Jumat, 25 Mei 2018

[Laporan] Sistem Saraf Pusat II


LABORATORIUM FARMAKOLOGI
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA



LAPORAN PRAKTIKUM
“SISTEM SARAF PUSAT II”




OLEH
NAMA          : FENI SUGANDI
STAMBUK  : 150 2014 0105
KELAS        : C2
KLP              : III (TIGA)
ASISTEN   


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MAKASSAR
2017
BAB I
PENDAHULUAN
A.        Latar Belakang
Sistem saraf pusat (SSP) merupakan sistem saraf yang dapat mengendalikan sistem saraf lainnya didalam tubuh dimana bekerja dibawah kesadaran atau kemauan. SSP biasa juga disebut sistem saraf sentral karena merupakan sentral atau pusat dari saraf lainnya. Sistem saraf pusat ini dibagi menjadi dua yaitu otak (ensevalon) dan sumsum tulang belakang (medula spinalis).
Obat adalah unsur aktif secara fisiologis dipakai dalam diagnosis, pencegahan, pengobatan atau penyembuhan suatu penyakit pada manusia atau hewan. Obat dapat berasal dari alam dapat diperoleh dari sumber mineral, tumbuh-tumbuhan, hewan, atau dapat juga dihasilkan dari sintesis kimia organik atau biosintesis.
Obat yang bekerja pada sistem saraf pusat terbagi menjadi obat depresan saraf pusat yaitu anestetik umum yang memblokir rasa sakit, hipnotik sedative yang menyebabkan tidur, psikotropik untuk menghilangkan gangguan jiwa, antikunvulsi untuk menghilangkan kejang, analgetik untuk mengurangi rasa sakit, opiod, analgetik-antipiretik-antiinflamasi dan perangsangan susunan saraf pusat.
Obat yang digunakan pada praktikum ini adalah analgetik, antipiretik, dan antiinflamasi. Analgetik atau obat penghilang nyeri adalah zat-zat yang mengurangi atau melenyapkan rasa nyeri tanpa menghilangkan kesadaran. Nyeri adalah perasaan sensoris dan emosional yang tidak nyaman, berikatan dengan (ancaman) kerusakan jaringan. Antipiretik adalah obat yang menurunkan suhu tubuh yang tinggi. Jadi analgetik-antipiretik adalah obat yang mengurangi rasa nyeri dan serentak menurunkan suhu tubuh yang tinggi. Umumnya cara kerja analgetik-antipiretik adalah dengan menghambat sintesa neurotransmitter tertentu yang dapat menimbulkan rasa nyeri & demam. Dengan blokade sintesa neurotransmitter tersebut, maka otak tidak lagi mendapatkan "sinyal" nyeri, sehingga rasa nyerinya berangsur-angsur menghilang.
Inflamasi adalah respons perlindungan normal terhadap cedera jaringan yang disebabkan oleh trauma fisik, bahan kimia berbahaya, atau agen mikrobiologi. Dapat pula dikatakan bahwa inflamasi merupakan usaha tubuh untuk menginaktifkan atau menghancurkan organisme penginvasi, menghilangkan iritan, dan persiapan tahapan untuk perbaikan jaringan.
Untuk mengetahui dan melihat secara langsung efek-efek yang ditimbulkan oleh obat-obat pada sistem saraf pusat, dalam hal ini yaitu obat golongan analgetik, antipiretik, dan antiinflamasi, maka dilakukanlah percobaan ini.
B.        Maksud Praktikum
Maksud dari percobaan ini yaitu untuk mengetahui dan memahami cara pemberian obat dan efek obat sistem saraf pusat pada hewan coba tikus (Rattus norvegicus).
C.        Tujuan Praktikum
a.    Untuk menentukan efektivitas dari obat analgetik yaitu Asam Mefenamat berdasarkan jumlah geliat pada hewan coba tikus (Rattus norvegicus) yang diinduksi dengan asam asetat glasial 1%.
b.    Untuk menentukan efektivitas dari obat antipiretik yaitu paracetamol  berdasarkan parameter pengukuran suhu rektal pada hewan coba tikus (Rattus norvegicus) yang diinduksi pepton 1%.
c.    Untuk menentukan efektivitas dari obat antiinflamasi yaitu Na. Diclofenac berdasarkan pengukuran volume kaki pada hewan coba tikus (Rattus norvegicus) yang diinduksi karagen 1%.
D.        Prinsip Praktikum
a.    Penentuan efektivitas dari obat analgetik yaitu Asam Mefenamat berdasarkan jumlah geliat pada hewan coba tikus (Rattus norvegicus) yang diinduksi dengan asam asetat glasial 1%.
b.    Penentuan efektivitas dari obat antipiretik yaitu paracetamol  berdasarkan parameter pengukuran suhu rektal pada hewan coba tikus (Rattus norvegicus) yang diinduksi pepton 1%.
c.    Penentuan efektivitas dari obat antiinflamasi yaitu Na. Diclofenac berdasarkan pengukuran volume kaki pada hewan coba tikus (Rattus norvegicus) yang diinduksi karagen 1%.




BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.        Teori
Sistem saraf adalah serangkaian organ yang kompleks dan berkesinambungan serta terutama terdiri dari jaringan saraf. Dalam mekanisme sistem saraf, lingkungan internal dan stimulus eksternal dipantau dan diatur (Sloane, 2004).
Sistem saraf dibagi menjadi dua berdasarkan divisi anatomis: sistem saraf pusat (SSP), ysng terdiri dari otak dan medula spinalis, dan sistem saraf perifer, yang terdiri dari sel-sel saraf selain otak dan medula spinalis – yaitu saraf-saraf yang masuk dan keluar dari SSP (Champe, 2013).
Pada manusia, sistem saraf pusat, khususnya otak, memiliki kemampuan fungsi yang jauh lebih berkembang dari sistem saraf pada makhluk lain. Fungsi sistem saraf adalah (FK Universitas Sriwijaya, 2008):
(1) menerima rangsangan dari lingkungan atau dari dalam tbuh sendiri,
(2) mengubah,memproses, dan menghantar rangsangan, serta
(3) mengoordinasikan dan mengatur fungsi tubuh melalui impuls yang dibebaskan dari pusat ke perifer. Dalam sistem saraf pusat berlangsung semua proses kejiwaan dan psikis.
Analgetika atau obat penghilang nyeri adalah zat-zat yang mengurangi atau menghalau rasa nyeri tanpa menghilangkan kesadaran (perbedaan dengan anastetika umum). Nyeri adalah perasaan sensoris dan emosional yang tidak nyaman, berkaitan dengan (ancaman) kerusakan jaringan. Rasa nyeri dalam kebanyakan hal hanya merupakan suatu gejala yang berfungsi sebagai isyarat tentang adanya ganggian di jaringan, seperti peradangan, infeksi jasad renik atau kejang otot (Tjay, 2013).
Atas dasar kerja farmakologinya, analgetika dibagi dalam dua kelompok besar, yakni (Tjay, 2013) :
a.    Analgetika perifer (non-narkotik), yang terdiri dari obat-obat yang tidak bersifat narkotik dan tidak bekerja sentral.
b.    Analgetika narkotik khusus digunakan untuk menghalau rasa nyeri hebat, seperti fractura dan kanker.
Asam mefenamat merupakan kelompok anti inflamasi non steroid, bekerja dengan menghambat sintesa prostaglandin dalam jaringan tubuh dengan menghambat enzim siklooksigenase, sehingga mempunyai efek analgesik, anti inflamasi dan antipiretik. Cara Kerja Asam mefenamat adalah seperti OAINS (Obat Anti-Inflamasi Non-Steroid atau NSAID) lain yaitu  menghambat sintesa prostaglandin dengan menghambat kerja enzim cyclooxygenase (COX-1 & COX-2). Asam mefenamat mempunyai efek antiinflamasi, analgetik (antinyeri) dan antipiretik. Asam mefenamat  mempunyai khasiat sebagai analgesik dan antiinflamasi. Asam mefenamat merupakan satu-satunya fenamat yang menunjukan kerja pusat dan juga kerja perifer. Dengan mekanisme menghambat kerja enziim sikloogsigenase (Goodman, 2007).
Inflamasi merupakan suatu respon protektif normal terhadap luka jaringan yang disebabkan oleh trauma fisik , zat kimia yang merusak atau zat-zat mikrobiologik. Inflamasi adalah suatu usaha tubuh untuk menginaktivasi atau merusak organism yang menyerang , menghilangkan zat iritan dan mengatur derajat perbaikan jaringan (Mycek, 2006).
Anti inflamasi adalah obat-obat yang mempunyai efek analgetik, yaitu yang dapat mengurangi atau menghilangkan rasa sakit tanpa menghilangkan kesadaran. Tahap –tahap Inflamasi: Rubor (Kemerahan) Kalor (Panas) Dolor (Nyeri) Tumor (Pembengkakan) Fungsio laesa (Hilangnya fungsi organ) (Mycek, 2006).
Penggolongan obat antiinflamasi (Mycek, 2006) :
