LABORATORIUM FARMAKOLOGI
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
LAPORAN
PRAKTIKUM
“SISTEM
SARAF PUSAT II”

OLEH
NAMA : FENI SUGANDI
STAMBUK : 150 2014 0105
KELAS : C2
KLP : III (TIGA)
ASISTEN :
FAKULTAS
FARMASI
UNIVERSITAS
MUSLIM INDONESIA
MAKASSAR
2017
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Sistem saraf pusat (SSP) merupakan sistem saraf yang
dapat mengendalikan sistem saraf lainnya didalam tubuh dimana bekerja dibawah
kesadaran atau kemauan. SSP biasa juga disebut sistem saraf sentral karena
merupakan sentral atau pusat dari saraf lainnya. Sistem saraf pusat ini dibagi
menjadi dua yaitu otak (ensevalon) dan sumsum tulang belakang (medula
spinalis).
Obat adalah
unsur aktif secara fisiologis dipakai dalam diagnosis, pencegahan, pengobatan
atau penyembuhan suatu penyakit pada manusia atau hewan. Obat dapat berasal
dari alam dapat diperoleh dari sumber mineral, tumbuh-tumbuhan, hewan, atau
dapat juga dihasilkan dari sintesis kimia organik atau biosintesis.
Obat yang bekerja pada sistem saraf pusat
terbagi menjadi obat depresan saraf pusat yaitu anestetik umum yang memblokir
rasa sakit, hipnotik sedative yang menyebabkan tidur, psikotropik untuk
menghilangkan gangguan jiwa, antikunvulsi untuk menghilangkan kejang, analgetik
untuk mengurangi rasa sakit, opiod, analgetik-antipiretik-antiinflamasi dan
perangsangan susunan saraf pusat.
Obat yang
digunakan pada praktikum ini adalah analgetik, antipiretik, dan antiinflamasi.
Analgetik atau obat penghilang nyeri adalah zat-zat yang mengurangi atau
melenyapkan rasa nyeri tanpa menghilangkan kesadaran. Nyeri adalah perasaan
sensoris dan emosional yang tidak nyaman, berikatan dengan (ancaman) kerusakan
jaringan. Antipiretik adalah obat yang menurunkan suhu tubuh
yang tinggi. Jadi analgetik-antipiretik adalah obat yang mengurangi rasa nyeri
dan serentak menurunkan suhu tubuh yang tinggi. Umumnya cara kerja
analgetik-antipiretik adalah dengan menghambat sintesa neurotransmitter
tertentu yang dapat menimbulkan rasa nyeri & demam. Dengan blokade sintesa
neurotransmitter tersebut, maka otak tidak lagi mendapatkan "sinyal"
nyeri, sehingga rasa nyerinya berangsur-angsur menghilang.
Inflamasi adalah respons perlindungan
normal terhadap cedera jaringan yang disebabkan oleh trauma fisik, bahan kimia
berbahaya, atau agen mikrobiologi. Dapat pula dikatakan bahwa inflamasi
merupakan usaha tubuh untuk menginaktifkan atau menghancurkan organisme
penginvasi, menghilangkan iritan, dan persiapan tahapan untuk perbaikan
jaringan.
Untuk mengetahui dan melihat secara
langsung efek-efek yang ditimbulkan oleh obat-obat pada sistem saraf pusat,
dalam hal ini yaitu obat golongan analgetik, antipiretik, dan antiinflamasi,
maka dilakukanlah percobaan ini.
B.
Maksud Praktikum
Maksud
dari percobaan ini yaitu untuk mengetahui dan memahami cara pemberian obat dan
efek obat sistem saraf pusat pada hewan coba tikus (Rattus norvegicus).
C.
Tujuan Praktikum
a. Untuk
menentukan efektivitas dari obat analgetik yaitu Asam Mefenamat berdasarkan
jumlah geliat pada hewan coba tikus (Rattus
norvegicus) yang diinduksi dengan
asam asetat glasial 1%.
b.
Untuk menentukan efektivitas dari obat
antipiretik yaitu paracetamol
berdasarkan parameter pengukuran suhu rektal pada hewan coba tikus (Rattus norvegicus) yang diinduksi pepton
1%.
c. Untuk
menentukan efektivitas dari obat antiinflamasi yaitu Na. Diclofenac berdasarkan
pengukuran volume kaki pada hewan coba tikus (Rattus norvegicus) yang diinduksi karagen 1%.
D.
Prinsip
Praktikum
a. Penentuan
efektivitas dari obat analgetik yaitu Asam Mefenamat berdasarkan jumlah geliat
pada hewan coba tikus (Rattus norvegicus)
yang diinduksi dengan asam asetat glasial 1%.
b. Penentuan
efektivitas dari obat antipiretik yaitu paracetamol berdasarkan parameter pengukuran suhu rektal
pada hewan coba tikus (Rattus norvegicus)
yang diinduksi pepton 1%.
c. Penentuan
efektivitas dari obat antiinflamasi yaitu Na. Diclofenac berdasarkan pengukuran
volume kaki pada hewan coba tikus (Rattus
norvegicus) yang diinduksi karagen 1%.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.
Teori
Sistem saraf adalah serangkaian organ yang kompleks
dan berkesinambungan serta terutama terdiri dari jaringan saraf. Dalam
mekanisme sistem saraf, lingkungan internal dan stimulus eksternal dipantau dan
diatur (Sloane, 2004).
Sistem saraf dibagi menjadi dua berdasarkan divisi
anatomis: sistem saraf pusat (SSP), ysng terdiri dari otak dan medula spinalis,
dan sistem saraf perifer, yang terdiri dari sel-sel saraf selain otak dan
medula spinalis – yaitu saraf-saraf yang masuk dan keluar dari SSP (Champe,
2013).
Pada manusia, sistem saraf
pusat, khususnya otak, memiliki kemampuan fungsi yang jauh lebih berkembang
dari sistem saraf pada makhluk lain. Fungsi sistem saraf adalah (FK Universitas
Sriwijaya, 2008):
(1) menerima rangsangan dari lingkungan atau
dari dalam tbuh sendiri,
(2) mengubah,memproses, dan menghantar
rangsangan, serta
(3) mengoordinasikan dan mengatur fungsi
tubuh melalui impuls yang dibebaskan dari pusat ke perifer. Dalam sistem saraf
pusat berlangsung semua proses kejiwaan dan psikis.
Analgetika atau obat penghilang nyeri adalah zat-zat yang mengurangi atau
menghalau rasa nyeri tanpa menghilangkan kesadaran (perbedaan dengan anastetika
umum). Nyeri adalah perasaan sensoris dan emosional yang tidak nyaman,
berkaitan dengan (ancaman) kerusakan jaringan. Rasa nyeri dalam kebanyakan hal
hanya merupakan suatu gejala yang berfungsi sebagai isyarat tentang adanya
ganggian di jaringan, seperti peradangan, infeksi jasad renik atau kejang otot
(Tjay, 2013).
Atas dasar kerja farmakologinya, analgetika dibagi dalam dua kelompok
besar, yakni (Tjay, 2013) :
a.
Analgetika perifer (non-narkotik), yang
terdiri dari obat-obat yang tidak bersifat narkotik dan tidak bekerja sentral.
b.
Analgetika narkotik khusus digunakan untuk
menghalau rasa nyeri hebat, seperti fractura dan kanker.
Asam mefenamat merupakan kelompok anti inflamasi non steroid,
bekerja dengan menghambat sintesa prostaglandin dalam jaringan tubuh dengan
menghambat enzim siklooksigenase, sehingga mempunyai efek analgesik, anti
inflamasi dan antipiretik. Cara Kerja Asam mefenamat adalah seperti OAINS (Obat
Anti-Inflamasi Non-Steroid atau NSAID) lain yaitu menghambat sintesa
prostaglandin dengan menghambat kerja enzim cyclooxygenase (COX-1 & COX-2).
Asam mefenamat mempunyai efek antiinflamasi, analgetik (antinyeri) dan antipiretik. Asam
mefenamat mempunyai
khasiat sebagai analgesik dan antiinflamasi. Asam mefenamat merupakan
satu-satunya fenamat yang menunjukan kerja pusat dan juga kerja perifer. Dengan
mekanisme menghambat kerja enziim sikloogsigenase (Goodman, 2007).
Inflamasi merupakan suatu respon protektif normal terhadap luka
jaringan yang disebabkan oleh trauma fisik , zat kimia yang merusak atau
zat-zat mikrobiologik. Inflamasi adalah suatu usaha tubuh untuk menginaktivasi
atau merusak organism yang menyerang , menghilangkan zat iritan dan mengatur
derajat perbaikan jaringan (Mycek, 2006).
Anti inflamasi adalah obat-obat yang mempunyai efek analgetik,
yaitu yang dapat mengurangi atau menghilangkan rasa sakit tanpa menghilangkan
kesadaran. Tahap –tahap Inflamasi: Rubor (Kemerahan) Kalor (Panas) Dolor
(Nyeri) Tumor (Pembengkakan) Fungsio laesa (Hilangnya fungsi organ) (Mycek,
2006).
Penggolongan obat antiinflamasi (Mycek, 2006) :
a) Kostikosteroid :
Prednisolon dan dexametason menghambat enzim fosfolipase, sehingga tidak terbentuk asam arakidonat yang
merupakan mediator nyeri.
b) Celective COX2 : yang
dihambat hanya COX2 saja (Prostaglandin).
c) OAINS : Menghambat
enzim siklooksigenase.
Impuls saraf dari SSP
hanya dapat diteruskan ke ganglion dan sel efektor melalui penglepasan zat kimia
yang khas yang disebut transmiter neurohumoral atau disingkat transmiter. Tidak
banyak obat yang pada dosis terapi dapat mempengaruhi konduksi akson, tetapi
banyak sekali zat yang dapat mengubah tranmisi neurohumoral. Obat otonom
mempengaruhi transmisi neuron dengan cara menghambat atau mengintensifkannya.
Terdapat beberapa kemungkinan tempat pengaruh obat pada transmisi sistem
kolinergik maupun adrenergik, yaitu : (1) hambatan pada sintesis atau
penglepasan transmiter; (2) menyebabkan penglepasan transmiter; (3) ikatan
dengan reseptor; dan (4) hambatan destruksi ambilan transmiter (Wilmana,
2009).
Pada percobaan antiinflamasi, obat yang
digunakan yaitu natrium diklofenak. Diklofenak adalah turunan
asam fenilasetat sederhana yang menyerupai florbiprofen maupun meklofenamat.
Obat ini adalah penghambat siklooksigenase yang kuat dengan efek anti
inflamasi, analgesik dan anti piretik. Diklofenak cepat diabsorbsi setelah
pemberian oral dan mempunyai waktu paruh yang pendek. Seperti flurbiprofen,
obat ini berkumpul di cairan sinovial. Potensi diklofenak lebih besar dari pada
naproksen. Obat ini dianjurkan untuk kondisi peradangan kronis seperti artritis
rematoid dan osteoartritis serta untuk pengobatan nyeri otot rangka akut
(Katzung, 2004).
Mekanisme
kerjanya, bila membran sel mengalami kerusakan oleh suatu rangsangan kimiawi,
fisik, atau mekanis, maka enzim fosfolipase diaktifkan untuk mengubah
fosfolipida menjadi asam arachidonat. Asam lemak poli-tak jenuh ini kemudian
untuk sebagian diubah oleh ezim cyclo-oksigenase menjadi endoperoksida dan
seterusnya menjadi prostaglandin. Cyclo-Oksigenase terdiri dari dua iso-enzim,
yaitu COX-1 (tromboxan dan prostacyclin) dan COX-2 (prostaglandin). Kebanyakan
COX-1 terdapat di jaringan, antara lain dipelat-pelat darah, ginjal dan saluran
cerna. COX-2 dalam keadaan normal tidak terdapat dijaringan tetapi dibentuk
selama proses peradangan oleh sel-sel radang. Penghambatan COX-2 lah yang
memberikan efek anti radang dari obat NSAIDs. NSAID yang ideal hanya menghambat
COX-2 (peradangan) dan tidak COX-1 (perlindungan mukosa lambung). Diklofenak
merupakan obat NSAIDs (Non Steroidal Anti Inflammatory Drugs) yang bersifat
tidak selektif dimana kedua jenis COX di blokir. Dengan dihambatnya COX-1,
dengan demikian tidak ada lagi yang bertanggung jawab melindungi mukosa
lambung-usus dan ginjal sehingga terjadi iritasi dan efek toksik pada ginjal
(Tjay, 2013).
B.
Uraian Bahan dan Obat
1. Uraian
bahan
a. Na CMC (Ditjen POM,
1979)
Nama resmi : NATRIICARBOXYMETHYLCELLULOSUM
Nama lain : Natrium Karboksimetilselulosa
Pemerian : Serbuk atau butiran, putih atau
putih kuninggading, tidak berbau atau hampir tidak berbau,higroskopik.
Kelarutan : Mudah mendispersi
dalam air, membentuk
suspensi koloidal, tidak larut
dalam etanol (95%) P, dalam eter P dan dalam pelarutorganik lain.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat.
Kegunaan : Sebagai pensuspensi
b. Asam asetat glasial (Ditjen POM, 1979: 42)
Nama resmi : ACIDUM ACETICUM GLACIALE
Nama lain : Asam asetat glacial
RM : C2H4O2
BM : 60,05
Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna; bau
khas, tajam; jika
diencerkan
dengan air, rasa asam.
Kelarutan : Dapat campur dengan air, dengan etanol
(95%) P
dan dengan gliserol P.
Penyimpanan:
Dalam wadah tertutup rapat.
c. Pepton
(Dirjen POM, 1979: 721)
Nama
Resmi : PEPTON
Nama
Lain : Pepton
Pemerian : Serbuk, kuning kemerahan
sampai coklat;bau
khas
tidak busuk.
Kelarutan : Larut dalam
air; larutan yang
berwarna
Coklat
kekuningan yang bereaksi agak asam; praktis tidak larut dalam etanol (95%) P
dan dalam eter P.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.
d. Karagen
(Ditjen POM:1979)
Nama Resmi : CARRAGEENAN
Nama Lain : Karagenan,
karagen
Pemerian : cairan jernih warna
coklat merah sampai
coklat jingga tua tergantung pada kadar protein.
Kelarutan : larut sempurna dalam air
pada suhu 20°
sampai 25°.
Penyimpanan : dalam wadah tertutup rapat, pada suhu
antara 2° sampai 25°C , terlindung dari cahaya
Kegunaan : sebagai penginduksi radang
2. Uraian
obat
a. Asam Mefenamat (Wilmana, 2009)
|
Golongan obat
Indikasi
|
:
:
|
Obat
anti-inflamasi non steroid
Mencegah
terjadinya nyeri ringan sampai sedang
seperti sakit kepala, sakit gigi, dismenore, nyeri reumatik, nyeri pasca
operasi dan nyeri otot
|
|
Kontraindikasi
|
:
|
Bronkospasme, dan alergi rhinitis serta urtikuria setelah
pemakaian asetosal
|
|
Efek samping
|
:
|
Mual-mual, muntah,
diare, nyeri perut, dan leukopenia, pusing, penglihatan kabur,
dan insomnia.
|
|
Dosis
|
:
|
Dewasa dan
anak ≥ 14
tahun. Diawali 500 mg selanjutnya dengan 250 mg tiap 6 jam.
|
|
Farmakokinetik
|
:
|
Diabsorbsi cepat dan
sempurna melalui saluran cerna. Konsentrasi tertinggi dalam plasma dicapai
dalam waktu ½ jam dan masa paruh plasma antara 1-3 jam.
|
|
Farmakodinamik
|
:
|
Efek analgesik serupa
dengan salisilat yaitu menghilangkan
atau mengurangi nyeri ringan sampai sedang.
|
b. Paracetamol
(Ditjen POM:1979)
|
Nama resmi
|
:
|
ACETAMINOPHENUM
|
|
Nama lain
|
:
|
Asetaminofen, Parasetamol
|
|
Rumus molekul
|
|
C8H9NO2
|
|
Golongan obat
Pemerian
|
:
:
|
Analgesik lainnya
Hablur atau
serbuk hablur putih ; tidak berbau ; rasa pahit
|
|
Kelarutan
|
:
|
Larut dalam 70
bagian air, dalam 7 bagian etanol (95 %) P, dalam 13 bagian aseton P, dalam
40 bagian gliserol P, dan dalam 9 bagian propilenglikol P, dan dalam larutan
alkali hidroksida.
|
|
Penyimpanan
|
:
|
Dalam wadah tertutup baik, terlindung dari cahaya.
|
|
Kegunaan
|
|
Analgetikum (
obat yang digunakan untuk menghilangkan ras sakit atau nyeri tanpa
menghilangkan kesadaran), Antipiretikum
(obat yang digunakan untukmenurunkan suhu tubuh yang panas ).
|
c. Natrium
Diclofenac (Wilmana, 2009)
|
Golongan
obat
Indikasi
Kontraindikasi
Mekanisme
Kerja
Efek
Samping
Dosis
Interaksi
Obat
Penyimpanan
|
:
:
:
:
:
:
:
:
|
Obat
anti-inflamasi non steroid
Pengobatan
akut dan kronis gejala-gejala reumatoid arthritis, osteoarthritis, dan
ankilosing spondilitis.
Penderita
yang hipersensitif terhadap diklofenak atau yang menderita asma, urtikaria
atau alergi pada pemberian aspirin atau NSAIA lain, penderita tukak lambung.
Diklofenak
adalah golongan obat non steroid dengan aktivitas anti inflamasi, analgesik
dan antipiretik. Aktivitas diklofenak denganjalan menghambat enzim
siklooksigenase sehingga pembentukan prostaglandin terhambat.
Nyeri/kram
perut, sakit kepala, retensi cairan, diare, nausea, konstipasi flatulen,
kelainan pada hasil uji hati, indigesti, tukak lambung, pusing, ruam,
priritus, tinitus.
Osteoarthritis
: 2 – 3 kali sehari 50 mg atau 2 kali sehari 75 mg.
Rheumatoid
arthritis : 3 – 4 kali sehari 50 mg atau 2 kali sehari 75 mg.
Ankilosing
spondilitis : 4 kali sehari 25 mg ditambah 25 mg saat akan tidur.
Penggunaan
bersama aspirin akan menurunkan konsentrasi plasma dan AUC diklofenak,
meningkatkan konsentrasi plasma digoksin, metotreksat, siklosporin dan
litium, dan menurunkan aktivitas obat-obatan diuretik.
Simpan
ditempat kering dan sejuk serta terlindung dari cahaya.
|
C.
Uraian Hewan
Coba
1. Klasifikasi (Ningsih, 2009)
Kingdom : Animalia
Divisio : Vertebrata
Class : Mamalia
Ordo : Rodentia
Famili : Muridae
Genus : Orytolagus
Spesies : Rattus norvegicus
2. Karakteristik Hewan Coba (Ningsih, 2009)
Pubertas : 4 bulan
Masa
beranak : Mei – September
Masa
hamil : 28-36 hari
Jumlah
sekali lahir : 5-6 ekor
Lama
hidup : 8 tahun
Masa
tumbuh : 4-6 bulan
Suhu
tubuh (̊C) : 50̊ - 60̊
Tekanan
darah : 5
BAB
III
METODOLOGI
KERJA
A.
Alat
dan Bahan
a. Alat
yang digunakan
Adapun
alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah benang godam, gelas kimia,
kanula, penggaris, spoit injeksi, stopwatch, dan termometer rektal.
b. Bahan yang digunakan
Adapun
bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah Asam asetat glasial 1%, Asam
Mefenamat, Karagen 1%, Natrium
Diklofenak, Na-CMC 1%, Parasetamol, dan Pepton 1%.
B.
Prosedur
Kerja
a.
Pembuatan
bahan
1. Pembuatan
Na-CMC 1%.
a) Ditimbang
Na-CMC sebanyak 1 gram.
b) Dipanaskan
100 mL air suling hingga suhu 700C.
c) Dilarutkan
Na-CMC dengan air suling yang sudah dipanaskan tadi sedikit demi sedikit dan
kemudian diaduk.
d) Dimasukkan
larutan Na-CMC kedalam wadah,
e) Diberi
etiket dan disimpan didalam lemari pendingin.
2. Pembuatan
Pepton 1%
a) Ditimbang
pepton sebanyak 0,1 gram diatas cawan porselen.
b) Dilarutkan
dengan aquadest, dan dicukupkan hingga 10 mL.
c) Larutan
pepton dimasukkan dalam wadah dan diberi etiket.
3. Pembuatan
Asam Asetat Glasial 1%
a) Ditimbang
Asam asetat glasial sebanyak 1 mL kedalam labu ukur.
b) Dicukupkan
hingga 10 mL dan diberi etiket
4. Pembuatan
Karagen 1%
a) Ditimbang
karagen sebanyak 0,1 gram diatas cawan porselen
b) Dilarutkan
dengan aquadest, dan dicukukpkan volume hingga 10 mL
c) Larutan
karagen dimasukkan dalam wadah dan diberi etiket
b. Pembuatan Obat
1. Asam
mefenamat
a) Disiapkan
alat dan bahan yang akan digunakan.
b) Ditimbang
asam mefenamat sebanyak 26,12 mg
c) Dimasukkan
ke dalam labu ukur 10 ml
d) Dilarutkan
dengan 10 ml Na-CMC 1%
e) Dihomogenkan
lalu diberi etiket.
2. Natrium
Diklofenak
a) Disiapkan
alat dan bahan yang akan digunakan.
b) Ditimbang
natrium diklofenak sebanyak 5,839 mg
c) Dimasukkan
ke dalam labu ukur 10 ml
d) Dilarutkan
dengan 10 ml Na-CMC 1%
e) Dihomogenkan
lalu diberi etiket.
3. Parasetamol
a) Disiapkan
alat dan bahan yang akan digunakan.
b) Ditimbang
parasetamol sebanyak 21,654 mg
c) Dimasukkan
ke dalam labu ukur 10 ml
d) Dilarutkan
dengan 10 ml Na-CMC 1%
e) Dihomogenkan
lalu diberi etiket.
C.
Perlakuan
Hewan Coba
a. Analgetik
1. Disiapkan
alat dan bahan yang akan digunakan.
2. Hewan
uji diberikan obat Asam Mefenamat secara oral sebanyak 7,85 ml.
3. Setelah
30 menit, diinduksikan asam asetat glasial 1% sebanyak 1 ml secara intra
peritorial.
4. Dihitung
frekuensi geliatnya pada menit ke 15 dan 30.
5. Dihitung
% penurunan.
b. Antipiretik
1. Disiapkan
alat dan bahan yang akan digunakan.
2. Diukur
suhu rektal awal.
3. Diinduksi
dengan pepton 1% secara intra peritorial sebanyak 1 ml
4. Diukur
suhu tubuh demam tikus
5. Diberi
obat parasetamol secara oral sebanyak 6,45 ml.
6. Diukur
suhu rektal setiap menit 15 dan 30.
7. Dihitung
% penurunan.
c. Antiinflamasi
1. Disiapkan
alat dan bahan yang akan digunakan.
2. Diukur
lingkar kaki kiri hewan coba.
3. Diinduksi
dengan karagen 1% secara intraplantar.
4. Diukur
lingkar kaki kiri hewan coba setelah 30 menit.
5. Diberi
obat natrium diklofenak secara oral sebanyak 5,27 ml.
6. Diukur
lingkar kaki pada menit ke 15, 30 dan 60.
7. Dihitung
% penurunan.
BAB
IV
HASIL PENGAMATAN
A. Tabel Pengamatan
Dari
hasil praktikum sistem saraf pusat yang telah dilakukan, maka diperoleh hasil
pengamatan berupa tabel sebagai berikut :
1. Analgetik
|
Obat
|
BB
Hewan
|
Vp
|
Geliat setelah
pemberian obat
|
Geliat setelah
pemberian As. Mefenamat
|
% penurunan
|
|
|
15’
|
30’
|
|||||
|
As. Mefenamat
|
314 g
|
7,85 mL
|
33 x
|
31 x
|
30 x
|
9,09%
|
2. Antipiretik
|
Obat
|
BB
|
Vp
|
Suhu awal
|
Suhu demam
|
Suhu Perlakuan
|
% penurunan
|
|
|
15’
|
30’
|
||||||
|
PCT
|
249
g
|
6,45mL
|
36,4
|
37,7
|
36
|
37,42
|
0,75%
|
3. Antiinflamasi
|
Obat
|
BB Hewan
|
Vp
|
V kaki Awal
|
V kaki bengkak
|
V setelah perlakuan
|
%penurunan
|
||
|
15’
|
30’
|
60’
|
||||||
|
Na. Diklofenak
|
211 g
|
5,27 mL
|
2,4cm
|
4,5 cm
|
3cm
|
2,6cm
|
2,4cm
|
46,67%
|
%Penurunan
1. Analgetik
%Penurunan Asam mefenamat = 
= 
= 9,09%
2. Antipiretik
%Penurunan Parasetamol = 
= 
=
0,74%
3. Antiinflamasi
%Penurunan Na. Diklofenak = 
= 
= 46,67%
B.
Pembahasan
Sistem saraf
pusat (SSP) merupakan sistem saraf yang dapat mengendalikan saraf lainnya
didalam tubuh biasanya bekerja dibawah kesadaran atau kemauan.
Analgetika atau
obat penghilang nyeri adalah zat-zat yang mengurangi atau menghalau rasa nyeri
tanpa menghilangkan kesadaran. Dimana nyeri itu sendiri adalah perasaan
sensoris dan emosional yang tidak enak berkaitan ancaman kerusakan jaringan.
Antipiretik
adalah obat-obat atau zat-zat yang dapat menurunkan suhu badan pada keadaan
demam. Pada keadaan demam hipotalamus yang merupakan pusat pengatur suhu tubuh
akan terganggu tetapi dapat dikembalikan ke normal oleh obat mirip aspirin.
Inflamasi
adalah kerusakan jaringan akibat luka atau invasi mikroorganisme patogenik yang
akan memicu suatu kompleks kejadian yang dinamakan respon radang. Rangsangan
inflamasi menyebabkan pelepasan mediayor inflamasi, seperti histamine,
serotonin, bradikinin, dan prostaglandin yang menimbulkan reaksi radang berupa
panas, nyeri, merah, bengkak, dan gangguan fungsi. Obat-obat anti-inflamasi non
steroid (AINS) merupakan suatu grup obat yang secara kimiawi tidak sama, yang
berbeda aktivitas antipiretik, analgetik, dan anti inflamasinya. Obat-obat ini
bekerja dengan jalan menghambat enzim siklo-oksigense tetapi tidak enzim
lipoksigase.
Dalam
percobaan ini telah dilakukan pengujian obat-obat analgetik, antipiretik, dan
antiinflamasi pada hewan coba tikus (Rattus norvegicus). Obat-obat yang digunakan adalah asam mefenamat untuk
analgetik, parasetamol untuk antipiretik, dan natrium diklofenak untuk
antiinflamasi.
Pada praktikum analgetik, obat yang digunakan adalah asam
mefenamat serta penginduksi nyeri dengan asam asetat glacial. Asam mefenamat
bekerja dengan mengikat prostaglandin sintetase COX-1 dan COX-2 sehingga
menghambat sintesis prostaglandin. Prostaglandin berperan sebagai mediator
utama peradangan. Oleh karena dihambat maka nyeri akan berkurang atau hilang.
Efek samping dari asam mefenamat yaitu diare, memperhebat gejala asma dan
kemungkinan gangguan ginjal.
Adapun penginduksi asam asetat glacial merupakan asam
lemah yang tidak terkonjugasi dalam tubuh, pemberian sediaan asam asetat
terhadap hewan percobaan akan merangsang prostaglandin untuk menimbulkan nyeri
akibat adanya kerusakan jaringan atau inflamasi. Prostaglandin menyebabkan
sensitivitas reseptor nyeri terhadap stimulasi mekanik dan kimiawi sehingga
prostaglandin dapat menimbulkan keadaan hiperglana, kemudian mediatot kimiawi
seperti brandikinin dan histamine merangsangnya menimbulkan nyeri yang nyata.
Pada praktikum antipiretik, obat yang digunakan parasetamol,
serta penginduksi demam pepton 1%. Parasetamol yang bekerja menghambat produksi
prostaglandin namun parasetamol yang bekerja hanya sedikit memiliki khasiat
inflamasi. Parasetamol mampu mengurangi bentuk teroksidasi enzim
siklooksigenase (COX) sehingga menghambatnya untuk membentuk senyawa penyebab
inflamasi. Penggunaan parasetamol terus menerus dapat menyebabkan overdosis dan
keracunan, kegagalan liver dan kematian.
Adapun pepton yang digunakan sebagi penginduksi demam
merupakan suatu protein yang dimana
biasanya dibentuk pirogen yaitu suatu zat yang menyebabkan demam.
Pirogen endogen dan pirogen eksogen berasal dari luar tubuh seperi toksin,
produk-produk bakteri, dan dari bakteri itu pelepasan pirogen endogen yang
disebut sitokin sebagian besar merangsang hipotalamus untuk meningkatkan yang
akan menyebakan peningkatan suhu tubuh. Pirogen ini dapat secara langsung
mengubah sel protein pada hipotalamus yang menghasilkan
pembentukan panas.
Pada praktikum antiinflamasi, obat yang digunakan adalah
Natrium diklofenak, serta karagen sebagai penginduksi bengkak. Natrium diklofenak
bekerja menghambat enzim COX-1 dan enzim COX-2
yang menghasilkan menurunan terbentuknya precursor prostaglandin. Dimana
prostaglandin merupakan mediator nyeri. Efek samping dari penggunaan obat ini
yaitu mual, kembung, nyeri kepala, dan sebagainya.
Karagen sebagi penginduksi bengkak merupaka suatu zat
asing atau antigen yang bila masuk dalam tubuh akan merangsang pelepasan
mediator radang seperti histamine sehingga menyebabkan radang akibat antibody
tubuh beraksi terhadap antigen tersebut untuk melawan pengaruhnya.
Pada praktikum analgetik, mula-mula hewan coba tikus
dengan berat 314 gram diinduksikan asam asetat glasial, lalu diberi asam
mefenamat secara oral dengan volume pemberian 7,85 mL. Diperoleh hasil jumlah
geliat tikus setelah pemberian obat yaitu 33 geliat. Menit ke 15 sebanyak 31
geliat dan menit ke 30 sebanyak 30 geliat. Maka diperoleh %penurunan geliat
tikus yaitu sebesar 9,09%.
Pada praktikum antipiretik, digunakan obat
parasetamol. Mula-mula tikus dengan berat 249 gram diinduksi dengan pepton.
Suhu awal tikus adalah 36,4
. Dan setelah diinduksi dengan
pepton, suhunya menjadi 37,7
. Setelah diberi parasetamol dengan
volume pemberian 6,45 mL pada menit ke-15 menghasilkan suhu 36,0
, pada menit ke-30 menghasilkan suhu
37,42
dan menghasilkan %penurunan sebanyak 0,74%.
Pada praktikum inflamasi, tikus dengan berat 211 gram mula-mula
dengan karagen 1%. Volume kaki awal tikus adalah 2,4 cm dan setelah diinduksi
dengan karagen menghasilkan bengkak 4,5 cm. lalu mencit diberi natrium
diklofenak secara oral dengan volume pemberian 5,27 mL. pada menit ke-15
terjadi perubahan volume kaki tikus yaitu sebesar 3 cm. pada menit ke-30
sebesar 2,6 cm dan pada menit ke-60 sebesar 2,4 cm. Maka diperoleh persen
penurunan sebesar 46,67 %.
Pada praktikum analgetik, diperoleh hasil yang tidak sesuai
dengan literarur, sebab pemberian asam mefenamat seharusnya akan mengurangi
nyeri pada tikus sehingga menimbulkan efek berupa peningkatan geliat pada
mencit. Sedangkan pada percobaan ini, geliat tikus dari menit ke-15 justru
menurun dari 33 geliat menjadi 30 geliat.
Pada praktikum antipiretik hasil yang diperoleh juga
tidak sesuai dengan teori. Dimana suhu tubuh dari hewan coba tikus justru
meningkat. Hal ini disebabkan efek dari pepton lebih dominan bekerja daripada
parasetamol.
Pada praktikum anti inflamasi, hasil yang diperoleh
sesuai dengan teori dimana natrium diklofenak dapat mengurangi pembengkakan.
Hal ini terlihat pada volume kaki mencit yang sebelumnya diinduksi denga nkaragen.
Semakin lama semakin menurun setelah diberi natrium diklofenak.
Adapun
faktor kesalahan dari praktikum ini adalah kosentrasi obat yang tidak sesuai,
pengetahuan pratikan yang kurang memahami materi membuat pratikum terhambat.
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari percobaan yang telah dilakukan, dapat ditarik kesimpulan bahwa obat
golongan analgetik dapat meredakan nyeri, obat golongan antipiretik dapat
menurunkan suhu tubuh, dan obat golongan antiinflamasi dapat mengurangi
peradangan atau pembengkakan. Dimana, pada perlakuan terhadap mencit obat
antiinflamasi dapat menurunkan pembengkakan sebesar 46,67%.
B. Saran
Sebaiknya praktikan
lebih teliti lagi dalam melakukan percobaan.
DAFTAR PUSTAKA
Champe, P.C., dkk., 2013, Farmakologi Ulasan Bergambar, EGC,
Jakarta.
Ditjen POM, 1979, Farmakope Indonesia Edisi III, Departemen
Kesehatan RI, Jakarta
FK Universitas Sriwijaya, 2008, Kumpulan
Kuliah Farmakologi Edisi 2, EGC, Jakarta.
Goodman, & Gilman, 2007, Dasar Farmakologi Terapi Edisi 10, EGC, Jakarta.
Katzung, B. G.,
2004, Farmakologi Dasar dan Klinik,
EGC, Jakarta.
Mycek, M. J., dkk.,
2006 Farmakologi Ulasan Bergambar Edisi 2, Widya Medika, Jakarta.
Sloane,
E., 2004, Anatomi Dan Fisiologi Untuk
Pemula, EGC, Jakarta.
Tjay,
T. Hoan, & Rahardja, K., 2013, Obat-Obat
Penting Edisi VI Cetakan I, PT Elex Media Komputindo Gramedia, Jakarta.
Wilmana,
P. Freddy & Sulistia, G., 2009, Diambil dari buku : Farmakologi dan Terapi Edisi Ke-5, Departemen Farmakologi Terapeutik Universitas Indonesia, Jakarta.
LAMPIRAN
A. Perhitungan Dosis
a. Asam
mefenamat, BR = 635,4 mg
Dosis
Dewasa = 
Dosis tikus =
8,333 mg/kgBB 
Dosis mencit 200 gram =
mg
Larutan stok = 
Berat Yang Ditimbang = 
b. Parasetamol,
BR = 526,78 mg
Dosis
Dewasa = 
Dosis tikus = 8,333 mg/kgBB 
Dosis mencit 200 gram =
mg
Larutan stok = 
Berat Yang Ditimbang = 
c. Natrium
diklofenak, BR = 142,3 mg
Dosis
Dewasa = 
Dosis
tikus =
0,416 mg/kgBB 
Dosis mencit 200 gram =
mg
Larutan stok = 
Berat
Yang Ditimbang = 
B. Skema Kerja
1.
Analgetik
Disiapkan alat dan
bahan
↓
Disiapkan hewan coba
tikus
↓
Diberikan obat asam
mefenamat sebanyak 7,85 mL
↓
Diinduksikan asam
asetat glasial 1% sebanyak 1 ml secara intra peritorial
↓
Dihitung frekuensi
geliatnya pada menit ke 15’ dan 30’
2. Antipiretik
Disiapkan alat dan bahan
↓
Disiapkan hewan coba tikus
↓
↓
Diinduksi dengan pepton 1%
↓
Diukur suhu rektal setelah 15 menit penyuntikan
↓
Diberikan obat parasetamol pada tikus sebanyak 6,45 mL
↓
Diukur suhu rektalnya pada menit 15’ dan 30’
3. Antiinflamasi
Disiapkan alat dan bahan
↓
Disiapkan hewan coba tikus
↓
↓
Diinduksi dengan karagen 1% sebanya 1 mL
↓
Diukur lingkar kaki kiri
↓
Diberikan obat natrium diklofenak pada tikus sebanyak
5,27 mL
↓
Diukur
lingkar kaki setelah menit 15’,30’, 60’
Tidak ada komentar:
Posting Komentar