Jumat, 25 Mei 2018

[Laporan] Sistem Saraf Otonom


LABORATORIUM FARMAKOLOGI
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA


LAPORAN PRAKTIKUM
“SISTEM SARAF OTONOM




OLEH

NAMA               :  FENI SUGANDI
STAMBUK       :  150 2014 0105
KELAS/KLP    :  C2/III (TIGA)
ASISTEN         :  


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MAKASSAR
2017
BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Sistem saraf merupakan serangkaian organ yang kompleks dan bersambungan serta terdiri terutama dari jaringan saraf. Dalam mekanisme sistem saraf, lingkungan internal dan stimulus eksternal dipantau dan diatur. Kemampuan atau sensitivitas terhadap stimulasi dan konduktivitas diatur oleh system saraf dalam tiga cara diantaranya; input sensorik, aktivitas integrative, dan output motorik.
Sistem saraf dibagi menjadi dua yaitu system saraf pusat (SSP) dan sistem saraf perifer. Sistem saraf pusat (SSP) terdiri dari otak dan medulla spinalis yang melindungi tulang kranium dank anal vertebral. Sedangkan, system saraf perifer meliputi seluruh jaringan saraf lain dalam tubuh. Sistem saraf perifer ini terdiri dari saraf cranial dan saraf spinal yang menghubungkan otak dan medulla spinalis dengan reseptor  dan efektor.
Dalam dunia farmasi, sistem saraf otonom ini sangat penting untuk dipelajari karena kita dapat mengetahui mekanisme kerja obat yang akan mempengaruhi sistem saraf otonom, oleh karena itu salah satu alasan dilakukannya praktikum ini untuk melihat bagaimana efek dari beberapa obat dapat mempengaruhi sistem saraf otonom.



B. Maksud Praktikum
Maksud dari percobaan ini yaitu untuk mengetahui dan memahami cara pemberian obat dan efek obat sistem saraf otonom pada hewan coba mencit (Mus musculus).
C. Tujuan Praktikum
Untuk menentukan efek farmakodinamik dari obat (cendocarpine, cendotropine, epinefrin, dan propanolol) pada hewan coba mencit (Mus Musculus) dengan parameter pengamatan berupa grooming, salvisi, miosis, midriasis, tremor, vasokontriksi, vasodilatasi, takikardia, brakikardia, piloereksi, dan diare.           
D. Prinsip Praktikum
Prinsip dari percobaan ini yaitu penentuan efektifitas obat sistem saraf otonom yakni cendocarpine, cendotropine, epinefrin, dan propanolol terhadap hewan coba mencit (Mus musculus) berdasarkan pengamatan efek farmakodinamik yang timbul setiap interval waktu  15’, 30’, 60’ dan 90’ menit.







BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.     Teori Umum
Sistem saraf merupakan serangkaian organ yang kompleks dan bersambungan serta terdiri terutama dari jaringan saraf. Dalam mekanisme sistem saraf, lingkungan internal dan stimulus eksternal dipantau dan diatur. Kemampuan khusus seperti iritabilitas, atau sensitivitas terhadap stimulus, dan konduktivitas atau kemampuan untuk mentransmisi suatu respon terhadap stimulasi, (Sloane, 2004).
Sistem persarafan terdiri dari sel-sel saraf (neuron) yang tersusun membentuk system saraf pusat dan system saraf perifer. Sistem saraf pusat (SSP) terdiri atas otak dan medulla spinalis. Sedangkan system saraf tepi (perifer) merupakan susunan saraf diluar system saraf pusat yang membawa pesan ke dan dari system saraf pusat, (Irianto, 2013).
Berdasarkan pertimbangan anatomi dan neurotransmitter, SSO dibagi menjadi cabang simpatik dan parasimpatik. Sistem simpatik secara normal aktif secara kontinu dan melakukan penyesuaian setiap saat terhadap perubahan lingkungan. Sistem simpatoadrenal juga dapat dilepas sebagai unit, terutama saat marah dan takut, dan mempengaruhi struktur yang dipersarafi secara simpatik pada seluruh tubuh secara bersamaan, meningkatkan denyut jantung dan tekanan darah, memindahkan aliran darah  dari kulit kebagian spanknik ke otot rangka, meningkatkan gula darah, mendilatasi bronkioolus dan pupil , dan secara umum mempersiapkan organism untuk “melawan atau lari”, (G. Gilman, 2010).
Sistem parasimpatik yang terutama diatur untuk pengeluaran yang tersendiri dan terlokalisasi, memperlambat denyut jantung, menurunkan tekanan darah, menstimulasi pergerakan dan sekresi saluran cerna, membantu absorpsi nutrien, melindungi retina dari cahaya brelebih, dan mengosongkan kandung kemih dan rectum, ( G. Gilman, 2010).
Obat-obat sistem saraf otonom dibagi menjadi 5 bagian utama yaitu: Parasimpatomimetik atau kolinergik. Efek obat golongan ini menyerupai efek yang ditimbulkan dari aktivitas susunan saraf parasimpatis.Simpatomimetik atau adrenergic yang efeknya menyerupai efek yang ditimbulkan oleh aktivitas susunan saraf simpatis.Parasimpatolitik atau penghambat kolinergik menghambat timbulnya efek akibat aktivitas susunan saraf parasimpatis.Simpatolitik atau penghambat adrenergic menghambat timbulnya efek akibat aktivitas saraf simpatis.Obat ganglion merangsang atau menghambat penerusan impuls di ganglion (Mycek, 2013).
Penggolongan obat SSO dapat juga sebagai berikut: (Mycek, 2013)
1.  Agonis kolinergik
Agonis kolinergik dibagi menjadi 3 kelompok yaitu:
a)  Bekerja langsung
Obat-obat yang termasuk dalam kelompok ini yaitu: Asetilkolin, betanekol, karbakol, dan pilokarpin.
b)  Bekerja tak langsung (reversibel)
Obat-obat yang termasuk dalam kelompok ini yaitu: edrofonium, neostigmin, fisostigmin, dan piridostigmin.
c)  Bekerja tak langsung (ireversibel)
Obat-obat yang termasuk dalam kelompok ini yaitu: ekotiofat dan isoflurofat.
2.  Antagonis kolinergik
Antagonis kolinergik terbagi ke dalam 3 kelompok yaitu:
a)  Obat antimuskarinik
Obat-obat yang termasuk dalam kelompok ini yaitu: atropin, ipratropium, dan skopolamin.
b)  Penyekat ganglionik
Obat-obat yang termasuk dalam kelompok ini yaitu: mekamilamin, nikotin, dan trimetafan.
c)  Penyekat neuromuscular
Obat-obat yang termasuk dalam kelompok ini yaitu: atrakurium, doksakurium, metokurin, mivakurium, pankuronium, piperkuronium, rokuronium, suksinilkolin, tubokurarin, dan vekuronium.
3.  Agonis adrenergic
Agonis adrenergik terbagi ke dalam 3 kelompok, yaitu:
a)  Bekerja langsung
Obat-obat yang termasuk dalam kelompok ini yaitu: albuterol, klonidin, dobutamin, dopamin, epinefrin, isopreterenol, metapreterenol, metoksamin, norepinefrin*, fenilefrin, ritodrin, dan terbutalin.
b)  Bekerja tak langsung
Obat-obat yang termasuk dalam kelompok ini yaitu: amfetamin dan tiramin.
c)  Bekarja ganda
Obat-obat yang termasuk dalam kelompok ini yaitu: efedrin dan metaraminol.
4.  Antagonis adrenergic
Antagonis adrenergik terbagi ke dalam 3 kelompok, yaitu:
a)  Penyekat- α
Obat-obat yang termasuk dalam kelompok ini yaitu: doxazosin, fenoksinbenzamin, fentolamin, prazosin, dan terazosin.
b)  Penyekat- β
Obat-obat yang termasuk dalam kelompok ini yaitu: asebutolol, atenolol, labetalol, metoprolol, nadolol, pindolol, propranolol, dan timolol (Mycek,2013).
Agonis muskarinik dibedakan atas (1) asetilkolin dan ester kolin sintetis yaitu metakolin,karbakol, dan betanekol dan (2) alkaloid kolinergik yang terdapat di aalam yaitu muskari, pilokarpin, dan arekolin, beserta senyawa sintetisnya. Antagonis muskarinik dikelompokkan dalam 3 kelompok yaitu (1) alkaloid antimuskarinik, atropine dan skopolamin; (2) deprivat seministisnya. (3) dan derivan sintetisnya (Dept. farmakologi dan terapi UI, 2007).
Agonis kolinergik
            Agonis kolinergik meniru efek asetilkolin dengan cara berikatan langsung pada kolinoseptor. Obat ini adalah ester sintetik kolin, seperti karbakol dan betanekol, atau alkaloid alam seperti pilokarpin (Mycek, 2013).
a.  Agonis kolinergik langsung
       Semua obat kolinergik yang bekerja langsung mempunyai masa kerja lebih lama dibandingkan asetilkolin.Beberapa diantaranya yang sangat bermanfaat dalam terapi (pilokarpin dan betanekol) lebih mudah terikat pada reseptor muskarinik dan kadang-kadang dikenal sebagai obat muskarinik. Namun demikian, sebagai satu grup, maka agonis yang bekerja langsung ini menunjukkan kurang spesifik dalam kerjanya, yang sudah tentu akan membatasi penggunaan klinisnya (Mycek, 2013)
       Asetilkolin adalah suatu senyawa amonium kuartener yang tidak mampu menembus membran.Walaupun sebagai suatu neurotransmitter saraf parasimpatis dan kolinergik, namun dalam terapi zat ini kurang penting karena beragam kerjanya dan sangat cepat di-inaktifkan oleh asetilkolinesterase.Aktivitasnya berupa muskarinik dan nikotinik.Kerjanya termasuk menurunkan denyut jantung dan curah jantung, menurunkan tekanan darah (Mycek, 2013)
Asetilkolin juga mempunyai kerja lain seperti pada saluran cerna, asetilkolin dapat meningkatkan sekresi saliva, memacu sekresi dan gerakan usus. Sekresi bronkial juga dipacu.Pada saluran genitourinaus, tonus otot detrusor urine juga ditingkatkan.Pada mata, asetilkolin memacu kontraksi otot siliaris untuk melihat dekat dan menkontriksi otot sfingter pupil sehingga timbul miosis (Mycek, 2013).
Betanekol mempunyai struktur yang berkaitan dengan asetilkolin; asetatnya diganti dengan karbamat dan kolinnya dimetilasi.kerja nikotiniknya kecil atau tidak ada sama sekali, tetapi kerja muskariniknya sangat kuat. Masa kerjanya berlangsung sekitar 1 jam (Mycek, 2013).
Kerja : memacu langsung reseptor muskarinik, sehingga tonus dan motilitas usus meningkat, dan memacu pula otot detrusor kandung kemih sementara trigonum dan sfingter kemih melemas, sehingga urin terpencar keluar (Mycek, 2013).
Karbakol (karbamikolin) bekerja sebagai muskarinik maupun nikotinik.
Kerja : berefek sangat kuat terhadap sistem kardiovaskuler dan sistem pencernaan karena aktivitas pacu ganglion-nya dan mungkin tahap awalnya memacu dan kemudian mendepresi sistem tersebut. Penetesan lokal pada mata, dpat meniru efek asetilkolin yang menimbulkan miosis (Mycek, 2013).
            Pilokarpin menunjukkan kativitas muskarinik dan terutama digunakan untuk oftalmologi.
            Kerja : dapat menimbulkan miosis dengan cepat dan kontraksi otot siliaris. Pada mata akan terjadi suatu spasme akomodasi, da penglihata akan terpaku pada jarak tertentu, sehingga sulit untuk memfokus suatu objek. Pilokarpin adalah salah satu pemacu sekresi kelenjar keringat, air mata, dan saliva, tetapi obat ini tidak digunkan untuk maksud demikian (Mycek, 2013).
b.  Inhibitor kolinesterase
       Pada bagian sistem syaraf otonom terdapat suatu enzim yang sangat penting yaitu Asetilkolin asetil hidrolase (AchE) atau biasa disebut dengan asetilkolinesterase.Enzim ini ditemukan pada celah syaraf kolinergik, neuromuscular junction, dan darah.Enzim ini sangat penting karena berfungsi untuk memecah asetilkolin menjadi asetat dan kolin.Obat dalam hal ini bereaksi dengan menghambat enzim kolinesterase pada celah sinaptik.Sedangkan obat-obatannya beraksi dengan 2 tipe, yaitu sebagai Inhibitor reversibel dan sebagai Inhibitor Ireversibel (Mycek, 2013).
1.     Antikolinesterase Reversibel
             Obat ini dapat berinteraksi secara kompetitif dengan sisi aktif enzim AChE dan dapat terbalikkan / reversibel.Obat pada golongan ini bersifat larut air. Contoh obat-obatan yang bersifat inhibitor reversibel ini yaitu (Mycek, 2013) :
             Fisotigmin merupakan substrat yang relatif stabil yang berfungsi meng-inaktifkan secara reversible asetil kolinesterase. Akibatnya terjadi potensiasi aktivasi kolinergik diseluruh tubuh.
Kerja : lama kerja sekitar 2-4 jam, dapat mencapai dan memacu SSP.
             Neostigmin suatu senyawa sintetik yang dapat menghambat asetilkolinesterase secara reversible seperti fisotigmin, tetapi lebih polar dan oleh sebab itu tidak dapat masuk dalam SSP. Masa kerjanya 2-4 jam. Neostigmin juga bermanfaat sebagai simtomatik pada mistenia gravis, suatu penyakit autoimun yang disebabkan oleh antiboditerhadap reseptor nikotinik yang terikat pada reseptol asetilkolin dari sambungan neuromuskular.Efek samping berupa salivasi, muka merah, dan pans, menurunnya tekanan darah, mual, nyeri perut, diare dan bronkospasme.
             Piridogstimin penghambat kolinesterase lain yang digunakan untuk pengobatan jangka panjang miastenia gravis. Masa kerjanya lebih panjang (3-6 jam) dari neogstigmin (2-4 jam).
             Edrofonium kerja obat ini mirip dengan neostigmin, kecuali obat ini lebih cepat diserap dan masa kerjanya lebih singkat (sekitar 10-20 menit).Edrofonium amin kuartener dan digunakan untuk mendiagnosis miastenia gravis.Injeksi intravena edrofonium menyebabkan peningkatan kekuatan otot dengan cepat.Kelebihan dosis dari obat ini harus diperhatikan karena mungkin menimbulkan krisis kolinergik. Atropin adalah antidotumnya.
2.     Antikolinesterase Irreversibel
Sejumlah senyawa organofosfat sintetik mempunyai kapasitas untuk melekat secara kovalen pada asetilkolinesterase.Keadaan ini memperpanjang efek asetilkolin pada semua tempat pelepasannya. Kebanyakan dari obat ini sangat toksik dn dikembangkan hanya untuk keperluan militer sebagai racun saraf. Senyawa turunannya seperti paration digunakan sebagai inteksida.
Isoflurofat merupakan organofosfat yang terikat secara kovalen pada serin-OH pada sisi aktif asetilkolinesterase.Sekali terikat, maka enzim menjadi tidak aktif secara permanen, dan restorasi (pemulihan kembali) aktivitas asetilkolinesterase memerlukan sintesis molekul enzim baru.Setelah terjadi modifikasi kovalen asetilkolinesterase, maka enzim yang terfosforisasiakan melepas secara perlahan satu gugus isopropilnya.Kehilangan satu gugus alkil, yang sering disebut sebagai penuaan, menjadi sulit sekali bagi reaktivator kimia seperti pralidoksim, untuk memecah ikatan antara sisa obat dan enzim.Obat saraf yang baru, ditujukan untuk militer, bekerja setelah beberapa menit atau detik, sedangkan DFP dalam 6-8 jam.
Kerja : kerja obat ini meliputi pacuan kolinergik umum, kelumpuhan fungsi motor (yang menimbulkan kesulitan bernapas), dan kejang. Isoflurofat menimbulkan pula miosis kuat dan bermanfaat terapeutik.Atroin dosis besar mampu melawan semua efek muskarini dan efek sentral Isoflurofat.
Antagonis Kolinergik
       Antagonis kolinergik (disebut juga obat penyekat kolinergik atau obat antikolinergik) mengikat kolinoreseptor tetapi tidak memicu efek intraseluler diperntarai reseptor seperti lazimnya.Yang paling bermanfaat dari obat golongan ini adalah menyekat sinaps muskarinik pada saraf parasimpatis secara selektif.oleh karena itu, efek persarafan parasimpatis menjadi terganggu, dan kerja pacu simpatis muncul tanpa imbangan.
a.    Obat antimuskarinik
             Obat golongan ini seperti atropin dan skopolamin bekerja menyekat reseptor muskarinik yang menyebabkan hambatan semua fungsi muskarinik.Selain itu, obat ini menyekat sedikit perkeualian neuron simpatis yang juga kolinergik, seperti saraf simpatis yang menuju kelenjar keringat.Bertentangan dengan obat agonis kolinerik yang kegunaan teraupetiknya tebatas, maka obat penyekat kolinergik ini sangat menguntungkan dalam sejumlah besar situasi klinis.Karena obat ini tidak menyekat nikotinik, maka obat antimuskarinik ini sedikit atau tidak mempengaruhi smbungan saraf otot rangka atau ganglia otonom.
             Atropin, alkaloid belladonna, memiliki afinitas kuat terhadap reseptor muskarink, dimana obat ini terikat secara kompetitif, sehingga mencegah asetilkolin terikat pada tempatnya di reseptor muskarinik.Atropin menyekat reseptor muskarinik baik di snetral maupun saraf tepi. Kerja obat ini secara umum berlangsung sekitar 4 jam kecuali bila diteteskan kedalam mata, maka kerjanya sampai berhari-hari (Mycek, 2013).
             Skolapomin, alkaloid beladona lainnya, dapat menimbulkan efek tepi yang sama dengan efek atropin. Tetapi efek skopolamin lebih nyata pada SSP dan masa kerjanya lebih lama dibandingkan atropine (Mycek, 2013).
             Ipratropium penyedotan Ipratropium, suatu turunan kuartener atropin, bermanfaat untuk pengobatan asma dan penyakit paru obstruksi menahun (PPOM) pada pasien yang tidak cocok menelan agonis adrenergic (Mycek, 2013).
b.    Penyekat ganglionik
             Obat ini menunjukkan tidak adanya selektivitas terhadap ganglia simpatis maupun parasimpatis dan tidak efektif sebagai antagonis neuromuskular.Oleh karena itu, obat ini menghentikan semua keluaran sistem saraf otonom pada reseptor nikotinikrespon yang teramati memang kompleks dan sulit diduga, sehingga tidak mungkin meperoleh kerja yang selektif.Obat penyekat ganglionik jarang digunakan untuk maksud terapi saat ini.Tetapi obat ini ering digunakan sebagai alat dalam eksperimen farmakologi (Mycek, 2013).
            Nikotin satu komponen dalam roko sigaret, nikotin memiliki sejumlah kerja yang kurang menyenangkan.Tergantung pada dosis, ikotin mendepolarisasi ganglia, menimbulkan pertama kali gejala pacuan dan kemudian diikuti oleh paralisis dari semua ganglia. Efek pacunya kompleks, termasuk peningkatan tekanan darah, pertambahan denyut jantung ( akibat pelepasan transmitter dari ujung saraf adrenergik dan medula adrenalis ), serta peningkatan peristaltis dan sekresi. Pada dosis lebih tinggi, teanan darah justru menurun karena penyekatan ganglionik, dan aktivitas saluran cerna otot-otot kandung kemih terhenti (Mycek, 2013).
            Trimetafan adalah obat penyekat ganglionik  nikotinik bekerja singkat dan bersifat kompetitif yang harus diberikan secara infus intravena. Saat ini trimetafan digunakan untuk menurunkan tekanan darah dalam  keadaan darurat seperti hipertensi yang disebabkan oleh edema paru atau pecahnya aneurisma aorta bila obat lain tidak dapat digunakan (Mycek, 2013).
            Mekamilamin menyekat kompetitif ganglia nikotinik. Lam kerjanya berkisar 10 jam setelah pemberian tunggal. Ambilan obat melalui penyerapan oral baik, berbeda dengan trimetafan.
a.  Obat penyekat neuromuscular
       Penyekat neuromuskular bermanfaat secara klinik selama opersi guna melemaskan otot secara sempurna tanpa memperbanyak obat anastesi yang sebanding dalam melemaskan otot.Obat penyekat neuromuskular ini strukturnya analog dengan asetilkolin dan bekerja baik sebagai antagonis (tipe nondepolarisasi) maupun agonis (tipe depolarisasi) terhadap reseptor yang terdapat cekungan sambungan neuromuscular (Mycek, 2013).
Agonis adrenergik
              Agonis adrenergik merupakan obat yang memacu atau meningkatkan syaraf adrenergik.Oleh karena itu obat-obat yang bekerja secara agonis adrenergik ini beraksi menyerupai neurotransmitternya, yaitu nor-adrenalin.Agonis adrenergik juga dinamakan dengan Adrenomimetik. Obat-obat yang bekerja dengan cara ini bereaksi dengan reseptor adrenergik, yaitu reseptor adrenergik α & reseptor adrenergik β. Obat agonis adrenergi memiliki 3 mekanisme kerja yaitu (Mycek, 2013).:
a)     Agonis bekerja langsung
obat-obat yang bekerja lngsung pada reseptor α dan β dengan menimbulkan efek mirip pacuan saraf simpatis atau pelepasan hormon epinefrin dari medula adrenalis, contoh obat agonis yang bekerja langsung.
a.    Epinefrin : epinefrin berinteraksi terhadap reseptor α dan β. Pada dosis rendah, efek β (vasodilatasi) pada sistem vaskular menonjol sekali, sedangkan pada dosis tinggi, efek α (vasokontriksi) menjadi efek terkuat (Mycek, 2013).
Kerja : kerja utama epinefrin adalah pada sistem kardiovaskuler. Senyawa ini memperkuat daya kontraksi otot jantung (miokard) (inotropik positif: kerja β1). Oleh sebab itu, curah jantung meningkat pula.Akibat dar efek ini maka kebutuhan oksigen otot jantung meningkat juga.Epinefrin mengkontriksi areriol dikulit, membran mukosa dan visera (efek α) dan mendilatasi pembuluh darah kehati dan otot rangka (efek β2).Aliran darah ke ginjal menurun. Oleh karena itu, efek kumulatif epinefrin adalah peningkatan tekanan sistolik bersama dengan sedikit penurunan tekanan diastolik yang akhirnya menimbulkan refleks perlambatan jantung (Mycek, 2013).
b.    Norepinefrin
Obat ini akan memacu semua tipe reseptor adrenergik. Namun dalam kenyataannya, bila obat ini diberikan pada manusia dalam dosis terapi, maka reseptor adrenergik α saja yang paling dipengaruhi (Mycek, 2013).
Kerja kardiovaskuler : norepinefrin menyebabkan kenaikan tahanan perifer akibat vasokontriksi kuat hampir semua lapangan vaskular, termasuk ginjal. Pada preparat jaringan jantung terpisah, norepinefrin akan memacu kontraktilitas jantung; namun secara invivo, pacuan ini hanya ringan sekali bila ada hal ini akibat dari peningkatan tekanan darah yang emacu suatu refleks berkaitan dengan aktivitas vagal melalui pacuan baroreseptor (Mycek,2013).
a.  Isoproterenol
       Bekerja langsung yang terutama memacu reseptor β1 dan β2 (Dept. farmakologi dan terapi UI, 2007).
Kerja Kardiovaskular : pacuan obat ini seaktif epinefrin sehingga bermanfaat pada pengobatan blok antrioventrikular atau henti jantung. Isoproterenol mendilatasi pula arteriol otot rangka (kerja β2.), sehingga mengurangi tahanan perifer. Karena kerja pacu jantungnya, obat in mungkin enaikkan sedikit tekanan sistol, tetapi sangat menurunkan tekanan arteri rerata dan tekanan diastolic (Mycek, 2013).
b.  Dopamin
       Dopamin dapat mengaktifkan reseptor adrenergik α dan β. Sebagai contoh, pada dosis tinggi obat ini menimbulkan vasokontriksi dengan mengaktifkan reseptor α, sebaliknya pada dosis rendah, obat akan memacu reseptor jantung β (Mycek, 2013).
c.   Dobutamin
Kerja : adalah suatu katekolamin sintetik, bekerja langsung yang merupakan agonis reseptor β1. Obat ini tersedia dalam bentuk campuraan resemik (Mycek, 2013).
d.  Fenilefrin
       Fenilefterin adalah obat adrenergik sintetik langsung yang terutama mengikat reseptor α2. Fenilefterin adalah suatu vasokontriktor yang mampu meningkatkan tekanan sistolik maupun diastolik.Efeknya terhadap jantung langsung tidak ada, tetapi memacu refleks bradikardia bila diberikan parental. Obat ini digunakan untuk enaikkan tekanan darah dan menghentikan serangan tarikardiasupraventrikular. Dosis besar dapat menyebabkan sakit kepala hipertensif dan ketidakteraturan jantung (Mycek, 2013).
e.  Metoksamin
       Metoksamin adalah obat adrenergik sintetik bekerja langsung yang mengikat reseptor alpha, terlebih lagi reseptor α1 dan α2.Obat ini digunakan juga untuk menanggulangi hipotensi selama operasi yang memperoleh anastesi halotan.Obat ini cenderung tidak memacu aritmia jantung pada pasien yang disensitisasi anastesi umum halotan. Efek samping yang terjadi berupa sakit kepala hipertensif dan muntah-muntah (Mycek, 2013).
f.    Klonidin
       Klonidin adalah agonis α2 yang digunakan pada hipertensi esensial untuk menurunkan tekanan darah karena kerjanya pada SSP. Obat ini dapat digunakan juga untuk mengurangi gejala yang timbul akibat putus obat opiat atau benzodiazepine (Mycek, 2013).

g.  Metaproterenol
       Obat ini dapat idberikan peroral atau inhalasi.Obat ini bekerja terutama pada reseptor β2, menimbulkan efek ringan pada jantung.Obat ini menyebabkan dilatasi bronkiolus dan memperbaiki fungsi aliran udara. Obat ini berfungsi sebagai bronkodilator pada pengobatan asma dan melegakan bronkospasme (Mycek, 2013).
h.  Terbutalin
       Tetrabulin yang bersifat lebih selektif daripada metaproterenol dan masa kerjanya lebih lama.Obat ini diberikan baik secara oral ataupun subkutan. Digunakan sebagai bronkodilator dan mengurangi kontraksi rahim pada persalinan premature (Mycek, 2013).
i.    Albuterol
       Albuterol adalah agonis β2 selektif yang sifatnya mirip sekali dengan tetrabutalin. Obat ini banyak dignakan sebagai inhalan untuk mengatasi bronkospasme (Mycek, 2013).
b). Agonis adrenergik bekerja tidak langsung
       Obat-obat ini memperkuat efek norepinefrin endogen, tetapi tidak langsung mempengaruhi reseptor pasca sinaptik (Mycek, 2013).
a.  Amfetamin
Amfetamin sering diduga hanya bekerja sebagai pacu sentral kuat saja oleh pecandu penyaahgunaan obat.Sebenarnya obat ini dapat menaikkan tekanan darah dengan jelas karena kerja agonis α-nya pada pembuluh darah sebagaimana juga efek pacu β-nya pada (Dept. farmakologi dan terapi UI, 2007).
b.  Tiramin
               Tiramin tidak digunakan dalam klinik, tetapi banyak ditemukan dalam makanan fermentasi, seperti keju dan anggur chianti. Obat ini adalah produk normal dari hasil metabolisme tirosin (Mycek, 2013).
c)  Agonis adrenergik bekerja ganda
a.    Efedrin           
             Efedrin adalah alkaloid tumbuhan, tetapi sekarang dapat dibuat secara sintetik. Obat ini adalah obat adrenergik bekerja ganda, berarti tidak saja melepas simpanan norepinefrin dari ujung saraf, tetapi mampu pula memacu langsung reseptor α dan β. Oleh karena itu, sejumlah besar kerja adrenergik yang muncul sering sekali dengan efek epinefrin, walaupun sedikit lebih lemah (Mycek, 2013).
b.    Metaraminol
             Metaraminol adalah obat adrenergik yang bekerja ganda dengan kerja yang mirip norepinefrin. Obat ini digunakan pada pengobatan syok dan untuk mengatasi hipotensi mendadak (Mycek, 2013).


Antagonis adrenergic
            Antagonis adrenergik mengikat adrenoseptor tetapi tidak menimbulkan efek intraseluler yang diperantarai reseptor seperti lazimnya (Mycek, 2013).
Obat penyekat adrenergik α
Obat-obat yang menyekat adrenoseptor α sangat mempengaruhi tekanan darah.
a.  Fenoksibenzamin
       Kerja fenoksibenzamin ini berakhir sekitar 24 jam setelah pemberian tunggal. Setelah obat disuntikkan,belum erjadi penyekatan beberapa jam karena molekul harus dibiotransformasi lebih dulu menjadi bentuk aktif (Mycek, 2013).
Kerja Efek kardiovaskular : penurunan resistensi perifer ini menimbulkan refleks takikardia. Lebih jauh kemampuan untuk menyekat reseptor α2 presinaptik pada jantung justru menimbulkan peningkatan curah jantung (Mycek, 2013).
Reversal epinefrin : fenoksibenzamin tidak mempunyai efek terhadap kerja isoproterenol yang murni sebagai agonis β (Mycek, 2013).
b.  Fentolamin
       Kebalikan dari fenoksibenzamin, fentolamin menimbulkan penyekatan kompetitif terhadap reseptor α1 dan α2. Kerja obat ini berakhir setelah 4 jam pemberian tunggal. Fentolamin digunakan juga untuk terapi feokromositoma dan keadaan klinis lainnya ditandai dengan pelepasan katekolamin berlebihan (Mycek, 2013).
c.   Prazosin, terazosin, dan doksazosin
Kerja kardiovaskuler : prazosin dan terazosin menurunkan resistensi vaskular perifer dan menurunkan tekanan darah arterial dengan melemaskan otot polos arteri dan vena (Mycek, 2013).
Obat penyeka adrenergik β
            Semua obat penyekat β yang digunakan dalam klinik bersifat antagonis kompetitif.
a.  Propranolol
suatu antagonis- β non-selektif kardiovaskular, vasokonstriksi perifer, bronkokonstriksi, peningkatan retensi natrium, menghambat kerja isoproterenol (Mycek, 2013).
b.  Timolol dan nadolol: antagonis- β non-selektif
Timolol menyekat juga adrenoseptor β1 dan β2 dan leih kuat dari propranolol.Nadolol kerjanya sangat panjang. Nadolol mengurangi produksi cairan humor mata dan digunakan secara topikal pada pengobatan glaukoma sudut terbuka menahun, dan dapat pula sesekali digunakan untuk pengobatan sistemik hipertensi (Dept. farmakologi dan terapi UI, 2007).



c.   Asebutolol, atenolol, metoprolol, dan esmolol antagonis β selektif
Kerja : obat-obat penyekat – β menurunkan tekanan darah pada hipertensi dan meningkatkan toleransi latihan fisik dan angina (Mycek, 2013).
d.  Pindolol, dan asebutolol: antagonis dengan aktivitas agonis parsial
Kerja : pada kardiovaskular asebutolol dan pindolol bukan penyekat murni; melainkan mempunyai kemampuan memacu dengan lemah sekali reseptor β1 dan β2 dan oleh karena itu disebut memiliki aktivitas simpatomimetik intrinsik. Serta pengurangan efek metabolic (Mycek, 2013).
e.  Labetalol penyekat α dan β
Kerja : obat ini tidak mengganggu kadar lipid atau glukosa darah alam serum (Mycek, 2013).
Obat-obat yang mempengaruhi pelepasan atau ambilan kembali neurotransmitter
a.  Reserpin
Awal kerja obat ini lambat timbul tetapi masa kerjanya panjang. Bila obat dihentikan kerjanya menetap selama beberapa hari (Dept. farmakologi dan terapi UI, 2007).
b.  Guanetidin
Obat ini sekarang jarang digunakan untuk pengobatan hipertensi karena sering menimbulkan hipotensi ortostatik dan mengganggu fungsi seksual pada lelaki (Dept. farmakologi dan terapi UI, 2007).
c.   Kokain
Kokain adalah unik diantara anastesi lokal yang mampu menyekat enzim ATPase diaktifkan Na dan K melintas membran sel neuron adrenergik.Akibatnya, norepinefrin menumpuk dalam ruang sinaptik, menimbulkan bertambahnya aktivitas simpatetik dan memperkuat kerja epinefrin dan norepinefrin. Oleh karena itu, dosis kecil katekolamin mampu menimbulkan efek yang diperkuat pada pasien yang menelan kokain dibanding yang tidak menelannya (dept.farmakologi Dan terapi UI, 2010).
Obat yang mempengaruhi sistem saraf otonom terbagi 2 sesuai dengan mekanisme kerja terhadap tipe neuron yang dipengaruhi kelompok pertama. Obat – obat kolinergik yang terhadap reseptor yang berikatan dengan asetilkolin. Kelompok kedua obat- obat adrenergik bekerja terhadap reseptor yang dipacu oleh norepinefrin atau epinefrin. Obat kolinergik dan adrenergik bekerja dengan memicu atau menyekat neuron dalam sistem saraf otonom ( Champe, 2013 ).
Anatomi sistem saraf otonom, yaitu ( Champe, 2013 )
1.    Neuron epinefrin : Sistem saraf otonom membawa impuls saraf dari SSP menuju organ efektor melalui 2 jenis neuro efektor.
2.    Neuron aferen : neuron ( serabut ) aferen system saraf otonom penting dalam pengeluaran reflex system ini ( sebagai contoh, penekana pada sinus koratiks dan lengkung aorta ) dan pemberian sinyal kepada SSP untuk mempengaruhi cabang eferen system saraf otonom untuk memberika tenggapan.
3.    Neuron simpatis : sistem saraf otonom eferen dibagi menjadi system saraf simpatis dan parasimpatis, serta system saraf enteris.
4.    Neuron parasimpatis : serabut praganglion parasimpatis berasal dari cranium dan dari region sacral medulla spinalis yang bersinapsis pada ganglion dekat, atau pada per organ efektor.
5.    Neuron entiris :sistem saraf enteris merupakan divisi ketiga system saraf otonom. System ini merupakan kumpulan serabut saraf yang mempersarafi saluran pencernaan, pangkreas, dan kantung empedu.
Adrenoseptor dibagi menjadi dua tipe utama, yaitu reseptor α memperantarai efek eksitasi dari amina simpatomimetik, sementara efek inhibisinya secara umum diperantarai oleh reseptor β (kecuali pada otot polos uterus, di mana stimulasi α merupakan inhibisi, dan pada jantung, di mana stimulasi β dapat dibedakan dengan : (i) fenolamin dan propanolol yang masing-masing memblok reseptor α dan β secara selektif ; dan (ii) potensi relatif norepinefrin (NE), epinefrin (E), dan isoprenalin (I) pada jaringan yang berbeda-beda (Neal, 2006).
Reseptor asetilkolin (kolinoseptor) dibagi menjadi subtype nikotinik dan muskarinik. Asetilkolin yang dilepaskan pada terminal saraf serabut parasimpatis pascaganglion bekerja pada reseptor muskarinik dan dapat diblokir secara selektif oleh atropine. Terdapat lima subtype reseptor muskarinik, tiga diantaranya sudah diketahui dengan jelas, yaitu M1, M2 dan M3. Reseptor M1 terdapat pada otak dan sel parietal lambung, reseptor M2 terdapat pada jantung, dan reseptor M3 terdapat pada otot polos dan kelenjar. Reseptor nikotinik terdapat pada ganglion otonom dan medulla adrenal, dimana efek asetilkolin (atau nikotin) dapat diblok secara selektif oleh heksametonium. Reseptor nikotinik pada sambungan saraf otonom dari otot skele tidak diblok oleh heksametonium, namun diblok oleh tubakurarin. Oleh karena itu, reseptor pada ganglion dan sambungan saraf otot berbeda, meskipun keduanya distimulasi oleh nikotin, sehingga disebut nikotinik (Neal, 2006).
. Penghambat saraf adrenergik menghambat aktivitas saraf adrenergik berdasarkan gangguan sintesis, atau penyimpanan dan penglepasan neurotransmiter di ujung saraf adrenergik. Dalam kelompok ini termasuk guanetidin, guanadrel, reserpin, dan metirosin. Guanetidin adalah prototipe penghambat saraf adrenergik. Guanetidin dan guanadrel memiliki gugus guanidin yang bersifat basa relatif kuat. guanadrel dan guanetidin bekerja dengan cara yang sama. Reserpin adalah alkaloid terpenting dan Rauwolfia serpentina. Metirosin merupakan penghambat enzim tirosin hidroksilase yang mengkatalisis konversi tirosin menjadi DOPA, dan yang merupakan enzim penentu dalam biosintesis NE dan Epi. Pada dosis 1-4 g sehari, obat ini mengurangi biosintesis NE dan Epi sebanyak 35-80% pada pasien feokromositoma. Efek maksimal terjadi setelah berhari-hari, efek ini dapat dilihat dengan mengukur kadar katekolamin dan metabolitnya dalam urin (Sulistia, 2007).
B. Uraian Obat dan Hewan Coba
1.  Uraian bahan
a.  Aqua pro injeksi (Ditjen POM, 1979)
Nama resmi      : AQUA STERILE PRO INJECTION
Nama lain         : Air steril untuk injeksi
Pemerian          : Cairan jernih, tidak berwarna dan tidak berbau.
Kegunaan        : Sebagai bahan pembuat injeksi dan control.
Penyimpanan  : Dalam wadah tertutup baik.
b.  Na CMC (Ditjen POM, 1979)
Nama resmi     : NATRIICARBOXYMETHYLCELLULOSUM
Nama lain        : Natrium Karboksimetilselulosa
Pemerian         : Serbuk atau butiran, putih atau putih kuning gading, tidak berbau atau hampir tidak berbau,higroskopik.
Kelarutan        : Mudah  mendispersi  dalam   air,   membentuk   suspensi  koloidal, tidak larut dalam etanol (95%) P, dalam eter P dan dalam pelarutorganik lain.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat.
Kegunaan       : Sebagai pensuspensi



2.  Uraian obat
a.  Atropin (Sulistia, 2007)
Nama paten         : Hycocyamin, homatropin, cendotropin
Golongan obat    : Antagonis kolinergik antimuskarinik
Indikasi                 : Pada organ mudah efek samping mulut kering, gangguan miksi, meteorisme sering terjadi tetapi tidak membahayakan. Pada organ tua efek sentral terutama sindrom dimensi dapat terjadi.
Kontaindikasi      : Gagal ginjal, jantung dan hipertroti prostat.
Efek samping      : Pada organ mudah efek samping mulut kering, gangguan miksi, meteorisme sering terjadi tetapi tidak membahayakan. Pada organ tua efek sentral terutama sindrom dimensi dapat terjadi.
Farmakodinamik : Atropin sulfat menghambat M. Constrictor pupillae dan M. Ciliaris lensa mata, sehingga menyebabkan midriasis dan siklopegia (paralilis mekanisme akomodasi) (Harvey, 2013).
Farmakokinetik   : Aksi onset: cepat, absorpsi lengkap, terdistribusi secara cepat dalam badan, menembus plasenta,masuk dalam air susu, menembus sawar darah otak, metabolisme hepatik, ekskresi: urin
Dosis                     : Oral 3 dd 0,4-0,6 mg tablet tetrad.
b.  Pilokarpin (Sulistia, 2007)
Nama paten         : Cendocarpin, Epicarpine
Golongan obat    : Agonis kolinergik kerja langsung
Indikasi                 : Anti glaukoma simpleks kronik glaukoma tertutup
Kontraindikasi     : Glaukoma tertutup
Efek samping      : Muntah dan efek kolinergik perifer lainnya
Farmakodinamik : Memacu sekresi kelenjar paling poten pada kelenjar keringat, air mata, dan  saliva, tetapiobat ini tidak digunakan untuk maksud demikian karena bersifat kurang selektif. Pilokarpin bermanfaat merangsang produksi saliva pada pasien yang mengalami xerostomia akibat radiasi pada kepala dan leher (Harvey, 2013).
Farmakokinetik   : Efek utamanya yang menyangkut terapi dapat terlihat pada pupil mata, usus dan sambungan saraf otot.
Dosis                     : Pada glaukoma 2-4 dd 18-20 tetes larutan 1-3% (klorida, nitrat).
c.  Epinefrin (MIMS, 2010: 372)
Golongan obat    : Agonis adrenergik kerja langsung
Indikasi                 : Anastesi lokal.
Kontraindikasi     : Inflamasi lokal & atau sepsis.
Farmakodinamik : Memperkuat dan mempercepat daya kontraksi otot jantung (myocard) yang akan menyebabkan curah jantung meningkat sehingga mempengaruhi kebutuhan efek oksigen dari otot jantung (Harvey, 2013).
Farmakokinetik     : Metabolisme : diambil oleh saraf adrenergic dan        dimetabolisme oleh monoamine oksidase dan katekol-o-metiltransferase.
Dosis                       : 1 amp IM atau SK.      
d.  Propanolol (MIMS, 2010: 45)
Golongan obat    : Antagonis adrenergik penghambat reseptor β
Indikasi                 : Hipertensi, sebagai monoterapi.
Kontraindikasi     : Syok kardiogenik, sindrom sick sinus, bradikardia.
Farmakodinamik : Menghambat reseptor β, mengurangi curah jantung dan bersifat inotropik dan kronotropik negatif. Akibat penghambatan reseptor β ialah curah jantung, kekuatan, dan konsumsi oksigen akan menurun (Harvey, 2013).
Farmakokinetika   : Onset beta-bloker oral 1 – 2 jam , durasi 6 jam. Distribusi Vd= 3,9 L/kg untuk dewasa menembus Plasenta, sejumlah kecil masuk air susu. Ikatan protein pada bayi 68% dan dewasa 93%. Metabolisme aktif di hati dan kombinasi tidak aktif.
Dosis                     : Awal 5 mg 1 x/hr, dapat ditingkatkan menjadi 10-20 mg 1x/hari
C. Uraian Hewan Coba
Klasifikasi Hewan Mencit (Mus Musculus ) (Harrington (1972):
Kingdom               : Animalia
Filum                     : Chordata
Kelas                     : Mamalia
Ordo                       : Rodentia
Famili                    : Muridae
Suku                      :Murinae
Genus                   : Mus
Spesies                 :Mus musculus
D. Karakteristik Hewan Coba (Virginiana, 2007)
Berat badan dewasa   : jantan: 20 – 40g, betina: 18 – 35g
Mulai dikawinkan         : 8 minggu (jantan dan betina)
Lama kehamilan          : 19 – 21 hari
Jumlah pernapasan    : 140-180/menit, turun menjadi 80 dengan anestesi, naik sampai 230 dalam stress.
Tidal volume                 : 0,09 - 0,23
Detak jantung               : 600-650/menit, turun menjadi 350 dengan anestesi, naik sampai 750 dalam stress.
Volume darah               : 76-80 ml/kg
Tekanan darah             : 130-160 sistol; 102-110 diastol, turun menjadi 110 sistol, 80 diastol dengan anestesi.
Kolesterol                      : 26,0-82,4 mg/100 mL
BAB III
METODE KERJA
A.  Alat dan Bahan
a.  Alat yang digunakan
Adapun alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah labu takar, lap kasar, lap halus, spoit 1mL, 3 mL, 5 mL dan stopwatch.
b.  Bahan yang digunakan
Adapun bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah aqua pro injeksi, Propanolol, Epinefrin, NaCMC dan tissue.
B. Prosedur Kerja
a.    Pembuatan bahan
Pembuatan Na-CMC 1%.
Disiapkan alat dan bahan, kemudian Na-CMC ditimbang sebanyak 1 gram.Selanjutnya, 100 mL air suling dipanaskan hingga suhu 700C, laluNa-CMC dilarutkan dengan air suling yang sudah dipanaskan tadi sedikit demi sedikit dan kemudian diaduk.Setelah itu, larutan Na-CMC dimasukkan kedalam wadah, kemudian disimpan didalam lemari pendingin.
b.     Pembuatan obat
1.  Epinefrin
Disiapkan alat dan bahan, lalu sediaan obat epinefrin dipipet sebanyak 0,125 mL, kemudian volumenya dicukupkan hingga 5 mL, dihomogenkan dan larutan diberikan ke hewan coba (mencit).
2.  Propanolol
Disiapkan alat dan bahan, setelah itu serbuk obat bisoprolol ditimbang sebanyak 3,05061 mg, lalu disuspensikan dalam Na-CMC 1% sebanyak 5 mL dan larutan diberikan ke hewan coba (mencit).
c.    Perlakuan hewan coba
1.  Disiapkan hewan yang telah diberi tanda
2.  Dikelompokkan hewan menjadi dua kelompok
a)    Mencit 1 seberat 20 gr diberikan obat Epinefrin secara i.p sebanyak 0,6 mL
b)    Mencit 2 seberat 20 gr diberikan obat Propanolol secara i.p sebanyak 0,6 mL
3.  Dilakukan pengamatan terhadap efek farmakodinamik pada menit 15, 30, 60 dan 90. Pengamatan  meliputi miosis, midriasis, diare, tremor, vasodilatasi, vasokontriksi, grooming, piloereksi, takikardia, bradikardia dan saliva pada menit
4.  Dicatat efek yang terjadi.
d.    Cara kerja (Anonim, 2017)
1)  Dikelompokkan hewan coba menjadi 5 kelompok,
2)  Kelompok I, diberikan mencit (Mus musculus)  Cendocarpine® secara intraperitonial,
3)  Kelompok II, diberikan mencit (Mus musculus) Cendotropine® secara intraperitonial,
4)  Kelompok III, diberikan mencit (Mus musculus)  Cendotropin® secara intraperitonial dan dilanjutakn dengan diberikan lagi Cendocarpin®  secara intraperitonial,
5)  Kelompok IV, diberikan mencit (Mus musculus)  Epinefrin secara intraperitonial,
6)  Kelompok V, diberikan mencit (Mus musculus) Propanolol secara oral dan dilanjutakan dengan diberikan lagi Epinefrin secara intraperitonial,
7)  Dilakukan pengamatan pada menit 15, 30, 60, dan 90 setelah pemberian obat. Pengamatan meliputi pupil mata, diare, tremor kejang, warna daun telinga, grooming, dan sebagainya,
8)  Dicatat hasil pengamatannya.















BAB IV
HASIL PENGAMATAN
A.  Hasil
1)     Efek farmakodinamik yang terjadi setelah pemberian obat Epinefrin dapat dilihat pada tabel dibawah:
Perlakuan
BB
Pengamatan pada menit
Obat : Epinefrin
20 gr
15
30
60
90
Miosis
+
+
-
-
Midriasis
-
-
+
-
Diare
+
-
-
-
Tremor
+
-
    +
-
Vasodilatasi
-
-
+
-
Vasokontriksi
-
-
-
-
Grooming
+
+
+
+
Piloereksi
+
+
-
-
Takikardi
-
-
-
-
Bradikardi
+
+
-
-
Saliva
-
-
+
+

2)     Efek farmakodinamik yang terjadi setelah pemberian obat Propanolol dapat dilihat pada tabel dibawah:
Perlakuan
BB
Pengamatan pada menit
Obat : Propanolol
20 gr
15
30
60
90
Miosis
-
-
+
+
Midriasis
+
+
-
-
Diare
-
-
-
-
Tremor
-
+
    -
-
Vasodilatasi
-
-
+
+
Vasokontriksi
+
+
-
-
Grooming
-
+
+
+
Piloereksi
-
-
-
-
Takikardi
+
+
-
-
Bradikardi
-
-
+
+
Saliva
-
-
-
-


Keterangan:
       +        = Efek farmakodinamik yang terjadi pada mencit
-                 = Tidak terjadi efek farmakodinamik pada mencit
B. Pembahasan
Sistem saraf otonom adalah sistem saraf yang tidak dapat dikendalikan oleh kemauan. Sistem saraf otonom berfungsi untuk mempertahankan keadaan tubuh dalam kondisi terkontrol tanpa pengendalian secara sadar.
Pada susunan saraf otonom, impuls disalurkan ke organ tujuan (efektor, organ ujung) secara tak langsung.Saraf otonom di beberapa tempat terkumpul di sel-sel ganglion, dimana terdapat sinaps, yaitu sela di antara dua neuron (sel saraf). Saraf yang meneruskan impuls dari SSP ke ganglia dinamakan neuron preganglioner, sedangkan saraf antara ganglia dan organ ujung disebut neuron post-ganglioner. Impuls dari SSP dalam sinaps dialihkan dari satu neuron kepada yang lain secara kimiawi dengan jalan neurotransmitter (juga disebut neurohormon). Bila dalam suatu neuron impuls tiba di sinaps, maka pada saat itu juga neuron tersebut membebaskan suatu neurohormon di ujungnya, yang melintasi sinaps dan merangsang neuron berikutnya. Pada sinaps yang berikut dibebaskan.
Epinefrin merupakan obat golongan simpatis yaitu agonis adrenergic yang berkerja langsung, epinefrin berinteraksi terhadap reseptor α dan β.  Mekanisme kerja dari epinefrin dibagi berdasarkan tempat kerja, yaitu pada sistem kardiovaskular dan sistem pernapasan. Pada kardiovaskular epinephrine dapat memperkuat dan mempercepat daya kontraksi otot jantung (myocard) yang akan menyebabkan curah jantung meningkat sehingga mempengaruhi kebutuhan efek oksigen dari otot jantung.
Propanolol merupakan golongan obat penghambat beta yang digunakan untuk mengibati hipertensi atau tekanan darah tinggi, angina dan gagal jantung. Mekanisme kerja dari obat propanolol adalah mengurangi frekuensi detak jantung dan tekanan otot jantung saat berkontraksi.
Prinsip dari percobaan ini yaitu penentuan efektifitas obat sistem saraf otonom yakni, epinefrin, dan propanolol terhadap hewan coba mencit (Mus musculus) berdasarkan pengamatan efek farmakodinamik yang timbul setiap interval waktu  15’, 30’, 60’ dan 90’ menit.
Efek yang nantinya diamati antaranya vasokonstriksi yang ditandai dengan telinga pucat, vasodilatasi yang ditandai dengan telinga berwarna merah, takikardia yang ditandai dengan jantung lebih cepat, bradikardia yaitu jantung diperlambat, piloereksi atau bulu-bulu pada hewan coba berdiri dan tanda-tanda lainnya.
Percobaan menggunakan obat epinefrin dengan dosis obat yang diberikan kepada mencit sebesar dosis 0,6 mL secara oral sesuai dengan volume maksimalnya sebab memiliki berat badan 20 g. Begitu juga dengan percobaan menggunakan obat propanolol, mencit yang digunakan memiliki berat 20 g sehingga volume pemberiannya sebanyak 0,6 mL.
Pada percobaan menggunakan obat epinefrin, mencit mengalami miosis, diare, tremor, grooming, piloereksi, dan bradikardi pada menit ke-15. Pada menit ke-30, mencit masih mengalami miosis, grooming, piloereksi yang ditandai dengan terlihat bulu-bulu pada mencit berdiri serta bradikardi. Lalu pada menit ke-60, mencit mengalami midriasis yang ditandai dengan melebarnya pupil mata, tremor, vasodilatasi yang ditandai dengan telinga mencit yang memerah akibat pelebaran pembuluh darah, grooming, serta saliva. Sedangkan pada menit ke-90, mencit masih mengalami grooming dan saliva.
Efek farmakodinamik diatas menunjukkan bahwa epinefrin termasuk dalam golongan obat agonis adrenergik kerja langsung yang ditandai dengan grooming, tremor, saliva serta vasodilatasi pada mencit. Hal ini sesuai dengan literatur dimana epinefrin dapat memperkuat dan mempercepat daya kontraksi otot jantung (myocard) yang akan menyebabkan curah jantung meningkat sehingga mempengaruhi kebutuhan efek oksigen dari otot jantung.
Pada percobaan menggunakan obat propanolol, mencit mengalami midriasis yang ditandai dengan pelebaran pupil, vasokontriksi, dan takikardia pada menit ke-15. Pada menit ke-30, mencit masih mengalami midriasis, vasokontriksi, takikardia, serta tremor dan grooming. Pada menit ke-60, mencit tidak lagi mengalami midriasis, vasokontriksi dan takikardia, melainkan mencit mengalami miosis, vasodilatasi yang ditandai dengan telinga mencit yang memerah karena pelebaran pembuluh darah, grooming dan bradikardia. Sedangkan pada menit ke-90, mencit masih mengalami miosis, vasodilatasi, grooming, dan bradikardia yang ditandai dengan denyut jantung yang melemah.
Efek farmakodinamik diatas menunjukkan bahwa propanolol termasuk dalam golongan obat antagonis adrenergik penyekat β yang ditandai vasodilatasi, grooming, dan bradikardia. Hal ini sesuai dengan literatur dimana antagonis adrenergik penyekat β dapat menyebabkan tekanan darah menurun atau bradikardia dan pada mencit dan tikus putih nampak pada perubahan warna ujung telinganya menjadi lebih merah.
Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilakukan diperoleh hasil efek farmakodinamik dari obat yang digunakan beberapa sesuai dengan literature. Adapun faktor kesalahannya yaitu mencit yang mati saat praktikum. Hal ini terjadi karena bebebrapa faktor antara lain karena  mencit rentan mengalami stress saat sedang diberi perlakuan serta kesalahan saat melakukan perhitungan obat sehingga terjadi overdosis pada mencit yang menyebabkan kematian.







BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A.  Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan yang telah didapatkan dapat disimpulkan bahwa obat epinefrin termasuk obat golongan agonis adrenergik kerja langsung yang ditandai dengan efek farmakodinamik setelah pemberian obat yaitu grooming, tremor, saliva serta vasodilatasi pada mencit. Dan efek farmakodinamik pada hewan coba (mencit) setelah pemberian obat propanolol yang ditandai vasodilatasi, grooming, dan bradikardia. Hal ini menunjukkan bahwa propanolol termasuk dalam golongan obat antagonis adrenergik penyekat β.
B. Saran
Sebaiknya praktikan lebih teliti lagi dalam melakukan percobaan dan pada saat melakukan perhitungan bahan sehingga kesalahan overdosis yang menyebabkan kematian pada mencit dapat dihindari.







DAFTAR PUSTAKA
Anonim., 2017., Farmakologi dan Toksikologi II Revisi 7., Tim Dosen Lab Farmakologi., Universitas Muslim Indonesia: Makassar.

Anonim, 2016, MIMS Petunjuk Konsultasi, Edisi 16, PT. Bhuana Ilmu Populer: Jakarta.

Champe, Pamela C. 2013. Farmakologi ulasan bergambar. Edisi IV. EGC: Jakarta.
Ditjen POM, 1979. Farmakope Indonesia Edisi III.Departemen Kesehatan Republik Indonesia: Jakarta.

Farmakologi dan Terapi. Edisi 5. 2007. Departemen Farmakologi dan Terapeutik FK UI : Jakarta.

Ganiswara, S.,2012,Farmakologi dan Terapi Edisi V, Bagian Farmakologi dan terapi kedokteran UI: Jakarta.
Gilman, G,. 2010. Manual Farmakologi dan Terapi. EGC: Jakarta.
Harrington, J., F., 1972., Seed Storage and Longevity, in : Seed Biologyvo. III.ed.by TT. Kozlowski. Academic Press: New York, London.

Harvey A. Richard., 2013. Farmakologi Ulasan Bergambar Edisi ke-4. Buku kedokteran,EGC. Jakarta.
Irianto, Koes. 2013. Anatomi dan Fisiologi untuk Mahasiswa. Alfabeta : Bandung
Mycek, Mary. J. dkk. 2013. Farmakologi Ulasan Bergambar Edisi 2. Widya             medika: Jakarta

Neal, Michael j. 2006., At a glance farmakologi medis. Erlangga : Jakarta.

Sloene, Ethel. 2004. Anatomi dan fisiologi untuk pemula. Penerbit buku kedokteran EGC : Jakarta.

Sulistia, dkk, 2007., Farmakologi Dan Terapi, Departemen Farmakologik dan Terapeutik: Jakarta.
Virgiana, R., 2007,Pengaruh Pemberian Larutan serbuk daun manggis (GraciamangostanaL.) Terhadap Berat Testis Mencit(Mus musculus), GalurDDY.Skripsi SarjanaPendidikan Biologi: UHAMKA.
LAMPIRAN
a.  Cara Kerja
Hewan coba mencit



Epinefrin
Propanolol



Diamati efek farmakodinamiknya
 


Diamati menit 15,30,60,90

Dicatat data pengamatan
b.  Perhitungan
1.    Cendotropine 5 mg/5 ml
      Dosis Dewasa          = 
      Dosis mencit             = 0,083mg/kgBB
      Dosis max.                =  mg
      Larutan stok              =  / 5 mL
Pengenceran = 5 mg / 5 mL 
                                         1 mL           10 mL (1 mg / 10 mL)
       x               5 mL (0,15 mg / 5 mL)  
M1  .V1      =    M2  .  V2
            1 mg . x     =    0,15 mg  .  5 mL
                        x     =    0.75 mL
Vp       =
Perbaikan      Dosis min.     =  mg (0,1mg/5mL)
Pengenceran = 5 mg / 5 mL 
                                         1 mL           10 mL (1 mg / 10 mL)
       x               5 mL (0,1 mg / 5 mL)    
                                                                        x     =    0,1 mg . 5 mL / 1mg
                                                        x     =    0,5 mL
2.    Cendocarpine 10 mg/5 ml
      Dosis Dewasa          = 
      Dosis mencit             = 0,166 mg/kgBB
      Dosis max.    =  mg
      Larutan stok              =  / 5 mL
Pengenceran =10 mg / 5 mL 
    1 mL              10 mL (2 mg / 10 mL)        
        x               5 mL (0,305 mg / 5 mL)
M1  .V1      =    M2  .  V2
            2 mg . x     =    0,305 mg  .  5 mL
                    x    =    0,76 mL
Vp       =
Perbaikan
Dosis min.     =  mg (0,205 mg / 5 mL)
Pengenceran  = 10 mg / 5 mL 
    1 mL              10 mL (2 mg / 10 mL)        
       x             5 mL (0,205 mg / 5 mL)
                                                                        x     =    0,205 mg  .  5 mL / 2mg
                                                        x    =    2,05 mL

3.    Epinefrin 1 mg/ml
      Dosis Dewasa                      = 
      Dosis mencit             = 0,016 mg/kgBB
      Dosis mencit 30 gram         =  mg
      Larutan stok              =  / 5 mL
Pengenceran =
1 mg / mL            10 mL (1 mg / 10 mL)          
                       
                                      X              5 mL (0,025 mg / 5 mL)      
M1  .V1      =    M2  .  V2
            1 mg . x     =    0,025 mg  .  5 mL
               x     =    0,125 mL
Vp       =

4.    Propanolol 10 mg/tab
      Dosis Dewasa                      = 
      Dosis mencit             = 0,166 mg/kgBB
      Dosis mencit max.   =  mg
      Larutan stok              =
      BYD                            =
            Vp       =



Tidak ada komentar:

Posting Komentar