a)    Kostikosteroid : Prednisolon dan dexametason menghambat enzim fosfolipase,  sehingga tidak terbentuk asam arakidonat yang merupakan mediator nyeri.
b)    Celective COX2 : yang dihambat hanya COX2 saja (Prostaglandin).
c)    OAINS : Menghambat enzim siklooksigenase.
Impuls saraf dari SSP hanya dapat diteruskan ke ganglion dan sel efektor melalui penglepasan zat kimia yang khas yang disebut transmiter neurohumoral atau disingkat transmiter. Tidak banyak obat yang pada dosis terapi dapat mempengaruhi konduksi akson, tetapi banyak sekali zat yang dapat mengubah tranmisi neurohumoral. Obat otonom mempengaruhi transmisi neuron dengan cara menghambat atau mengintensifkannya. Terdapat beberapa kemungkinan tempat pengaruh obat pada transmisi sistem kolinergik maupun adrenergik, yaitu : (1) hambatan pada sintesis atau penglepasan transmiter; (2) menyebabkan penglepasan transmiter; (3) ikatan dengan reseptor; dan (4) hambatan destruksi ambilan transmiter (Wilmana, 2009).
Pada percobaan antiinflamasi, obat yang digunakan yaitu natrium diklofenak. Diklofenak adalah turunan asam fenilasetat sederhana yang menyerupai florbiprofen maupun meklofenamat. Obat ini adalah penghambat siklooksigenase yang kuat dengan efek anti inflamasi, analgesik dan anti piretik. Diklofenak cepat diabsorbsi setelah pemberian oral dan mempunyai waktu paruh yang pendek. Seperti flurbiprofen, obat ini berkumpul di cairan sinovial. Potensi diklofenak lebih besar dari pada naproksen. Obat ini dianjurkan untuk kondisi peradangan kronis seperti artritis rematoid dan osteoartritis serta untuk pengobatan nyeri otot rangka akut (Katzung, 2004).
Mekanisme kerjanya, bila membran sel mengalami kerusakan oleh suatu rangsangan kimiawi, fisik, atau mekanis, maka enzim fosfolipase diaktifkan untuk mengubah fosfolipida menjadi asam arachidonat. Asam lemak poli-tak jenuh ini kemudian untuk sebagian diubah oleh ezim cyclo-oksigenase menjadi endoperoksida dan seterusnya menjadi prostaglandin. Cyclo-Oksigenase terdiri dari dua iso-enzim, yaitu COX-1 (tromboxan dan prostacyclin) dan COX-2 (prostaglandin). Kebanyakan COX-1 terdapat di jaringan, antara lain dipelat-pelat darah, ginjal dan saluran cerna. COX-2 dalam keadaan normal tidak terdapat dijaringan tetapi dibentuk selama proses peradangan oleh sel-sel radang. Penghambatan COX-2 lah yang memberikan efek anti radang dari obat NSAIDs. NSAID yang ideal hanya menghambat COX-2 (peradangan) dan tidak COX-1 (perlindungan mukosa lambung). Diklofenak merupakan obat NSAIDs (Non Steroidal Anti Inflammatory Drugs) yang bersifat tidak selektif dimana kedua jenis COX di blokir. Dengan dihambatnya COX-1, dengan demikian tidak ada lagi yang bertanggung jawab melindungi mukosa lambung-usus dan ginjal sehingga terjadi iritasi dan efek toksik pada ginjal (Tjay, 2013).
B.        Uraian Bahan dan Obat
1.  Uraian bahan
a.    Na CMC (Ditjen POM, 1979)
Nama resmi     : NATRIICARBOXYMETHYLCELLULOSUM
Nama lain        : Natrium Karboksimetilselulosa
Pemerian         : Serbuk atau butiran, putih atau putih kuninggading, tidak berbau atau hampir tidak berbau,higroskopik.
Kelarutan        : Mudah  mendispersi  dalam   air,   membentuk   suspensi  koloidal, tidak larut dalam etanol (95%) P, dalam eter P dan dalam pelarutorganik lain.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat.
Kegunaan       : Sebagai pensuspensi


