BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar belakang
Sistem saraf
pusat (SSP) merupakan sistem saraf yang dapat mengendalikan sistem saraf
lainnya didalam tubuh dimana bekerja dibawah kesadaran atau kemauan. SSP biasa
juga disebut sistem saraf sentral karena merupakan sentral atau pusat dari
saraf lainnya. Sistem saraf pusat ini dibagi menjadi dua yaitu otak (ensevalon)
dan sumsum tulang belakang (medula spinalis).
Sistem saraf
pusat dapat ditekan seluruhnya oleh penekan saraf pusat yang tidak spesifik
misalnya hipnotik sedativ. Obat yang bekerja pada sistem saraf pusat terbagi
menjadi obat depresan saraf pusat yaitu anastetik umum, hipnotik sedativ,
psikotropik, antikonvulsi, analgetik, antipiretik, inflamasi, perangsang
susunan saraf pusat.
Dalam
percobaan ini mahasiswa farmasi diharapkan mampu untuk mengetahui dan memahami
bagaimana efek farmakologi obat depresan saraf pusat dimana dalam percobaan ini
mahasiswa mengamati anastetik umum dan hipnotik sedativ yang diujikan pada
hewan coba mencit (Mus musculus). Obat yang digunakan untuk anastetik
umum yaitu eter, untuk hipnotik sedativ digunakan diazepam, sedangkan
antidepresan dan stimulan digunakan obat amitriptilin.
Adapun dalam
bidang farmasi pengetahuan tentang sistem saraf pusat perlu untuk diketahui
khususnya dalam bidang ilmu farmakologi toksikologi karena mahasiswa farmasi
dapat mengetahui obat-obat apa saja yang perlu atau bekerja pada sistem saraf
pusat. Hal inilah yang melatarbelakangi dilakukannya percobaan ini.
B.
Maksud Praktikum
Maksud dari
percobaan ini yaitu untuk mengetahui dan memahami cara pemberian obat dan efek
obat sistem saraf pusat pada hewan coba mencit (Mus musculus).
C.
Tujuan
Praktikum
Adapun
tujuan dari praktikum ini, ialah :
a. Untuk menentukan efek obat anastesi umum (Eter), hipnotik dan sedatif (Diazepam) terhadap hewan coba mencit (Mus musculus) berdasarkan parameter onset dan durasi.
b. Untuk menentukan efek obat antidepresi (Amitriptyline) terhadap hewan coba mencit (Mus musculus) berdasarkan parameter durasi diam.
c. Stimulant susunan saraf pusat (Amitriptyline) terhadap hewan coba mencit (Mus musculus) berdasarkan parameter durasi gerak.
D.
Prinsip
Praktikum
a.
Penentuan
efek dari pemberian obat anastesi umum (Eter), hipnotik dan sedatif (Diazepam) terhadap hewan coba mencit (Mus musculus) berdasarkan parameter onset dan durasi.
b.
Penentuan
efek obat antidepresi (Amitriptyline)
terhadap hewan coba mencit (Mus
musculus) berdasarkan parameter
durasi diam.
c. Penentuan efek stimulant susunan saraf pusat (Amitriptyline) terhadap hewan coba mencit (Mus musculus) berdasarkan parameter durasi gerak.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.
Teori
Sistem saraf
adalah serangkaian organ yang kompleks dan berkesinambungan serta terutama
terdiri dari jaringan saraf. Dalam mekanisme sistem saraf, lingkungan internal
dan stimulus eksternal dipantau dan diatur (Sloane, 2004).
Sistem saraf
dibagi menjadi dua berdasarkan divisi
anatomis: sistem saraf pusat (SSP), ysng terdiri dari otak dan medula spinalis,
dan sistem saraf perifer, yang terdiri dari sel-sel saraf selain otak dan
medula spinalis – yaitu saraf-saraf yang masuk dan keluar dari SSP (Champe,
2013).
Istilah
anastesia yang artinya hilangnya sensasi nyeri (rasa sakit) yang disertai
maupun yang tidak disertai hilang kesadaran, diperkenalkan oleh Oliver W.
