Jumat, 25 Mei 2018

[Laporan] Sistem Saraf Pusat I


BAB I
PENDAHULUAN
A.        Latar belakang
Sistem saraf pusat (SSP) merupakan sistem saraf yang dapat mengendalikan sistem saraf lainnya didalam tubuh dimana bekerja dibawah kesadaran atau kemauan. SSP biasa juga disebut sistem saraf sentral karena merupakan sentral atau pusat dari saraf lainnya. Sistem saraf pusat ini dibagi menjadi dua yaitu otak (ensevalon) dan sumsum tulang belakang (medula spinalis).
Sistem saraf pusat dapat ditekan seluruhnya oleh penekan saraf pusat yang tidak spesifik misalnya hipnotik sedativ. Obat yang bekerja pada sistem saraf pusat terbagi menjadi obat depresan saraf pusat yaitu anastetik umum, hipnotik sedativ, psikotropik, antikonvulsi, analgetik, antipiretik, inflamasi, perangsang susunan saraf pusat.
Dalam percobaan ini mahasiswa farmasi diharapkan mampu untuk mengetahui dan memahami bagaimana efek farmakologi obat depresan saraf pusat dimana dalam percobaan ini mahasiswa mengamati anastetik umum dan hipnotik sedativ yang diujikan pada hewan coba mencit (Mus musculus). Obat yang digunakan untuk anastetik umum yaitu eter, untuk hipnotik sedativ digunakan diazepam, sedangkan antidepresan dan stimulan digunakan obat amitriptilin.
Adapun dalam bidang farmasi pengetahuan tentang sistem saraf pusat perlu untuk diketahui khususnya dalam bidang ilmu farmakologi toksikologi karena mahasiswa farmasi dapat mengetahui obat-obat apa saja yang perlu atau bekerja pada sistem saraf pusat. Hal inilah yang melatarbelakangi dilakukannya percobaan ini.
B.        Maksud Praktikum
Maksud dari percobaan ini yaitu untuk mengetahui dan memahami cara pemberian obat dan efek obat sistem saraf pusat pada hewan coba mencit (Mus musculus).
C.        Tujuan Praktikum
Adapun tujuan dari praktikum ini, ialah :
a.     Untuk menentukan efek obat anastesi umum (Eter), hipnotik dan sedatif (Diazepam) terhadap hewan coba mencit (Mus musculus) berdasarkan parameter onset dan durasi.
b.     Untuk menentukan efek obat antidepresi (Amitriptyline) terhadap hewan coba mencit (Mus musculus) berdasarkan parameter durasi diam.
c.      Stimulant susunan saraf pusat (Amitriptyline) terhadap hewan coba mencit (Mus musculus) berdasarkan parameter durasi gerak.
D.        Prinsip Praktikum
a.     Penentuan efek dari pemberian obat anastesi umum (Eter), hipnotik dan sedatif (Diazepam) terhadap hewan coba mencit (Mus musculus) berdasarkan parameter onset dan durasi.
b.     Penentuan efek obat antidepresi (Amitriptyline) terhadap hewan coba mencit (Mus musculus) berdasarkan parameter durasi diam.
c.      Penentuan efek stimulant susunan saraf pusat (Amitriptyline) terhadap hewan coba mencit (Mus musculus) berdasarkan parameter durasi gerak.

















BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.        Teori
Sistem saraf adalah serangkaian organ yang kompleks dan berkesinambungan serta terutama terdiri dari jaringan saraf. Dalam mekanisme sistem saraf, lingkungan internal dan stimulus eksternal dipantau dan diatur (Sloane, 2004).
Sistem saraf dibagi  menjadi dua berdasarkan divisi anatomis: sistem saraf pusat (SSP), ysng terdiri dari otak dan medula spinalis, dan sistem saraf perifer, yang terdiri dari sel-sel saraf selain otak dan medula spinalis – yaitu saraf-saraf yang masuk dan keluar dari SSP (Champe, 2013).
Istilah anastesia yang artinya hilangnya sensasi nyeri (rasa sakit) yang disertai maupun yang tidak disertai hilang kesadaran, diperkenalkan oleh Oliver W. Holmes pada tahun 1846. Obat yang digunakan dalam menimbulkan anastesia disebut sebagai anastetik, dan kelompok obat ini dibedakan dalam naestetik umum dan anestetik lokal. Bergantung pada dalamnya pembiusan, anestetik umum dapat memberikan efek analgesia yaitu hilangnya sensasi nyeri, atau efek anestesia yaitu analgesia yang disertai hilangnya kesadaran, sedangkan anestetik lokal hanya dapat menimbulkan efek analgesia. Anastetik umum bekerja di susunan saraf pusat sedangkan anestetik lokal bekerja langsung pada serabut saraf di perifer (Elysabeth, 2009).
Anastetik umum merupakan depresan sistem saraf pusat, dibedakan menjadi anastetik inhalasi yaitu anastetik gas, anastetik menguap dan anastetik parenteral. Pada percobaan hewan dalam farmakologi yang digunakan hanya anastetik menguap dan anastetik parenteral (Sjamsuhidajat, 2005).
Mekanisme terjadinya anesthesia sampai sekarang belum jelas meskipun dalam bidang fisiologi SSP dan susunan saraf perifer terdapat kemajuan hebat sehingga timbul berbagai teori berdasarkan sifat obat anestetik,misalnya penurunan transmisi sinaps, penurunan konsumsi oksigen dan penurunan aktivitas listrik SSP (Tjay,  2010).
Hipnotik dan sedatif merupakan golongan obat pendepresi susunan saraf pusat (SSP). Efeknya bergantung kepada dosis, mulai dari yang ringan yaitu menyebabkan tenang atau kantuk, menidurkan, hingga yang berat yaitu hilangnya kesadaran, keadaan anestesi, koma, dan mati. Pada dosis terapi, obat sedatif menekan aktivitas mental, menurunkan respons terhadap rangsangan emosi sehingga menenangkan. Obat hipnotik menyebabkan kantuk dan mempermudah tidur yang menyerupai tidur fisiologis (Wiria, 2009).
Dalam mempengaruhi kemampuan mengatur suatu pembiusan perlu dipertimbangkan bahwa dalam pembiusan yang ditimbulkan oleh suatu obat pembius tertentu ditentukan oleh konsentrasinya dalam sistem saraf pusat dan bahwa ini bergantung pada (Champe, 2013) :
1.      Konsentrasi obat pembius dalam udara inspirasi
2.      Frekuensi pernapasan dalam pernapasan
3.      Ketetapan membran alveoli-kapiler
4.      Pasokan darah pada paru-paru dan otak
5.      Kelarutan obat pembius dalam darah
6.      Koefisien distribusinya antara darah dan jaringan dalam otak.
Tidur adalah kebutuhan suatu makhluk hidup untuk menghindarkan dari pengaruh yang merugikan tubuh karena kurang tidur. Pusat tidur di otak mengatur fungsi fisiologis ini. Pada waktu terjadi miosis, bronkokontriksi, sirkulasi darah lambat, stimulasi peristaltik dan sekresi saluran cerna. Tidur normal terdiri dari dua jenis (Anonim,  2017):
1.    Tidur tenang (Slow wafe, NREM = Non Rapid Eye Movement, ortodoks) yang berciri irama jantung, tekanan darah, pernafasan teratur, otot kendor tanpa gerakan otot muka dan mata.
2.    Tidur REM (Rapid Eye Movement) atau paradoksal, cirinya otak memperlihatkan aktivitas listrik (EEG = Elektro enchephalogram) seperti pada orang dalam keadaan bangun dan aktif, gerakan mata cepat, jantung, tekanan darah dan pernapasan naik turun, aliran darah ke otak bertambah, ereksi, mimpi.
Golongan obat hipnotik-sedatif yaitu (Champe, 2013):
1.     Benzodiazepine, contohnya :

·  Alprazolam
·  Chlordiazepoxide
·  Clonazepam
·  Clorazepate
·  Diazepam
·  Estazolam
·  Flurazepam
·  Lorazepam
·  Quazepam
·  Oxazepam
·  Temazepam
·  Triazolam



2.     Antagonis Benzodiazepine, contohnya :

·  Flumazenil


3.     Sedatif lainnya, contohnya :
·  Buspirone
·  Hidroxyzine
·  Antidepresan
4.     Barbiturat, contohnya :

·  Amobarbital
·  Phenobarbital
·  Pentobarbital
·  Secobarbital
·  Thiopental

5.     Hipnotik lainnya :

·  Antihistamin
·  Chloralhydrate
·  Eszopicion
·  Ethanol
·  Ramelteon
·  Zaleplon
·  Zolpidem

Efek perangsangan susunan saraf pusat (SSP) baik oleh obat yang berasal dari alam atau sintetik dapat diperhatikan pada hewan dan manusia. Beberapa obat memperlihatkan efek perangsangan SSP yang nyata dalam dosis toksik, sedangkan obat lain memperlihatkan efek perangsangan SSP sebagai efek samping. Perangsangan SSP oleh obat pada umumnya melalui dua mekanisme, yaitu (Louisa, 2009):
1.    Mengadakan blokade sistem penghambatan.
2.    Meninggikan perangsangan sinaps.
Adapun mekanisme kerja dari tiap golongan obat hipnotik sedatif sebagai berikut (Champe, 2013) :
1.    Benzodiazepine
Target kerja benzodiazepine adalah reseptor asam (ɣ-aminobutiryc acid/GABAA). Reseptor – reseptor ini terutama tersusun oleh sub unit α, β, dan ɣ yang merupakan kombinasi utama atau lebih rentangan membran pascasinaps. Bergantung pada tipe, jumlah sub unit dan lokalisasi regio otak, pengaktifan reseptor menyebabkan perbedaan efek farmakokinetik. Benzodiazepine memodulasi efek GABA melalui ikatan dengan tempat yang berafinitas tinggi dan spesifik pada lokasi pertemuan antara sub unit α dan ɣ2. Lokasi reseptor benzodiazepine pada SSP paralel dengan neuron GABA.
2.    Antagonis benzodiazepine
Flumazem berkhasiat mengadakan efek sentral dari benzodiazepine dengan jalan mendesaknya secara bersebrangan reseptornya ditolak dan bersifat antagonis terhadap daya kerja obat-obatan yang menstimulasi transmisi impuls GABAergvia reseptor benzodiazepine.


3.    Obat-obatan anxiolitik lainnya
Buspirone yang tampaknya bekerja diperankan reseptor serotonin S-HTA meskipun reseptor lain dapat juga terlihat karena buspiroe menunjukkan beberapa afinitas terhadap reseptor dopamin DA, dan reseptor serotonin S-HTA.
4.    Barbiturat
Kerja hipnotik sedatif barbiturat dapat muncul akibat interaksinya dengan reseptor GABA, yang merangsang transmisi GABAergik. Ikatan dengan siklus pengikatnya berbeda dengan benzodiazepin. Barbiturat memotensiasi kerja GABA aliran masuk klorida yang menuju neuron dengan memperpanjang durasi pembukaan kanal klorida. Selain itu, barbiturat dapat menghambat reseptor glutamat eksitatorik.
5.    Obat hipnotik lainnya
Ramelteon, aginis selektif pada reseptor melatonin subtipe MT dan MT2. Rangsangan reseptor MT1 dan MT2 oleh melatonin pada nukleus surakiamas (SCN) mampu menginduksi dan menciptakan tidur.
Dua kelompok obat yang bekerja terutama dengan merangsang sistem saraf pusat (SSP). Kelompok pertama, perangsang psikomotor, yang menciptakan perasaan gembira dan euforia, mengurangi perasaan lelah, dan meningkatkan aktivitas motoris. Kelompok kedua, halusinogen, atau obat psikomimetik, yang menghasilkan perubahan dalam pola pikir dan mood, dengan menimbulkan sedikit dampak pada batang otak dan medula spinalis (Champe, 2013).
Golongan obat perangsang sistem saraf pusat, yaitu (Champe, 2013) :
1.    Perangsang psikomotor

·         Amphetamine
·         Armodatinil
·         Antomokentine
·         Caffeine
·         Cocaine
·         Dextroamphetamine
·         Lidexamphetamine
·         Methyl phenidate
·         Modatinil
·         Nicotine
·         Theodormine
·         Theophiline
·         Verenicline

2.    Halusinogen
·         Lysergic acid dietilamide (LSD)
·         Phencyclidine (PCE)
·         Tetrahydrocanabinol (THC)
Mekanisme kerja obat perangsang sistem saraf pusat golongan perangsang psikomotor salah satunya turunan metil-xantia. Translokasi kalsium ekstraseluler, peningkatan adenosin monofosfat siklik dan guanosin monofosfat siklik sebagai akibat hambatan fotodiesterase dan penghambatan reseptor adenosin mekanisme terakhir adalah mekanisme paling mungkin melalui konsumsi minuman mengandung kafein secara umum (Louisa, 2009).
B. Uraian Bahan dan Obat
1.  Uraian bahan
a.  Aqua pro injeksi (Ditjen POM, 1979)
Nama resmi      : AQUA STERILE PRO INJECTION
Nama lain         : Air steril untuk injeksi
Pemerian          : Cairan jernih, tidak berwarna dan tidak berbau.
Kegunaan        : Sebagai bahan pembuat injeksi dan control.
Penyimpanan  : Dalam wadah tertutup baik.
b.  Na CMC (Ditjen POM, 1979)
Nama resmi     : NATRIICARBOXYMETHYLCELLULOSUM
Nama lain        : Natrium Karboksimetilselulosa
Pemerian         : Serbuk atau butiran, putih atau putih kuninggading, tidak berbau atau hampir tidak berbau,higroskopik.
Kelarutan        : Mudah  mendispersi  dalam   air,   membentuk   suspensi  koloidal, tidak larut dalam etanol (95%) P, dalam eter P dan dalam pelarutorganik lain.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat.
Kegunaan       : Sebagai pensuspensi
2.  Uraian obat
a.  Amitriptilyn
Zat aktif                        : Amitriptilin Hidroklorida (FI III, 1979)
Golongan                    : Antidepresan trisiklik/polisiklik (Champe, 2013)
Indikasi                        :    Depresi, gangguan distimik, depresi atipikal, skizofrenia depresi, nocturnal enuresis pada anak. (Tjay, 2010)
Kontraindikasi            :    Koma atau depresi sistem saraf pusat, rusaknya area subarakhnoid, gangguan darah atau depresi sumsum tulang, MCl. (Tjay, 2010).
Efek samping             :    Diaforesis, mulut kering, pandangan kabur, takikardia, mengantuk, konstipasi, hipotensi. (Tjay, 2010).
Interaksi obat              :    Hipnotik dan antiansietas, analgesik opioid, antipsikotik, antidepresan lain, alkohol, antihistamin meningkatkan efek sedasi. Tidak boleh diberikan bersama MAO. (Champe, 2013)
Dosis                            :    Depresi : dosis awal sampai 75 mg/hari, dalam dosis terbagi, naikkan bertahap sampai 150-200 mg (sampai 300 mg untuk pasien rawat inap). Sampai 150 mg dapat diberikan sebagai dosis tunggal sebelum tidur. (Champe, 2013)
Farmakodinamik        :    Penghambatan ambilan - kembali neurotransmitter : TCA dan amoxapine merupakan penghambat kuat ambilan – kembali norepinefrin dan serotonin yang memasuki ujung saraf prasinaps. Dengan menyekat/menghambat rute utama pengeluaran neurotranmitter, TCA meningkatkan konsentrasi monoamina pada celah sinaps, dan aksirnya, menyebabkan efek antidepresan. Penghambatan reseptor: TCA juga menghambat reseptor serotonergik, adrenergik-α, histaminik, dan muskarinik. Masih belum diketahui kemungkinan manfaat terapeutik dari salah satu kerja ini. Namun, kerja pada reseptor ini mungkin bertanggung jawab terhadap efek-efek yang tidak diinginkan dari TCA (Champe, 2013).
Farmakokinetik          :  Diabsorbsi dengan baik pada pemberian per oral. Didistribusikan secara luas ddan mudah memasuki SSP. Dimetabolisme oleh sistem mikrosom hepatik dan terkonjugasi dengan glucuronic acid. Diekskresikan sebagai metabolit inaktif melalui ginjal (Champe, 2013).
b.  Diazepam (Champe,2013).
Zat aktif                            : Diazepam
Golongan Obat               : Benzodiazepine (Champe,2013).
Indikasi                        :  Pemakaian jangka pendek pada  ansietas atau insomnia, tambahan pada putus alkohol akut, status epileptikus, kejang demam, spasme otot.
Kontraindikasi         : Depresi pernapasan, gangguan hati berat, miastenia gravis, insufisiensi pulmoner akut, glaucoma sudut sempit akut, serangan asma akut, trimester pertama kehamilan, bayi premature, tidak boleh atau ansietas yang disertai dengan depresi
Efek samping               : Kantuk, bingung .
Farmakokinetik             : Tempat yang pasti dan mekanisme kerja benzodiazepin belum diketahui pasti tapi efek obat disebabkan oleh penghambatan neurotransmitter g-aminobutiryc acid (GABA).
Farmakodinamik    : Bekerja pada limbic, thalamus, hipotalamus, dan sistem saraf pusat dan menghasilkan efek ansiolitik, sedatif, hipnotik
Interaksi obat           :  Interaksi dengan obat lain
Dosis obat               : 2 mg 3 kali sehari jika perlu dapat dinaikkan menjadi 15-30 mg sehari dalam dosis terbagi
3.    Eter (Dirjen POM, 1995)
Nama resmi                :  AETHER  ANAESTHETICUS
Nama lain                   :  Eter anestesi/etoksietana.
RM/BM                        :  C4H100/74,12
Pemerian                   :   Cairan transparan; tidak  berwarna; bau khas; rasa manis dan membakar. Sangat mudah menguap; sangat mudah terbakar; campuran uapnya dengan oksigen, udara atau dinitrogenoksida pada kadar tertentu dapat meledak.
Kelarutan                         :  Larut dalam 10 bagian air; dapat bercampur dengan etanol (95%) P, dengan kloroform P, dengan minyak lemak dan dengan minyak atsiri.
Farmakokinetik          : Eter diabsorpsi dan diekskresi melalui paru-paru, sebagian kecil diekskresi urin, air susu, dan keringat
Efek samping             : Iritasi  saluran  pernafasan,  depresi  nafas, mual, muntah, salivasi
Penyimpanan            : Dalam wadah  kering tertutup rapat, terlindung dari cahaya; di tempat sejuk.
Khasiat                             : Anastesi umum.
Mekanisme kerja            : Meningkatkan sensitivitas reseptor asam aminobutirat-ɣ (GABAA) terhadap neotransmitter, GABA, pada konsentrasi efektif obat tersebut secara klinis. Hal ini menyebabkan pemanjangan aliran ion klorida inhibitorik setelah pelepasan GABA yang terjadi secara pulsasi. Menghilangkan kemampuan rangssang neuron pasca sinaps.
B.        Uraian Hewan Coba
Mencit (Mus musculus)
a.  Klasifikasi (Jasin, 1991)
Kingdom
:
Animalia
Phylum 
:
Chordata
Class
:
Mamalia
Ordo
:
Rodentia
Family
:
Muridae
Genus
:
Mus
Spesies
:
Mus musculus
b.  Karakteristik  (Malole,1989)
Umur
:
2-3 bulan
Lama kehamilan
:
19-21 hari
Mulai dikawinkan 
:
50 hari (jantan), 50-60 hari (betina)
Konsumsi oksigen
:
1,7 mL/g/hari
Jumlah anak        
:
4-12
Suhu tubuh
:
27,9 – 38,2oC
Respirasi
:
136 – 216/ menit
Luas permukaan 
:
200 gram 36 cm2
Volume tidal
:
0,15 ml
Tekanan darah    
:
47/106












BAB III
METODOLOGI KERJA
A.           Alat dan Bahan
a.    Alat yang digunakan
Adapun alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah  benang godam, kapas, toples, spoit injeksi, sonde oral, dan statif.
b.    Bahan yang digunakan
Adapun bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah Aquadest,  Amitriptilin, Diazepam, Eter dan NaCMC.
B.           Prosedur Kerja
a.    Pembuatan bahan
Pembuatan Na-CMC 1%.
Disiapkan alat dan bahan, kemudian Na-CMC ditimbang sebanyak 1 gram.Selanjutnya, 100 mL air suling dipanaskan hingga suhu 700C, laluNa-CMC dilarutkan dengan air suling yang sudah dipanaskan tadi sedikit demi sedikit dan kemudian diaduk.Setelah itu, larutan Na-CMC dimasukkan kedalam wadah, kemudian disimpan didalam lemari pendingin.
b.  Pembuatan Obat
a.  Amitriptyline (Antidepresan)
Disiapkan 5 tablet obat amitriptyline kemudian ditimbang masing-masing tablet. Dihitung berat rata-rata dari kelima tablet. Tablet digerus dengan lumpang sampai halus Setelah halus, dibungkus dengan kertas perkamen Ditimbang obat sebanyak  38,194 gram kemudian dilarutkan dengan Na-CMC.
b. Amitriptyline (Stimulan SSP)
Disiapkan 5 tablet obat amitriptyline kemudian ditimbang masing-masing tablet. Dihitung berat rata-rata dari kelima tablet. Tablet digerus dengan lumping sampai halus Setelah halus, dibungkus dengan kertas perkamen. Ditimbang obat sebanyak 12,689 gram kemudian dilarutkan dengan Na-CMC.
c.   Diazepam (Hipnotik sedatif)
Disiapkan 5 tablet obat diazepam kemudian ditimbang masing-masing tablet. Dihitung berat rata-rata dari kelima tablet. Tablet digerus dengan lumping sampai halus. Setelah halus, dibungkus denan kertas perkamen. Ditimbang obat sebanyak 29,608 gram kemudian dilarutkan dengan Na-CMC.
C.           Perlakuan Hewan Coba
a.    Anastesi
1)    Disiapkan hewan coba, kemudian ditimbang dan diberi penandaan.
2)    Dibasahkan kapas menggunakan eter dan diletakkan kedalam toples kaca.
3)    Kemudian mencit dimasukkan kedalam toples.
4)    Dihitung onset dan durasinya.

b.    Hipnotik Sedatif
1)    Disiapkan hewan coba kemudian ditimbang dan diberi penandaan.
2)    Diinduksikan obat secara oral dengan menggunakan obat diazepam sebanyak 0,8 mL dan dihitung onset dan durasinya.
c.    Antidepresan
1)    Disiapkan hewan coba, kemudian ditimbang dan diberi penandaan.
2)    Hewan coba mencit diberi perlakuan depresi dan dihitung frekuensi geraknya sebelum pemberian obat.
3)    Diinduksikan obat secara oral dengan menggunakan obat amitriptiline sebanyak 0,8 mL.
4)    Diberikan perlakuan depresi dan dihitung frekuensi geraknya pada menit 30’, 60’, 90’.
d.    Stimulant
1)    Disiapkan hewan coba kemudian ditimbang dan diberi penandaan.
2)    Hewan coba mencit diberi perlakuan stimulan dan dihitung frekuensi gerakannya sebelum pemberian obat.
3)    Diinduksikan obat secara oral dengan menggunakan obat amitriptiline sebanyak 0,7 mL.
4)    Diberi kembali perlakuan stimulan dan frekuensi geraknya pada menit 30’, 60’, 90’.
                                                            BAB IV
HASIL PENGAMATAN
A.  Tabel Pengamatan
Dari hasil praktikum sistem saraf pusat yang telah dilakukan yaitu hipnotik sedatif, stimulan susunan saraf pusat, anti depresan, dan anastesi, diperoleh hasil pengamatan berupa tabel sebagai berikut ini :
a.  Hipnotik dan sedative
Perlakuan
BB
VP
Onset
Durasi
Diazepam
 23 g
0,8 mL
11,10 menit
16,93 menit
b.  Stimulan Susunan Saraf Pusat
Perlakuan
BB
VP
Frekuensi gerak sebelum pemberian obat
Frekuensi gerak setelah pemberian obat
30’           60’           90’
Amitriptiline
 21 g
0,7 mL
234
430         265          210
c.  Antidepresan
Perlakuan
BB
VP
Frekuensi gerak sebelum pemberian obat
Frekuensi gerak setelah pemberian obat
30’           60’           90’
Amitriptiline
 24 g
0,8 mL
79
95            69            30

d.  Anastesi
Perlakuan
BB
Onset
Durasi
Eter
24 g
30 detik
14,27 detik

B.   Pembahasan
Sistem saraf pusat (SSP) merupakan sistem saraf yang dapat mengendalikan saraf lainnya didalam tubuh biasanya bekerja dibawah kesadaran atau kemauan.
Dalam percobaan ini telah dilakukan pengujian obat-obat anastesi, hipnotik sedatif, antidepresan dan stimulan sistem saraf pusat pada hewan coba mencit (Mus musculus). Obat-obat yang digunakan adalah Eter untuk anastesi, diazepam untuk hipnotik sedatif, serta amitriptiline untuk antidepresan dan stimulan sistem saraf pusat.
Pada anestesi menggunakan eter, onset yang diperoleh. Diperoleh hasil yaitu onset 38 detik dan durasi 14,27 detik. Gejala ditunjukkan pada mencit yaitu grooming, tenang hingga tidur. Eter merupakan golongan anastesi umum inhalasi. Mekanisme kerja dari eter yaitu, eter meningkatkan sensitivitas reseptor asam aminobutirat-ɣ (GABAA) terhadap neotransmitter, GABA, pada konsentrasi efektif obat tersebut secara klinis. Hal ini menyebabkan pemanjangan aliran ion klorida inhibitorik setelah pelepasan GABA yang terjadi secara pulsasi. Menghilangkan kemampuan rangssang neuron pasca sinaps. Eter diabsorbsi dan diekskresi melalui paru-paru sebagian kecil diekskresi urin, air, susu, dan keringat. Efek sampingnya yaitu iritasi saluran pernapasan, depresi, nafas mual, muntah, salivasi.
Adapun percobaan untuk obat hipnotik sedatif dengan menggunakan obat Diazepam dengan berat mencit seberat 23 gram dengan vp 0,8 mL memerlukan 11,10 menit dan durasi 16,93 menit. Diazepam merupakan golongan obat benzodiazepin yang bekerja pada limbic, thalamus, hipotalamus, dan sistem saraf pusat dan menghasilkan efek ansiolitik, sedatif, hipnotik. Tempat yang pasti dan mekanisme kerja benzodiazepin belum diketahui pasti tapi efek obat disebabkan oleh penghambatan neurotransmitter g-aminobutiryc acid (GABA).
Percobaan antidepresan menggunakan obat amitriptilin dengan mencit seberat 24 gram dengan vp 0,8 mL. Amitriptilin memiliki efek antidepresi trisiklik mirip efek promazin dan berfungsi untuk menghilangkan gejala depresi. Dilihat dari hasil pengamatan yang telah dilakukan, pada frekuensi awal sebelum penginduksian gerakan mencit sebanyak 79 kali gerakan, lalu setelah penginduksian naik menjadi 95 gerakan pada menit ke 30, pada menit ke 60 turun menjadi 69 gerakan, dan terus menurun frekuensi geraknya hingga menit ke 90 menjadi 30 gerakan. Hal ini menunjukkan bahwa efek obat berjalan sempurna dikarenakan turunnya frekuensi gerakan yang ditimbulkan mencit saat diberikan perlakuan depresi.
Pada percobaan stimulant sistem saraf pusat menggunakan hewan coba mencit seberat 21 gram menggunakan amitriptilin dengan vp 0,7 mL dengan frekuensi 0’ sampai 90’ menimbulkan 234 gerakan dimenit awal sebelum pemberian obat dan 430 gerakan dimenit ke 30, 265 gerakan di menit ke 60’ dan 210 gerakan di menit ke 90’. Hal ini menunjukkan bahwa efek obat tidak berjalan dengan baik dikarenakan gerakan mencit semakin lama semakin lambat dan tidak mengalami naik-turun frekuensi.
Amitriptilin adalah obat golongan antidepresan trisiklik yang mekanisme kerjanya merupakan penghambat kuat ambilan – kembali norepinefrin dan serotonin yang memasuki ujung saraf prasinaps. Dengan menyekat/menghambat rute utama pengeluaran neurotranmitter, TCA meningkatkan konsentrasi monoamina pada celah sinaps, dan aksirnya, menyebabkan efek antidepresan.
Amitriptilin diindikasikan untuk depresi, gangguan distimik, depresi atipikal, skizofrenia depresi, nocturnal enuresis pada anak sehingga dapat juga digunakan untuk stimulan susunan saraf pusat. Amitriptilin diabsorbsi dengan baik pada pemberian per oral. Didistribusikan secara luas ddan mudah memasuki SSP. Dimetabolisme oleh sistem mikrosom hepatik dan terkonjugasi dengan glucuronic acid. Diekskresikan sebagai metabolit inaktif melalui ginjal.
Adapun faktor kesalahan dari praktikum ini adalah kosentrasi obat yang tidak sesuai, pengetahuan pratikan yang kurang memahami materi membuat pratikum terhambat.


BAB V
                                                        PENUTUP
A.   Kesimpulan
Dari percobaan yang telah dilakukan, dapat ditarik kesimpulan bahwa pada percobaan anestesi, eter menimbulkan efek berkurangnya kesadaran serta ketenangan pada mencit. Pada percobaan hipnotik dan sedativ dengan obat Diazepam menimbulkan efek tidur pada mencit. Pada percobaan stimulant menggunakan amitriptilin seharusnya menimbulkan efek eksitasi dan euphoria serta aktivitas motorik meningkat dan percobaan terakir yaitu antidepresan dengan menggunakan amitriptilin menimbulkan ketenangan pada mencit.
B.   Saran
Diharapkan kepada asisten untuk selalu mendampingi praktikan dalam praktikum untuk menghindari kesalahan yang tidak diinginkan.








DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2017, Penuntun Praktikum Farmakologi dan Toksikologi II, Fakultas Farmasi Universitas Muslim Indonesia, Makassar.
Champe, P.C., dkk., 2013, Farmakologi Ulasan Bergambar, EGC, Jakarta.
Ditjen POM, 1979, Farmakope Indonesia Edisi III, Departemen Kesehatan RI, Jakarta
Ditjen POM, 1995, Farmakope Indonesia Edisi IV, Departemen Kesehatan RI, Jakarta.
Elysabeth & Zunilda, D. S., 2009, Diambil dari buku : Farmakologi dan Terapi Edisi Ke-5, Departemen Farmakologi Terapeutik Universitas Indonesia, Jakarta.
Louisa, M. & Hedi, R. D., 2009, Diambil dari buku : Farmakologi dan Terapi Edisi Ke-5, Departemen Farmakologi Terapeutik Universitas Indonesia, Jakarta.
Sjamsuhidajat, R., Wim de Jong, 2005, Buku Ajar Ilmu Bedah, EGC, Jakarta.
Sloane, E., 2004, Anatomi Dan Fisiologi Untuk Pemula, EGC, Jakarta.
Tjay, T.H. dan Rahardja.K., 2010, Obat – Obat Penting, PT. Elex Media Komputindo, Jakarta.
Wiria, M. S. S., 2009, Diambil dari buku : Farmakologi dan Terapi Edisi Ke-5, Departemen Farmakologi Terapeutik Universitas Indonesia, Jakarta.








LAMPIRAN
A.   Perhitungan Dosis
a.    Diazepam,  BR = 197,389 mg
   Dosis Dewasa                      = 
   Dosis mencit             = 0,083 mg/kgBB
   Dosis mencit 30 gram         =  mg
   Larutan stok              =
   Berat Yang Ditimbang =
b.    Amitriptyline, BR = 206,677 mg (Antidepresan)
   Dosis Dewasa                      = 
   Dosis mencit             = 1,25 mg/kgBB
   Dosis mencit 30 gram         =  mg
   Larutan stok              =
   Berat Yang Ditimbang =
c.    Amitriptyline, BR = 206,677 mg (Stimulan)
   Dosis Dewasa                      = 
   Dosis mencit             = 0,416 mg/kgBB
   Dosis mencit 30 gram         =  mg
   Larutan stok              =
   Berat Yang Ditimbang =
B.   Skema Kerja
a.   
Hitung onset dan durasi
Hewan Coba
Anastesi
Toples + kapas + Eter
 






b.   
Dihitung onset dan durasi
Hewan Coba
Hipnotik Sedatif
Diazepam
 










c.    Antidepresan
Hewan Coba

Diberikan perlakuan depresi
(dihitung frekuensi gerakan)
 


Diinduksi obat amitriptyline
 


Diamati pada menit ke- 30’, 60’, 90’
(hitung frekuensi gerakan)


d.    Stimulant
Hewan Coba (mencit)

Diberikan perlakuan stimulan
(dihitung frekuensi gerakan)
 


Diinduksi dengan amitriptilin
 


Diamati pada menit ke- 30’, 60’, 90’
(hitung frekuensi gerakan)







Tidak ada komentar:

Posting Komentar