b.    Asam asetat glasial (Ditjen POM, 1979: 42)
Nama resmi   :  ACIDUM ACETICUM GLACIALE
Nama lain      :  Asam asetat glacial
RM                  :  C2H4O2
BM                  :  60,05
Pemerian       : Cairan jernih, tidak berwarna; bau khas, tajam; jika
diencerkan dengan air, rasa asam.
Kelarutan       : Dapat campur dengan air, dengan etanol (95%) P                  
dan  dengan gliserol P.
Penyimpanan: Dalam wadah tertutup rapat.
c.    Pepton (Dirjen POM, 1979: 721)
Nama Resmi             : PEPTON
Nama Lain                 : Pepton
Pemerian                   : Serbuk, kuning kemerahan sampai coklat;bau
khas tidak busuk.
Kelarutan                   : Larut  dalam  air;  larutan  yang  berwarna
Coklat kekuningan yang bereaksi agak asam; praktis tidak larut dalam etanol (95%) P dan dalam eter P.
Penyimpanan           : Dalam wadah tertutup baik.
d.    Karagen (Ditjen POM:1979)
Nama Resmi             : CARRAGEENAN
Nama  Lain                : Karagenan, karagen
Pemerian                   : cairan jernih warna coklat merah  sampai  
coklat jingga tua tergantung pada kadar protein.
Kelarutan                   : larut sempurna dalam air pada suhu 20°
sampai 25°.
Penyimpanan           : dalam  wadah tertutup rapat, pada suhu
antara 2° sampai 25°C , terlindung dari cahaya
Kegunaan                 : sebagai penginduksi radang
2.  Uraian obat
a.    Asam Mefenamat (Wilmana, 2009)
Golongan obat
Indikasi
:
:
Obat anti-inflamasi non steroid
Mencegah terjadinya  nyeri ringan sampai sedang seperti sakit kepala, sakit gigi, dismenore, nyeri reumatik, nyeri pasca operasi dan nyeri otot
Kontraindikasi
:
Bronkospasme,  dan alergi rhinitis serta urtikuria setelah pemakaian asetosal
Efek samping
:
Mual-mual,   muntah,   diare,    nyeri perut,   dan leukopenia, pusing, penglihatan kabur, dan insomnia.
Dosis
:
Dewasa    dan   anak      14  tahun. Diawali 500 mg selanjutnya dengan 250 mg tiap 6 jam.
Farmakokinetik
:
Diabsorbsi cepat dan sempurna melalui saluran cerna. Konsentrasi tertinggi dalam plasma dicapai dalam waktu ½ jam dan masa paruh plasma antara 1-3 jam.
Farmakodinamik
:
Efek analgesik serupa dengan salisilat yaitu  menghilangkan atau mengurangi nyeri ringan sampai sedang.
b.    Paracetamol (Ditjen POM:1979)
Nama resmi
:
ACETAMINOPHENUM
Nama lain
:
Asetaminofen, Parasetamol
Rumus molekul

C8H9NO2
Golongan obat
Pemerian
:
:
Analgesik lainnya
Hablur atau serbuk hablur putih ; tidak berbau ; rasa pahit
Kelarutan
:
Larut dalam 70 bagian air, dalam 7 bagian etanol (95 %) P, dalam 13 bagian aseton P, dalam 40 bagian gliserol P, dan dalam 9 bagian propilenglikol P, dan dalam larutan alkali hidroksida.
Penyimpanan
:
Dalam wadah tertutup baik, terlindung dari cahaya.
Kegunaan

Analgetikum ( obat yang digunakan untuk menghilangkan ras sakit atau nyeri tanpa menghilangkan kesadaran), Antipiretikum  (obat yang digunakan untukmenurunkan suhu tubuh yang panas ).
c.    Natrium Diclofenac (Wilmana, 2009)
Golongan obat
Indikasi


Kontraindikasi



Mekanisme Kerja





Efek Samping



Dosis





Interaksi Obat





Penyimpanan
:
:


:



:





:



:





:





:
Obat anti-inflamasi non steroid
Pengobatan akut dan kronis gejala-gejala reumatoid arthritis, osteoarthritis, dan ankilosing spondilitis.
Penderita yang hipersensitif terhadap diklofenak atau yang menderita asma, urtikaria atau alergi pada pemberian aspirin atau NSAIA lain, penderita tukak lambung.
Diklofenak adalah golongan obat non steroid dengan aktivitas anti inflamasi, analgesik dan antipiretik. Aktivitas diklofenak denganjalan menghambat enzim siklooksigenase sehingga pembentukan prostaglandin terhambat.
Nyeri/kram perut, sakit kepala, retensi cairan, diare, nausea, konstipasi flatulen, kelainan pada hasil uji hati, indigesti, tukak lambung, pusing, ruam, priritus, tinitus.
Osteoarthritis : 2 – 3 kali sehari 50 mg atau 2 kali sehari 75 mg.
Rheumatoid arthritis : 3 – 4 kali sehari 50 mg atau 2 kali sehari 75 mg.
Ankilosing spondilitis : 4 kali sehari 25 mg ditambah 25 mg saat akan tidur.
Penggunaan bersama aspirin akan menurunkan konsentrasi plasma dan AUC diklofenak, meningkatkan konsentrasi plasma digoksin, metotreksat, siklosporin dan litium, dan menurunkan aktivitas obat-obatan diuretik.
Simpan ditempat kering dan sejuk serta terlindung dari cahaya.
C.        Uraian Hewan Coba
1.     Klasifikasi (Ningsih, 2009)
Kingdom                       : Animalia
Divisio                             : Vertebrata
Class                               : Mamalia
Ordo                                : Rodentia
Famili                              : Muridae
Genus                             : Orytolagus
Spesies                           : Rattus norvegicus
2.     Karakteristik Hewan Coba (Ningsih, 2009)
Pubertas                         : 4 bulan
Masa beranak                : Mei – September
Masa hamil                    : 28-36 hari
Jumlah sekali lahir       : 5-6 ekor
Lama hidup                    : 8 tahun
Masa tumbuh                : 4-6 bulan
Suhu tubuh (̊C)             : 50̊ - 60̊
Tekanan darah              : 5














BAB III
METODOLOGI KERJA
A.           Alat dan Bahan
a.    Alat yang digunakan
Adapun alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah benang godam, gelas kimia, kanula, penggaris, spoit injeksi, stopwatch, dan termometer rektal.
b.    Bahan yang digunakan
Adapun bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah Asam asetat glasial 1%, Asam Mefenamat,  Karagen 1%, Natrium Diklofenak, Na-CMC 1%, Parasetamol, dan Pepton 1%.
B.           Prosedur Kerja
a.    Pembuatan bahan
1.    Pembuatan Na-CMC 1%.
a)    Ditimbang Na-CMC sebanyak 1 gram.
b)    Dipanaskan 100 mL air suling hingga suhu 700C.
c)    Dilarutkan Na-CMC dengan air suling yang sudah dipanaskan tadi sedikit demi sedikit dan kemudian diaduk.
d)    Dimasukkan larutan Na-CMC kedalam wadah,
e)    Diberi etiket dan disimpan didalam lemari pendingin.
2.    Pembuatan Pepton 1%
a)    Ditimbang pepton sebanyak 0,1 gram diatas cawan porselen.
b)    Dilarutkan dengan aquadest, dan dicukupkan hingga 10 mL.
c)    Larutan pepton dimasukkan dalam wadah dan diberi etiket.
3.    Pembuatan Asam Asetat Glasial 1%
a)    Ditimbang Asam asetat glasial sebanyak 1 mL kedalam labu ukur.
b)    Dicukupkan hingga 10 mL dan diberi etiket
4.    Pembuatan Karagen 1%
a)    Ditimbang karagen sebanyak 0,1 gram diatas cawan porselen
b)    Dilarutkan dengan aquadest, dan dicukukpkan volume hingga 10 mL
c)    Larutan karagen dimasukkan dalam wadah dan diberi etiket
b.  Pembuatan Obat
1.     Asam mefenamat
a)    Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan.
b)    Ditimbang asam mefenamat sebanyak 26,12 mg
c)    Dimasukkan ke dalam labu ukur 10 ml
d)    Dilarutkan dengan 10 ml Na-CMC 1%
e)      Dihomogenkan lalu diberi etiket.
2.     Natrium Diklofenak
a)    Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan.
b)    Ditimbang natrium diklofenak sebanyak 5,839 mg
c)    Dimasukkan ke dalam labu ukur 10 ml
d)    Dilarutkan dengan 10 ml Na-CMC 1%
e)    Dihomogenkan lalu diberi etiket.
3.     Parasetamol
a)    Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan.
b)    Ditimbang parasetamol sebanyak 21,654 mg
c)    Dimasukkan ke dalam labu ukur 10 ml
d)    Dilarutkan dengan 10 ml Na-CMC 1%
e)    Dihomogenkan lalu diberi etiket.
C.           Perlakuan Hewan Coba
a.  Analgetik
1.  Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan.
2.  Hewan uji diberikan obat Asam Mefenamat secara oral sebanyak 7,85 ml.
3.  Setelah 30 menit, diinduksikan asam asetat glasial 1% sebanyak 1 ml secara intra peritorial.
4.  Dihitung frekuensi geliatnya pada menit ke 15 dan 30.
5.  Dihitung % penurunan.
b.  Antipiretik
1.  Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan.
2.  Diukur suhu rektal awal.
3.  Diinduksi dengan pepton 1% secara intra peritorial sebanyak 1 ml
4.  Diukur suhu tubuh demam tikus
5.  Diberi obat parasetamol secara oral sebanyak 6,45 ml.
6.  Diukur suhu rektal setiap menit 15 dan 30.
7.  Dihitung % penurunan.
c.   Antiinflamasi
1.  Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan.
2.  Diukur lingkar kaki kiri hewan coba.
3.  Diinduksi dengan karagen 1% secara intraplantar.
4.  Diukur lingkar kaki kiri hewan coba setelah 30 menit.
5.  Diberi obat natrium diklofenak secara oral sebanyak 5,27 ml.
6.  Diukur lingkar kaki pada menit ke 15, 30 dan 60.
7.  Dihitung % penurunan.
















                                                          BAB IV
HASIL PENGAMATAN
A.  Tabel Pengamatan
Dari hasil praktikum sistem saraf pusat yang telah dilakukan, maka diperoleh hasil pengamatan berupa tabel sebagai berikut :
1.  Analgetik
Obat
BB Hewan
Vp
Geliat setelah pemberian obat
Geliat setelah pemberian As. Mefenamat

% penurunan
15’
30’
As. Mefenamat
314 g
7,85 mL
33 x
31 x
30 x

9,09%
2.  Antipiretik

Obat

BB

Vp

Suhu awal

Suhu demam
Suhu Perlakuan
% penurunan
15’
30’
PCT
249 g
6,45mL
36,4
37,7
36
37,42
0,75%
3.  Antiinflamasi
Obat
BB Hewan
Vp
V kaki Awal
V kaki bengkak
V setelah perlakuan
%penurunan
15’
30’
60’
Na. Diklofenak
211 g
5,27 mL
2,4cm
4,5 cm
3cm
2,6cm
2,4cm
46,67%




%Penurunan
1.  Analgetik
%Penurunan Asam mefenamat =
= 
= 9,09%
2.  Antipiretik
%Penurunan Parasetamol =
= 
=  0,74%
3.  Antiinflamasi
%Penurunan Na. Diklofenak = 
= 
= 46,67%
B.   Pembahasan
Sistem saraf pusat (SSP) merupakan sistem saraf yang dapat mengendalikan saraf lainnya didalam tubuh biasanya bekerja dibawah kesadaran atau kemauan.
Analgetika atau obat penghilang nyeri adalah zat-zat yang mengurangi atau menghalau rasa nyeri tanpa menghilangkan kesadaran. Dimana nyeri itu sendiri adalah perasaan sensoris dan emosional yang tidak enak berkaitan ancaman kerusakan jaringan.
Antipiretik adalah obat-obat atau zat-zat yang dapat menurunkan suhu badan pada keadaan demam. Pada keadaan demam hipotalamus yang merupakan pusat pengatur suhu tubuh akan terganggu tetapi dapat dikembalikan ke normal oleh obat mirip aspirin.
Inflamasi adalah kerusakan jaringan akibat luka atau invasi mikroorganisme patogenik yang akan memicu suatu kompleks kejadian yang dinamakan respon radang. Rangsangan inflamasi menyebabkan pelepasan mediayor inflamasi, seperti histamine, serotonin, bradikinin, dan prostaglandin yang menimbulkan reaksi radang berupa panas, nyeri, merah, bengkak, dan gangguan fungsi. Obat-obat anti-inflamasi non steroid (AINS) merupakan suatu grup obat yang secara kimiawi tidak sama, yang berbeda aktivitas antipiretik, analgetik, dan anti inflamasinya. Obat-obat ini bekerja dengan jalan menghambat enzim siklo-oksigense tetapi tidak enzim lipoksigase.
Dalam percobaan ini telah dilakukan pengujian obat-obat analgetik, antipiretik, dan antiinflamasi pada hewan coba tikus (Rattus norvegicus). Obat-obat yang digunakan adalah asam mefenamat untuk analgetik, parasetamol untuk antipiretik, dan natrium diklofenak untuk antiinflamasi.
Pada praktikum analgetik, obat yang digunakan adalah asam mefenamat serta penginduksi nyeri dengan asam asetat glacial. Asam mefenamat bekerja dengan mengikat prostaglandin sintetase COX-1 dan COX-2 sehingga menghambat sintesis prostaglandin. Prostaglandin berperan sebagai mediator utama peradangan. Oleh karena dihambat maka nyeri akan berkurang atau hilang. Efek samping dari asam mefenamat yaitu diare, memperhebat gejala asma dan kemungkinan gangguan ginjal.
Adapun penginduksi asam asetat glacial merupakan asam lemah yang tidak terkonjugasi dalam tubuh, pemberian sediaan asam asetat terhadap hewan percobaan akan merangsang prostaglandin untuk menimbulkan nyeri akibat adanya kerusakan jaringan atau inflamasi. Prostaglandin menyebabkan sensitivitas reseptor nyeri terhadap stimulasi mekanik dan kimiawi sehingga prostaglandin dapat menimbulkan keadaan hiperglana, kemudian mediatot kimiawi seperti brandikinin dan histamine merangsangnya menimbulkan nyeri yang nyata.
Pada praktikum antipiretik, obat yang digunakan parasetamol, serta penginduksi demam pepton 1%. Parasetamol yang bekerja menghambat produksi prostaglandin namun parasetamol yang bekerja hanya sedikit memiliki khasiat inflamasi. Parasetamol mampu mengurangi bentuk teroksidasi enzim siklooksigenase (COX) sehingga menghambatnya untuk membentuk senyawa penyebab inflamasi. Penggunaan parasetamol terus menerus dapat menyebabkan overdosis dan keracunan, kegagalan liver dan kematian.
Adapun pepton yang digunakan sebagi penginduksi demam merupakan suatu protein yang dimana  biasanya dibentuk pirogen yaitu suatu zat yang menyebabkan demam. Pirogen endogen dan pirogen eksogen berasal dari luar tubuh seperi toksin, produk-produk bakteri, dan dari bakteri itu pelepasan pirogen endogen yang disebut sitokin sebagian besar merangsang hipotalamus untuk meningkatkan yang akan menyebakan peningkatan suhu tubuh. Pirogen ini dapat secara langsung mengubah sel protein pada hipotalamus yang menghasilkan pembentukan panas.
Pada praktikum antiinflamasi, obat yang digunakan adalah Natrium diklofenak, serta karagen sebagai penginduksi bengkak. Natrium diklofenak bekerja menghambat enzim COX-1 dan enzim COX-2  yang menghasilkan menurunan terbentuknya precursor prostaglandin. Dimana prostaglandin merupakan mediator nyeri. Efek samping dari penggunaan obat ini yaitu mual, kembung, nyeri kepala, dan sebagainya.
Karagen sebagi penginduksi bengkak merupaka suatu zat asing atau antigen yang bila masuk dalam tubuh akan merangsang pelepasan mediator radang seperti histamine sehingga menyebabkan radang akibat antibody tubuh beraksi terhadap antigen tersebut untuk melawan pengaruhnya.
Pada praktikum analgetik, mula-mula hewan coba tikus dengan berat 314 gram diinduksikan asam asetat glasial, lalu diberi asam mefenamat secara oral dengan volume pemberian 7,85 mL. Diperoleh hasil jumlah geliat tikus setelah pemberian obat yaitu 33 geliat. Menit ke 15 sebanyak 31 geliat dan menit ke 30 sebanyak 30 geliat. Maka diperoleh %penurunan geliat tikus yaitu sebesar 9,09%.
Pada praktikum antipiretik, digunakan obat parasetamol. Mula-mula tikus dengan berat 249 gram diinduksi dengan pepton. Suhu awal tikus adalah 36,4. Dan setelah diinduksi dengan pepton, suhunya menjadi 37,7. Setelah diberi parasetamol dengan volume pemberian 6,45 mL pada menit ke-15 menghasilkan suhu 36,0, pada menit ke-30 menghasilkan suhu 37,42 dan menghasilkan %penurunan sebanyak 0,74%.
Pada praktikum inflamasi, tikus dengan berat 211 gram mula-mula dengan karagen 1%. Volume kaki awal tikus adalah 2,4 cm dan setelah diinduksi dengan karagen menghasilkan bengkak 4,5 cm. lalu mencit diberi natrium diklofenak secara oral dengan volume pemberian 5,27 mL. pada menit ke-15 terjadi perubahan volume kaki tikus yaitu sebesar 3 cm. pada menit ke-30 sebesar 2,6 cm dan pada menit ke-60 sebesar 2,4 cm. Maka diperoleh persen penurunan sebesar 46,67 %.
Pada praktikum analgetik, diperoleh hasil yang tidak sesuai dengan literarur, sebab pemberian asam mefenamat seharusnya akan mengurangi nyeri pada tikus sehingga menimbulkan efek berupa peningkatan geliat pada mencit. Sedangkan pada percobaan ini, geliat tikus dari menit ke-15 justru menurun dari 33 geliat menjadi 30 geliat.
Pada praktikum antipiretik hasil yang diperoleh juga tidak sesuai dengan teori. Dimana suhu tubuh dari hewan coba tikus justru meningkat. Hal ini disebabkan efek dari pepton lebih dominan bekerja daripada parasetamol.
Pada praktikum anti inflamasi, hasil yang diperoleh sesuai dengan teori dimana natrium diklofenak dapat mengurangi pembengkakan. Hal ini terlihat pada volume kaki mencit yang sebelumnya diinduksi denga nkaragen. Semakin lama semakin menurun setelah diberi natrium diklofenak.
Adapun faktor kesalahan dari praktikum ini adalah kosentrasi obat yang tidak sesuai, pengetahuan pratikan yang kurang memahami materi membuat pratikum terhambat.
















BAB V
                                                        PENUTUP
A.   Kesimpulan
Dari percobaan yang telah dilakukan, dapat ditarik kesimpulan bahwa obat golongan analgetik dapat meredakan nyeri, obat golongan antipiretik dapat menurunkan suhu tubuh, dan obat golongan antiinflamasi dapat mengurangi peradangan atau pembengkakan. Dimana, pada perlakuan terhadap mencit obat antiinflamasi dapat menurunkan pembengkakan sebesar 46,67%.
B.   Saran
Sebaiknya praktikan lebih teliti lagi dalam melakukan percobaan.













DAFTAR PUSTAKA
Champe, P.C., dkk., 2013, Farmakologi Ulasan Bergambar, EGC, Jakarta.
Ditjen POM, 1979, Farmakope Indonesia Edisi III, Departemen Kesehatan RI, Jakarta
FK Universitas Sriwijaya, 2008, Kumpulan Kuliah Farmakologi Edisi 2, EGC, Jakarta.
Goodman, & Gilman, 2007, Dasar Farmakologi Terapi Edisi 10, EGC, Jakarta.
Katzung, B. G., 2004, Farmakologi Dasar dan Klinik, EGC, Jakarta.
Mycek, M. J., dkk., 2006 Farmakologi Ulasan Bergambar Edisi 2, Widya Medika, Jakarta.           
Sloane, E., 2004, Anatomi Dan Fisiologi Untuk Pemula, EGC, Jakarta.
Tjay, T. Hoan, & Rahardja, K., 2013, Obat-Obat Penting Edisi VI Cetakan I, PT Elex Media Komputindo Gramedia, Jakarta.
Wilmana, P. Freddy & Sulistia, G., 2009, Diambil dari buku : Farmakologi dan Terapi Edisi Ke-5, Departemen Farmakologi Terapeutik Universitas Indonesia, Jakarta.











LAMPIRAN
A.   Perhitungan Dosis
a.    Asam mefenamat,  BR = 635,4 mg
Dosis Dewasa                      = 
     Dosis tikus                = 8,333 mg/kgBB
     Dosis mencit 200 gram       =  mg
     Larutan stok              =
     Berat Yang Ditimbang =
b.    Parasetamol, BR = 526,78 mg
Dosis Dewasa                      = 
            Dosis tikus                = 8,333 mg/kgBB
            Dosis mencit 200 gram       =  mg
            Larutan stok              =
            Berat Yang Ditimbang =
c.    Natrium diklofenak, BR = 142,3 mg
Dosis Dewasa                      = 
            Dosis tikus                = 0,416 mg/kgBB
            Dosis mencit 200 gram       =  mg
            Larutan stok              =
            Berat Yang Ditimbang =
B.   Skema Kerja
1.    Analgetik
Disiapkan alat dan bahan
Disiapkan hewan coba tikus
Diberikan obat asam mefenamat sebanyak 7,85 mL
Diinduksikan asam asetat glasial 1% sebanyak 1 ml secara intra peritorial
Dihitung frekuensi geliatnya pada menit ke 15’ dan 30’

2.    Antipiretik
Disiapkan alat dan bahan
Disiapkan hewan coba tikus
Diukur suhu rektal (awal)
Diinduksi dengan pepton 1%
Diukur suhu rektal setelah 15 menit penyuntikan
Diberikan obat parasetamol pada tikus sebanyak 6,45 mL
Diukur suhu rektalnya pada menit 15’ dan 30’


3.    Antiinflamasi
Disiapkan alat dan bahan
Disiapkan hewan coba tikus
Diukur lingkar kaki kiri hewan coba tikus
Diinduksi dengan karagen 1% sebanya 1 mL
Diukur lingkar kaki kiri
Diberikan obat natrium diklofenak pada tikus sebanyak 5,27 mL
Diukur lingkar kaki setelah menit 15’,30’, 60’



Tidak ada komentar:

Posting Komentar