LABORATORIUM FARMAKOLOGI
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
LAPORAN PRAKTIKUM
“SISTEM SARAF OTONOM”

OLEH
NAMA : FENI SUGANDI
STAMBUK : 150 2014 0105
KELAS/KLP : C2/III (TIGA)
ASISTEN :
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MAKASSAR
2017
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sistem
saraf merupakan serangkaian organ yang kompleks dan bersambungan serta
terdiri terutama dari jaringan saraf. Dalam mekanisme sistem saraf, lingkungan
internal dan stimulus eksternal dipantau dan diatur. Kemampuan atau
sensitivitas terhadap stimulasi dan konduktivitas diatur oleh system saraf
dalam tiga cara diantaranya; input sensorik, aktivitas integrative, dan output
motorik.
Sistem saraf
dibagi menjadi dua yaitu system saraf pusat (SSP) dan sistem saraf perifer.
Sistem saraf pusat (SSP) terdiri dari otak dan medulla spinalis yang melindungi
tulang kranium dank anal vertebral. Sedangkan, system saraf perifer meliputi
seluruh jaringan saraf lain dalam tubuh. Sistem saraf perifer ini terdiri dari
saraf cranial dan saraf spinal yang menghubungkan otak dan medulla spinalis
dengan reseptor dan efektor.
Dalam dunia farmasi, sistem saraf otonom ini sangat penting
untuk dipelajari karena kita dapat mengetahui
mekanisme kerja obat yang akan mempengaruhi sistem saraf otonom, oleh
karena itu salah satu alasan dilakukannya praktikum ini untuk
melihat bagaimana efek dari beberapa obat dapat
mempengaruhi sistem saraf otonom.
B. Maksud Praktikum
Maksud dari percobaan ini yaitu untuk mengetahui dan
memahami cara pemberian obat dan efek obat sistem saraf otonom pada hewan coba mencit (Mus
musculus).
C. Tujuan Praktikum
Untuk
menentukan efek farmakodinamik dari obat (cendocarpine, cendotropine, epinefrin,
dan propanolol) pada hewan coba mencit
(Mus Musculus) dengan parameter
pengamatan berupa grooming, salvisi, miosis, midriasis, tremor, vasokontriksi,
vasodilatasi, takikardia, brakikardia, piloereksi, dan diare.
D. Prinsip Praktikum
Prinsip dari percobaan ini yaitu penentuan efektifitas
obat sistem saraf otonom yakni cendocarpine, cendotropine,
epinefrin, dan propanolol terhadap hewan coba mencit (Mus musculus) berdasarkan pengamatan efek farmakodinamik yang timbul
setiap interval waktu 15’, 30’, 60’ dan 90’
menit.
BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
A.
Teori
Umum
Sistem saraf merupakan
serangkaian organ yang kompleks dan bersambungan serta terdiri terutama dari
jaringan saraf. Dalam mekanisme sistem saraf, lingkungan internal dan stimulus eksternal
dipantau dan diatur. Kemampuan khusus seperti iritabilitas, atau sensitivitas
terhadap stimulus, dan konduktivitas atau kemampuan untuk mentransmisi suatu
respon terhadap stimulasi, (Sloane, 2004).
Sistem persarafan terdiri
dari sel-sel saraf (neuron) yang tersusun membentuk system saraf pusat dan
system saraf perifer. Sistem saraf pusat (SSP) terdiri atas otak dan medulla
spinalis. Sedangkan system saraf tepi (perifer) merupakan susunan saraf diluar
system saraf pusat yang membawa pesan ke dan dari system saraf pusat, (Irianto,
2013).
Berdasarkan pertimbangan
anatomi dan neurotransmitter, SSO dibagi menjadi cabang simpatik dan
parasimpatik. Sistem simpatik secara normal aktif secara kontinu dan melakukan
penyesuaian setiap saat terhadap perubahan lingkungan. Sistem simpatoadrenal
juga dapat dilepas sebagai unit, terutama saat marah dan takut, dan
mempengaruhi struktur yang dipersarafi secara simpatik pada seluruh tubuh
secara bersamaan, meningkatkan denyut jantung dan tekanan darah, memindahkan aliran
darah dari kulit kebagian spanknik ke
otot rangka, meningkatkan gula darah, mendilatasi bronkioolus dan pupil , dan
secara umum mempersiapkan organism untuk “melawan atau lari”, (G. Gilman,
2010).
Sistem parasimpatik yang
terutama diatur untuk pengeluaran yang tersendiri dan terlokalisasi,
memperlambat denyut jantung, menurunkan tekanan darah, menstimulasi pergerakan
dan sekresi saluran cerna, membantu absorpsi nutrien, melindungi retina dari
cahaya brelebih, dan mengosongkan kandung kemih dan rectum, ( G. Gilman, 2010).
Obat-obat sistem saraf
otonom dibagi menjadi 5 bagian utama yaitu: Parasimpatomimetik atau kolinergik.
Efek obat golongan ini menyerupai efek yang ditimbulkan dari aktivitas susunan
saraf parasimpatis.Simpatomimetik atau adrenergic yang efeknya menyerupai efek
yang ditimbulkan oleh aktivitas susunan saraf simpatis.Parasimpatolitik atau
penghambat kolinergik menghambat timbulnya efek akibat aktivitas susunan saraf
parasimpatis.Simpatolitik atau penghambat adrenergic menghambat timbulnya efek
akibat aktivitas saraf simpatis.Obat ganglion merangsang atau menghambat
penerusan impuls di ganglion (Mycek, 2013).
Penggolongan obat SSO dapat
juga sebagai berikut: (Mycek,
2013)
1. Agonis
kolinergik
Agonis kolinergik dibagi
menjadi 3 kelompok yaitu:
a) Bekerja
langsung
Obat-obat yang termasuk
dalam kelompok ini yaitu: Asetilkolin, betanekol, karbakol, dan pilokarpin.
b) Bekerja
tak langsung (reversibel)
Obat-obat yang termasuk
dalam kelompok ini yaitu: edrofonium, neostigmin, fisostigmin, dan
piridostigmin.
c) Bekerja
tak langsung (ireversibel)
Obat-obat yang termasuk
dalam kelompok ini yaitu: ekotiofat dan isoflurofat.
2. Antagonis
kolinergik
Antagonis kolinergik terbagi
ke dalam 3 kelompok yaitu:
a) Obat
antimuskarinik
Obat-obat yang termasuk
dalam kelompok ini yaitu: atropin, ipratropium, dan skopolamin.
b) Penyekat
ganglionik
Obat-obat yang termasuk
dalam kelompok ini yaitu: mekamilamin, nikotin, dan trimetafan.
c) Penyekat
neuromuscular
Obat-obat yang termasuk
dalam kelompok ini yaitu: atrakurium, doksakurium, metokurin, mivakurium,
pankuronium, piperkuronium, rokuronium, suksinilkolin, tubokurarin, dan
vekuronium.
3. Agonis
adrenergic
Agonis adrenergik terbagi ke
dalam 3 kelompok, yaitu:
a) Bekerja
langsung
Obat-obat yang termasuk
dalam kelompok ini yaitu: albuterol, klonidin, dobutamin, dopamin, epinefrin,
isopreterenol, metapreterenol, metoksamin, norepinefrin*, fenilefrin, ritodrin,
dan terbutalin.
b) Bekerja
tak langsung
Obat-obat yang termasuk
dalam kelompok ini yaitu: amfetamin dan tiramin.
c) Bekarja
ganda
Obat-obat yang termasuk
dalam kelompok ini yaitu: efedrin dan metaraminol.
4. Antagonis
adrenergic
Antagonis adrenergik terbagi
ke dalam 3 kelompok, yaitu:
a) Penyekat-
α
Obat-obat yang termasuk
dalam kelompok ini yaitu: doxazosin, fenoksinbenzamin, fentolamin, prazosin,
dan terazosin.
b) Penyekat-
β
Obat-obat yang termasuk
dalam kelompok ini yaitu: asebutolol, atenolol, labetalol, metoprolol, nadolol,
pindolol, propranolol, dan timolol (Mycek,2013).
Agonis muskarinik dibedakan
atas (1) asetilkolin dan ester kolin sintetis yaitu metakolin,karbakol, dan
betanekol dan (2) alkaloid kolinergik yang terdapat di aalam yaitu muskari,
pilokarpin, dan arekolin, beserta senyawa sintetisnya. Antagonis muskarinik
dikelompokkan dalam 3 kelompok yaitu (1) alkaloid antimuskarinik, atropine dan
skopolamin; (2) deprivat seministisnya. (3) dan derivan sintetisnya (Dept.
farmakologi dan terapi UI, 2007).
Agonis
kolinergik
Agonis
kolinergik meniru efek asetilkolin dengan cara berikatan langsung pada
kolinoseptor. Obat ini adalah ester sintetik kolin, seperti karbakol dan
betanekol, atau alkaloid alam seperti pilokarpin (Mycek, 2013).
a. Agonis
kolinergik langsung
Semua obat
kolinergik yang bekerja langsung mempunyai masa kerja lebih lama dibandingkan
asetilkolin.Beberapa diantaranya yang sangat bermanfaat dalam terapi
(pilokarpin dan betanekol) lebih mudah terikat pada reseptor muskarinik dan
kadang-kadang dikenal sebagai obat muskarinik. Namun demikian, sebagai satu
grup, maka agonis yang bekerja langsung ini menunjukkan kurang spesifik dalam
kerjanya, yang sudah tentu akan membatasi penggunaan klinisnya (Mycek, 2013)
Asetilkolin adalah suatu senyawa amonium kuartener yang tidak
mampu menembus membran.Walaupun sebagai suatu neurotransmitter saraf
parasimpatis dan kolinergik, namun dalam terapi zat ini kurang penting karena
beragam kerjanya dan sangat cepat di-inaktifkan oleh
asetilkolinesterase.Aktivitasnya berupa muskarinik dan nikotinik.Kerjanya
termasuk menurunkan denyut jantung dan curah jantung, menurunkan tekanan darah (Mycek, 2013)
Asetilkolin juga mempunyai kerja lain seperti pada
saluran cerna, asetilkolin dapat meningkatkan sekresi saliva, memacu sekresi
dan gerakan usus. Sekresi bronkial juga dipacu.Pada saluran genitourinaus,
tonus otot detrusor urine juga ditingkatkan.Pada mata, asetilkolin memacu
kontraksi otot siliaris untuk melihat dekat dan menkontriksi otot sfingter
pupil sehingga timbul miosis (Mycek,
2013).
Betanekol mempunyai struktur yang berkaitan dengan
asetilkolin; asetatnya diganti dengan karbamat dan kolinnya dimetilasi.kerja
nikotiniknya kecil atau tidak ada sama sekali, tetapi kerja muskariniknya
sangat kuat. Masa kerjanya berlangsung sekitar 1 jam (Mycek, 2013).
Kerja : memacu langsung reseptor muskarinik,
sehingga tonus dan motilitas usus meningkat, dan memacu pula otot detrusor
kandung kemih sementara trigonum dan sfingter kemih melemas, sehingga urin
terpencar keluar (Mycek,
2013).
Karbakol (karbamikolin) bekerja sebagai muskarinik
maupun nikotinik.
Kerja : berefek
sangat kuat terhadap sistem kardiovaskuler dan sistem pencernaan karena
aktivitas pacu ganglion-nya dan mungkin tahap awalnya memacu dan kemudian
mendepresi sistem tersebut. Penetesan lokal pada mata, dpat meniru efek asetilkolin
yang menimbulkan miosis (Mycek,
2013).
Pilokarpin
menunjukkan kativitas muskarinik dan terutama digunakan untuk oftalmologi.
Kerja : dapat
menimbulkan miosis dengan cepat dan kontraksi otot siliaris. Pada mata akan
terjadi suatu spasme akomodasi, da penglihata akan terpaku pada jarak tertentu,
sehingga sulit untuk memfokus suatu objek. Pilokarpin adalah salah satu pemacu
sekresi kelenjar keringat, air mata, dan saliva, tetapi obat ini tidak digunkan
untuk maksud demikian (Mycek,
2013).
b. Inhibitor
kolinesterase
Pada bagian
sistem syaraf otonom terdapat suatu enzim yang sangat penting yaitu Asetilkolin
asetil hidrolase (AchE) atau biasa disebut dengan asetilkolinesterase.Enzim ini
ditemukan pada celah syaraf kolinergik, neuromuscular junction, dan darah.Enzim
ini sangat penting karena berfungsi untuk memecah asetilkolin menjadi asetat
dan kolin.Obat dalam hal ini bereaksi dengan menghambat enzim kolinesterase
pada celah sinaptik.Sedangkan obat-obatannya beraksi dengan 2 tipe, yaitu
sebagai Inhibitor reversibel dan sebagai Inhibitor Ireversibel (Mycek, 2013).
1.
Antikolinesterase Reversibel
Obat ini
dapat berinteraksi secara kompetitif dengan sisi aktif enzim AChE dan dapat
terbalikkan / reversibel.Obat pada golongan ini bersifat larut air. Contoh
obat-obatan yang bersifat inhibitor reversibel ini yaitu (Mycek,
2013) :
Fisotigmin
merupakan substrat yang relatif stabil yang berfungsi meng-inaktifkan secara
reversible asetil kolinesterase. Akibatnya terjadi potensiasi aktivasi
kolinergik diseluruh tubuh.
Kerja : lama kerja sekitar 2-4 jam, dapat
mencapai dan memacu SSP.
Neostigmin
suatu senyawa sintetik yang dapat menghambat asetilkolinesterase secara
reversible seperti fisotigmin, tetapi lebih polar dan oleh sebab itu tidak
dapat masuk dalam SSP. Masa kerjanya 2-4 jam. Neostigmin juga bermanfaat
sebagai simtomatik pada mistenia gravis, suatu penyakit autoimun yang
disebabkan oleh antiboditerhadap reseptor nikotinik yang terikat pada reseptol
asetilkolin dari sambungan neuromuskular.Efek samping berupa salivasi, muka
merah, dan pans, menurunnya tekanan darah, mual, nyeri perut, diare dan
bronkospasme.
Piridogstimin
penghambat kolinesterase lain yang digunakan untuk pengobatan jangka panjang
miastenia gravis. Masa kerjanya lebih panjang (3-6 jam) dari neogstigmin (2-4
jam).
Edrofonium
kerja obat ini mirip dengan neostigmin, kecuali obat ini lebih cepat diserap
dan masa kerjanya lebih singkat (sekitar 10-20 menit).Edrofonium amin kuartener
dan digunakan untuk mendiagnosis miastenia gravis.Injeksi intravena edrofonium
menyebabkan peningkatan kekuatan otot dengan cepat.Kelebihan dosis dari obat
ini harus diperhatikan karena mungkin menimbulkan krisis kolinergik. Atropin adalah antidotumnya.
2. Antikolinesterase
Irreversibel
Sejumlah
senyawa organofosfat sintetik mempunyai kapasitas untuk melekat secara kovalen
pada asetilkolinesterase.Keadaan ini memperpanjang efek asetilkolin pada semua
tempat pelepasannya. Kebanyakan dari obat ini sangat toksik dn dikembangkan hanya
untuk keperluan militer sebagai racun saraf. Senyawa turunannya seperti
paration digunakan sebagai inteksida.
Isoflurofat merupakan organofosfat yang terikat secara kovalen
pada serin-OH pada sisi aktif asetilkolinesterase.Sekali terikat, maka enzim menjadi
tidak aktif secara permanen, dan restorasi (pemulihan kembali) aktivitas
asetilkolinesterase memerlukan sintesis molekul enzim baru.Setelah terjadi
modifikasi kovalen asetilkolinesterase, maka enzim yang terfosforisasiakan
melepas secara perlahan satu gugus isopropilnya.Kehilangan satu gugus alkil,
yang sering disebut sebagai penuaan, menjadi sulit sekali bagi reaktivator
kimia seperti pralidoksim, untuk memecah ikatan antara sisa obat dan enzim.Obat
saraf yang baru, ditujukan untuk militer, bekerja setelah beberapa menit atau
detik, sedangkan DFP dalam 6-8 jam.
Kerja : kerja
obat ini meliputi pacuan kolinergik umum, kelumpuhan fungsi motor (yang
menimbulkan kesulitan bernapas), dan kejang. Isoflurofat menimbulkan pula
miosis kuat dan bermanfaat terapeutik.Atroin dosis besar mampu melawan semua
efek muskarini dan efek sentral Isoflurofat.
Antagonis Kolinergik
Antagonis
kolinergik (disebut juga obat penyekat kolinergik atau obat antikolinergik)
mengikat kolinoreseptor tetapi tidak memicu efek intraseluler diperntarai
reseptor seperti lazimnya.Yang paling bermanfaat dari obat golongan ini adalah
menyekat sinaps muskarinik pada saraf parasimpatis secara selektif.oleh karena
itu, efek persarafan parasimpatis menjadi terganggu, dan kerja pacu simpatis muncul
tanpa imbangan.
a.
Obat antimuskarinik
Obat
golongan ini seperti atropin dan skopolamin bekerja menyekat reseptor
muskarinik yang menyebabkan hambatan semua fungsi muskarinik.Selain itu, obat
ini menyekat sedikit perkeualian neuron simpatis yang juga kolinergik, seperti
saraf simpatis yang menuju kelenjar keringat.Bertentangan dengan obat agonis
kolinerik yang kegunaan teraupetiknya tebatas, maka obat penyekat kolinergik
ini sangat menguntungkan dalam sejumlah besar situasi klinis.Karena obat ini
tidak menyekat nikotinik, maka obat antimuskarinik ini sedikit atau tidak
mempengaruhi smbungan saraf otot rangka atau ganglia otonom.
Atropin,
alkaloid belladonna, memiliki afinitas kuat terhadap reseptor muskarink, dimana
obat ini terikat secara kompetitif, sehingga mencegah asetilkolin terikat pada tempatnya
di reseptor muskarinik.Atropin menyekat reseptor muskarinik baik di snetral
maupun saraf tepi. Kerja obat ini secara umum berlangsung sekitar 4 jam kecuali
bila diteteskan kedalam mata, maka kerjanya sampai berhari-hari (Mycek, 2013).
Skolapomin,
alkaloid beladona lainnya, dapat menimbulkan efek tepi yang sama dengan efek
atropin. Tetapi efek skopolamin lebih nyata pada SSP dan masa kerjanya lebih
lama dibandingkan atropine (Mycek,
2013).
Ipratropium
penyedotan Ipratropium, suatu turunan kuartener atropin, bermanfaat untuk
pengobatan asma dan penyakit paru obstruksi menahun (PPOM) pada pasien yang
tidak cocok menelan agonis adrenergic (Mycek,
2013).
b.
Penyekat ganglionik
Obat ini
menunjukkan tidak adanya selektivitas terhadap ganglia simpatis maupun
parasimpatis dan tidak efektif sebagai antagonis neuromuskular.Oleh karena itu,
obat ini menghentikan semua keluaran sistem saraf otonom pada reseptor
nikotinikrespon yang teramati memang kompleks dan sulit diduga, sehingga tidak
mungkin meperoleh kerja yang selektif.Obat penyekat ganglionik jarang digunakan
untuk maksud terapi saat ini.Tetapi obat ini ering digunakan sebagai alat dalam
eksperimen farmakologi (Mycek,
2013).
Nikotin satu
komponen dalam roko sigaret, nikotin memiliki sejumlah kerja yang kurang
menyenangkan.Tergantung pada dosis, ikotin mendepolarisasi ganglia, menimbulkan
pertama kali gejala pacuan dan kemudian diikuti oleh paralisis dari semua
ganglia. Efek pacunya kompleks, termasuk peningkatan tekanan darah, pertambahan
denyut jantung ( akibat pelepasan transmitter dari ujung saraf adrenergik dan
medula adrenalis ), serta peningkatan peristaltis dan sekresi. Pada dosis lebih
tinggi, teanan darah justru menurun karena penyekatan ganglionik, dan aktivitas
saluran cerna otot-otot kandung kemih terhenti (Mycek,
2013).
Trimetafan
adalah obat penyekat ganglionik nikotinik bekerja singkat dan bersifat
kompetitif yang harus diberikan secara infus intravena. Saat ini trimetafan
digunakan untuk menurunkan tekanan darah dalam keadaan darurat seperti
hipertensi yang disebabkan oleh edema paru atau pecahnya aneurisma aorta bila
obat lain tidak dapat digunakan (Mycek,
2013).
Mekamilamin
menyekat kompetitif ganglia nikotinik. Lam kerjanya berkisar 10 jam setelah
pemberian tunggal. Ambilan obat melalui penyerapan oral baik, berbeda dengan
trimetafan.
a. Obat
penyekat neuromuscular
Penyekat
neuromuskular bermanfaat secara klinik selama opersi guna melemaskan otot
secara sempurna tanpa memperbanyak obat anastesi yang sebanding dalam
melemaskan otot.Obat penyekat neuromuskular ini strukturnya analog dengan
asetilkolin dan bekerja baik sebagai antagonis (tipe nondepolarisasi) maupun
agonis (tipe depolarisasi) terhadap reseptor yang terdapat cekungan sambungan
neuromuscular (Mycek,
2013).
Agonis adrenergik
Agonis
adrenergik merupakan obat yang memacu atau meningkatkan syaraf adrenergik.Oleh
karena itu obat-obat yang bekerja secara agonis adrenergik ini beraksi
menyerupai neurotransmitternya, yaitu nor-adrenalin.Agonis adrenergik juga
dinamakan dengan Adrenomimetik. Obat-obat yang bekerja dengan cara ini bereaksi
dengan reseptor adrenergik, yaitu reseptor adrenergik α & reseptor
adrenergik β. Obat agonis adrenergi memiliki 3 mekanisme kerja yaitu (Mycek, 2013).:
a)
Agonis bekerja langsung
obat-obat yang bekerja lngsung pada reseptor α dan β
dengan menimbulkan efek mirip pacuan saraf simpatis atau pelepasan hormon
epinefrin dari medula adrenalis, contoh obat agonis yang bekerja langsung.
a.
Epinefrin : epinefrin berinteraksi terhadap reseptor α
dan β. Pada dosis rendah, efek β (vasodilatasi) pada sistem vaskular menonjol
sekali, sedangkan pada dosis tinggi, efek α (vasokontriksi) menjadi efek
terkuat (Mycek, 2013).
Kerja : kerja utama epinefrin adalah pada
sistem kardiovaskuler. Senyawa ini memperkuat daya kontraksi otot jantung
(miokard) (inotropik positif: kerja β1). Oleh sebab itu, curah
jantung meningkat pula.Akibat dar efek ini maka kebutuhan oksigen otot jantung
meningkat juga.Epinefrin mengkontriksi areriol dikulit, membran mukosa dan
visera (efek α) dan mendilatasi pembuluh darah kehati dan otot rangka (efek β2).Aliran
darah ke ginjal menurun. Oleh karena itu, efek kumulatif epinefrin adalah
peningkatan tekanan sistolik bersama dengan sedikit penurunan tekanan diastolik
yang akhirnya menimbulkan refleks perlambatan jantung (Mycek, 2013).
b. Norepinefrin
Obat ini akan memacu semua tipe reseptor adrenergik.
Namun dalam kenyataannya, bila obat ini diberikan pada manusia dalam dosis
terapi, maka reseptor adrenergik α saja yang paling dipengaruhi (Mycek, 2013).
Kerja kardiovaskuler :
norepinefrin menyebabkan kenaikan tahanan perifer akibat vasokontriksi kuat
hampir semua lapangan vaskular, termasuk ginjal. Pada preparat jaringan jantung
terpisah, norepinefrin akan memacu kontraktilitas jantung; namun secara invivo,
pacuan ini hanya ringan sekali bila ada hal ini akibat dari peningkatan tekanan
darah yang emacu suatu refleks berkaitan dengan aktivitas vagal melalui pacuan
baroreseptor (Mycek,2013).
a. Isoproterenol
Bekerja
langsung yang terutama memacu reseptor β1 dan β2 (Dept. farmakologi dan terapi UI, 2007).
Kerja Kardiovaskular : pacuan
obat ini seaktif epinefrin sehingga bermanfaat pada pengobatan blok
antrioventrikular atau henti jantung. Isoproterenol mendilatasi pula arteriol
otot rangka (kerja β2.), sehingga mengurangi tahanan perifer. Karena
kerja pacu jantungnya, obat in mungkin enaikkan sedikit tekanan sistol, tetapi
sangat menurunkan tekanan arteri rerata dan tekanan diastolic (Mycek, 2013).
b. Dopamin
Dopamin
dapat mengaktifkan reseptor adrenergik α dan β. Sebagai contoh, pada dosis
tinggi obat ini menimbulkan vasokontriksi dengan mengaktifkan reseptor α,
sebaliknya pada dosis rendah, obat akan memacu reseptor jantung β (Mycek, 2013).
c. Dobutamin
Kerja : adalah
suatu katekolamin sintetik, bekerja langsung yang merupakan agonis reseptor β1.
Obat ini tersedia dalam bentuk campuraan resemik (Mycek, 2013).
d. Fenilefrin
Fenilefterin
adalah obat adrenergik sintetik langsung yang terutama mengikat reseptor α2.
Fenilefterin adalah suatu vasokontriktor yang mampu meningkatkan tekanan
sistolik maupun diastolik.Efeknya terhadap jantung langsung tidak ada, tetapi
memacu refleks bradikardia bila diberikan parental. Obat ini digunakan untuk
enaikkan tekanan darah dan menghentikan serangan tarikardiasupraventrikular.
Dosis besar dapat menyebabkan sakit kepala hipertensif dan ketidakteraturan
jantung (Mycek, 2013).
e. Metoksamin
Metoksamin
adalah obat adrenergik sintetik bekerja langsung yang mengikat reseptor alpha,
terlebih lagi reseptor α1 dan α2.Obat ini digunakan juga
untuk menanggulangi hipotensi selama operasi yang memperoleh anastesi
halotan.Obat ini cenderung tidak memacu aritmia jantung pada pasien yang
disensitisasi anastesi umum halotan. Efek samping yang terjadi berupa sakit
kepala hipertensif dan muntah-muntah (Mycek, 2013).
f. Klonidin
Klonidin
adalah agonis α2 yang digunakan pada hipertensi esensial untuk
menurunkan tekanan darah karena kerjanya pada SSP. Obat ini dapat digunakan
juga untuk mengurangi gejala yang timbul akibat putus obat opiat atau
benzodiazepine (Mycek, 2013).
g. Metaproterenol
Obat ini
dapat idberikan peroral atau inhalasi.Obat ini bekerja terutama pada reseptor β2,
menimbulkan efek ringan pada jantung.Obat ini menyebabkan dilatasi bronkiolus
dan memperbaiki fungsi aliran udara. Obat ini berfungsi sebagai bronkodilator
pada pengobatan asma dan melegakan bronkospasme (Mycek, 2013).
h. Terbutalin
Tetrabulin
yang bersifat lebih selektif daripada metaproterenol dan masa kerjanya lebih
lama.Obat ini diberikan baik secara oral ataupun subkutan. Digunakan sebagai
bronkodilator dan mengurangi kontraksi rahim pada persalinan premature (Mycek,
2013).
i. Albuterol
Albuterol
adalah agonis β2 selektif yang sifatnya mirip sekali dengan
tetrabutalin. Obat ini banyak dignakan sebagai inhalan untuk mengatasi
bronkospasme (Mycek, 2013).
b). Agonis
adrenergik bekerja tidak langsung
Obat-obat
ini memperkuat efek norepinefrin endogen, tetapi tidak langsung mempengaruhi
reseptor pasca sinaptik (Mycek, 2013).
a. Amfetamin
Amfetamin
sering diduga hanya bekerja sebagai pacu sentral kuat saja oleh pecandu
penyaahgunaan obat.Sebenarnya obat ini dapat menaikkan tekanan darah dengan
jelas karena kerja agonis α-nya pada pembuluh darah sebagaimana juga efek pacu
β-nya pada (Dept. farmakologi dan terapi UI, 2007).
b. Tiramin
Tiramin
tidak digunakan dalam klinik, tetapi banyak ditemukan dalam makanan fermentasi,
seperti keju dan anggur chianti. Obat ini adalah produk normal dari hasil metabolisme
tirosin (Mycek, 2013).
c) Agonis adrenergik bekerja ganda
a. Efedrin
Efedrin
adalah alkaloid tumbuhan, tetapi sekarang dapat dibuat secara sintetik. Obat
ini adalah obat adrenergik bekerja ganda, berarti tidak saja melepas simpanan
norepinefrin dari ujung saraf, tetapi mampu pula memacu langsung reseptor α dan
β. Oleh karena itu, sejumlah besar kerja adrenergik yang muncul sering sekali
dengan efek epinefrin, walaupun sedikit lebih lemah (Mycek, 2013).
b. Metaraminol
Metaraminol
adalah obat adrenergik yang bekerja ganda dengan kerja yang mirip norepinefrin.
Obat ini digunakan pada pengobatan syok dan untuk mengatasi hipotensi mendadak
(Mycek, 2013).
Antagonis adrenergic
Antagonis
adrenergik mengikat adrenoseptor tetapi tidak menimbulkan efek intraseluler
yang diperantarai reseptor seperti lazimnya (Mycek, 2013).
Obat
penyekat adrenergik α
Obat-obat yang menyekat adrenoseptor α sangat
mempengaruhi tekanan darah.
a. Fenoksibenzamin
Kerja
fenoksibenzamin ini berakhir sekitar 24 jam setelah pemberian tunggal. Setelah
obat disuntikkan,belum erjadi penyekatan beberapa jam karena molekul harus
dibiotransformasi lebih dulu menjadi bentuk aktif (Mycek, 2013).
Kerja Efek
kardiovaskular : penurunan resistensi perifer ini menimbulkan refleks
takikardia. Lebih jauh kemampuan untuk menyekat reseptor α2
presinaptik pada jantung justru menimbulkan peningkatan curah jantung (Mycek, 2013).
Reversal epinefrin : fenoksibenzamin tidak mempunyai
efek terhadap kerja isoproterenol yang murni sebagai agonis β (Mycek, 2013).
b. Fentolamin
Kebalikan
dari fenoksibenzamin, fentolamin menimbulkan penyekatan kompetitif terhadap
reseptor α1 dan α2. Kerja obat ini berakhir setelah 4 jam
pemberian tunggal. Fentolamin digunakan juga untuk terapi feokromositoma dan
keadaan klinis lainnya ditandai dengan pelepasan katekolamin berlebihan (Mycek,
2013).
c. Prazosin,
terazosin, dan doksazosin
Kerja kardiovaskuler : prazosin
dan terazosin menurunkan resistensi vaskular perifer dan menurunkan tekanan
darah arterial dengan melemaskan otot polos arteri dan vena (Mycek, 2013).
Obat penyeka adrenergik β
Semua obat
penyekat β yang digunakan dalam klinik bersifat antagonis kompetitif.
a. Propranolol
suatu
antagonis- β non-selektif kardiovaskular,
vasokonstriksi perifer, bronkokonstriksi, peningkatan retensi natrium,
menghambat kerja isoproterenol (Mycek, 2013).
b. Timolol dan
nadolol: antagonis- β non-selektif
Timolol menyekat juga adrenoseptor β1 dan β2
dan leih kuat dari propranolol.Nadolol kerjanya sangat panjang. Nadolol
mengurangi produksi cairan humor mata dan digunakan secara topikal pada
pengobatan glaukoma sudut terbuka menahun, dan dapat pula sesekali digunakan
untuk pengobatan sistemik hipertensi (Dept. farmakologi dan terapi UI, 2007).
c. Asebutolol,
atenolol, metoprolol, dan esmolol antagonis β selektif
Kerja : obat-obat
penyekat – β menurunkan tekanan darah pada hipertensi dan meningkatkan
toleransi latihan fisik dan angina (Mycek, 2013).
d. Pindolol,
dan asebutolol: antagonis dengan aktivitas agonis parsial
Kerja : pada
kardiovaskular asebutolol dan pindolol bukan penyekat murni; melainkan
mempunyai kemampuan memacu dengan lemah sekali reseptor β1 dan β2
dan oleh karena itu disebut memiliki aktivitas simpatomimetik intrinsik. Serta
pengurangan efek metabolic (Mycek, 2013).
e. Labetalol
penyekat α dan β
Kerja : obat ini
tidak mengganggu kadar lipid atau glukosa darah alam serum (Mycek, 2013).
Obat-obat yang mempengaruhi pelepasan atau ambilan kembali neurotransmitter
a. Reserpin
Awal kerja obat ini lambat timbul tetapi masa kerjanya
panjang. Bila obat dihentikan kerjanya menetap selama beberapa hari (Dept.
farmakologi dan terapi UI, 2007).
b. Guanetidin
Obat ini sekarang jarang digunakan untuk pengobatan
hipertensi karena sering menimbulkan hipotensi ortostatik dan mengganggu fungsi
seksual pada lelaki (Dept. farmakologi dan terapi UI, 2007).
c. Kokain
Kokain
adalah unik diantara anastesi lokal yang mampu menyekat enzim ATPase diaktifkan
Na dan K melintas membran sel neuron adrenergik.Akibatnya, norepinefrin
menumpuk dalam ruang sinaptik, menimbulkan bertambahnya aktivitas simpatetik
dan memperkuat kerja epinefrin dan norepinefrin. Oleh karena itu, dosis kecil
katekolamin mampu menimbulkan efek yang diperkuat pada pasien yang menelan
kokain dibanding yang tidak menelannya (dept.farmakologi Dan terapi UI, 2010).
Obat
yang mempengaruhi sistem saraf otonom terbagi 2 sesuai dengan mekanisme kerja
terhadap tipe neuron yang dipengaruhi kelompok pertama. Obat – obat kolinergik
yang terhadap reseptor yang berikatan dengan asetilkolin. Kelompok kedua obat-
obat adrenergik bekerja terhadap reseptor yang dipacu oleh norepinefrin atau
epinefrin. Obat kolinergik dan adrenergik bekerja dengan memicu atau menyekat
neuron dalam sistem saraf otonom ( Champe, 2013 ).
Anatomi sistem saraf otonom, yaitu ( Champe, 2013
)
1. Neuron
epinefrin : Sistem saraf otonom membawa impuls saraf dari SSP menuju organ
efektor melalui 2 jenis neuro efektor.
2. Neuron
aferen : neuron ( serabut ) aferen system saraf otonom penting dalam
pengeluaran reflex system ini ( sebagai contoh, penekana pada sinus koratiks
dan lengkung aorta ) dan pemberian sinyal kepada SSP untuk mempengaruhi cabang
eferen system saraf otonom untuk memberika tenggapan.
3. Neuron
simpatis : sistem saraf otonom eferen dibagi menjadi system saraf simpatis dan
parasimpatis, serta system saraf enteris.
4. Neuron
parasimpatis : serabut praganglion parasimpatis berasal dari cranium dan dari
region sacral medulla spinalis yang bersinapsis pada ganglion dekat, atau pada
per organ efektor.
5. Neuron
entiris :sistem saraf enteris merupakan divisi ketiga system saraf otonom.
System ini merupakan kumpulan serabut saraf yang mempersarafi saluran
pencernaan, pangkreas, dan kantung empedu.
Adrenoseptor dibagi menjadi
dua tipe utama, yaitu reseptor α memperantarai efek eksitasi dari amina
simpatomimetik, sementara efek inhibisinya secara umum diperantarai oleh
reseptor β (kecuali pada otot polos uterus, di mana stimulasi α merupakan
inhibisi, dan pada jantung, di mana stimulasi β dapat dibedakan dengan : (i)
fenolamin dan propanolol yang masing-masing memblok reseptor α dan β secara
selektif ; dan (ii) potensi relatif norepinefrin (NE), epinefrin (E), dan
isoprenalin (I) pada jaringan yang berbeda-beda (Neal, 2006).
Reseptor asetilkolin
(kolinoseptor) dibagi menjadi subtype nikotinik dan muskarinik. Asetilkolin
yang dilepaskan pada terminal saraf serabut parasimpatis pascaganglion bekerja
pada reseptor muskarinik dan dapat diblokir secara selektif oleh atropine.
Terdapat lima subtype reseptor muskarinik, tiga diantaranya sudah diketahui
dengan jelas, yaitu M1, M2 dan M3. Reseptor M1
terdapat pada otak dan sel parietal lambung, reseptor M2 terdapat
pada jantung, dan reseptor M3 terdapat pada otot polos dan kelenjar.
Reseptor nikotinik terdapat pada ganglion otonom dan medulla adrenal, dimana
efek asetilkolin (atau nikotin) dapat diblok secara selektif oleh
heksametonium. Reseptor nikotinik pada sambungan saraf otonom dari otot skele
tidak diblok oleh heksametonium, namun diblok oleh tubakurarin. Oleh karena
itu, reseptor pada ganglion dan sambungan saraf otot berbeda, meskipun keduanya
distimulasi oleh nikotin, sehingga disebut nikotinik (Neal, 2006).
. Penghambat saraf
adrenergik menghambat aktivitas saraf adrenergik berdasarkan gangguan sintesis,
atau penyimpanan dan penglepasan neurotransmiter di ujung saraf adrenergik.
Dalam kelompok ini termasuk guanetidin, guanadrel, reserpin, dan metirosin.
Guanetidin adalah prototipe penghambat saraf adrenergik. Guanetidin dan
guanadrel memiliki gugus guanidin yang bersifat basa relatif kuat. guanadrel
dan guanetidin bekerja dengan cara yang sama. Reserpin adalah alkaloid
terpenting dan Rauwolfia serpentina. Metirosin merupakan penghambat enzim
tirosin hidroksilase yang mengkatalisis konversi tirosin menjadi DOPA, dan yang
merupakan enzim penentu dalam biosintesis NE dan Epi. Pada dosis 1-4 g sehari,
obat ini mengurangi biosintesis NE dan Epi sebanyak 35-80% pada pasien
feokromositoma. Efek maksimal terjadi setelah berhari-hari, efek ini dapat
dilihat dengan mengukur kadar katekolamin dan metabolitnya dalam urin
(Sulistia, 2007).
B. Uraian
Obat dan Hewan Coba
1. Uraian
bahan
a. Aqua pro injeksi (Ditjen POM, 1979)
Nama
resmi : AQUA STERILE PRO INJECTION
Nama
lain : Air steril untuk injeksi
Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna dan
tidak berbau.
Kegunaan : Sebagai bahan pembuat injeksi dan
control.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.
b. Na
CMC (Ditjen POM, 1979)
Nama
resmi : NATRIICARBOXYMETHYLCELLULOSUM
Nama
lain : Natrium
Karboksimetilselulosa
Pemerian : Serbuk atau
butiran, putih atau putih kuning gading, tidak berbau atau hampir tidak
berbau,higroskopik.
Kelarutan : Mudah mendispersi
dalam air, membentuk
suspensi koloidal, tidak larut
dalam etanol (95%) P, dalam eter P dan dalam pelarutorganik lain.
Penyimpanan : Dalam wadah
tertutup rapat.
Kegunaan : Sebagai pensuspensi
2. Uraian obat
a. Atropin
(Sulistia, 2007)
Nama
paten : Hycocyamin, homatropin, cendotropin
Golongan obat :
Antagonis kolinergik antimuskarinik
Indikasi : Pada organ mudah efek samping
mulut kering, gangguan miksi, meteorisme sering terjadi tetapi tidak
membahayakan. Pada organ tua efek sentral terutama sindrom dimensi dapat
terjadi.
Kontaindikasi : Gagal ginjal, jantung dan hipertroti
prostat.
Efek
samping : Pada organ mudah efek
samping mulut kering, gangguan miksi, meteorisme sering terjadi tetapi tidak
membahayakan. Pada organ tua efek sentral terutama sindrom dimensi dapat
terjadi.
Farmakodinamik : Atropin
sulfat menghambat M. Constrictor pupillae
dan M. Ciliaris lensa mata, sehingga
menyebabkan midriasis dan siklopegia (paralilis mekanisme akomodasi) (Harvey, 2013).
Farmakokinetik : Aksi onset: cepat, absorpsi lengkap,
terdistribusi secara cepat dalam badan, menembus plasenta,masuk dalam air susu,
menembus sawar darah otak, metabolisme hepatik, ekskresi: urin
Dosis : Oral 3 dd 0,4-0,6 mg
tablet tetrad.
b. Pilokarpin
(Sulistia, 2007)
Nama
paten : Cendocarpin, Epicarpine
Golongan obat :
Agonis kolinergik kerja langsung
Indikasi : Anti glaukoma simpleks kronik
glaukoma tertutup
Kontraindikasi : Glaukoma tertutup
Efek
samping : Muntah dan efek kolinergik
perifer lainnya
Farmakodinamik : Memacu
sekresi kelenjar paling poten pada kelenjar keringat, air mata, dan saliva, tetapiobat ini tidak digunakan untuk
maksud demikian karena bersifat kurang selektif. Pilokarpin bermanfaat
merangsang produksi saliva pada pasien yang mengalami xerostomia akibat radiasi
pada kepala dan leher (Harvey, 2013).
Farmakokinetik : Efek
utamanya yang menyangkut terapi dapat terlihat pada pupil mata, usus dan
sambungan saraf otot.
Dosis : Pada glaukoma 2-4 dd
18-20 tetes larutan 1-3% (klorida, nitrat).
c. Epinefrin
(MIMS,
2010: 372)
Golongan obat : Agonis adrenergik kerja langsung
Indikasi : Anastesi lokal.
Kontraindikasi : Inflamasi lokal & atau sepsis.
Farmakodinamik : Memperkuat dan mempercepat daya kontraksi
otot jantung (myocard)
yang akan menyebabkan curah jantung meningkat sehingga mempengaruhi kebutuhan
efek oksigen dari otot jantung (Harvey, 2013).
Farmakokinetik : Metabolisme : diambil
oleh saraf adrenergic dan
dimetabolisme oleh monoamine oksidase dan katekol-o-metiltransferase.
Dosis : 1 amp IM atau SK.
d. Propanolol (MIMS, 2010: 45)
Golongan
obat : Antagonis adrenergik penghambat reseptor
β
Indikasi : Hipertensi, sebagai
monoterapi.
Kontraindikasi : Syok kardiogenik, sindrom sick sinus, bradikardia.
Farmakodinamik : Menghambat reseptor β, mengurangi curah jantung dan bersifat
inotropik dan kronotropik negatif. Akibat penghambatan reseptor β ialah curah
jantung, kekuatan, dan konsumsi oksigen akan menurun (Harvey, 2013).
Farmakokinetika : Onset beta-bloker oral 1 – 2 jam , durasi 6
jam. Distribusi Vd= 3,9 L/kg untuk dewasa menembus Plasenta, sejumlah kecil
masuk air susu. Ikatan protein pada bayi 68% dan dewasa 93%. Metabolisme aktif
di hati dan kombinasi tidak aktif.
Dosis : Awal 5 mg 1 x/hr, dapat
ditingkatkan menjadi 10-20 mg 1x/hari
C. Uraian Hewan Coba
Klasifikasi Hewan Mencit (Mus Musculus ) (Harrington (1972):
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Mamalia
Ordo :
Rodentia
Famili : Muridae
Suku :Murinae
Genus : Mus
Spesies :Mus musculus
D. Karakteristik Hewan Coba (Virginiana,
2007)
Berat
badan dewasa : jantan: 20 – 40g, betina:
18 – 35g
Mulai
dikawinkan : 8 minggu (jantan dan
betina)
Lama
kehamilan : 19 – 21 hari
Jumlah
pernapasan : 140-180/menit, turun menjadi 80 dengan anestesi, naik sampai 230
dalam stress.
Tidal
volume : 0,09 - 0,23
Detak
jantung : 600-650/menit, turun menjadi 350 dengan
anestesi, naik sampai 750 dalam stress.
Volume
darah : 76-80 ml/kg
Tekanan
darah : 130-160 sistol; 102-110 diastol, turun menjadi 110 sistol, 80
diastol dengan anestesi.
Kolesterol : 26,0-82,4 mg/100 mL
BAB
III
METODE KERJA
A. Alat dan Bahan
a. Alat
yang digunakan
Adapun
alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah labu takar, lap kasar, lap
halus, spoit 1mL, 3 mL, 5 mL dan stopwatch.
b. Bahan yang digunakan
Adapun
bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah aqua pro injeksi, Propanolol, Epinefrin, NaCMC dan
tissue.
B. Prosedur Kerja
a.
Pembuatan
bahan
Pembuatan Na-CMC 1%.
Disiapkan
alat dan bahan, kemudian Na-CMC ditimbang sebanyak 1 gram.Selanjutnya, 100 mL
air suling dipanaskan hingga suhu 700C, laluNa-CMC dilarutkan dengan
air suling yang sudah dipanaskan tadi sedikit demi sedikit dan kemudian diaduk.Setelah itu, larutan
Na-CMC dimasukkan kedalam wadah, kemudian disimpan didalam lemari pendingin.
b.
Pembuatan
obat
1. Epinefrin
Disiapkan
alat dan bahan, lalu sediaan obat epinefrin dipipet sebanyak 0,125 mL, kemudian volumenya
dicukupkan hingga 5
mL, dihomogenkan dan larutan diberikan ke hewan coba (mencit).
2. Propanolol
Disiapkan
alat dan bahan, setelah itu serbuk obat bisoprolol ditimbang sebanyak 3,05061 mg, lalu disuspensikan
dalam Na-CMC 1% sebanyak 5
mL dan larutan diberikan ke hewan coba (mencit).
c. Perlakuan hewan coba
1. Disiapkan
hewan yang telah diberi tanda
2. Dikelompokkan
hewan menjadi dua
kelompok
a) Mencit
1 seberat 20 gr
diberikan obat Epinefrin
secara i.p sebanyak 0,6 mL
b) Mencit
2 seberat 20 gr
diberikan obat Propanolol
secara i.p sebanyak 0,6 mL
3. Dilakukan
pengamatan terhadap efek farmakodinamik pada menit 15, 30, 60 dan 90.
Pengamatan meliputi miosis, midriasis,
diare, tremor, vasodilatasi, vasokontriksi, grooming, piloereksi, takikardia,
bradikardia dan saliva pada menit
4. Dicatat
efek yang terjadi.
d. Cara
kerja (Anonim, 2017)
1) Dikelompokkan
hewan coba menjadi 5 kelompok,
2) Kelompok
I, diberikan mencit (Mus musculus) Cendocarpine®
secara intraperitonial,
3) Kelompok
II, diberikan mencit (Mus musculus)
Cendotropine® secara intraperitonial,
4) Kelompok
III, diberikan mencit (Mus musculus) Cendotropin® secara intraperitonial dan
dilanjutakn dengan diberikan lagi Cendocarpin®
secara intraperitonial,
5) Kelompok
IV, diberikan mencit (Mus musculus) Epinefrin secara intraperitonial,
6) Kelompok
V, diberikan mencit (Mus musculus) Propanolol secara oral dan
dilanjutakan dengan diberikan lagi Epinefrin secara intraperitonial,
7) Dilakukan
pengamatan pada menit 15, 30, 60, dan 90 setelah pemberian obat. Pengamatan
meliputi pupil mata, diare, tremor kejang, warna daun telinga, grooming, dan
sebagainya,
8) Dicatat
hasil pengamatannya.
BAB
IV
HASIL PENGAMATAN
A. Hasil
1) Efek
farmakodinamik yang terjadi setelah pemberian obat Epinefrin dapat dilihat pada
tabel dibawah:
|
Perlakuan
|
BB
|
Pengamatan pada menit
|
|||
|
Obat : Epinefrin
|
20 gr
|
15
|
30
|
60
|
90
|
|
Miosis
|
+
|
+
|
-
|
-
|
|
|
Midriasis
|
-
|
-
|
+
|
-
|
|
|
Diare
|
+
|
-
|
-
|
-
|
|
|
Tremor
|
+
|
-
|
+
|
-
|
|
|
Vasodilatasi
|
-
|
-
|
+
|
-
|
|
|
Vasokontriksi
|
-
|
-
|
-
|
-
|
|
|
Grooming
|
+
|
+
|
+
|
+
|
|
|
Piloereksi
|
+
|
+
|
-
|
-
|
|
|
Takikardi
|
-
|
-
|
-
|
-
|
|
|
Bradikardi
|
+
|
+
|
-
|
-
|
|
|
Saliva
|
-
|
-
|
+
|
+
|
|
2) Efek
farmakodinamik yang terjadi setelah pemberian obat Propanolol dapat dilihat pada tabel
dibawah:
|
Perlakuan
|
BB
|
Pengamatan pada menit
|
|||
|
Obat : Propanolol
|
20 gr
|
15
|
30
|
60
|
90
|
|
Miosis
|
-
|
-
|
+
|
+
|
|
|
Midriasis
|
+
|
+
|
-
|
-
|
|
|
Diare
|
-
|
-
|
-
|
-
|
|
|
Tremor
|
-
|
+
|
-
|
-
|
|
|
Vasodilatasi
|
-
|
-
|
+
|
+
|
|
|
Vasokontriksi
|
+
|
+
|
-
|
-
|
|
|
Grooming
|
-
|
+
|
+
|
+
|
|
|
Piloereksi
|
-
|
-
|
-
|
-
|
|
|
Takikardi
|
+
|
+
|
-
|
-
|
|
|
Bradikardi
|
-
|
-
|
+
|
+
|
|
|
Saliva
|
-
|
-
|
-
|
-
|
|
Keterangan:
+ =
Efek farmakodinamik yang terjadi pada mencit
-
= Tidak terjadi efek
farmakodinamik pada mencit
B. Pembahasan
Sistem saraf otonom adalah
sistem saraf yang tidak dapat dikendalikan oleh kemauan. Sistem saraf otonom
berfungsi untuk mempertahankan keadaan tubuh dalam kondisi terkontrol tanpa
pengendalian secara sadar.
Pada susunan saraf otonom,
impuls disalurkan ke organ tujuan (efektor, organ ujung) secara tak
langsung.Saraf otonom di beberapa tempat terkumpul di sel-sel ganglion, dimana
terdapat sinaps, yaitu sela di antara dua neuron (sel saraf). Saraf yang
meneruskan impuls dari SSP ke ganglia dinamakan neuron preganglioner, sedangkan
saraf antara ganglia dan organ ujung disebut neuron post-ganglioner. Impuls
dari SSP dalam sinaps dialihkan dari satu neuron kepada yang lain secara
kimiawi dengan jalan neurotransmitter (juga disebut neurohormon). Bila dalam
suatu neuron impuls tiba di sinaps, maka pada saat itu juga neuron tersebut
membebaskan suatu neurohormon di ujungnya, yang melintasi sinaps dan merangsang
neuron berikutnya. Pada sinaps yang berikut dibebaskan.
Epinefrin
merupakan obat golongan simpatis yaitu agonis adrenergic yang berkerja
langsung, epinefrin
berinteraksi terhadap reseptor α dan β. Mekanisme kerja dari epinefrin dibagi berdasarkan tempat kerja, yaitu pada sistem
kardiovaskular dan sistem pernapasan. Pada kardiovaskular epinephrine dapat memperkuat dan mempercepat daya
kontraksi otot jantung (myocard)
yang akan menyebabkan curah jantung meningkat sehingga mempengaruhi kebutuhan
efek oksigen dari otot jantung.
Propanolol merupakan golongan obat penghambat beta yang digunakan untuk
mengibati hipertensi atau tekanan darah tinggi, angina dan gagal jantung.
Mekanisme kerja dari obat propanolol adalah mengurangi frekuensi detak jantung
dan tekanan otot jantung saat berkontraksi.
Prinsip dari percobaan ini yaitu penentuan efektifitas
obat sistem saraf otonom yakni, epinefrin, dan propanolol terhadap hewan coba mencit (Mus musculus) berdasarkan pengamatan efek farmakodinamik yang
timbul setiap interval waktu 15’, 30’, 60’ dan 90’
menit.
Efek yang nantinya diamati antaranya vasokonstriksi yang
ditandai dengan telinga pucat, vasodilatasi yang ditandai dengan telinga
berwarna merah, takikardia yang ditandai dengan jantung lebih cepat,
bradikardia yaitu jantung diperlambat, piloereksi atau bulu-bulu pada hewan
coba berdiri dan tanda-tanda lainnya.
Percobaan
menggunakan obat epinefrin dengan dosis obat yang diberikan kepada mencit sebesar dosis 0,6
mL secara oral sesuai
dengan volume maksimalnya sebab memiliki berat badan 20 g. Begitu juga dengan percobaan menggunakan obat
propanolol, mencit yang digunakan memiliki berat 20 g sehingga volume
pemberiannya sebanyak 0,6 mL.
Pada percobaan menggunakan obat epinefrin, mencit
mengalami miosis, diare, tremor, grooming, piloereksi, dan bradikardi pada
menit ke-15. Pada menit ke-30, mencit masih mengalami miosis, grooming,
piloereksi yang ditandai dengan terlihat bulu-bulu pada mencit berdiri serta
bradikardi. Lalu pada menit ke-60, mencit mengalami midriasis yang ditandai
dengan melebarnya pupil mata, tremor, vasodilatasi yang ditandai dengan telinga
mencit yang memerah akibat pelebaran pembuluh darah, grooming, serta saliva.
Sedangkan pada menit ke-90, mencit masih mengalami grooming dan saliva.
Efek farmakodinamik diatas menunjukkan bahwa epinefrin termasuk dalam
golongan obat agonis adrenergik kerja langsung yang ditandai dengan grooming,
tremor, saliva serta vasodilatasi pada mencit. Hal ini sesuai dengan literatur
dimana epinefrin dapat memperkuat dan
mempercepat daya kontraksi otot jantung (myocard)
yang akan menyebabkan curah jantung meningkat sehingga mempengaruhi kebutuhan
efek oksigen dari otot jantung.
Pada percobaan menggunakan obat propanolol, mencit
mengalami midriasis yang ditandai dengan pelebaran pupil, vasokontriksi, dan
takikardia pada menit ke-15. Pada menit ke-30, mencit masih mengalami midriasis,
vasokontriksi, takikardia, serta tremor dan grooming. Pada menit ke-60, mencit
tidak lagi mengalami midriasis, vasokontriksi dan takikardia, melainkan mencit
mengalami miosis, vasodilatasi yang ditandai dengan telinga mencit yang memerah
karena pelebaran pembuluh darah, grooming dan bradikardia. Sedangkan pada menit
ke-90, mencit masih mengalami miosis, vasodilatasi, grooming, dan bradikardia
yang ditandai dengan denyut jantung yang melemah.
Efek farmakodinamik diatas menunjukkan bahwa propanolol
termasuk dalam golongan obat antagonis adrenergik penyekat β yang ditandai vasodilatasi, grooming, dan
bradikardia. Hal ini sesuai dengan literatur
dimana antagonis adrenergik penyekat β dapat menyebabkan tekanan darah menurun atau bradikardia dan pada mencit dan
tikus putih nampak pada perubahan warna ujung telinganya menjadi lebih merah.
Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilakukan diperoleh hasil
efek farmakodinamik dari obat yang digunakan beberapa sesuai dengan literature.
Adapun faktor kesalahannya yaitu mencit
yang mati saat praktikum. Hal ini terjadi karena bebebrapa faktor antara lain
karena mencit rentan mengalami stress
saat sedang diberi perlakuan serta kesalahan saat melakukan perhitungan obat
sehingga terjadi overdosis pada mencit yang menyebabkan kematian.
BAB
V
KESIMPULAN
DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan
yang telah didapatkan dapat disimpulkan bahwa obat epinefrin termasuk obat
golongan agonis adrenergik kerja langsung yang ditandai dengan efek
farmakodinamik setelah pemberian obat yaitu grooming, tremor, saliva serta
vasodilatasi pada mencit. Dan efek farmakodinamik pada hewan coba (mencit)
setelah pemberian obat propanolol yang ditandai vasodilatasi,
grooming, dan bradikardia. Hal ini menunjukkan bahwa propanolol
termasuk dalam golongan obat antagonis adrenergik penyekat β.
B.
Saran
Sebaiknya
praktikan lebih teliti lagi dalam melakukan percobaan dan pada saat melakukan
perhitungan bahan sehingga kesalahan overdosis yang menyebabkan kematian pada
mencit dapat dihindari.
DAFTAR
PUSTAKA
Anonim., 2017., Farmakologi dan
Toksikologi II Revisi 7., Tim Dosen Lab Farmakologi., Universitas Muslim
Indonesia: Makassar.
Anonim, 2016, MIMS Petunjuk Konsultasi, Edisi 16, PT. Bhuana Ilmu Populer:
Jakarta.
Champe,
Pamela C. 2013. Farmakologi ulasan
bergambar. Edisi IV. EGC: Jakarta.
Ditjen POM, 1979. Farmakope Indonesia Edisi III.Departemen
Kesehatan Republik Indonesia: Jakarta.
Farmakologi
dan Terapi. Edisi 5. 2007. Departemen Farmakologi dan Terapeutik FK UI :
Jakarta.
Ganiswara, S.,2012,Farmakologi dan Terapi Edisi
V, Bagian Farmakologi dan terapi kedokteran UI: Jakarta.
Gilman,
G,. 2010. Manual Farmakologi dan Terapi. EGC:
Jakarta.
Harrington, J., F., 1972., Seed Storage and Longevity, in : Seed
Biologyvo. III.ed.by TT. Kozlowski. Academic Press: New York, London.
Harvey A. Richard., 2013. Farmakologi Ulasan Bergambar Edisi ke-4.
Buku kedokteran,EGC. Jakarta.
Irianto,
Koes. 2013. Anatomi dan Fisiologi untuk
Mahasiswa. Alfabeta : Bandung
Mycek, Mary. J. dkk. 2013. Farmakologi Ulasan Bergambar Edisi 2.
Widya medika: Jakarta
Neal, Michael j.
2006., At a glance farmakologi medis.
Erlangga : Jakarta.
Sloene,
Ethel. 2004. Anatomi dan fisiologi untuk
pemula. Penerbit buku kedokteran EGC : Jakarta.
Sulistia, dkk, 2007., Farmakologi Dan Terapi, Departemen Farmakologik dan Terapeutik:
Jakarta.
Virgiana, R., 2007,Pengaruh Pemberian Larutan serbuk daun
manggis (GraciamangostanaL.) Terhadap Berat Testis Mencit(Mus musculus), GalurDDY.Skripsi
SarjanaPendidikan Biologi: UHAMKA.
LAMPIRAN
a.
Cara Kerja

Hewan coba mencit
Epinefrin
Propanolol
Diamati efek
farmakodinamiknya
Dicatat data pengamatan
b.
Perhitungan
1.
Cendotropine
5 mg/5 ml
Dosis Dewasa = 
Dosis mencit = 0,083mg/kgBB 
Dosis max. =
mg
Larutan stok =
/ 5 mL
M1 .V1 =
M2 . V2
1 mg . x =
0,15 mg . 5 mL
x =
0.75 mL
Vp = 
Perbaikan Dosis min. =
mg (0,1mg/5mL)
Pengenceran
=
5 mg / 5 mL
x =
0,1 mg . 5 mL / 1mg
x =
0,5 mL
2.
Cendocarpine
10 mg/5 ml
Dosis Dewasa = 
Dosis mencit = 0,166 mg/kgBB 
Dosis max. =
mg
Larutan stok =
/ 5 mL
M1 .V1 =
M2 . V2
2 mg . x =
0,305 mg . 5 mL
x
= 0,76 mL
Vp = 
Perbaikan
Dosis
min. =
mg (0,205 mg / 5 mL)
x =
0,205 mg . 5 mL / 2mg
x =
2,05 mL
3.
Epinefrin
1 mg/ml
Dosis Dewasa = 
Dosis mencit = 0,016 mg/kgBB 
Dosis mencit 30 gram =
mg
Larutan stok =
/ 5 mL
Pengenceran
=
M1 .V1 =
M2 . V2
1 mg . x =
0,025 mg . 5 mL
x
= 0,125 mL
Vp = 
4.
Propanolol
10 mg/tab
Dosis Dewasa = 
Dosis mencit = 0,166 mg/kgBB 
Dosis mencit max. =
mg
Larutan stok = 
BYD =

Vp = 
Tidak ada komentar:
Posting Komentar