Holmes pada tahun 1846. Obat yang digunakan dalam menimbulkan anastesia disebut
sebagai anastetik, dan kelompok obat ini dibedakan dalam naestetik umum dan
anestetik lokal. Bergantung pada dalamnya pembiusan, anestetik umum dapat
memberikan efek analgesia yaitu hilangnya sensasi nyeri, atau efek anestesia
yaitu analgesia yang disertai hilangnya kesadaran, sedangkan anestetik lokal
hanya dapat menimbulkan efek analgesia. Anastetik umum bekerja di susunan saraf
pusat sedangkan anestetik lokal bekerja langsung pada serabut saraf di perifer
(Elysabeth, 2009).
Anastetik
umum merupakan depresan sistem saraf pusat, dibedakan menjadi anastetik
inhalasi yaitu anastetik gas, anastetik menguap dan anastetik parenteral. Pada
percobaan hewan dalam farmakologi yang digunakan hanya anastetik menguap dan
anastetik parenteral (Sjamsuhidajat, 2005).
Mekanisme
terjadinya anesthesia sampai sekarang belum jelas meskipun dalam bidang
fisiologi SSP dan susunan saraf perifer terdapat kemajuan hebat sehingga timbul
berbagai teori berdasarkan sifat obat anestetik,misalnya penurunan transmisi
sinaps, penurunan konsumsi oksigen dan penurunan aktivitas listrik SSP (Tjay, 2010).
Hipnotik dan
sedatif merupakan golongan obat pendepresi susunan saraf pusat (SSP). Efeknya
bergantung kepada dosis, mulai dari yang ringan yaitu menyebabkan tenang atau
kantuk, menidurkan, hingga yang berat yaitu hilangnya kesadaran, keadaan
anestesi, koma, dan mati. Pada dosis terapi, obat sedatif menekan aktivitas
mental, menurunkan respons terhadap rangsangan emosi sehingga menenangkan. Obat
hipnotik menyebabkan kantuk dan mempermudah tidur yang menyerupai tidur
fisiologis (Wiria, 2009).
Dalam
mempengaruhi kemampuan mengatur suatu pembiusan perlu dipertimbangkan bahwa
dalam pembiusan yang ditimbulkan oleh suatu obat pembius tertentu ditentukan
oleh konsentrasinya dalam sistem saraf pusat dan bahwa ini bergantung pada
(Champe, 2013) :
1.
Konsentrasi obat pembius dalam udara inspirasi
2.
Frekuensi pernapasan dalam pernapasan
3.
Ketetapan membran alveoli-kapiler
4.
Pasokan darah pada paru-paru dan otak
5.
Kelarutan obat pembius dalam darah
6.
Koefisien distribusinya antara darah dan jaringan
dalam otak.
Tidur adalah
kebutuhan suatu makhluk hidup untuk menghindarkan dari pengaruh yang merugikan
tubuh karena kurang tidur. Pusat tidur di otak mengatur fungsi fisiologis ini.
Pada waktu terjadi miosis, bronkokontriksi, sirkulasi darah lambat, stimulasi
peristaltik dan sekresi saluran cerna. Tidur normal terdiri dari dua jenis (Anonim, 2017):
1. Tidur tenang
(Slow wafe, NREM = Non Rapid Eye
Movement, ortodoks) yang berciri irama jantung, tekanan darah, pernafasan
teratur, otot kendor tanpa gerakan otot muka dan mata.
2. Tidur REM (Rapid Eye Movement) atau paradoksal,
cirinya otak memperlihatkan aktivitas listrik (EEG = Elektro enchephalogram) seperti pada orang dalam keadaan bangun dan
aktif, gerakan mata cepat, jantung, tekanan darah dan pernapasan naik turun,
aliran darah ke otak bertambah, ereksi, mimpi.
Golongan
obat hipnotik-sedatif yaitu (Champe, 2013):
1. Benzodiazepine, contohnya :
·
Alprazolam
·
Chlordiazepoxide
·
Clonazepam
·
Clorazepate
·
Diazepam
·
Estazolam
·
Flurazepam
·
Lorazepam
·
Quazepam
·
Oxazepam
·
Temazepam
·
Triazolam
2. Antagonis
Benzodiazepine, contohnya :
·
Flumazenil
3. Sedatif lainnya, contohnya :
·
Buspirone
·
Hidroxyzine
·
Antidepresan
4. Barbiturat,
contohnya :
·
Amobarbital
·
Phenobarbital
·
Pentobarbital
·
Secobarbital
·
Thiopental
5. Hipnotik
lainnya :
·
Antihistamin
·
Chloralhydrate
·
Eszopicion
·
Ethanol
·
Ramelteon
·
Zaleplon
·
Zolpidem
Efek perangsangan
susunan saraf pusat (SSP) baik oleh obat yang berasal dari alam atau sintetik
dapat diperhatikan pada hewan dan manusia. Beberapa obat memperlihatkan efek
perangsangan SSP yang nyata dalam dosis toksik, sedangkan obat lain
memperlihatkan efek perangsangan SSP sebagai efek samping. Perangsangan SSP
oleh obat pada umumnya melalui dua mekanisme, yaitu (Louisa, 2009):
1. Mengadakan blokade
sistem penghambatan.
2. Meninggikan
perangsangan sinaps.
Adapun mekanisme kerja
dari tiap golongan obat hipnotik sedatif sebagai berikut (Champe, 2013) :
1. Benzodiazepine
Target
kerja benzodiazepine adalah reseptor asam (ɣ-aminobutiryc acid/GABAA).
Reseptor – reseptor ini terutama tersusun oleh sub unit α, β, dan ɣ yang
merupakan kombinasi utama atau lebih rentangan membran pascasinaps. Bergantung
pada tipe, jumlah sub unit dan lokalisasi regio otak, pengaktifan reseptor
menyebabkan perbedaan efek farmakokinetik. Benzodiazepine memodulasi efek GABA
melalui ikatan dengan tempat yang berafinitas tinggi dan spesifik pada lokasi
pertemuan antara sub unit α dan ɣ2. Lokasi reseptor benzodiazepine
pada SSP paralel dengan neuron GABA.
2. Antagonis
benzodiazepine
Flumazem
berkhasiat mengadakan efek sentral dari benzodiazepine dengan jalan mendesaknya
secara bersebrangan reseptornya ditolak dan bersifat antagonis terhadap daya
kerja obat-obatan yang menstimulasi transmisi impuls GABAergvia reseptor
benzodiazepine.
3. Obat-obatan anxiolitik
lainnya
Buspirone
yang tampaknya bekerja diperankan reseptor serotonin S-HTA meskipun
reseptor lain dapat juga terlihat karena buspiroe menunjukkan beberapa afinitas
terhadap reseptor dopamin DA, dan reseptor serotonin S-HTA.
4. Barbiturat
Kerja
hipnotik sedatif barbiturat dapat muncul akibat interaksinya dengan reseptor
GABA, yang merangsang transmisi GABAergik. Ikatan dengan siklus pengikatnya
berbeda dengan benzodiazepin. Barbiturat memotensiasi kerja GABA aliran masuk
klorida yang menuju neuron dengan memperpanjang durasi pembukaan kanal klorida.
Selain itu, barbiturat dapat menghambat reseptor glutamat eksitatorik.
5. Obat hipnotik lainnya
Ramelteon,
aginis selektif pada reseptor melatonin subtipe MT dan MT2. Rangsangan
reseptor MT1 dan MT2 oleh melatonin pada nukleus
surakiamas (SCN) mampu menginduksi dan menciptakan tidur.
Dua kelompok obat yang
bekerja terutama dengan merangsang sistem saraf pusat (SSP). Kelompok pertama,
perangsang psikomotor, yang menciptakan perasaan gembira dan euforia,
mengurangi perasaan lelah, dan meningkatkan aktivitas motoris. Kelompok kedua,
halusinogen, atau obat psikomimetik, yang menghasilkan perubahan dalam pola
pikir dan mood, dengan menimbulkan sedikit dampak pada batang otak dan medula
spinalis (Champe, 2013).
Golongan obat
perangsang sistem saraf pusat, yaitu (Champe, 2013) :
1. Perangsang psikomotor
·
Amphetamine
·
Armodatinil
·
Antomokentine
·
Caffeine
·
Cocaine
·
Dextroamphetamine
·
Lidexamphetamine
·
Methyl phenidate
·
Modatinil
·
Nicotine
·
Theodormine
·
Theophiline
·
Verenicline
2. Halusinogen
·
Lysergic acid dietilamide (LSD)
·
Phencyclidine (PCE)
·
Tetrahydrocanabinol (THC)
Mekanisme kerja obat
perangsang sistem saraf pusat golongan perangsang psikomotor salah satunya
turunan metil-xantia. Translokasi kalsium ekstraseluler, peningkatan adenosin
monofosfat siklik dan guanosin monofosfat siklik sebagai akibat hambatan
fotodiesterase dan penghambatan reseptor adenosin mekanisme terakhir adalah
mekanisme paling mungkin melalui konsumsi minuman mengandung kafein secara umum
(Louisa, 2009).
B. Uraian
Bahan dan Obat
1. Uraian
bahan
a. Aqua pro injeksi (Ditjen POM, 1979)
Nama resmi : AQUA STERILE PRO INJECTION
Nama lain : Air steril untuk injeksi
Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna dan tidak berbau.
Kegunaan : Sebagai bahan pembuat injeksi dan control.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.
b. Na CMC (Ditjen POM,
1979)
Nama resmi :
NATRIICARBOXYMETHYLCELLULOSUM
Nama lain : Natrium
Karboksimetilselulosa
Pemerian : Serbuk atau
butiran, putih atau putih kuninggading, tidak berbau atau hampir tidak
berbau,higroskopik.
Kelarutan : Mudah mendispersi
dalam air, membentuk
suspensi koloidal, tidak larut
dalam etanol (95%) P, dalam eter P dan dalam pelarutorganik lain.
Penyimpanan : Dalam wadah
tertutup rapat.
Kegunaan : Sebagai
pensuspensi
2.
Uraian
obat
a. Amitriptilyn
Zat
aktif :
Amitriptilin Hidroklorida (FI III, 1979)
Golongan : Antidepresan trisiklik/polisiklik (Champe, 2013)
Indikasi : Depresi, gangguan distimik, depresi atipikal, skizofrenia
depresi, nocturnal enuresis pada anak. (Tjay, 2010)
Kontraindikasi : Koma
atau depresi sistem saraf pusat, rusaknya area subarakhnoid, gangguan darah
atau depresi sumsum tulang, MCl. (Tjay, 2010).
Efek
samping : Diaforesis, mulut kering, pandangan kabur,
takikardia, mengantuk, konstipasi, hipotensi. (Tjay, 2010).
Interaksi
obat : Hipnotik dan antiansietas, analgesik opioid, antipsikotik,
antidepresan lain, alkohol, antihistamin meningkatkan efek sedasi. Tidak boleh
diberikan bersama MAO. (Champe, 2013)
Dosis : Depresi : dosis awal sampai 75 mg/hari, dalam
dosis terbagi, naikkan bertahap sampai 150-200 mg (sampai 300 mg untuk pasien
rawat inap). Sampai 150 mg dapat diberikan sebagai dosis tunggal sebelum tidur.
(Champe, 2013)
Farmakodinamik : Penghambatan
ambilan - kembali neurotransmitter : TCA dan amoxapine merupakan penghambat
kuat ambilan – kembali norepinefrin dan serotonin yang memasuki ujung saraf
prasinaps. Dengan menyekat/menghambat rute utama pengeluaran neurotranmitter,
TCA meningkatkan konsentrasi monoamina pada celah sinaps, dan aksirnya,
menyebabkan efek antidepresan. Penghambatan reseptor: TCA juga menghambat
reseptor serotonergik, adrenergik-α, histaminik, dan muskarinik. Masih belum
diketahui kemungkinan manfaat terapeutik dari salah satu kerja ini. Namun,
kerja pada reseptor ini mungkin bertanggung jawab terhadap efek-efek yang tidak
diinginkan dari TCA (Champe, 2013).
Farmakokinetik :
Diabsorbsi dengan baik pada pemberian per oral. Didistribusikan secara luas
ddan mudah memasuki SSP. Dimetabolisme oleh sistem mikrosom hepatik dan
terkonjugasi dengan glucuronic acid. Diekskresikan sebagai metabolit inaktif
melalui ginjal (Champe, 2013).
b. Diazepam (Champe,2013).
Zat
aktif :
Diazepam
Golongan
Obat : Benzodiazepine
(Champe,2013).
Indikasi
: Pemakaian jangka pendek pada ansietas atau insomnia, tambahan
pada putus alkohol akut, status epileptikus, kejang demam, spasme otot.
Kontraindikasi : Depresi pernapasan, gangguan hati berat,
miastenia gravis, insufisiensi pulmoner akut, glaucoma sudut sempit akut,
serangan asma akut, trimester pertama kehamilan, bayi premature, tidak boleh
atau ansietas yang disertai dengan depresi
Efek samping :
Kantuk, bingung .
Farmakokinetik :
Tempat yang pasti dan mekanisme kerja benzodiazepin belum diketahui pasti tapi
efek obat disebabkan oleh penghambatan neurotransmitter g-aminobutiryc acid (GABA).
Farmakodinamik : Bekerja pada limbic,
thalamus, hipotalamus, dan sistem saraf pusat dan menghasilkan efek ansiolitik,
sedatif, hipnotik
Interaksi
obat
: Interaksi dengan obat lain
Dosis obat
: 2 mg 3 kali sehari jika perlu dapat dinaikkan menjadi 15-30 mg sehari dalam
dosis terbagi
3. Eter (Dirjen POM, 1995)
Nama resmi
: AETHER ANAESTHETICUS
Nama
lain
: Eter anestesi/etoksietana.
RM/BM
: C4H100/74,12
Pemerian
: Cairan transparan; tidak
berwarna; bau khas; rasa manis dan membakar. Sangat mudah menguap; sangat
mudah terbakar; campuran uapnya dengan oksigen, udara atau dinitrogenoksida
pada kadar tertentu dapat meledak.
Kelarutan : Larut
dalam 10 bagian air; dapat bercampur dengan etanol (95%) P, dengan kloroform
P, dengan minyak lemak dan dengan minyak atsiri.
Farmakokinetik
: Eter diabsorpsi dan diekskresi
melalui paru-paru, sebagian kecil diekskresi urin, air susu, dan keringat
Efek samping
: Iritasi saluran
pernafasan, depresi nafas, mual, muntah, salivasi
Penyimpanan
: Dalam wadah
kering tertutup rapat, terlindung dari cahaya; di tempat sejuk.
Khasiat : Anastesi umum.
Mekanisme kerja : Meningkatkan sensitivitas reseptor
asam aminobutirat-ɣ (GABAA) terhadap neotransmitter, GABA, pada
konsentrasi efektif obat tersebut secara klinis. Hal ini menyebabkan
pemanjangan aliran ion klorida inhibitorik setelah pelepasan GABA yang terjadi
secara pulsasi. Menghilangkan kemampuan rangssang neuron pasca sinaps.
B.
Uraian Hewan
Coba
Mencit (Mus musculus)
a.
Klasifikasi (Jasin, 1991)
|
Kingdom
|
:
|
Animalia
|
|
Phylum
|
:
|
Chordata
|
|
Class
|
:
|
Mamalia
|
|
Ordo
|
:
|
Rodentia
|
|
Family
|
:
|
Muridae
|
|
Genus
|
:
|
Mus
|
|
Spesies
|
:
|
Mus musculus
|
b.
Karakteristik (Malole,1989)
|
Umur
|
:
|
2-3 bulan
|
|
Lama kehamilan
|
:
|
19-21 hari
|
|
Mulai dikawinkan
|
:
|
50 hari (jantan), 50-60 hari
(betina)
|
|
Konsumsi oksigen
|
:
|
1,7 mL/g/hari
|
|
Jumlah anak
|
:
|
4-12
|
|
Suhu tubuh
|
:
|
27,9 – 38,2oC
|
|
Respirasi
|
:
|
136 – 216/
menit
|
|
Luas permukaan
|
:
|
200 gram 36 cm2
|
|
Volume tidal
|
:
|
0,15 ml
|
|
Tekanan darah
|
:
|
47/106
|
BAB
III
METODOLOGI
KERJA
A.
Alat
dan Bahan
a.
Alat yang digunakan
Adapun alat yang digunakan dalam
percobaan ini adalah benang godam,
kapas, toples, spoit injeksi, sonde oral, dan statif.
b. Bahan yang digunakan
Adapun bahan yang digunakan dalam
percobaan ini adalah Aquadest,
Amitriptilin, Diazepam, Eter dan NaCMC.
B.
Prosedur
Kerja
a.
Pembuatan
bahan
Pembuatan
Na-CMC 1%.
Disiapkan alat dan bahan, kemudian Na-CMC ditimbang
sebanyak 1 gram.Selanjutnya, 100 mL air suling dipanaskan hingga suhu 700C,
laluNa-CMC dilarutkan dengan air suling yang sudah dipanaskan tadi sedikit demi
sedikit dan kemudian diaduk.Setelah
itu, larutan
Na-CMC dimasukkan kedalam wadah, kemudian disimpan didalam lemari pendingin.
b. Pembuatan Obat
a. Amitriptyline
(Antidepresan)
Disiapkan 5 tablet obat amitriptyline kemudian ditimbang
masing-masing tablet. Dihitung berat rata-rata dari kelima tablet. Tablet
digerus dengan lumpang sampai halus Setelah halus, dibungkus dengan kertas
perkamen Ditimbang obat sebanyak 38,194 gram
kemudian dilarutkan dengan Na-CMC.
b. Amitriptyline
(Stimulan SSP)
Disiapkan 5 tablet obat amitriptyline kemudian ditimbang
masing-masing tablet. Dihitung berat rata-rata dari kelima tablet. Tablet
digerus dengan lumping sampai halus Setelah halus, dibungkus dengan kertas
perkamen. Ditimbang obat sebanyak 12,689 gram kemudian dilarutkan dengan
Na-CMC.
c. Diazepam
(Hipnotik sedatif)
Disiapkan 5 tablet obat diazepam kemudian ditimbang
masing-masing tablet. Dihitung berat rata-rata dari kelima tablet. Tablet
digerus dengan lumping sampai halus. Setelah halus, dibungkus denan kertas
perkamen. Ditimbang obat sebanyak 29,608 gram kemudian dilarutkan dengan
Na-CMC.
C.
Perlakuan
Hewan Coba
a. Anastesi
1)
Disiapkan hewan coba, kemudian ditimbang dan
diberi penandaan.
2)
Dibasahkan kapas menggunakan eter dan
diletakkan kedalam toples kaca.
3)
Kemudian mencit dimasukkan kedalam toples.
4)
Dihitung onset dan durasinya.
b. Hipnotik
Sedatif
1)
Disiapkan hewan coba kemudian ditimbang dan
diberi penandaan.
2)
Diinduksikan obat secara oral dengan
menggunakan obat diazepam sebanyak 0,8 mL dan dihitung onset dan durasinya.
c. Antidepresan
1) Disiapkan
hewan coba, kemudian ditimbang dan diberi penandaan.
2) Hewan
coba mencit diberi perlakuan depresi dan dihitung frekuensi geraknya sebelum
pemberian obat.
3) Diinduksikan
obat secara oral dengan menggunakan obat amitriptiline sebanyak 0,8 mL.
4) Diberikan
perlakuan depresi dan dihitung frekuensi geraknya pada menit 30’, 60’, 90’.
d. Stimulant
1)
Disiapkan hewan coba kemudian ditimbang dan
diberi penandaan.
2)
Hewan coba mencit diberi perlakuan stimulan
dan dihitung frekuensi gerakannya sebelum pemberian obat.
3)
Diinduksikan obat secara oral dengan
menggunakan obat amitriptiline sebanyak 0,7 mL.
4)
Diberi kembali perlakuan stimulan dan
frekuensi geraknya pada menit 30’, 60’, 90’.
BAB
IV
HASIL PENGAMATAN
A. Tabel Pengamatan
Dari hasil praktikum sistem saraf pusat yang
telah dilakukan yaitu hipnotik sedatif, stimulan susunan saraf pusat, anti
depresan, dan anastesi, diperoleh hasil pengamatan berupa tabel sebagai berikut
ini :
a. Hipnotik dan sedative
|
Perlakuan
|
BB
|
VP
|
Onset
|
Durasi
|
|
Diazepam
|
23 g
|
0,8 mL
|
11,10 menit
|
16,93 menit
|
b. Stimulan Susunan Saraf Pusat
|
Perlakuan
|
BB
|
VP
|
Frekuensi
gerak sebelum pemberian obat
|
Frekuensi
gerak setelah pemberian obat
30’ 60’ 90’
|
|
Amitriptiline
|
21 g
|
0,7 mL
|
234
|
430 265 210
|
c. Antidepresan
|
Perlakuan
|
BB
|
VP
|
Frekuensi
gerak sebelum pemberian obat
|
Frekuensi
gerak setelah pemberian obat
30’ 60’ 90’
|
|
Amitriptiline
|
24 g
|
0,8 mL
|
79
|
95 69 30
|
d. Anastesi
|
Perlakuan
|
BB
|
Onset
|
Durasi
|
|
Eter
|
24
g
|
30
detik
|
14,27
detik
|
B. Pembahasan
Sistem saraf pusat (SSP) merupakan sistem saraf yang dapat mengendalikan
saraf lainnya didalam tubuh biasanya bekerja dibawah kesadaran atau kemauan.
Dalam percobaan ini telah dilakukan pengujian obat-obat anastesi, hipnotik
sedatif, antidepresan dan stimulan sistem saraf pusat pada hewan coba mencit (Mus musculus). Obat-obat yang digunakan
adalah Eter untuk anastesi, diazepam untuk hipnotik sedatif, serta amitriptiline
untuk antidepresan dan stimulan sistem saraf pusat.
Pada anestesi menggunakan eter, onset yang diperoleh.
Diperoleh hasil yaitu onset 38 detik dan durasi 14,27 detik. Gejala ditunjukkan pada mencit yaitu grooming, tenang hingga tidur. Eter
merupakan golongan anastesi umum inhalasi. Mekanisme kerja dari eter yaitu, eter
meningkatkan sensitivitas reseptor asam
aminobutirat-ɣ (GABAA) terhadap neotransmitter, GABA, pada konsentrasi efektif
obat tersebut secara klinis. Hal ini menyebabkan pemanjangan aliran ion klorida
inhibitorik setelah pelepasan GABA yang terjadi secara pulsasi. Menghilangkan
kemampuan rangssang neuron pasca sinaps. Eter diabsorbsi dan diekskresi melalui paru-paru sebagian kecil diekskresi
urin, air, susu, dan keringat. Efek sampingnya yaitu iritasi saluran
pernapasan, depresi, nafas mual, muntah, salivasi.
Adapun percobaan untuk obat
hipnotik sedatif dengan menggunakan obat Diazepam dengan berat mencit seberat 23 gram dengan vp 0,8 mL memerlukan 11,10
menit dan durasi 16,93 menit. Diazepam merupakan golongan obat benzodiazepin
yang bekerja pada limbic, thalamus, hipotalamus, dan sistem saraf pusat dan
menghasilkan efek ansiolitik, sedatif, hipnotik. Tempat yang pasti dan mekanisme kerja benzodiazepin belum
diketahui pasti tapi efek obat disebabkan oleh penghambatan neurotransmitter
g-aminobutiryc acid (GABA).
Percobaan antidepresan menggunakan obat amitriptilin dengan mencit seberat 24 gram dengan vp 0,8 mL. Amitriptilin memiliki efek antidepresi trisiklik mirip efek promazin dan berfungsi untuk menghilangkan gejala depresi. Dilihat dari hasil pengamatan yang telah
dilakukan, pada frekuensi awal sebelum penginduksian gerakan mencit sebanyak 79
kali gerakan, lalu setelah penginduksian naik menjadi 95 gerakan pada
menit ke 30, pada menit ke 60 turun menjadi 69 gerakan, dan terus menurun
frekuensi geraknya hingga menit ke 90 menjadi 30 gerakan. Hal ini menunjukkan bahwa efek obat
berjalan sempurna dikarenakan turunnya frekuensi gerakan yang ditimbulkan mencit saat
diberikan perlakuan depresi.
Pada percobaan stimulant sistem saraf pusat menggunakan hewan coba mencit seberat 21 gram menggunakan amitriptilin dengan vp 0,7 mL dengan
frekuensi 0’ sampai 90’ menimbulkan 234 gerakan dimenit awal sebelum pemberian obat dan 430 gerakan dimenit ke 30’, 265
gerakan di menit ke 60’ dan 210 gerakan di menit ke 90’. Hal ini menunjukkan bahwa efek obat tidak berjalan dengan baik
dikarenakan gerakan mencit semakin lama semakin lambat dan tidak mengalami naik-turun frekuensi.
Amitriptilin
adalah obat golongan antidepresan trisiklik yang
mekanisme kerjanya merupakan penghambat kuat ambilan – kembali norepinefrin dan
serotonin yang memasuki ujung saraf prasinaps. Dengan menyekat/menghambat rute
utama pengeluaran neurotranmitter, TCA meningkatkan konsentrasi monoamina pada
celah sinaps, dan aksirnya, menyebabkan efek antidepresan.
Amitriptilin diindikasikan untuk depresi, gangguan
distimik, depresi atipikal, skizofrenia depresi, nocturnal enuresis pada anak
sehingga dapat juga digunakan untuk stimulan susunan saraf pusat. Amitriptilin diabsorbsi dengan baik pada
pemberian per oral. Didistribusikan secara luas ddan mudah memasuki SSP.
Dimetabolisme oleh sistem mikrosom hepatik dan terkonjugasi dengan glucuronic
acid. Diekskresikan sebagai metabolit inaktif melalui ginjal.
Adapun faktor kesalahan dari praktikum ini adalah kosentrasi obat yang
tidak sesuai, pengetahuan pratikan yang kurang memahami materi membuat pratikum
terhambat.
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari percobaan yang telah
dilakukan, dapat ditarik kesimpulan bahwa pada percobaan anestesi, eter
menimbulkan efek berkurangnya kesadaran serta ketenangan pada mencit. Pada
percobaan hipnotik dan sedativ dengan obat Diazepam menimbulkan efek tidur pada
mencit. Pada percobaan stimulant menggunakan amitriptilin seharusnya menimbulkan efek eksitasi dan euphoria serta aktivitas motorik
meningkat dan percobaan terakir yaitu antidepresan dengan menggunakan
amitriptilin menimbulkan ketenangan pada mencit.
B. Saran
Diharapkan kepada asisten
untuk selalu mendampingi praktikan dalam praktikum untuk menghindari kesalahan
yang tidak diinginkan.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2017, Penuntun
Praktikum Farmakologi dan Toksikologi II, Fakultas Farmasi Universitas
Muslim Indonesia, Makassar.
Champe, P.C., dkk., 2013, Farmakologi Ulasan Bergambar, EGC, Jakarta.
Ditjen POM, 1979, Farmakope
Indonesia Edisi III, Departemen Kesehatan RI, Jakarta
Ditjen POM, 1995, Farmakope
Indonesia Edisi IV, Departemen Kesehatan RI, Jakarta.
Elysabeth &
Zunilda, D. S., 2009, Diambil dari buku : Farmakologi
dan Terapi Edisi Ke-5, Departemen
Farmakologi Terapeutik
Universitas Indonesia, Jakarta.
Louisa, M. & Hedi, R. D., 2009, Diambil dari buku : Farmakologi dan Terapi Edisi Ke-5, Departemen Farmakologi Terapeutik Universitas Indonesia, Jakarta.
Sjamsuhidajat, R., Wim de Jong,
2005, Buku Ajar Ilmu
Bedah, EGC, Jakarta.
Sloane, E., 2004, Anatomi Dan Fisiologi Untuk Pemula, EGC, Jakarta.
Tjay, T.H. dan
Rahardja.K., 2010, Obat – Obat Penting,
PT. Elex Media Komputindo, Jakarta.
Wiria, M. S. S.,
2009, Diambil dari buku : Farmakologi dan
Terapi Edisi Ke-5, Departemen Farmakologi
Terapeutik
Universitas Indonesia, Jakarta.
LAMPIRAN
A. Perhitungan Dosis
a. Diazepam, BR =
197,389 mg
Dosis
Dewasa =
Dosis mencit =
0,083 mg/kgBB
Dosis mencit 30 gram =
mg
Larutan stok =
Berat Yang Ditimbang =
b. Amitriptyline, BR = 206,677 mg (Antidepresan)
Dosis
Dewasa =
Dosis mencit =
1,25 mg/kgBB
Dosis mencit 30 gram =
mg
Larutan stok =
Berat Yang Ditimbang =
c. Amitriptyline, BR = 206,677 mg (Stimulan)
Dosis
Dewasa =
Dosis mencit =
0,416 mg/kgBB
Dosis mencit 30 gram =
mg
Larutan stok =
Berat Yang Ditimbang =
B. Skema Kerja
a.
Anastesi
|
Hitung
onset dan durasi
|
|
Hewan
Coba
|
|
Toples
+ kapas + Eter
|
b.
Hipnotik Sedatif
|
Dihitung
onset dan durasi
|
|
Hewan
Coba
|
|
Diazepam
|
c. Antidepresan
Diberikan
perlakuan depresi
(dihitung frekuensi gerakan)
Diinduksi obat amitriptyline
Diamati pada menit ke- 30’, 60’, 90’
(hitung frekuensi gerakan)
d. Stimulant
Diberikan
perlakuan stimulan
(dihitung frekuensi gerakan)
Diinduksi dengan amitriptilin
Diamati pada menit ke- 30’, 60’, 90’
(hitung frekuensi gerakan)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar