LABORATORIUM
KIMIA FARMASI
FAKULTAS
FARMASI
UNIVERSITAS
MUSLIM INDONESIA
LAPORAN
PRAKTIKUM
ANALISIS
FARMASI
“Identifikasi
dan Penetapan Kadar Sediaan Salep Asam Salisilat Secara Volumetri dan
Spektrofotometri”
OLEH
:
NAMA : FENI SUGANDI
STAMBUK :
15020140105
KELAS/KLP : C4 / I (SATU)
ASISTEN :
FAKULTAS
FARMASI
UNIVERSITAS
MUSLIM INDONESIA
MAKASSAR
2016
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar
belakang
Kimia organik memainkan peran penting dalam industri
kimia seperti yang digunakan dalam pembuatan produk minyak bumi, polimer atau
plastik, farmasi dan kesehatan, serta produk kecantikan. Banyak produk
sehari-hari terdiri dari molekul organik. Molekul organik diklasifikasikan
berdasarkan perbedaan rumus struktur pada molekul tersebut.
Salah satu molekul organik yang sering digunakan dalam
sediaan farmasi adalah asam salisilat. Asam salisilat sering digunakan sebagai
bahan dasar suatu salep yang biasa dipadukan dengan sulfur. Salep asam
salisilat biasanya digunakan sebagai anti jerawat, anti jamur, kadas atau
kurap.
Asam salisilat
merupakan salah satu bahan kimia yang cukup penting dalam kehidupan sehari-hari
serta mempunyai nilai ekonomis yang cukup tinggi karena dapat digunakan sebagai
bahan intermediat dari pembuatan obat-obatan seperti antiseptik dan analgesik
(Supardani, 2006).
Asam salisilat
merupakan suatu unsur aktif dari salisilat dan asam salisilat itu sendiri
adalah obat penawar dan pembunuh rasa sakit pemakaiannya dapat melalui mulut,
tetapi merupakan asam yang cukup kuat mengiritasi perut (Gunawan,2007).
Pada percobaan kali ini akan dilakukan identifikasi dan
penetapan kadar asam salisilat yang terkandung dalam sediaan salep.
Identifikasi dan penetapan kadar salep asam salisilat dilakukan dengan
menggunakan metode volumetri.
Pada penetapan kadar asam salisilat, alkohol digunakan
sebagai pelarut karena asam salisilat hampir tidak larut dalam air. Alkohol
bersifat asam lemah dan jumlah asam dalam alkohol bervariasi kerena terbukanya
alkohol karena oksidasi. Oleh karena itu alkohol harus dinetralkan terhadap
indikator yang digunakan supaya tidak bereaksi dengan natrium hidroksida ketika
dititrasi berlangsung. Sebaiknya digunkan natrium hidroksida ketika titrasi
berlangsung. Sebaiknya natrium hidroksida bebas karbonat untuk menghindari
kesalahan pada titik terakhir dengan terlepasnya karbon dioksida (Supardani,
2006).
1.2 Maksud
praktikum
Adapun maksud dari praktikum ini adalah
untuk mengetahui cara identifikasi dan penetapan kadar sediaan salep asam
salisilat Nosib® dan 24® menggunakan metode volumetri.
1.3 Tujuan
praktikum
Adapun tujuan dari praktikum ini adalah
untuk identifikasi dan penetapan kadar sediaan salep asam salisilat Nosib®
dan 24® menggunakan metode volumetri.
BAB 2 TINJAUAN
PUSTAKA
2.1 Teori Umum
Asam secara umum
merupakan senyawa kimia yang bila dilarutkan dalam air akan menghasilkan
larutan dengan pH lebih kecil dari 7. Dalam defenisi modern, asam adalah suatu
sat yang dapat member proton (ion H+) kepada zat lain (Widyanto,2008).
Asam salisilat
merupakan turunan dari senyawa aldehid. Senyawa ini juga biasa disebut
o-hidroksibensaldehid, o-formilfenol, atau 2-formilfenol. Senyawa ini stabil,
mudah terbakar dan tidak cocok dengan basa kuat, pereduksi kuat, asam kuat, dan
pengoksidasi kuat (Widyanto, 2008).
Acetosal atau asam
asetilsalisilat adalah sejenis obat turunan dari salisilat yang sering
digunakan sebagai senyawa analgesik (penahan rasa sakit atau nyeri minor),
antiseptik (terhadap demam), dan anti inflamasi (peradangan). Acetosal juga
memiliki efek antikoagulan dan dapat digunakan dalam dosis rendah dalam tempo
lama untuk mencegah serangan jantung (Khopkar, 2000).
Turunan
asam karboksilat seperti ester, lakton, anhidra asam dan halogenida asam dapat
dititrasi secara acidimetri, jika dilaksanakan dengan alkali berlebih dan
setelah penyabunan kelebihan alkali ini dititrasi dengan kembali dengan asam
mineral. Dalam semua hal, ester yang ada disabunkan dan alkali yang berlebih
ditentukan secara alkalimetri (Wunas, 2002).
Analisa kuantitatif merupakan pemisahan suatu materi menjadi
partikel-partikel. Fungsinya yaitu untuk
menetapkan berapa banyak unsur atau zat yang ada dalam senyawa campuran.
Analisa kuantitatif berkaitan dengan penetapan berapa banyak suatu zat tertentu
yang terkandung dalam suatu sampel, zat yang ditetapkan tersebut dinyatakan
sebagai konstituen. Jika zat yang dianalisa tersebut menyusun lebih dari
sekitar 1% dari sampel maka analisis ini dianggap konstituen utama zat
itu. Hal itu dapat dikatakan konstituen minor suatu zat jumlah
berkisar 0,01% sampai 1% dari sampel terakhir, serta apabila dikatakan
konstituen trace jika suatu zat ada yang kuran dari 0,01% (Irfan, 2000).
Analisa Kuantitatif
adalah analisa yang berkaitan dengan berapa banyaksuatu zat tertentu yang
terkandung dalam suatu sample. Zat yang ditetapkan tersebutyang sering kali
dinyatakan sebagai konstituen atau analit, menyusun entah sebagian kecil atau
besar sample yang dianalisis (Underwood, 2009).
Pada penetapan kadar
asam salisilat, alkohol digunakan sebagai pelarut karena asam salisilat hampir
tidak larut dalam air. Alkohol bersifat asam lemah dan jumlah asam dalam
alkohol bervariasi kerena terbukanya alkohol karena oksidasi. Oleh karena itu
alkohol harus dinetralkan terhadap indikator yang digunakan supaya tidak
bereaksi dengan natrium hidroksida ketika dititrasi berlangsung. Sebaiknya
digunkan natrium hidroksida ketika titrasi berlangsung. Sebaiknya natrium
hidroksida bebas karbonat untuk menghindari kesalahan pada titik terakhir
dengan terlepasnya karbon dioksida (Supardani, 2006).
Spektrofotometri adalah penentuan kadar suatu zat berdasarkan hasil analis spektrum zat atau dengan berdasarkan transmitasi
larytan terhadap cahaya pada panjang gelombang tertentu dengan menggunakan
instrumen spektrometri (Rosenberg , 2004).
Analisa volumetri
merupakan salah satu metode dari analisa kuantitatif yang bertujuan untuk
menentukan banyaknya suatu zat dalam volum terentu. Analisa kuantitatif
merupakan suatu upaya untuk menguraikan atau memisahkan suatu kesatuan bahan
menjadi komponen-komponen pembentukan sehingga data yang diperoleh ditinjau lebih lanjut (Haryadi, 2000).
2.2 Uraian Bahan
a.
Salep
asam
salisilat Nosib® dan 24® (Depkes RI, 1979 : 56)
|
Nama
Resmi
|
:
|
ACIDI
SALYCYCILICI. SULFURIS UNGUANTUM
|
|
Nama
Lain
|
:
|
Salep
asam salisilat belerang
|
|
Komposisi
|
:
|
Tiap
log mengandung
·
Acidum salicycum 200 mg
·
Sulfur 400 mg
·
Vaselin alba hingga 10 mg
|
|
Penyimpanan
Kegunaan
Dosis
|
:
:
:
|
Dalam wadah
tertutup rapat
Sebagai
Keratolitikum dan antifungi
3
sampai 4 kali sehari. Dioleskan
|
b.
Aquadest ( Depkes RI, 1979 : 96 )
|
Nama
Resmi
|
:
|
AQUA DESTILATA
|
|
Nama
Lain
|
:
|
Air Suling
|
|
Rumus
Molekul
|
:
|
H2O
|
|
Berat
Molekul
|
:
|
18.02
|
|
Pemerian
|
:
|
Cairan jernih,
tidak berwarna, tidak berbau, tidak
mempunyai rasa.
|
|
Penyimpanan
|
:
|
Dalam wadah
tertutup
|
c.
Natrium Hidroksida (Depkes RI, 1979
: 421)
|
Nama
Resmi
|
:
|
NATRII HIDROCIDUM
|
|
Nama
Lain
|
:
|
Natrium Hidroksida
|
|
Rumus
Molekul
|
:
|
NaOH
|
|
Berat
Molekul
|
:
|
40
|
|
Pemerian
|
:
|
bentuk batang massa
hablur air keping-keping, keras dan rapuh dan menunjukkan susunan hablur
putih mudah meleleh basa sangat katalis dan korosif segera menyerap
karbondioksida.
|
|
Kelarutan
|
:
|
sangat mudah larut
dalam air
|
|
Kegunaan
|
:
|
Sebagai zat
tambahan
|
d.
Eter
(
Depkes RI, 1979 : 66)
|
Nama
Resmi
|
:
|
AETHER
ANAESTHETICUS
|
|
Nama
Lain
|
:
|
Eter
|
|
Rumus
Molekul
|
:
|
C4H10O
|
|
Berat
Molekul
|
:
|
74,12
|
|
Pemerian
|
:
|
Cairan transparan,
tudak berwarna, bau khas, rasa manis dan membakar, sangat mudahmenguap,
sangat mudah terbakar, campuran uapnya dengan oksigen, udara atau dinitrogen
oksida, pada kadar tertentu dapat meledak.
|
|
Kelarutan
|
:
|
Larut dalam 10
bagian air, dapat bercampur dengan etanol (95%)P, dengan kloroform P, dengan minyak
lemak, dan dengan minyak atsiri.
|
|
Penyimpanan
|
:
|
Dalam wadah
tertutup rapat, terlindung dari cahaya, di tempat sejuk.
|
e.
Asam
sulfat (Depkes RI, 1979 :
58)
|
Nama
Resmi
|
:
|
ACIDUM SULFURICUM
|
|
Nama
Lain
|
:
|
Asam sulfat
|
|
Rumus
Molekul
|
:
|
H2SO4
|
|
Berat
Molekul
|
:
|
98,07
|
|
Pemerian
|
:
|
cairan kental
seperti minyak, korosit, tidak berwarna, jika ditambahkan ke dalam air
menimbulkan panas.
|
|
Penyimpanan
|
:
|
Dalam wadah
tertutup rapat
|
|
Kegunaan
|
:
|
Sebagai zat
tambahan
|
2.3 Prosedur
Kerja (Anonim, 2016)
a. Identifikasi Asam Salisilat
Sampel salep sebanyak
1g diekstraksi dengan 30 mL petrolium eter lalu dipanaskan dalam penangas air
hingga melebur sempurna. Fasa petrolium eter diperoleh dengan cara menuangkan.
Selanjutnya diekstraksi dengan NaOH 3 N sebanyak 3 kali. Fasa NaOH yang
diperoleh diasamkan dengan H2SO4 3 N sebanyak 3 kali.
Fasa NaOH yang diperoleh diasamkan dengan H2SO4 3 N
dikocok kuat-kuat lalu diekstraksi sebanyak 3 kali dengan 20 mL eter. Terakhir
diekstraksi dengan 20 mL kloroform. Fasa eter diuapkan pelarutnya sampai
kering.
Ø Hasil ekstraksi ditambah 1,0
mL air, lalu ditambah 1 tetes FeCl3 terjadi warna biru violet.
Ø Hasil ekstraksi ditambah
pereaksi folin-ciocalteu menghasilkan warna biru.
Ø Zat hasil ekstraksi
ditambahkan 0,5 mL asam nitrat pekat dan diuapkan sampai kering, lalu larutkan
dalam 5 mL aseton dan 5 mL KOH-etanol 0,1 N, terbentuk warna merah jingga.
Ø Zat hasil ekstraksi
ditambahkan aseton lalu ditetesi air dan didiamkan sejenak, diamati menggunakan
mikroskop diperoleh Kristal berentuk jarum tajam.
Ø Tambahkan asam pada larutan
pekat sampel, terbentuk endapan hablur putih asam salisilat yang melebur pada
suhu 158-161 oC.
Ø Zat hasil ekstraksi
ditambahkan asam sulfat pekat dan metanol, dipanaskan, tercium bau khas metil
salisilat (gandapura).
Ø Reaksi tetes zat dengan
larutan NBD-klorida mengahasilkan warna kuning sitrun.
b. Penetapan Kadar Asam Salisilat secara Volumetri
Ø Lakukan penetapan kadar sampel dengan menimbang
sediaan salep setara dengan 3 gram asam salisilat (lakukan ekstraksi sepert
pada bagian 3 A).
Ø Ekstrak kering sampel dilarutkan dengan 15 mL etanol
(95%) P hangat yang telah dinetralkan terhadap larutan merah fenol P, tambahkan
20 mL aquades.
Ø Titrasi dengan larutan baku NaOH 0,5 N setara dengan
69,09 mg C7H603.
c. Penetapan Kadar Asam Salisilat secara spektrofotometri
Ø Timbang seksama 100,0 mg Asam Salisilat murni,
masukkan dalam labu ukur 100 mL encerkan dengan larutan NaOH 0,1 N sampai
tanda.
Ø Pipet masing-masing 1 mL, 2 mL, 3 mL, 4 mL, dan 5 mL
larutan dan encerkan dalam labu ukur 50 mL dengan larutan NaOH 0,1 N, maka
diperoleh larutan baku dengan konsentrasi 20, 40, 60, 80, dan 100 ppm.
Ø Ambil larutan 60 ppm dan ukur panjang gelombang
maksimum asam salisilat.
Ø Ukur larutan baku point (2) pada panjang gelombang
maksimum dan hitung persamaan garis lurusnya.
Ø Timbang sediaan salep (BS) berupa ekstraksi kering
yang setara dengan 60 ppm asam salisilat setelah dilakukan pengenceran (volume
ekstrak, VE) dengan larutan NaOH 0,1 N dalam labu ukur.
Ø Ukur larutan sampel pada panjang gelombang maksimum
dan tentukan nilai absorbansinya. (Ulangi perlakuan 6, sebanyak 3 kali).
Ø Hitunglah kadar asam salisilat dalam sediaan salep
BAB 3 METODE
KERJA
3.1 Alat yang digunakan
Adapun alat yang digunakan
dalam praktikum ini adalah corong, corong pisah, gelas kimia 250 mL, gelas
arloji, labu ukur 100 mL, statif, spektrofotometri.
3.2 Bahan yang digunakan
Adapun bahan yang digunakan
dalam praktikum ini adalah Aquades, Eter (C4H10O),
larutan Asam Sulfat (H2SO4), kertas pH, Larutan Natrium
Hidroksida (NaOH), sediaan salep Nosib® , salep 24®.
3.3. Cara Kerja
a.
Identifikasi asam salisilat
-
Ditimbang sediaan salep asam salisilat
sebanyak 2.0517 g menggunakan gelas arloji, kemudian diamsukkan sampel ke dalam
gelas kimia 250 mL.
-
Dilarutkan sampel dengan petroleum eter
sebanyak 60 mL.
-
Kemudian dipanaskan di atas waterbath sambil
diaduk hingga homogen.
-
Dipipet 6 mL NaOH kemudian masukkan ke dalam
sampel secara perlahan – lahan sambil diaduk.
-
Setelah itu dimasukkan sampel ke dalam corong
pisah, corong pisah dikocok hingga terbentuk dua lapisan.
-
Diambil lapisan bawah (eter) lalu dimasukkan
ke dalam gelas kimia.
-
Kemudian diulangi cara kerja mulai dari
penambahan NaOH hingga diperoleh lapisan eter.
-
Dimasukkan H2SO4 hingga
asam, kemudian ditambahkan 10 mL eter.
-
Dimasukkan ke dalam corong pisah, lalu
dikocok kuat – kuat hingga terbentuk 2 lapisan.
-
Dipisahkan larutan eter dan NaOH.
-
Kemudian diulangi cara tersebut sebanyak 2
kali. Dikeringkan menggunakan hairdryer, hingga diperoleh ekstrak kering.
-
Dimasukkan ekstrak kering ke dalam tabung
reaksi. Siapkan 3 tabung reaksi, masukkan ekstrak ke dalam masing – masing 3
tabung reaksi tersebut.
-
Pada tabung 1 ditambahkan dengan air 1 mL dan
FeCl3 akan menghasilkan warna violet.
-
Pada tabung 2 ditambahkan dengan pereaksi
folin menghasilkan warna biru.
-
Dan pada tabung 3 ditambahkan 0.5 mL asam nitrat pekat dan diuapkan sampai
kering, lalu dilarutkan dalam 5 mL aseton dan 5 mL KOH-etanol 0.1 N terbentuk
warna merah jingga.
b.
Penetapan kadar asam salisilat secara
volumetri
- Dilakukan
penetapan kadar sampel dengan menimbang sediaan salep setara 3 gram asam
salisilat (lakukan ekstaksi)
- Dilarutkan
ekstrak kering sampel dalam 15 mL etanol (95%) P hangat yang telah dinetralkan terhadap larutan merah fenol P, ditambakan 20 mL aquades
- Dititrasi
dengan larutan baku NaOH 0,5 N menggunakan indicator merah fenol P
- Disetiap
1 mL NaOH 0,5 N setara dengan 69,08 mg C7H6O3
BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Pengamatan
4.1.1 Identifikasi Asam Salisilat
a. Sediaan Salep Nosib®
|
Perlakuan
|
Hasil
|
|
+ 0.1 mL air + 1 tetes FeCl3
|
Ungu violet
(Positif)
|
|
+ pereaksi Folin - Ciocalteu
|
kuning (negatif)
|
|
+ 0.5 mL asam nitrat pekat +diuapkan sampai kering +
5 mL aseton + 5 mL KOH-etanol
|
Merah jingga (positif)
|
b. Sediaan Salep 24®
|
Perlakuan
|
Hasil
|
|
+ 0.1 mL air + 1 tetes FeCl3
|
Ungu violet
(Positif)
|
|
+ pereaksi Folin - Ciocalteu
|
Kuning (negatif)
|
|
+ 0.5 mL asam nitrat pekat +diuapkan sampai kering +
5 mL aseton + 5 mL KOH-etanol
|
Merah jingga (positif)
|
4.1.2 Penetapan Kadar Asam Salisilat secara Volumetrik
Dik
:
NaOH
0.5 N
Volume
titrasi 2 mL
BST
69.06 mg
Berat
sampel 1009.6 mg
Dit
:
%
Kadar Asam Salisilat
4.2 Pembahasan
Asam salisilat
merupakan bahan dasar pembuatan salep atau bahan-bahan dasar obat lainnya yang
digunakan sebagai pemakaian topikal atau pemakaian yang digunakan diluar tubuh
dan memiliki kegunaan membunuh parasit seperti jamur dan bakteri yang menempel
ditubuh.
Asam salisilat
berkhasiat keratolotis dan sering digunakan sebagai obat ampuh terhadap kutil kulit, yang
berciri penebalan epidermis
setempat dan disebabkan oleh infeksi dengan virus papova. Asam salisilat sangat
iritatif, sehingga hanya digunakan sebagai obat luar. Derifatnya yang dapat
dipakai secara sistemik adalah ester salisilat dan asam organik dengan
subtitusi pada gugus hidroksil misalnya asetosal.
Adapun tujuan dari praktikum
ini adalah untuk mengetahui kadar asam salisilat dalam sediaan obat dengan
metode volumetri.
Adapun cara kerja
yang dilakukan dalam praktikum ini adalah sebelum penentukan kadar asam
salilsilat secara metode volumetri dan metode spektrofotometri. Pertama kita melakukan
identifikasi pada asam yaitu ditimbang salep
asam salisilat sebanyak 2 gram, dilarutkan kedalam larutan petrolium eter 60
mL, dipanaskan diatas penangas air hingga larut, dituang kedalam corong pisah,
diekstraksi dengan ditambahkan NaOH 6 mL sebanyak 3 kali dan dihomogenkan,
dipisahkan lapisan bagian bawah dan bagian atas, ditambahakan H2SO4
sebanyak sampai terjadi suasana asam, dimasukan kembali kedalam corong
pisah dan ditambahakan eter sebanyak 6 mL, dihomogenkan dan dipisahkan lapisan bagian bawah dan bagian atas, dimasukan kedalam gelas
kimia, diuapkan dengan menggunakan hair dryer sampai kering dan terbentuk
hablur putih,diambil tabung reaksi pertama, ditambahkan hasil ekstraksi lalu
ditambahkan air 1 mL, ditambahkan lagi 1 tetes FeCl3 akan terbentuk warna biru violet, ditambahkan
hasil ekstraksi ditambah pereaksi Folin-Ciocalteu menghasilkan warna biru
ditambahkan hasil ekstraksi ditambhakan 0,5 mL asam nitrat pekatdan diuapkan
sampai kering, lalu dilarutkan 5 mL aseton dan 5 mL KOH-etanol 0,1 N terbentuk
warna merah jingga. Dari semua pereaksi, hanya pereaksi folin
yang menunjukan hasil negatif. Hal ini dapat disebabkan karena adanya faktor
kesalahan. Hasil yang diperoleh untuk penetapan kadar salep asam salisilat
secara volumetric adalah 6.84%. Kadar asam salisilat tidak sesuai dengan syarat
yang tertera dalam Farmakope Indonesia yaitu kadar rata-rata asam salisilat
tidak kurang dari 99,5% dan tidak lebih dari 101,0%.
Adapun alasan penambahan NaOH 3 N adalah agar sampel
membentuk dua fase yaitu fase minyak dan air. Pereaksi H2SO4 digunakan untuk memberikan
suasana asam, Petroleum eter untuk mencairkan sampel, dan eter untuk memisahkan
NaOH dan asam salisilat.
Pada saat penambahan
FeCl3 terbentuk warna violet. Warna violet ini dihasilkan oleh Fe3 yang
berwarna violet bereaksi dengan air dan asam salisilat. Penambahan pereaksi
Folin-Ciocalteu seharusnya menghasilkan warna biru. Selama reaksi berlangsung,
gugus fenolik-hidroksil bereaksi dengan pereaksi Folin-Ciocalteu, membentuk
kompleks fosfotungstat-fosfomolibdat berwarna biru. Namun pada percobaan ini,
perubahan warna yang terjadi adalah warna kuning.
Adapun faktor kesalahan yang dapat
terjadi yaitu ketidaktepatan pemipetan bahan-bahan pereaksi, pereaksi yang
digunakan kurang baku, penggunaan alat yang belum
dikeringkan sehingga terdapat air pada alat yang digunakan, dan kestabilan pereaksi yang lemah sehingga tidak
dapat stabil pada beberapa kondisi seperti pH atau suhu ruangan penyimpanan
.
BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Dari hasil praktikum yang dilakukan diperoleh hasil dari kedua sediaan salep asam salisilat yaitu :
-
Pada tabung 1 ditambahkan dengan air 1 mL dan
FeCl3 menghasilkan warna ungu violet (positif, sesuai dengan
literatur).
-
Pada tabung 2 ditambahkan dengan pereaksi
folin menghasilkan warna kuning (negatif, literatur menyatakan folin
menghasilkan warna biru).
- Dan pada
tabung 3 ditambahkan 0.5 mL asam nitrat
pekat dan diuapkan sampai kering, lalu dilarutkan dalam 5 mL aseton dan 5 mL
KOH-etanol 0.1 N terbentuk warna merah jingga(positif, sesuai dengan literatur).
- Dan
% kadar asam salisilat yang diperoleh secara volumetrik adalah 6.84%. Kadar
asam salisilat tidak sesuai dengan syarat yang tertera dalam Farmakope
Indonesia yaitu kadar rata-rata asam salisilat tidak kurang dari 99,5% dan
tidak lebih dari 101,0%.
5.2 Saran
Diharapkan kepada
laboratorium kimia farmasi untuk melengkapi penyediaan bahan praktikum, seperti
pereaksi dan lain-lain agar praktikum dapat dilakukan secara efisien
DAFTAR PUSTAKA
Anonim,
2016, Penuntun Praktikum Analisis
Farmasi, Fakultas Farmasi UMI, Makassar.
Ditjen POM, 1979, Farmakope Indonesia Edisi III, Departemen Kesehatan RI, Jakarta.
Ditjen POM, 1995, Farmakope Indonesia Edisi IV, Departemen Kesehatan RI, Jakarta.
Gunawan.,
2007, Farmakologi Dan Terapi, Bagian
Farmakologi Fakultas Kedokteran- Universitas Indonesia : Jakarta.
Haryadi, W.
1990. Ilmu Kimia Analitik Dasar. Gramedia, Jakarta.
Irfan, Anshory.2000. Ilmu Kimia. Erlangga : Jakarta
Khopkar,
S.M. 1990. Konsep Dasar Kimia Analitik.
Universitas Indonesia. Press. Jakarta
Rosenberg, Jerome.1994. Kimia Dasar. Edisi
IV. Erlangga : Jakarta
Supardani,
dkk., 2006, Perancangan Pabrik Asam Salisilat dari Phenol, Jurusan Teknik Kimia
FTI Institut Teknologi Nasional: Bandung.
Underwood, D., 1999, Analisis Kimia Kuantitatif. Edisi VI, Erlangga, Jakarta.
Widyanto. 2008. Chemistry Education. Pocket Kimia. Jakarta
Wunas, Yeanny. 2002. Analisa Kimia Farmasi Kuantitatif,
Lembaga Penerbitan Universitas Hasanuddin. Makassar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar