dan Hyesung. Mereka berdua langsung mengangguk.

Ternyata, tadi Henry menarik Hyesung ke ruang latihan The Cupid untuk menjelaskan semuanya pada member the Cupid termasuk Chanyeol agar dia tak marah pada Henry. Setelah sebelumnya Chanyeol bahkan tak ingin memandang wajah Henry.

“Geurae.” Balas Chanyeol malas. Meskipun dia tahu mereka hanya berpura-pura, tapi tetap saja masih ada rasa jengkel di hatinya sahabatnya mendekati targetnya. Selama ini dia pikir Donghae saja sudah saingan yang berat. Kini ditambah lagi Henry yang sudah pasti tidak mungkin dikalahkannya.

“Jiaahh… ku kira sebelumnya kalian benar-benar pacaran!” ucap Jieun tiba-tiba yang membuat Hyesung menyikutnya. Tadi saat Henry menarik Hyesung, Jieun membuntuti mereka dan ikut masuk dalam ruang latihan.

“Mwo? Padahal sekolah sudah heboh. Sayang sekali kalau cuma pura-pura.” Ujarnya lagi.

“Ya!” bentak Henry dan Hyesung bersamaan. Jieun mengulum senyumnya sedangkan Chanyeol menarik nafasnya dengan berat.

“Awas kalau kau sampai membocorkan semua ini. Akan kubakar koleksi…” kata-kata Hyesung terpotong karena mulutnya buru-buru ditutup oleh Jieun. Jieun takut kalau Hyesung membocorkan rahasianya yang suka mengoleksi foto-foto The Cupid dan memajangnya ditembok kamarnya. Selain itu, setiap malam sebelum tidur, dia mencium foto mereka satu per satu(?).

“Tidak! Aku tidak akan membocorkannya pada siapa pun. Hehe” jawabnya panic dan diakhiri cengiran.

“Kriiiiinnnggg!!! Kriiiiiinnnnngggg!!!” Tiba-tiba bel tanda apel berbunyi. Itu artinya semua murid harus berkumpul di gymnastium untuk mendengarkan celotehan kepala sekolah dan beberapa guru. Biasanya kalau apel tiba-tiba diselenggarakan, berarti akan ada acara penting.


***


Seperti yang diduga semua murid dan author(?). Apel pagi tadi menginformasikan pada semua murid bahwa 3 minggu lagi akan ada ujian bagi para siswa kelas 2 dan 3. Dan kelas satu diharapkan dapat membantu para senior. Maklumlah, sekolah ini kan sekolah music semacam Kirin Art School gitu. Namanya PJS Art School. Setelah lulus dari sekolah ini, mereka akan di trainee lagi untuk menjadi artis dibawah naungan PJS Entertainment. *Author ngarep XP

Pada saat ujian, semua peserta hanya akan menunjukkan hasil berlatih merekan selama setahun. Entah itu menyanyi, menari, acting, atau ngerap.

Setelah apel pagi itu, otomatis semua murid langsung berlatih dan mempersiapkan segala kebutuhan mereka. Tidak terkecuali Henry dan kawan-kawan. Sepertinya mulai hari ini sampai 3 minggu yang akan dating akan menjadi hari yang sangat melelahkan.

Henry menghempaskan tasnya sembarang begitu memasuki ruang tamu. Kemudian di susul dengan menghempaskan tubuhnya di sofa yang empuk. Hari ini sangat melelahkan. Karena tiga minggu lagi akan akan ujian, waktu latihannya jadi lebih banyak.

Beberapa menit kemuadian, terdengar suara orang membuka lalu menutup pintu dari arah pintu utama. Henry menengok siapa itu. Senyumnya mengembang saat tahu itu Hyesung. “Hyesung-ah, kau juga baru pulang?” Tanya Henry begitu melihat Hyesung melepas sepatunya.

“Ne, tadi aku habis membantu Donghae oppa memilih baju untuk ujiannya.” Jawab Hyesung sambil menjatuhkan tubuhnya beserta tasnya di samping Henry. Tampaknya dia juga tidak kalah lelahnya dengan Henry.

“Huft~ untungnya besok hari minggu. Jadi aku bisa istirahat dulu.” Kata Henry sambil menyenderkan kepalanya di sandaran sofa.

“Benar! Kalau begitu, aku ingin tidur sepuasnya.” Ujar Hyesung yang langsung berdiri dari duduknya dengan semangat. Sedetik kemudian dia melangkahkan kakinya menuju tangga. Henry hanya menatapnya heran.

“Apa kau mau tidur mulai sekarang? Ini kan masih jam 6 sore.” Tanya Henry. Hyesung yang baru menginjakkan kakinya di tangga pertama berbalik.

“Tentu saja! Memangnya kenapa?” jawabnya ketus.

“Aniyo. Hanya saja, bukankah itu terlalu lama?”

“Sudahlah, awas ya kalau kau berani-berani mengganggu tidurku!” jawab Hyesung lalu memutar kepalanya dan melanjutkan jalannya. Henry melihat ada sesuatu yang jatuh dari tas Hyesung.

Henry melihat baik-baik benda apa itu. Tampaknya seperti sehelai kertas pink. Henry berdiri dan menghampiri kertas itu. Terlihat beberapa kata tertulis disana. Tulisan tangan yang rapih dan sepertinya di tulis sudah agak lama. Terlihat dari warna tintanya yang sudah mulai memudar. Henry membaca satu per satu kata yang tertulis di sana.

-----
Aku melakukannya karena aku meminta maaf
Aku melakukannya karena aku tak sanggup menerima semuanya
Aku menulis ini seperti kehabisan nafas, kata itu secara cepat keluar dari hatiku yang bodoh
Meskipun mencoba menahannya dan mencoba berpikir secara logis
Satu kata ‘Aku mencintaimu’ tertulis di dalam hatiku
Cinta terlarang yang tak mungkin untuk bersatu
Cinta yang melampaui batas norma hingga aku tak mampu mengadapinya

Lebih baik aku terhapus dan terlupakan, lebih baik aku menghilang dan tak terlihat
Dalam satu detik, kata ‘jangan pergi’ terucap ribuan kali
Ini adalah akhirnya, sekali, dua kali janji yang tak bisa kujaga, janji untuk terus menjagamu
Sedikit demi sedikit kau menjauh, suara derap langkah menghilang,
Aku mohon, akulah yang terluka sekarang
Mianhae, aku tidak bisa berada disampingmu tiap kau membutuhkanku lagi
Tapi kau tak perlu setegar itu
Setiap kali kau ingin menangis, carilah bintang di langit dan menangislah
Bintang-bintang itu akan menjadi pengganti bahuku

Mungkin, kau akan bertemu seseorang yang akan menjelaskan semua ini padamu
Jagalah dirimu meskipun tanpaku, yang harus kau tahu
Aku sangat mencitaimu, Sun Hyesung

-Yesung-

-----

Henry menatap pintu kamar Hyesung yang sudah tertutup. Jadi, inikah alasan yang membuat yeoja itu selalu berada di balkon tiap malam? Sedikit demi sedikit, Henry mengerti tentang sesuati yang terselubung dari setiap tingkah laku Hyesung. Dia berusaha menutupi air matanya dengan tawa.

Henry masuk ke kamarnya dan langsung membersihkan badan a.k.a mandi agar kembali fresh. Setelah berganti pakaian, dia kembali mengambil kertas yang dipungutnya tadi dari meja belajarnya. Dia kembali membaca surat itu sambil berjalan ke balkon.

Dia mendapati Hyesung juga berada disana, sedang memandangi bintang.

‘Bukankah tadi dia bilang mau tidur?’ Henry menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. ‘ah, aku lupa kalau melihat bintang adalah ritualnya setiap sebelum tidur.’

Hyesung memang tidak pernah bisa tidur sebelum melihat bintang. Bahkan, Henry pernah memergokinya tertidur dengan posisi dagu yang menopang pada pagar balkon. Karena melihat bintang.


***


Hyesung sedang menatap bintang-bintang yang sedang bertaburan di langit ketika tiba-tiba dentuman piano mengganggu ketenangannya. Suara piano itu berasal dari grand piano hitam di sudut balkon yang dimainkan oleh Henry.

Hyesung memutar kepalanya dengan cepat dan menatap tajam namja itu. Henry hanya tersenyum nakal tanpa menghentikan permainannya. “Umjigil su eopseo wae. Naneun mugeowojyo gakhimanhae. Ni mam ginsoge neoya jinchae~ neo inchae, yeah…” Henry malah bernyanyi. Itu membuat Hyesung menghampirinya dengan jengkel.

“HENTIKANNN!!!!” pekiknya tepat di telinga Henry. Otomatis Henry menghentikan permainan dan nyanyiannya untuk menutup telinganya yang sakit. Entah sudah keberapa kalinya Hyesung melalukan itu pada telingnya.

“Kau mengganggu ketenanganku saja.” Omel Hyesung pada Henry dengan mata yang dibuat melotot. Henry hanya menurunkan tangannya dari telinga dengan tersenyum.

“Dia Yesung, kan?” Tanya Henry pelan. Kening Hyesung berkerut menatap Henry.

“Namja yang membuatmu selalu bersedih itu Yesung, kan?” Henry mempertegas pertanyaannya.

“Apa maksudmu! Kau tidak tahu apa-apa tentang dia. Kau…” ucapan Hyesung terpotong begitu melihat Henry mengayun-ayunkan kertas pink yang dipungutnya tadi di depan wajahnya.

Hyesung merampasnya dari tangan Henry. “Kau membacanya, kan!” tatapan Hyesung seakan memaksa untuk berkata “Aniyo”, tapi jawaban yang didapatkan Hyesung hanya bahu Henry terangkat. Hyesung mengembuskan napas panjang sambil kembali membalikkan badannya.

Hyesung mengikuti langkah yeoja itu. “Tapi, dia kan saudaramu. Kenapa kalian…?” Henry menggantungkan kata-katanya.

Hyesung tersenyum miris. “Dia bukan saudara kandungku.” Jawaban itu sukses membuat Henry kaget. “Dia anak angkat eommaku sejak sebelum menikah dengan appaku. Makanya kami pacaran.” Lanjutnya. Henry mengangguk mengerti.

“Hyesung-ah, Kalau mau menangis, menangis saja…” Hyesung berbalik menatap Henry. “Tidak perlu melihat bintang lagi. Bersandarlah di bahuku.”

Kini mata Hyesung menatap Henry dengan tanda tanya. Kalau boleh jujur, dia sedikit terharu mendengar perkataan namja itu.

“Tapi kau harus tetap menjadi yeojachingu palsuku.” Henry mengernyit.

Detik berikutnya, Henry kembali mendapat teriakan yang lebih parah dari yang tadi. “KAU PIKIR ITU MENYENANGKAN, EOH! AKU SANGAT TERSIKSA MENJADI YEOJACHINGU PALSUMU, HENRY LAU!!” Henry langsung berlari masuk ke dalam dengan kedua tangannya menutup telinga. Shin ahjumma yang melihat tingkah mereka dari pinggir kolam renang di bawah hanya terkekeh.

Bagaimana tidak tersiksa? Seharian ini dia terus saja mendengar bisikan menyebalkan orang-orang di sekolah. Terlebih lagi saat apel tadi, Henry malah ikut duduk disampingnya dan itu mengundang perhatian orang-orang yang duduk disekitar mereka. Dia juga sering mencuri kesempatan memeluk Hyesung namun dia langsung mendapatkan sikut maut dari Hyesung.

Pada waktu istirahat juga Hyesung tidak dapat makan dengan tenang. Pasalnya, Henry mengangkat makanan yang Hyesung akan makan di kantin ke ruang latihan The Cupid. Dia bilang, setiap mantan-mantannya pasti makan di ruang latihan untuk menemaninya. Selain itu, Henry juga terus memaksanya untuk menyuapinya makan tiap ada yang masuk untuk melihat mereka latihan.

‘Ini baru sehari. Bagaimana kalau seminggu aku menjadi Yeoja palsunya? Mungkin aku bisa gila sungguhan.’ Pikir Hyesung dalam hati. Dia kembali memutar rubuhnya bersandar pada pagar dan melihat kembali kertas pink tadi dengan tatapan pilu.


***


Hyesung bangun dengan mata setengah tertutup. Sinar matahari yang menembus jendela kamarnya memaksa dia meninggalkan mimpinya.

“Aisshh, Henry-ya,” erang Hyesung, menutup kepalanya dengan bantal.

“Hyesung-ah, ireona!” Henry menarik bantal Hyesung lalu duduk di sebelahnya.

“Untuk apa! Aku masih mengantuk!” merasa kehilangan bantalnya, Hyesung menarik selimutnya tinggi-tinggi.

“Ireona! Sudah jam sepuluh!” Henry mengguncang-guncang tubuh Hyesung. “Temani aku berkeliling.”

“Shireo! Semalam kan aku sudah bilang kalau aku mau tidur sepuasnya. Kau pergi saja sendiri.”

“Ireona!” Henry meloncat ke atas tubuh Hyesung dan membuka selimut yang menutupi wajahnya. “Apa mau ku cium?” Henry memanyunkan bibirnya dan mendekatkan wajahnya ke muka Hyesung yang masih setengah melek.

Hyesung hanya menutup wajahnya dengan kedua tangannya tanpa berkata apa-apa. Henry mendengus.

“Kau benar tidak mau bangun? Kalau begitu aku akan melakukan sesuatu padamu.” Henry menarik selimut Hyesung lebih ke bawah dan meniup leher yeoja itu. Dan kemudian…

“Hyaaaaaaaaa….!!!” Brukkk!!

Tangan Hyesung dibuat kaku ke depan dan menghantam dada Henry sampai dia terdorong ke belakang. Lalu lutut Hyesung dengan sengaja menendangnya hingga jatuh terlentang di lantai. Hyesung akhirnya duduk tegak dan memamerkan wajah marahnya yang berminyak (*plakk!! Author digampar Hyesung). Matanya mencari-cari sosok pengganggu itu. Tapi begitu melihat Henry meringis di lantai, Hyesung malah tertawa keras.

“Makanya, jangan menggangguku sedang tidur!”


***


Hyesung berdiri dengan malas di samping kamar pas melihat namja yang sedang memilih baju di depannya. Sekarang mereka sedang berada di jalan Garosoo. Di mana jalan itu adalah kawasan perbelanjaan yang sangat ramai dan terkenal. Terdapat puluhan toko pakaian dan restaurant di kawasan itu.

Tadinya dia pikir namja ini hanya membeli dua atau tiga potong pakaian untuk kostumnya di ujian nanti. Tapi ternyata tidak. Sudah sekitar 13 kantung pakaian yang mereka bawa. Dan kini dia masih belum puas memilih pakaian. ‘Sepertinya namja ini juga punya sisi feminine.’ Pikir Hyesung dalam hati.

“Ya, mari kita pulang.” Panggil Hyesung pada Henry yang masih asik mematuk tubuhnya di cermin. Dia sedang mencoba topi coklat yang bertuliskan ‘ H.C ‘

“Sedikit lagi.” Balas Henry sambil mengibaskan tangannya.

“Aku lapar.” Keluh Hyesung, dia berjalan menyeret kakinya menuju Henry. Namun Henry hanya meliriknya dari kaca tanpa berbalik.

“Henry-ya!” panggilnya lagi. Tapi kali ini sambil melepas topi yang sedang Henry coba. “Kau ingin kita bertengkar di sini?”

“Geurae, sekarang kita cari makan! Oke?” jawab Henry lalu meletakkan topi itu kembali dan menarik tangan Hyesung keluar dari toko itu.

“Ya, bantu aku memegang barang-barang ini.” Hyesung menendang-nendang tas-tas belanjaan Henry yang di pegangnya. Henry tersenyum dan mengambil tiga tas dari tangan Hyesung.

“Ya, kau hanya mengambil tiga.” Hyesung berhenti melangkah. “Aiss, kau terlalu banyak mengeluh! Mau makan tidak?” jawab Henry ketus membuat Hyesung hanya memanyunkan bibirnya dan menyeret kakinya mengikuti arah Henry.


TBC

__________..~~ooOoo~~..__________


Readerdeul, gimana chapter kali ini? Kayanya rada kaku gitu yah? Maklumlah, bentar lagi author bakal UN jadi gak bisa focus buat FF. Wkwkwkwk….
Oh ya, yang surat Yesung buat Hyesung itu translatenya lagu ‘Yesung – Gray Paper’, tapi banyak yang author ganti liriknya biar cocok sama sikon FF ini. Trus, pas Henry main piano di balkon itu dia nyanyiin lagu dia yang ‘Trap’

BOCORAN: Di chapter selanjutnya author akan menambah cast yeoja. Dia pernah main di drama ‘Dong Yi’ sebagai Dong Yi masih kecil. Nah, sekarang kan dia udah gede. Jadi author masukin dia di FF ini.


Author juga tunggu jejaknya… (y)


#FlyWithKyu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar