Jumat, 25 Mei 2018

[Laporan] Identifikasi dan Penetapan Kadar Sediaan Tablet Papaverin HCl Secara Ekstraksi Pelarut dan Volumetri


LABORATORIUM KIMIA FARMASI
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA


LAPORAN PRAKTIKUM
ANALISIS FARMASI
“Identifikasi dan Penetapan Kadar Sediaan Tablet Papaverin HCl
Secara Ekstraksi Pelarut dan Volumetri”

Description: Logo Lab Kimia

OLEH :
NAMA                       : FENI SUGANDI
STAMBUK              : 15020140105
KELAS/KLP           : C4 / I (SATU)
ASISTEN                



FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MAKASSAR
2016
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Suatu senyawa kimia biasanya di analisis melalui unsur, ion, radikal, atau gugusnya. Pada analisa senyawa organik secara volumetrik biasanya dibagi berdasarkan reaksi yang terjadi selama titrasi seperti aside-alkalimetri, pengendapan, oksidasi-reduksi, dan lain-lain
Perlu diperhatikan bahwa tidak ada satu penetapan pun yang dapat digunakan untuk analisis gugus tertentu, ion tertentu, atau radikal tertentu. Adanya gugus lain pada senyawa lain yang terdapat bersamanya, dapat mengganggu atau mencegah reaksi sehinggareaksi tersebut kuantitatif.
Adanya alasan ini, maka cara analisis telah dikembangkan. Kita harus mengetahui dan dapat memilih cara analisis yang paling cocok untuk senyawa atau atau suatu campuran yang dianalisis, kita harus paham betul terhadap metode yang digunakan untuk penetapan kadar serta reaksinya.
Papaverin HCl merupakan senyawa kimia yang sering di gunakan sebagai bahan aktif dalam formulasi obat, karena khasiatnya sebagai analgesic dan antipasmodik. Papaverin HCl bekerja sebagai antispasmodik pada kelainan fungsi saluran cerna yang secara langsung bekerja sebagai relaksan terhadap otot polos dengan cara menghambat fosfodiesterase.
Pada praktikum kali ini akan dilakukan identifikasi dan penetapan kadar Papaverin HCl dalam sediaan tablet dengan metode volumetri dan secara ekstraksi pelarut berdasarkan literatur yang menyatakan bahwa tablet papaverin HCl mengandung papaverin HCl tidak kurang dari 93,0% dan tidak lebih dari 107,0%.
Metode ini mula-mula digunakan pada kimia analitik, tidak hanya untuk pemisahan tetapi juga untuk analisis kuantitatif. Selanjutnya metode ini berkembang dan dapat digunakan untuk kegunaan preparative dan pemurniaan pada skala kerja termasuk didalam bidang kimia organik, anorganik, dan biokimia. Dalam industri metode ini banyak dipakai untuk menghilangkan zat-zat yang tidak diinginkan dalam hasil, misalnya pada pemuniaan minyak tanah atau minyak goreng dan pemurniaan natrium hidroksida yang dihasilkan dari proses elektrolisis
1.2 Maksud Praktikum
Adapun maksud dari percobaan ini adalah untuk memahami dan menganalisis suatu kadar papavern HCl dengan menggunakan metode ekstraksi pelarut dan volumetri.
1.3 Tujuan Praktikum
Adapun tujuan dari percobaan ini adalah untuk menentukan kadar paparverin HCl dari sediaan tablet dengan mengunakan metode ekstraks pelarut dan volumetri.



BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Teori Umum
Metode ini mula-mula digunakan pada kimia analitik, tidak hanya untuk pemisahan tetapi juga untuk analisis kuantitatif. Selanjutnya metode ini berkembang dan dapat digunakan untuk kegunaan preparative dan pemurniaan pada skala kerja termasuk didalam bidang kimia organik, anorganik, dan biokimia. Dalam industri metode ini banyak dipakai untuk menghilangkan zat-zat yang tidak diinginkan dalam hasil, misalnya pada pemuniaan minyak tanah atau minyak goreng dan pemurniaan natrium hidroksida yang dihasilkan dari proses elektrolisis (Yazid, 2005).
Prinsip metode ini didasarkan pada zat terlarut dengan perbandingan tertentu antar dua pelarut yang tidak saling bercampur seperti eter, kloroform, karbontetra klorida, dan karbon disulfida. Diantara berbagai jenis pemisahan, ekstraksi pelarut merupakan metode yang paling baik dan popular, karena metode ini dapat dilakukan baik tingkat mikro maupun makro. Pemisahannya tidak memerlukan khusus atau canggih, melainkan hanya berupa corong pemisah. Seringkali untuk melakukan pemisahan hanya dilakukan beberapa menit. (Yazid, 2005.)
Berdasarkan bentuk campurannya (yang diekstraksi), suatu ekstraksi dibedakan menjadi dua, yaitu (Yazid, 2005) :
1.      Ektraksi padat-cair, zat yang diekstraksi terdapat dalam campuran yang berbentuk padatan.
2.      Ekstraksi cair-cair, zat yang diekstraksi terdapat dalam campuran yang berbentuk cairan.
Pada ekstraksi cair-cair, zat yang diekstraksi terdapat didalam campuran yang berbentuk cair. Ekstraksi cair-cair sering juga disebut ekstraksi pelarut, banyak dilakukan untuk memisahkan zat seperti iod, atau logam-logam tertentu dalam larutan air (Yazid, 2005).
Ekstraksi cair-cair digunakan sebagai cara untuk memperlakukan sampel atau clean-up sampel untuk memisahkan analit-analit dari komponen matrix yang mungkin menggangu pada saat kuantifikasi atau deteksi analit. Disamping itu, ekstraksi pelarut juga digunakan untuk memekatkan analit yang ada didalam sampel dalam jumlah kecil sehingga tidak memungkinkan atau menyulitkan untuk deteksi dan kuantifikasinya. Salah satu fasenya seringkali berupa air dan fase yang lain pelarut organik seperti kloroform atau petroleum eter. Senyawa-senyawa yang bersifat polar akan ditemukan di dalam fase air sedangkan senyawa-senyawa yang bersifat hidrofobik akan masuk pada pelarut anorganik. Analit yang tereksasi ke dalam pelarut organik akan mudah diperoleh kembali dengan cara penguapan pelarut, sedangkan analit yang masuk kedalam fase air seringkali diinjeksikan secara langsung kedalam kolom (Rohman, 2009).
Analit-analit yang mudah terekstraksi dalam pelarut organic adalah molekul-molekul netral yang berikatan secara kovalen denan substituent yang bersifat non polar atau agak polar. Sementara itu, senyawa-senyawa polar dan juga senyawa-senyawa yang mudah mengalami ionisasi akan tertahan dalam fase air (Rohman, 2011).
Tiga metode dasar pada ekstraksi pada ekstraksi cair-cair adalah ekstraksi  bertahap (bath), ekstraksi kontinyu dan ekstraksi counter current. Ekstraski bertahap merupakan cara yang paling sederhana. Caranya yaitu cukup dengan menambahkan  pelarut pengekstraksi yang tidak bercampur dengan pelarut semula kemudian dilakukan pengocokan sehingga terjadi kesetimbangan konsentrasi zat yang akan diekstraksi pada kedua lapisan, setelah itu tercapai lapisan didiamkan dan dipisahkan, metode ini sering digunakan untuk pemisahan analitik. Kesempurnaan ekstraksi tergantung pada banyaknya ekstraksi yang dilakukan (Milama, 2014).
Titrasi adalah proses penentuan banyaknya suatu larutan dengan konsentrasi yang diketahui dan diperlukan untuk bereaksi secara lengkap dengan sejumlah contoh tertentu yang akan di analisis. Prosedur analitis yang melibatkan titrasi dengan larutan-larutan yang konsentrasinya diketahui disebut analisis volumetri. Dalam analisis larutan asam dan basa, titrasi melibatkan pengukuran yang seksama, volume-volume suatu asam dan suatu basa yang tepat saling menetralkan (Keenan, 2008).
Larutan yang ditambahkan dari buret disebut titran, sedangkan larutan yang ditambah titran itu disebut titrat. Dengan jalan ini, volume atau berat titran dapat diukur dengan secara teliti dan bila konsentrasi juga diketahui, maka jumlah mol titran dapat dihitung. Karena jumlah titrat ekivalen atau sama dengan jumlah titran, maka jumlah mol titrat dapat diketahui pula berdasar persamaan reaksi dan koefisiennya. Perhatikanlah sekali lagi arti ungkapan ”pereaksi telah ekivalen”, yang berarti: telah tepat banyaknya untuk menghabiskan zat yang direaksikan. Titran dan titrat tepat saling menghabiskan; tidak ada kelebihan yang satu maupun yang lain. Ini tidak selalu berarti, bahwa pereaksi dan zat yang direaksikan telah sama banyak, baik volume maupun jumlah gram atau mol-nya. Hal ini jelas, sebab jumlah yang bereaksi ditentukan oleh persamaan reaksi (Khopkar, 2010).
2.2 Uraian Bahan
1. Aquadest (Dirjen POM, 1979 : 96)
Nama Resmi                          : AQUA DESTILLATA
Nama Lain                              : Aquadest, air suling
RM/BM                                    : H2O/18,02
Rumus Struktur                     : H-O-H
Pemerian                                : Cairan tidak berwarna, tidak berbau,  dan tidak berasa
Kelarutan                                : Larut dengan semua jenis larutan
Penyimpanan                        : Dalam wadah tertutup kedap
Kegunaan                              : Zat pelarut
2.  Etanol (Dirjen POM : 65)
Nama resmi                            : AETHANOLUM
Nama lain                               : Alkohol, etanol, ethyl alkohol
RM/BM                                     : C6H6OH/46,07
Kelarutan                                : Sangat mudah larut dalam air, dalam kloroform P dan dalam eter P.
Pemerian                                : Cairan tidak berwarna, jernih, mudah menguap dan mudah bergerak; bau khas rasa panas, mudah terbakar dan memberikan nyala biru yang tidak berasap.
Struktur                                    :
                                                 Description: Hasil gambar untuk rumus struktur etanol
3.  Indikator PP (Dirjen POM, 1979 : 675)
Nama Resmi                           : FENOLFTALEIN
Nama Lain                              : Fenolftalein, Indikator PP
RM                                            : C20H14O4
BM                                            : 318,33
Pemerian                                : Serbuk hablur putih atau putih kekuningan lemah, tidak berbau, stabil di udara.  
Kelarutan                                : Praktis tidak larut dalam air, larut dalam etanol
Penyimpanan                        : Dalam wadah tertutup rapat




4. Natrium Hidroksida (Dirjen POM, 1979 : 412 )   
Nama                                       : Natrium Hidroksida
Pemerian                                : Bentuk batang, butiran, massa hablur atau keping, kering, keras, rapuh dan menunjukkan susunan hablur, putih, mudah meleleh, basah. Sangat alkalis dan korosif, segera menyerap karbondioksida.
Kelarutan                                : Sangat mudah larut dalam air dan dalam etanol (95%) P.
Rumus molekul                     : NaOH
Struktur                                    : Na – O – H
5.    Papaverin HCl (Dirjen POM 1979: 472)
Nama resmi                            : PAPAVERINI HYDROCHLORIDUM
Nama lain                               : Papaverina hidroklorida
Rumus molekul                     : C20H21NO4. HCl
Rumus bangun                     :
                                                   
Berat molekul                         : 375,86
Pemerian                                : Hablur atau serbuk hablur, putih, kemudian pedas.
Kelarutan                                : Larut dalam  lebih kurang 40 bagian air dan dalam lebih kurang 120 bagian etanol (95%)P.
Penyimpanan                        : Dalam wadah tertutup baik, terlindung dari cahaya.
Kegunaan                              : Sebagai sampel


6.    Natrium klorida (Dirjen POM 1979)
Nama Resmi                           : NATRII CHLORIDUM
Nama Lain                              : Natrium klorida
RM/BM                                     : NaCl / 58,44         
Pemerian                                : Hablur  heksahedral,  tidak berwarna, atau serbuk hablur putih, tidak berbau, rasa asin.
Kelarutan                                : Larut dalam 2,8 bagian air, dalam 2,7 bagian air mendidih, dan lebih kurang 10 bagian gliserol P, sukar larut dalam etanol (95%) P.
Penyimpanan                        : Dalam wadah tertutup rapat
2.3 Prosedur Kerja (Anonim, 2016)
a.  Identifikasi Papaverin HCl
1.    Larutan asam yang diperoleh pada penetapan kadar akan membentuk endapan dengan larutan raksa (III) klorida P, dengan larutan iodium p, dengan larutan kalium heksasianoferat (III) P dan dengan larutan trinitrofenol P.
2.    Serbuk tablet papaverin HCl dengan larutan pereaksi mayer akan membentuk endapan putih, larutan berwarna merah.
3.    Serbuk tablet Papaverin HCl dengan H2SO4 pekat menghasilkan warna larutan merah anggur lama kelamaan menjadi ungu.
4.    Serbuk tablet Papaverin HCl dengan larutan HNO3 pekat menghasilkan warna larutan orange kekuningan.
5.    Serbuk tablet Papaverin HCl dengan larutan K3Fe(CN)6 + Larutan FeCl3 maka warna larutan menjadi hijau.
b. Penetapan Kadar Papaverin HCl secara ekstraksi pelarut
1.    Siapkan fase air dengan mencampur 100 mL air, 50 mL NaOH 1 N dan 30 mg serbuk NaCl. Kocok campuran ini dalam corong pisah dengan 50 mL Kloroform selama beberapa menit, diamkan sampai setimbang lalu pisahkan kedua fasa.
2.    Timbang 20 tablet papaverin HCl dan tentukan berat rata-rata tiap tablet, lalu tablet digerus sampai halus.
3.    Timbang seksama serbuk tablet papaverin HCl yang mengandung kira-kira 200 mg papaverin HCl masukkan dalam corong pisah.
4.    Tambahkan 25 mL fasa air yang baru dibuat tadi ke dalam corong pisah untuk melarutkan papaverin HCl.
5.    Tambahkan 10 mL fasa kloroform lalu kocok selama beberapa menit, diamkan dan biarkan sampai setimbang. (jika larutan tidak memisah, maka ditambahkan serbuk garam secukupnya. Dan jika larutan berbusa atau mengandung partikel yang tidak larut, maka lakukan penyaringan).
6.    Pisahkan kedua fasa larutan dan kumpulkan fasa kloroform secara kuantitatif dengan gelas kimia yang sudah ditera.
7.    Lakukan cara (5) & (6) sebanyak tiga kali terhadap cara (4). Selanjutnya, fasa kloroform diuapkan diatas waterbath sampai berat konstan.
8.    Timbang berat papaverin dalam fasa kloroform dan hitunglah kadar papaverin HCl dalam sediaan tablet (gunakan persamaan 1). Bandingkan hasilnya dengan persyaratan persediaan menurut Farmakope Indonesia.
c. Penetapan Kadar Asam Salisilat secara Volumetri
1.    Sampel papaverin yang ditetapkan kadarnya adalah fasa kloroform hasil ekstraksi pada percobaan bagian III = B.
2.    Sampel berupa ekstrak kering papaverin HCl dilarutkan dengan 20 mL aquadest bebas CO2, kemudian dipisahkan kedalam erlenmeyer. Tambahkan 10 mL etanol netral (sebanyak 15 mL etanol 95% ditambahkan satu tetes merah fenolkemudian ditambahkan bertetes-tetes NaOH 0,1 N hingga larutan berwarna merah
3.    Tambahkan indikator PP 1% sebanyak 12 tetes, lalu dititrasi dengan larutan baku NaOH 0,1 N sehingga terjadi perubahan warna larutan menjadi merah muda yang menetap.
4.    Tentukan kadar papaverin HCl menggunakan persamaan (2)
5.    Bandingkan hasil percobaan pada bagian III.B





BAB 3 METODE KERJA
3.1 Alat Praktikum
Adapun alat yang digunakan pada praktikum ini adalah buret, corong pisah, corong, erlenmeyer, gelas kimia, gelas ukur, karet bulk, pipet tetes, pipet volum, timbangan analitik dan water bath.
3.2 Bahan Praktikum
Adapun bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah Aquadest, aquadest bebas CO2, etanol netral, indikator PP 1%, Kloroform, serbuk NaCl, NaOH 0,1 N dan tablet Papaverin HCl.
3.3 Cara Kerja
a. Fase air (uji kuantitatif).
Dimasukan aquadest sebanyak 100 mL kedalam corong pisah. Ditambahkan NaCl 30,4 mg kedalam corong pisah , dilarutkan dengan NaOH 1 N sebanyak 50 mL lalu homogenkan. Ditambahkan kloroform sebanyak 50 mL, sehingga terbentuk 2 fasa (fasa air diatas dan fasa kloroform dibawah) lalu pisahkan kedua fasa tersebut.
  1. Penetapan kadar papaverin HCl secara ekstraksi pelarut.
Ditimbang 20 tablet sampel papaverin HCl dan dirata-ratakan, lalu tablet digerus sampai halus. Ditimbang serbuk papaverin HCl 8,7 mg masukkan kedalam corong pisah, dilarutkan dengan aquadest 25 mL. Ditambahkan fasa kloroform 10 mL dan dipisahkan fasa kloroform yang terbentuk. Ulangi sebanyak 3x. Diuapkan fase kloroform menggunakan cawan porselin yang beratnya sudah ditara, setelah itu didinginkan dalam deksikator. Ditimbang berat papaverin HCl dalam afas kloroform dan dihitung kadar papaverin HCl.
  1. Penetapan kadar papaverin HCl secara volumetri.
Sampel papaverin yang telah kering, dilarutkan dalam 20 mL air bebas CO2 dalam erlenmeyer. Ditambahkan 10 mL etanol netral, lalu ditambahkan indikator PP 1% sebanyak 2 tetes. Dititrasi dengan larutan baku NaOH 0,1 N hingga terjadi perubahan warna larutan menjadi merah muda. Ditentukan kadar papaverin HCl





BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil pengamatan
4.1.1 Hasil identifikasi
A.  Papaverin (generik)
1)  Serbuk tablet + H2SO4 Pekat –> Ungu
2)  Serbuk tablet + HNO3 Pekat –> Orange kekuningan
3)  Serbuk tablet + K3Fe(CN) 6 + FeCl3 –> Hijau
B.  Spasminal
1)  Serbuk tablet + H2SO4 Pekat –> Merah anggur
2)  Serbuk tablet + HNO3 Pekat –> Orange kekuningan
3)  Serbuk tablet + K3Fe(CN) 6 + FeCl3 –> Hijau
4.1.2 Metode ekstraksi
Sampel
Berat Ekstraksi (g)
Kadar %
Papaverin
0,0611 g
6,711 %
Spasminal
0,2606 g
9,34 %
4.1.3 Metode alkalimetri
Sampel
Volume Titran (mL)
Kadar %
Papaverin
1 mL
1,87 %
Spasminal
1 mL
1,87 %
4.1.4 Perhitungan
a. Penetapan kadar secara ekstraksi pelarut
Diketahui :
Bobot wadah                           = 61.3908 g
Bobot wadah + Ekstrak          = 61.4519 g
Bobot ekstrak(BE)       = (Bobot wadah+Ekstrak)-Bobot wadah
                                       = 61.4519 g - 61.3908 g = 0.611 g
Berat sampel (BS)      = 0.9023 g
b. Penetapan kadar secara titrasi volumetri
Diketahui :
Konsentrasi NaOH                 = 0.1103 N
Volume titrasi                          = 1 mL
BE Papaverin                          = 33.94
Berat Sampel (BE)                  = 200 mg
1.    Spasminal®
a. Penetapan kadar secara ekstraksi pelarut
Diketahui :
Bobot wadah                           = 60.0000 g
Bobot wadah + Ekstrak         = 60.2067 g
Bobot ekstrak(BE)= (Bobot wadah + Ekstrak) - Bobot wadah
= 60.000g -60.2067 g = 0.2067 g
Berat sampel (BS)                  = 2.7891 g
b. Penetapan kadar secara titrasi volumetri
Diketahui :
Konsentrasi NaOH                 = 0.1103 N
Volume titrasi                          = 1 mL
BE Papaverin                          = 33.94
Berat Sampel (BE)                  = 200 mg
4.2 Pembahasan
Ekstraksi adalah pemisahan suatu zat atau beberapa dari suatu padatan atau cairan dengan bantuan pelarut, [emisahan terjadi atas dasar kemampuan larutan yang berbeda-beda dari komponen campuran tersebut. Ekstraksi cair-cair sering juga disebut ekstraksi pelarut, banyak dilakukan untuk memisahkan zat seperti iod, atau logam-logam tertentu dalam larutan air.
Ekstraksi cair-cair digunakan sebagai cara untuk memperlakukan sampel atau clean-up sampel untuk memisahkan analit-analit dari komponen matrix yang mungkin menggangu pada saat kuantifikasi atau deteksi analit. Disamping itu, ekstraksi pelarut juga digunakan untuk memekatkan analit yang ada didalam sampel dalam jumlah kecil sehingga tidak memungkinkan atau menyulitkan untuk deteksi dan kuantifikasinya.
Papaverin HCl merupakan senyawa kimia yang sering di gunakan sebagai bahan aktif dalam formulasi obat, karena khasiatnya sebagai analgesic dan antipasmodik. Papaverin HCl bekerja sebagai antispasmodik pada kelainan fungsi saluran cerna yang secara langsung bekerja sebagai relaksan terhadap otot polos dengan cara menghambat fosfodiesterase.
Pada praktikum ini dilakukan identifikasi dan penetapan kadar tablet Papaverin menggunakan metode ekstraksi pelarut dan volumetri (alkalimetri). Sampel yang digunakan ada dua macam yaitu papaverin dan Spasminal®. Tujuan dari praktikum ini adalah untuk menentukan kadar paparverin HCl dari sediaan tablet dengan mengunakan metode ekstraksi pelarut dan volumetri.
Gravimetri merupakan salah satu cara analisis kuantitatif secara volumetri. Analisis volumetri merupakan analisis untuk menentukan jumlah zat yang tidak diketahui dengan mengukur volume larutan reaktan yang dibutuhkan agar bereaksi sempurna. Pada proses gravimetri ini didasarkan pada reaksi pengendapan, contohnya: analisis gravimetri adalah argentometri.
Argentometri adalah titrasi terhadap sampel dengan menggunakan larutan baku garam perak. Dimana titrasi adalah proses mengukur volume larutan di dalam buret ( konsentrasi sudah di ketahui ) yang ditambahkan ke dalam larutan lain dan diketahui volumenya sampai terjadi reaksi sempurna. Pengendapan terjadi umumnya dikarenakan terjadinya reaksi antara sampel dan titran membentuk senyawa yang hasil kali konsentrasi ion-ionnya lebih tinggi dari Ksp teoritisnya. Argentometri sering digunakan untuk menetapkan kadar garam dapur, potassium, dan bromida.
Mula-mula dilakukan identifikasi terhadap sediaan tablet papaverin HCl tablet generik dan Spasminal®. Masing-masing dari sediaan tablet papaverin ini digerus hingga menjadi serbuk. Setelah itu diambil sedikit bagian dari serbuk yang telah digerus tersebut dan ditambahkan H2SO4 pekat dan keduanya menghasilkan perubahan warna menjadi merah anggur yang berarti positif mengandung papaverin. Selanjutnya, diambil sedikit bagian dari serbuk yang telah digerus tersebut dan ditambahkan HNO3 pekat dan keduanya mengahsilkan perubahan warna menjadi orange kekuningan yang berarti serbuk positif mengandung papaverin. Dan yang terakhir, serbuk tablet papaverin ditambahkan K3Fe(CN)6 dan FeCl3 juga memberikan hasil positif yaitu perubahan warna menjadi warna hijau. Dari hasil identifikasi ini artinya dari sediaan tablet papaverin HCl generik maupun paten, keduanya positif mengandung papaverin.
Penambahan HCl sebagai pemberi suasana asam dalam larutan dan NaOH sebagai pemberi suasana basa, penambahan H2SO4 juga akan membuat larutan bersuasana asam yang akan lebih mempermudah atau mempercepat reaksi titrasinya.. Eter sebagai pelarut organik non-polar.sedangkan Air sebagai pelarut organik polar.
Alasan penambahan kloroform Tujuannya karena kloroform (CHCl3) digunakan sebagai pelarut karena kloroform itu sendiri bersifat nonpolar. Psedangkan tujuan digunakan fase air karena air merupakan pelarut polar yang tidak dapat bercampur dengan pelarut non polar. Kemudian Tujuan dari penambahan indikator PP adalah untuk mengetahui pH dari suatu larutan yang bersifat basa dan untuk dapat membantu proses perubahan warna, tujuan penambahan air bebas CO2 agar tidak terjadi kekeruhan pada larutan yang disebabkan oleh adanya kuman dan bakteri dalam air.
Selanjutnya dilakukan penetapan kadar secara ekstraksi pelarut, persen kadar yang diperoleh adalah untuk sampel papaverin 6. 711 % sedangkan obat spasminal® diperoleh persen kadar nya adalah 9.34%
Untuk penentapan kadar secara titrasi alkalimetri diperoleh persen kadar yang sama untuk kedua sampel yaitu 1.87%. hal ini disebabkan karena volume titran yang diperoleh sama – sama 1 mL.
Hasil kadar yang didapatkan dari kedua metode ini tidak sesuai dengan yang tertera di Farmakope Indonesia yang menyatakan bahwa tablet papaverin HCl mengandung papaverin HCl tidak kurang dari 93,0% dan tidak lebih dari 107,0%.
Adapun faktor kesalahan yang dapat terjadi yaitu ketidaktepatan pemipetan bahan-bahan pereaksi, pereaksi yang digunakan kurang baku, penggunaan alat yang belum dikeringkan sehingga terdapat air pada alat yang digunakan, dan kestabilan pereaksi yang lemah sehingga tidak dapat stabil pada beberapa kondisi seperti pH atau suhu ruangan penyimpanan.




BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilakukan disimpulkan bahwa spasminal® mengandung papaverin HCl dengan uji sampel ditambahkan asam sulfat pekat menghasilkan warna merah anggur, sampel ditambahkan asam nitrit pekat menghasilkan warna orange kekuningan dan sampel ditambahkan kalium ferotiosianat tambah besi klorida menghasilkan warna hijau dan kadar papaverin HCl dengan metode ekstraksi pelarut yaitu 6,711% untuk sampel papaverin dan 9,34% untuk kadar spasminal® sedangkan dengan metode volumetri yaitu kedua sampel menghasilkan 1,87%.
5.2 Saran
Diharapkan kepada laboratorium kimia farmasi untuk melengkapi penyediaan bahan praktikum, seperti pereaksi dan lain-lain agar praktikum dapat dilakukan secara efisien.





DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2016. Penuntun analisis Farmasi. Tim dosen kimia farmasi UMI : Makassar.
Dirjen POM, 1979. Farmakope Indonesia edisi III. Departemen Kesehatan RI : Jakarta
Keenan, Charles W. 2008. Ilmu Kimia untuk Universitas. Edisi VI.  422. Erlangga: Jakarta
Khopkar, S.M., 2010, Konsep Dasar Kimia Analitik, UI-Press : Jakarta
Milama,Burhanudin.2014. Panduan Praktikum Kimia Fisika II.Jakarta: UIN-FITK Press
Rohman.,A. 2009. Kromatografi untuk Analisis Obat, Graha Ilmu : Yogyakarta
Rohman, Abdul. 2011. Kimia Farmasi Analisis. Pustaka Pelajar: Yogyakarta
Yazid, E,. 2005. Kimia Fisika untuk Paramedis. Andi :Yogyakarta




LAMPIRAN
PERHITUNGAN
2.  Papaverin
a. Penetapan kadar secara ekstraksi pelarut
Diketahui :
Bobot wadah                           = 61.3908 g
Bobot wadah + Ekstrak         = 61.4519 g
Bobot ekstrak(BE)= (Bobot wadah + Ekstrak) - Bobot wadah
= 61.4519 g - 61.3908 g = 0.611 g
Berat sampel (BS)                  = 0.9023 g
b. Penetapan kadar secara titrasi alkalimetri
Diketahui :
Konsentrasi NaOH                 = 0.1103 N
Volume titrasi                          = 1 mL
BE Papaverin                          = 33.94
Berat Sampel (BE)                 = 200 mg
3.  Spasminal®
a. Penetapan kadar secara ekstraksi pelarut
Diketahui :
Bobot wadah                           = 60.0000 g
Bobot wadah + Ekstrak                     = 60.2067 g
Bobot ekstrak(BE)= (Bobot wadah + Ekstrak) - Bobot wadah
                               = 60.000 g  - 60.2067 g = 0.2067 g
Berat sampel (BS)                  = 2.7891 g
b. Penetapan kadar secara titrasi alkalimetri
Diketahui :
Konsentrasi NaOH                 = 0.1103 N
Volume titrasi                          = 1 mL
BE Papaverin                          = 33.94
Berat Sampel (BE)                 = 200 mg



SKEMA KERJA
b.    Penetapan kadar papaverin HCl secara ekstraksi pelarut
Dimasukan sampel papaverin HCl kedalam corong pisah, dilarutkan dengan aquadest 25 mL

Ditambahkan fasa kloroform 10 mL dan ulangi sebanyak 3x
 

Dipisahkan fasa kloroform yang terbentuk lalu diuapkan setelah itu didinginkan dalam deksikator

Ditimbang berat papaverin HCl dalam afas kloroform dan dihitung kadar papaverin HCl.
c.    Penetapan kadar papaverin HCl secara titrasi alkalimetri
Sampel papaverin yang telah kering, dilarutkan dalam 20 mL air bebas CO2 dalam Erlenmeyer
 

Ditambahkan 10 mL etanol netral

Ditambahkan PP 1% sebanyak 2 tetes

Dititrasi dengan larutan baku NaOH 0,1 N hingga terjadi perubahan warna larutan menjadi merah muda
 

Tentukan kadar papaverin.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar